
................
"Kim, apa boleh aku keluar sebentar. Ada beberapa bahan pangan yang ingin aku beli." Sahut Karin dari dapur.
"Okey babe, aku siap-siap dulu nee." Jawab Kim seraya bangkit dari duduknya hendak kekamar.
"Oh aniya.. Kau tidak perlu ikut, aku bisa sendiri. Lagi pula hanya sebentar." Ucap Karin sembari membenahi isi lemarin kitchen set diatas.
Kim melangkah mendatangi Karin didapur lalu memeluk Karin dari belakang dan berbisik pelan ditelinganya. "Bagaimana bisa aku membiarkan wanitaku pergi sendiri tanpa aku disampingnya.?"
"Aish kau ini masih saja posesif terhadapku. Tidak akan terjadi sesuatu Kim. Kenapa harus khawatir." Jawab Karin seraya membalikkan tubuhnya menghadap Kim. Namun Kim menggelengkan kepala dan jari telunjuknya memberi isyarat untuk tidak membantahnya.
"YA chagia.. Ayolah, ini hanya sebentar, setelah itu aku akan cepat kembali." Jawab Karin dengan nada memohon dan menunjukkan wajah gemasnya dihadapan Kim.
Cup!! "Bersiap-siaplah, aku juga akan bersiap-siap sebentar. Setelah itu kita pergi bersama." Ucap Kim setelah ia menci*m kilas bib*r Karin dan pergi kearah kamarnya.
Seperti yang kita tau, Kim memang pria posesif. Terlebih lagi pada pasangannya, jadi mau tak mau setiap gerak gerik Karin slalu dipantau oleh Kim. Bahkan sampai notif pada ponsel Karin pun slalu diperdebatkan oleh Kim, dari siapa dan sebagainya slalu jadi bahan pertanyaan yang berujung predebatan kecil. Mau tak mau Karin pun menurut dan harus banyak bersabar menghadapi keposesifan sang kekasih.
Setelah beberapa menit bersiap-siap, Kim keluar kamar dan duduk disofa sembari menunggu Karin.
"Chagia..!! Apa kau belum siap juga.?" Panggil Kim kearah kamar Karin.
"Nee.. Tunggu sebantar lagi." Sahut Karin dari dalam.
"Baiklah, aku akan menunggu." Ucap Kim pelan pada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian Karin belum juga keluar. Sampai pada akhirnya Kim ketiduran disofa saat ia tengah menunggu Karin.
Ceklek!!! Suara pintu terbuka.
"Kajj.." Ucap Karin terpotong saat ia melihat Kim tertidur disofa. Posisi tidurnya tampak sangat nyaman sampai tak terganggu saat Karin membuka pintu tadi.
Melangkah perlahan menuju pintu apartemen, Karin pun berlalu pergi keluar apartemen tanpa Kim. Ia tak tega jika harus membangunkan Kim yang terlihat sangat lelah seharian kerja, apa lagi hari ini sangat sibuk. Mereka harus berangkat lebih awal kekantor, non stop bekerja full dikantor bahkan sampai membawa pulang beberapa berkas-berkas dari kantor, lalu menyelesaikannya dirumah.
"Hheemmmghh" Suara Kim saat merenggangkan tubuhnya. "Astaga, Aku ketiduran.!! Karin-shi?!" Panggil Kim panik seraya bangkit dari sofa menuju kamar Karin.
"Yaishh dia pergi tanpa membangunkanku!" Oceh Kim saat melihat kamar Karin kosong. Kim langsung merogoh ponselnya guna menghubungi Karin dan ingin menanyakan supermarket mana yang ia datangi. Namun panggilannya tak dijawab oleh Karin.
__ADS_1
Tak putus asa Kim terus menelvon Karin. Kim menjatuhkan bokongnya kesisi kasur sembari menatap layar ponsel yang terlihat tengah menelvon Karin. Ssreekkk!! Terdengar suara plastik dari bawah kasur yang tak sengaja terinjak kaki Kim. Sontak hal itu mengusik rasa penasaran Kim saat ia melirik kebawah kakinya.
"Apa ini.?" Ucap Kim sembari merogoh kolong kasur dan berhasil memegang bungkus plastik putih polos. Seketika Kim terkejut bukan main saat membuka bungkus plastik yang berisikan obat penunda hamil milik Karin.
"Sh*bal.!!" Geram Kim dengan mengeraskan rahangnya. Kim meremas obat yang ia pegang lalu pergi keluar kamar dan secara kebetulan Karin baru saja tiba dan baru memasukki apartemen.
