Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Sexy


__ADS_3

"Iih ada oom jahat, akan ku laporkan oom kepolisi, biar dipenjara."


"Laporin saja kalau bisa.."


Jawab Choki cepat dengan memeluk erat tubuh Karin sembari menggelitik pinggulnya.


Gelak tawa mereka lontarkan diakhir malam yang lelah ini.


......................


Tringgg... Tringgg... Tringgg...


Suara alarm memecahkan suasana hening dikamar Karin.


Dengan cepat tangan Karin meraih ponselnya yang tergletak dimeja disamping ranjang.


"Hmpphhhh....."


Karin menggeliyat saat setelah mematikan alarm diponselnya.


Dia merasakan tubuhnya pegal-pegal, dan merasa ada tangan yang setia melingkar dipinggangnya.


Sekilas ia melirik box bayi lalu berganti melirik sekaligus menatap wajah yang begitu dekat dan tampan, siapa lagi bila bukan Choki bin Johan.


Karin tersenyum malu dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Membayangkan kejadian panas tadi malam, membuat pipinya berubah warna menjadi merah padam.


"Aaaahh, kenapa jadi terbayang-bayang."


Seru Karin dalam hati yang berdebar-debar karna membayangkan kejadian tadi malam saat mereka saling menautkan lantunan irama indah dengan aliran darah yang terus berdesir mengalir dalam tubuh mereka.


......................


...30 menit kemudian...


"Hemm harumnya anak Buna.."


"Udah mandi.. Udah mimi susu.. Udah cantik.."


"Tinggal mamam ya yang belum.."


"Yuk kita mamam yuk..."


Seru Karin mengajak ngobrol Maura dalam gendongannya sembari melangkah hati-hati menuruni anak tangga.


Sebelum sampai didapur kotor ia mendengar suara musik penyemangat dipagi hari yang terdengar dari dalam dapur.


Benar saja begitu sampai di dapur, ia melihat Tiur tengah asik dengan kesibukkannya dipagi ini.


Dengan asiknya ia mengikuti alunan musik yang suaranya memenuhi ruang dapur kotor ini.


Sampai tak sadar bila tingkahnya pagi ini sudah diperhatikan Karin dan juga Maura.


"Ehemm..."

__ADS_1


Reflek Tiur langsung menoleh kearah deheman seseorang yang membuyarkan hentakkan tangan yang mengikuti alunan musik.


"Eh mba Karin.. Pagi mba.."


Sapa Tiur ramah lalu dengan cepat mematikan musik dari spiker yang tak jauh darinya.


Karin tersenyum lebar pada Tiur lalu meletakkan Maura didalam kursi khusus bayi lalu mengencangkan sabuk pengamannya.


"Sarapan Maura udah siap Ti..?"


Seru Karin sembari menghampiri Tiur.


"Udah mba, ini udah ku siapin dimangkuk."


"Mba sarapan bareng aja, biar aku yang nyuapin non Maura."


"Ini apa.?" tanya Karin dengan menunjuk bahan-bahan makanan mentah didalam baskom kecil.


"Oh itu.. Ini untuk bikin nasi goreng."


"Yaudah biar saya yang lanjutin, kamu suapin Maura gih.."


"Jangan mba, mba sarapan aja dulu. Biar saya yang bikin nanti sekalian untuk bapak. Sarapan bapak harus hangat."


Ucap Tiur mencoba mencegah Karin lantaran merasa tak enak hati bila majikannya yang melanjutkan masaknya.


Karin menatap lama Tiur saat mencoba mencegahnya, sampai akhirnya Tiur kalah oleh tatapan itu.


"Iya mba, maaf.."


"Abisnya tatapan mba kaya mau makan aku." jawab Tiur sedikit cemberut lalu pergi menghampiri Maura yang sedari tadi sudah berteriak memanggil dirinya.


Maura peka saat baby sisternya membawa mangkuk berwarna pink soft yang sudah pasti berisikan makanan untuknya.


Karin tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tinggal Tiur.


Semenjak alm Miranda meninggal, tak lama si mbok meminta izin berhenti dengan sopan dari pekerjaannya dan memilih pulang kampung dan menghabiskan sisa hidupnya bersama anak cucunya yang berada dikampung halamannya.


