Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Aku Berjanji


__ADS_3

"Aku juga kesepian."


"Aku merindukan sentuhan seperti ini."


Bisik Karin dengan iringan tangan yang melingkar mesra dipundak Choki.


......................


"Emmphh.."


"Mmphh.."


Hembusan nafas kasar sangat terasa diwajah keduanya. Seolah tak pernah merasakan c1uman sebelumnya.


Keduanya benar-benar seperti seseorang yang kelaparan akan sentuhan.


Choki menggendong Karin menuju kasur besar tanpa melepas tautannya.


BRAGHH!!


"Haahh.."


"Haah.."


Helaan nafas tersengal keduanya terdengar, Karin dan Choki menghirup rakus oksigen yang disediakan secara gratis untuk mereka.


Perlahan dengan langkah hati-hati, Choki mendekatkan diri keatas Karin.


Karin memalingkan wajahnya kesamping. Ntah canggung atau malu, Karin tak punya kebranian menatap langsung wajah Choki dari bawah.


"Aku menyukai wangi tubuhnya."


"Tak ada yang berubah darinya sejak malam gagal hari itu."


Seru Choki dalam hati sembari menikmati aroma kulit Karin dari tengkuk sampai tak sadar jikalau ia juga meninggalkan jejak disana.


"Aaghh.."


"Sakit ya.?"


Tanya Choki sembari tersenyum menyeringaikan gigi kelincinya.


"Iihh malah cengengesan.."


"Nakal."


Seru Karin salah tingkah karna ditatap Choki dengan tatapan yang membuatnya malu saat ia kelepasan mengeluarkan suara.


Sejenak Choki menatap wajah cantik Karin dengan tatapan penuh arti.


Sampai akhir dimana ia kembali melanjutkan lantunannya.


Darah Karin berdesir sampai membuatnya sedikit menggeliyat karna sentuhan jari Choki yang menyentuh kulitnya.


"Apa ini masih sakit.?"


Choki bertanya secara tiba-tiba saat ia melihat bekas jahitan pada perut bagian bawah Karin.


Ia menyentuh lembut bekas jahitan yang terlihat menyakitkan dimatanya.


Tak lama ia mengecup lembut luka yang membekas diatas perut rata Karin.


"Aku berjanji tidak akan menyakitimu."


......................

__ADS_1


Malam ini berlangsung sangat panjang. Rasa rindu akan sentuhan membuat mereka dimabuk cinta dalam satu malam.


Hasrat yang terasa diujung tanduk membutakan mereka, bahkan mereka tanpa ragunya mengeluarkam suara seiring tempo yang dihentakkan keduanya.


Saat Karin berada dalam pangkuan, sesekali ia melirik kearah box bayi. Syukurlah Maura masih terlelap dalam tidurnya.


Suhu ruang yang terbilang dingin pun tak mampu melawan desirin darah yang mengalir keluar menjadi keringat.


"Aah.. Kak, aku lelah."


Ucap Karin lemah ditengah lantunan mereka.


"Kemari sayang, berbaringlah."


Sontak mata Karin membulat sempurna saat Choki membaringkan tubuhnya lalu memeluknya dari samping.


"Kak.."


"Ssttt tidurlah, kita lanjutkan besok pagi."


Choki sebenarnya sudah mengetahui jika Karin sudah cukup kelelahan saat melayaninya, namun hasratnya terlalu menggebu-gebu sampai mengabaikan lawannya.


"Kamu yakin kak.?"


"Gak nanggung.?"


"Kita bisa melakukannya dengan posisi ini."


Bisik Karin dengan nada nakal dengan wajah yang menyamping menatap wajah Choki yang sudah lebih dulu terpejam.


Saat mendengar bisikkan nakal dari Karin, seketika pula ia tersenyum tipis menahan rasa canggung dalam dirinya.


"Ayo lakukan sayang.."


Goda Karin dengan menuntun tangan Choki meremas dadanya.


"AAAAAA kak Choki.. Bilang-bilang dong kalau mau masuk."


Seru Karin protes saat Choki menusuknya dari belakang.


"Loh.. Kan kamu sendiri yang ngajakin."


"Ini udah aku turutin."


"Kok malah protes". Ledek Choki dengan kembalinya lantunan yang sempat terputus tadi.


......................


"4gh.."


"Sayang.. Aku.. 4gh.."


"Jangan berhenti.. Kumohon.. 444ahhh.."


Semua berakhir digaris finish dengan waktu 10 menit dan deru nafas yang tersengal-sengal dari keduanya.


Choki menenggelamkan wajahnya didalam tengkuk Karin, begitu pun Karin.


Tangannya tergletak diatas sprei kasur yang sudah tak berbentuk lagi.


"Karina.."


Panggil Choki dengan lembut namun masih terdengar nafas yang terengah.


Karin menoleh kesamping dengan menatap wajah Choki yang sudah dipenuhi dengan keringat.

__ADS_1


"Aku mencintaimu."


"Jadilah milikku, dan jadilah ibu sambung untuk putriku."


"Maaf jika aku menyatakan diwaktu yang tidak pas."


"Aku benar-benar tulus mencintaimu. Aku tak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya."


Karin masih terdiam seribu bahasa dengan terus menatap wajah Choki.


"Aku pun mencintaimu kak. Tapi maafkanku.."


"Aku masih sangat ragu untuk menikah denganmu."


"Aku takut akan hukum sosial yang akan menghukumku nantinya."


Ucap Karin dalam hati dengan raut wajah sedih seakan ingin menangis.


"Hei.. Kenapa sayang.?"


"Kenapa menangis.."


Ucap Choki buru-buru dengan menangkup salah satu pipi Karin. Ia mencium kening Karin guna menenangkannya dari kesedihan.


"Apa ini semua masih belum cukup.?"


"Maksudmu..?"


"Hidup dirumah yang sama, merawat Maura bersama-sama."


"Bahkan sekarang kita tidur dikasur yang sama."


"Bukankah ini semua lebih dari cukup."


Choki tersenyum dengan membenturkan pelan keningnya kekening Karin. Helaan nafas ia hembuskan.


"Baiklah.. Baiklah.. Aku mengalah."


"Ini semua sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup."


"Tapi aku perlu tahu beberapa hal."


"Apa..?" jawab Karin cepat


"Apa kamu juga mencintaiku.?"


Karin langsung mengangguk tanpa ragu dengan senyum manis yang terukir dibibir sexynya.


"Emm.. Aku juga mencintaimu kak."


"Hah.." lagi lagi Choki menghela nafas.


"Berhenti memanggilku kak."


"Aku seperti p3d0fil yang sudah memp3rk0s4 anak kecil."


"Ha ha ha.. Bukannya iya, aku kan masih kecil."


"Iih ada oom jahat, akan ku laporkan oom kepolisi, biar dipenjara."


"Laporin saja kalau bisa.."


Jawab Choki cepat dengan memeluk erat tubuh Karin sembari menggelitik pinggulnya.


Gelak tawa mereka lontarkan diakhir malam yang lelah ini.

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2