"Chagia, kau sudah bangun?" Sahut Karin sembari membuka sepatunya lalu meletakkan sepatunya kedalam lemari yang berada disisi pintu. Tak ada jawaban dari Kim membuat Karin agak sedikit heran, saat Karin menoleh kearah Kim ia bingung ketika melihat wajah Kim yang memerah seperti sedang merasakan sesuatu.
"Ada apa Kim.? Apa kau tak enak badan.?" Sahut Karin sembari mendekati Kim dan menempelkan punggung tangannya dijidat Kim. Namun suhunya normal, Karin masih kebingungan dengan ekspresi Kim saat ini. Lalu pandangan Karin teralihkan saat mendengar suara remasan plastik yang diremas Kim. Karin langsung melirik benda yang dipegang Kim, seperskian detik Karin terkejut, menjatuhkan plastik belanjaan dan menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.
Wajah Karin terlihat panik saaf Kim memegang pil penunda kehamilan miliknya. Matanya mengeluarkan air mata, Karin melirik kewajah Kim yang masih memerah menahan emosi.
"Kim, mianhae. A-aku bisa jelaskan i-ni." Ucap Karin gemetar seraya memegang lengan Kim yang terasa keras karna masih meremas plastik beserta obat ditangannya.
"WAE!!!!! WAE KARIN-SHI.!?" Teriak Kim tepat didepan wajah Karin. Terlihat sangat jelas Kim sangat marah saat mengetahui apa yang dilakukan Karin dibelakangnya. Pasalnya slama mereka melakukan hubungan intim, Kim slalu mengeluarkannya didalam. Kim berharap akan ada benih yang lolos dan berkembang didalam perut Karin.
Namun disetiap bulan Karin slalu kedatangan tamu namun Kim tak pernah curiga akan hal itu. Baginya itu normal untuk setiap wanita yang akan mengalamin menstruasi disetiap bulannya. Tapi nyatanya dia dibohongi oleh wanita yang ia cintai slama beberapa bulan ini. Kim merasa kecewa dengan tindakan yang dilakukan Karin tanpa sepengetahuannya.
"Kim tenanglah, kajja kita duduk dulu, akan ku jelaskan sayang." Sahut Karin sembari menarik pelan tangan Kim yang hendak ia ajak untuk duduk, namun ditepis oleh Kim dan Kim berbalik menarik kasar tangan Karin agar berdiri tepat didepannya.
"Aaghh, a-aku.. Kim, aku akan menjelaskanya sayang. Kajja, kita duduk dulu nee." Karin terus meminta dengan lembut agar Kim mau duduk dan membicarakannya dengan kepala dingin.
"Kau tau Karin-shi, aku sangat mengharapkan kehadirannya dirahimmu, tapi kenapa KAU MALAH MENAHANNYA.!!!" teriak Kim diakhir kalimatnya. Dan seketika teriakkan itu membuat air mata Karin mengalir deras, tubuhnya bergetar saat Kim membentaknya. Remasan tangan Kim semakin kuat dan membuatnya ikut menahan rasa sakit yang semakin menjadi.
Karin menangis terisak dan seketika ia menjatuhkan tubuhnya kelantai lantaran kakinya terasa lemas secara tiba-tiba. Hatinya sakit saat Kim membentaknya, terlebih lagi saat Kim mengatakan bahwa ia sangat berharap dirinya akan segara hamil.
"AAGGRRRHHHHHH!!!!" Kim berteriak seraya membuang kasar pil yang ia pegang dan tak hanya itu, bahkan barang-barang yang ada disekitar Kim pun menjadi sasaran amarahnya. Tangis Karin semakin pecah, bahkan ia sampai menutup telinganya lantaran takut mendengar suara teriakkan Kim saat membanting barang-barang yang berada diruang tengah tanpa memperdulikan barang apa yang ia hancurkan.
"Kapan terakhir kali kau meminumnya?Katakan KARIN-SHI.!?" Teriak Kim lagi seraya melirik Karin yang masih terduduk lemas dilantai. Saat setelah beberapa detik, Kim mulai mengatur napasnya dan perlahan mulai mendekati Karin lalu berjongkok dihadapan Karin.
"Lihat aku Karin-shi." Pinta Kim lembut seraya mendengakkan dagu Karin dengan tangannya. Karin menurut saat wajahnya dituntun untuk melihat wajah Kim. Tatapan mereka bertemu, terlihat jelas wajah Karin yang berantakan karna menangis, terlihat juga wajah Kim yang masih emosi dan terlihat juga ada air mata yang tertahan didalam mata Kim.