Semua pekerjaan dapur dipegang alih oleh Tiur, dan disitulah Karin melihat tak tega pada Tiur. Seorang gadis yang usianya dibawah Karin, bekerja dengan giat sendirian didapur kotor yang terbilang luas ini.


Menyiapkan sarapan, makan siang sampai makan malam untuk orang-orang yang tinggal dirumah ini. Dan terkadang Tiur juga membantunya mengurus Maura.


Dari situlah Karin juga tak segan ikut turun tangan membantunya walau hanya sedekarnya saja.


Jika pembaca bertanya bagaimana pekerjaan lainnya.? Jawabannya tentu saja dipegang alih oleh staff lainnya. Namun pekerjaan mereka hanya part time.


Yang dimana hanya datang sesuai jadwal. Para pekerja rumah tangga hanya datang seminggu 3 kali.


Pekerjaan yang melakukan yang tak lain: Membersikan seluruh isi rumah kecuali kamar, mencuci pakaian dan merawat taman.


......................


...Sekitar 30 menit berlalu...


Tiur sudah selesai menyuapi sarapan untuk Maura lalu membawanya keruang tengah yang dimana disana biasa Maura menghabiskan waktu bermain dengan mainannya.

__ADS_1


Karin yang juga sudah selesai dengan masakannya, lalu membawanya kemeja makan yang tak jauh dari ruang tengah.


Ditengah langkahnya ia melihat Choki yang tengah melangkah menuruni anak.


Tatapan keduanya bertemu, seketika darah Karin berdesir gugup dan langsung berjalan dengan menunduk saat tatapan mereka bertemu.


Berbeda dengan Choki, ia melangkah dengan tatapan yang tak berpaling dari Karin. Senyum sinis manisnya terukir saat melihat Karin.


"Sexy.." Gumam Choki seraya menatap Karin dari atas kebawah.


Mereka sampai dimeja makan secara bersamaan, spontan Choki memposisikan dirinya dibelakang Karin yang tengah meletakkan sarapan dimeja.


Choki menyibakkan surai rambut Karin kebelakang telinga mungilnya. Lalu mencium lembut tengkuk leher Karin yang terdapat tanda kepemilikkannya dengan satu tarikkan nafas.


"Kenapa tidak membangunkanku tadi."


Dengan gelapan Karin terkejut dan langsung reflek melihat kearah Tiur saat Choki dengan beraninya menciumnya secara terang-terangan.


"Iss jangan reseh..!"


Seru Karin tak nyaman saat mendapat kejutan dari Choki.


Choki tersenyum senang karna berhasil mengusili Karin dipagi ini.


"Makan sarapanmu dan segeralah berangkat kerja." ketus Karin saat selesai meletakkan sendok diatas serbet mini.


Mata Choki terbelalak lebar saat mendengar dirinya diusir secara halus.


Dengan cepat Choki menarik pinggang Karin karna tak terima diperlakukan ketus seperti ini.


"Kamu berani mengusir pemilik rumah ini hem.?"


"Astaga..." Gumam Karin semakin merasa tak nyaman saat tindakkan Choki semakin jadi.


Karin mencoba menyingkirkan tangan nakal Choki dari pinggulnya. Namun semakin ia melawan makan semakin kuat pula tarikkan itu.


Tiur memang tak menghiraukan mereka lantaran ia segan terhadapan majikan besarnya. Tubuh Tiur terus mengarah kedepan memblakangi mereka yang tengah berpelukkan.


Tunggu..! Bukan berpelukkan, melainkan Choki yang memaksa memeluk Karin dari belakang.


Choki gemas lantaran melihat penampilan Karin yang mengenakan celana legging ketat yang memperlihatkan lekuk pinggul idealnya dan kaos oblong over size yang memperkuat kesan sexy dibagian atas pinggul kebawah.


Tiur memang tak melihat mereka, tapi ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka sedari awal dari balik kaca besar yang menjadi pembatas ruang tengah dengan taman mini yang ada disamping rumah.


"Apa-apaan mereka."


"Kenapa pak Choki memeluk Karin dengan ekspresi begitu."


"Aku tahu betul ekspresi apa itu."


Seru Boby kesal sembari meremas keras tali yang mengikat kalung leher yang Bam kenakan.


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2