
Ceklek..
Tap.. Tap.. Tap..
"Dia masih belum memakan makanannya. Harus dengan cara apa lagi aku merayunya agar mau makan."
Ucap Kim dalam hati saat ia melirik kearah meja nakas, makanan diatas nampan masih utuh bahkan tak berubah dari posisi saat ia meletakkannya dimeja nakas itu.
"Haruskah kau menghukum diriku seperti ini.? Aku hanya menanyakan kabarmu saja, tapi dia tak menjawabnya."
"Aku tak ada niat untuk mencelakainya. Tapi ucapannya membuatku emosi."
Ucap Kim yang dibalas dengan pertanyaan Karin didalam hatinya.
"Ucapan apa.? Apa maksudnya.?"
Perlahan Karin bangun dari tidur lalu duduk ditepi ranjang dengan posisinya memunggungi Kim.
Kim menoleh kearah Karin, senyuman kecil terukir dibibir Kim saat melihat punggung wanitanya yang slama ini ia rindukan.
"Karin-ah, boleh aku menjelaskan sesuatu. Aku tak tahan dengan sikapmu saat ini."
"Dadaku sesak melihat sikap acuh seperti ini."
"Aku mohon padamu, maafkan atas tindakanku ini. A-aku tak punya cara lain selain menculikmu. Aa-ku tak bisa hidup tanpamu Karin-ah."
"Sungguh, aku tak berniat melakukan itu padanya."
Ucap Kim lirih dengan posisi tubuh bersimpuh dihadapan Karin. Hilang semua rasa malu, gengsi Kim saat didepan Karin.
Ini kali pertamanya ia memohon maaf atas kesalahannya, Kim mengakui kesalahan terbesarnya karna telah melukai bahkan membuat Choki koma.
Ya.. Kim mendapat kabar dari Jay bahwa orang suruhannya memberitahu kondisi Choki kritis (koma) dan belum sadarkan diri hingga saat ini.
Dan dari situlah perasaan bersalah muncul didalam lubuk hatinya. Mau bagaimana pun Choki adalah temennya juga. Mesti pertemanan mereka tergolong dari kalangan bisnis saja.
"Hiks.. Seharusnya kau tak melakukan itu Kim. Kau tau itu adalah tindakan kriminal, bagaimana jika polisi tau.?"
"Aku juga mengkhawatirkanmu." lirih Karin diujung kalimatnya dengan suara pelan.
Sadar akan lirihan Karin, reflek Kim langsung menaikkan wajahnya menatap Karin didepannya.
__ADS_1
"M-mwo?"
"Apa tadi katamu chagiya.?"
"Ka--au mengkha-khawatirkanku.?"
Tanya Kim dengan gagap lantaran tak percaya dengan ucapan Karin yang ia dengar.
Karin menggangguk kecil dengan posisi kepala menunduk, terdengar suara isak tangis yang ditahannya sedari tadi.
Dengan gerakkan cepat Kim memeluk Karin dan kembali menangis bersama Karin. Merasa diperdulikan dengan Karin membuatnya haru bahagia.
Karin pun ikut menangis tanpa membalas pelukkan erat Kim padanya. Hatinya tersentuh saat melihat tindakkan Kim yang spontan bersimpuh didepannya memohon maaf atas tindakkan beberapa hari lalu.
Namun rasa kecewa akan tindakan Kim tidak mudah untuk hilang begitu saja. Terlebih saat terakhir ia kembali kegedung terbengkalai, Karin tak lagi melihat keberadaan Choki.
Hal itu membuatnya kepikiran samapi saat ini. Dimana kak Choki, bagaimana bisa ia pergi dengan cepat dengan kondisi terakhirnya. Apa Kim melenyapkannya.?
......................
Satu jam telah berlalu.
Terukir senyum tipis keduanya saat tak sengaja saling menatap. Setelah meneguk habis air tersebut, Karin langsung memberikan gelas kosong itu pada Kim.
"Istirahatlah, aku kebawah dulu menaruh ini."
Titah Kim dengan memberi kode dengan menunjukkan nampan dengan lirikkannya.
Karin hanya membalas dengan anggukkan kecil tanpa melirik Kim. Saat Kim bangkit lalu melangkah meninggalkan kamar.
Karin memposisi dirinya untuk tidur dan menyelimuti dirinya, namun langkah kaki Kim tertahan saat tak sengaja mendengar suara isak tangis.
Ia menoleh kebelakang dan benar saja, Karin kembali menangis dalam diam. Seolah tak mendengar, Kim kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar Karin dan membiarkannya sejenak dikamar ini.
......................
"A44hh.. tuan, iya begitu.. E3mphh tuan, aku tak t4han.."
Drrttt š± Drrttt š±..
"Aishh sh1bal.! Siapa yang berani mengganggu ditengah malam begini.!"
__ADS_1
Merasa terganggu dengan suara notivikasi panggilan itu, ia mengangkat panggilan itu tanpa bangkit dari posisinya.
"Katakan dengan cepat. Ada apa.?"
Ucap Park dengan kembali beraktivitas.
"Sshh E3mph.." rint1h wanita itu menahan su4ranya.
Deg.!! Grebb.!!
Reflek Park bangkit dari kasur dan langsung terduduk dipinggir kasur.
"Kau yakin.? Dimana mereka sekarang.?"
...
"Bagus, kabari aku kelanjutannya, jangan sampai kehilangan jejak."
Ucap Park sembari mengakhiri panggilan tersebut. Dan saat bersamaan ia merasa ada yang mendekatinya. Ia merasa pundaknya disentuh dengan lembut.
"Tuan.. Bagaimana jika aku yang mendomin4si.?"
Bisik wanita itu dengan lembut, dan Park membalasnya dengan senyum.
"Bukankah memang seharusnya begitu hem.?"
"Aku membayarmu untuk bekerja. Maka lalukanlah pekerjaanmu lalu pergi."
Perintah Park dengan nada mengejek namun berbeda dengan tatapannya saat menatap w4nita c4ntik nan s3xy disampingnya.
......................
Hai guys..
Hai guys..
Wkwkw.. Kelamaan ya nungguin author.? šš.
Moon dimaapin ya guys. Huhu sedih harus mohon maaf terus-terusan begini.
Tapi mau gimana dong.? Mood itu susah banget buat didapetin untuk ngetik. Bisa aja aku bikin cepet terus end, tapi takut gak enak kalau kepotong-potong. Kurang kena nanti dipembacašš„²
__ADS_1