"Kim, a-aku bisa jela..." Jari Kim menahan bibir Karin. Kim memejamkan matanya seraya menggeleng pelan. "Bukan itu yang ingin ku dengar sayang. Jawab saja pertanyaannku.?" Tanya Kim dengan sorot mata serius.
"Sejak awal pertama kita melakukannya, aku sudah meminumnya Kim. Mian-hae.." Tutas Karin kembali menangis setelah selesai memberitahu Kim.
__ADS_1
Kim memejamkan matanya kembali, terlihat jelas diwajahnya tampak kecewa bercampur sedih saat mendengar pernyataan dari Karin. Lalu Kim menarik tubuh Karin agar berdiri dan menyeretnya kasar tubuhnya masuk kekamar. Dan menghempaskannya keatas kasur, awalnya Karin tak memberontak saat Kim menyeret dan menghempas dirinya kekasur. Namun secara reflek Karin memberontak saat Kim mengukung tubuhnya dan memaksa melepaskan baju yang ia kenakan.
"Kim stop! Apa yang kau lakukan. Berhenti Kim.!" Ucap Karin seraya menahan tangan sekaligus baju agar tak terlepas. Namun tenaganya Kim terlalu kuat, bahkan kini tangannya ditarik Kim keatas kepalanya dengan satu tangan.
"Berhenti meminumnya mulai sekarang atau kau akan tau akibatnya.!" Bentak Kim dengan tatapan marah.
"Oke, aku akan berhenti meminumnya dan lepaskan tanganku sekarang, ini sakit Kim." Jawab Karin sembari menggeliyat dari kukungan Kim.
"Tak semudah itu Karin-shi.! Katakan padaku kapan terakhir kau meminum pil itu.?!" Tanya Kim serius.
"Kemarin malam, aku meminumnya kemarin malam." Jawab Karin cepat sembari membalas tatapan Kim. Meski sebenarnya Karin takut saat matanya mentanap mata Kim. Namun tetap ia lakukan karna Kim benci jika tatapannya tak mendapat balasan.
Tanpa pikir panjang, Kim membuka paksa baju Karin lalu menci*m bib*r Karin dengan kasar. Tak ada respon balasan dari Karin karna permainannya terlalu kasar.
Sedikit banyaknya sepengetahuannya, jika pil itu telat diminum akan mengakibatkan sesuatu hal diluar rencana. Jadi dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia takut Karin akan melakukan penundaan ini dengan cara lain. Dengan suntikkan contohnya.
"Kim berhenti.!! Aaghh sakit.!" Rintih Karin sembari menahan sakit karna cara Kim yang terlalu kasar saat melakukan aktivitasnya dibawah sana.
"Kau ingin aku bermain lembut hah.?" Tanya Kim dengan nafas yang terdengar terengah ditengah aktivitasnya.
"Nee, pelankan sedikit chagia.." Sahut Karin mengangguk lembut, meski sebenarnya ia menahan perih dibawah sana. Mau tak mau ia harus menurut dan mengikuti permainan Kim. Jika tidak, Kim akan terus melakukannya dengan kasar.
Sampai pada akhirnya Kim melakukan pelepasannya didalam tanpa memikirkan perasaan Karin yang kini menahan sakit disekujur tubuhnya terutama diarea sens*t*fnya.
"Haa, haah.. I love babe." Ucap Kim seraya mencium sekilas bib*r Karin. Terlihat senyum senang diwajah Kim saat setelah pelepasannya.
Kim menjatuhkan tubuhnya disebelah Karin lalu menyelimuti tubuh mereka dengan selimut. "Kim, aku mau kekamar mandi dulu." Sahut Karin sembari melepaskan tangan Kim yang melingkar dipinggangnya.
"Tak perlu, biarkan saja sampai besok." Jawab Kim sembari menarik kembali pinggang Karin, mengeratkan pelukkannya sembari mendekatkan punggung Karin kedalam dekapannya. Menci*m pucuk kepala Karin lalu terpejam dan tertidur. Sedangkan Karin saat ini hanya bisa menggigit kuku ibu jarinya. Pikirannya sudah jauh nerada didepan sana.
"Bagaimana jika aku hamil, mesti sebenarnya aku menginginkan hamil. Tapi waktunya tidak tepat, aku dan Kim hanya sepasang kekasih yang kapan saja bisa berpisah." Batin Karin berucap dan pikirannya yang masih tak tenang sampai beberapa saat kemudian ia ikut terlelap dengan posisi memunggungi Kim.
......................
Lanjut besok guys, yuk Like disetiao episodenya ya. 1x aja, itu udah sangat berharga buat Author 👍😊
__ADS_1