Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Dinding Diantara Kita Terlalu Kokoh


__ADS_3

"Mau kemana..?" Tanya Kim meraih tangan Karin yang hendak beranjak dari kasur.


"Augio chagia, sikap apa ini.? Kau terlalu posesif terhadapku.!! Aku hanya ingin kekamar mandi membersihkan ini." Menunjuk Mrs.V nya dengan lirikkan.


Kim tersenyum kekeh melihat dan mendengar kekasihnya yang mengomel sembari memegangi area V nya. Kim melepaskan tangannya dan menatap langkah Karin sampai menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Tak berselang lama Karin keluar dari kamar mandi lalu melangkah perlahan mendekati kasur, menaiki kasur secara perlahan agar tak menganggu Kim yang telah tertidur pulas.


Karin memandangi wajah pria tampan yang kini sudah menjadi kekasihnya. Mengelus rambut Kim dengan senyuman yang terukir diwajahnya yang penuh arti didalamnya, lalu ia memejamkan mata dan tertidur dibawah selimut yang sama bersama Kim.


......................


......................


Pagi harinya Karin lebih dulu terbangun, melakukan aktivitas seperti biasa. Ia memang sudah terbiasa melakukan hal-hal pekerjaan rumah tangga, dan setelah itu berangkat bekerja. Namun mengingat kembali kepernikahannya dahulu. Kurang lebih tiga bulan usia pernikahaannya bersama Rega. Rega meminta Karin untuk fokus dirumah mengurus rumah dan dirinya. Dan Karin menuruti perintah suaminya. Akhirnya ia berhenti bekerja dan fokus pada rumah tangganya.


Karin menoleh kebelakang saat sedang menyajikan hidangan diatas meja makan. Terlihat sosok Kim dengan wajah bantalnya menghampiri Karin lalu memeluk dirinya dengan manjanya.


"Aigoo.. Mandi dulu sayang." Sahut Karin yang masih fokus merapihkan meja makan.


"Emm.." Jawab Kim singkat dan tetap memeluk Karin dengan manja.


"Kim.. Aku repot kalau kamu berglendotan seperti ini. Ayolah sayang, jangan manja seperti bayi."


"Bukankah aku sekarang sudah menjadi bayi besarmu hem, iya kan chagia aku bayi besarnya kamu kan.? Dan bayi kecil kita akan tubuh disini. Sebelum dia keluar, biarkan aku bermanja-manja dulu denganmu." Kim mengelus perut rata Karin. Sontak terkejut akan hal itu, Karin membulatkan matanya. "Kau tak mungkin bisa mengharapkannya hadir Kim, maaf aku berbohong dalam diam. Aku meminum pil KB tanpa kamu ketahui." Batin Karin berbicara namun dirinya masih sibuk dengan aktivitasnya dan Kim masih setia dengan pelukkannya.


"Sudah cukup bermanja-manja sayang, ayo mandi dan bersiap-siap. Setelah itu makan sarapanmu." Karin memutar tubuhnya menghadap Kim. Yang masih dalam pelukkan Kim.


"Haishh ayolah Karin-shi sebantar lagi, tubuhmu benar-benar menjadi canduku chagia.." Kim menci*mi leher putih Karin, terci*m aroma khas Karin yang membuatnya nyaman berada berlama-lama disana.


"Hemm jadi ini alasanmu menyukai dan menyatakan cinta padaku hem.? Kau menyukaiku karna bentuk tubuhku.!!" Karin menatap sinis kesembarang arah dan memendam rasa kesal dalam dadanya atas penyataan Kim barusan. Ingin menangis namun ia malu untuk mengeluarkan air matanya dihadapan Kim.


"Oh ani-oh chagia. Bukan itu maksudku, jangan marah sayang. Sungguh bukan itu alasanku menyukaimu. Hei chagia, tatap aku sayang, ayolah.." Kim lepaskan ci*mannya lalu menangkut kedua pipi Karin, namun pandangan Karin tetap memaling kesembarang arah.


"Chagia jangan seperti ini, maafkan berkataanku barusan, aku sungguh mencintaimu. Aku menyukai pesonamu saat kita pertama bertemu. Sungguh aku tidak berbohong. Ntah kenapa perasaan itu muncul saat aku memandang lekat wajahmu. Kau memiliki daya tarik tersendiri bagiku. Ayolah chagia.. Aku tak pandai merangkai kata-kata pujian. Aku sungguh benar-benar menyukai bahkan mencintaimu." Kim terus memohon dan memaksa Karin agar mau melihat dirinya.


Karin merasa luluh atas pengakuan Kim, ia sebenarnya kasian dengan Kim karna sikapnya yang seperti ini. Tak tega melihat Kim memohon dan meminta maaf.


"Berikan aku bukti bahwa kau benar-benar mencintaiku." Karin kembali menatap Kim dengan tatapan seolah-olah menantang musuh dihadapannya.


"Apa buktiku kurang chagia..?" Kim tersenyum lalu mengelus perut rata Karin, memberi kode atas apa yang mereka lakukan tadi malam. Kim dan Karin melakukan pelepasan didalam secara bersamaan. Mendengar ucapan Kim reflek Karin mendorong tubuh Kim dan terlepas dari pelukkan mereka.

__ADS_1


"Kenapa diam hem.. Kurasa itu sudah cukup memberikan bukti bahwa aku mencintaimu. Jika beberapa bulan kedepan kau hamil, aku akan menikahimu. Dan jika belum hamil juga, aku akan terus berusaha mengirim pasukkan ku untuk menyerang bentengmu." Kim berbicara dengan suara berbisik dan menatap lekat wajah Karin yang hanya terdiam dan menatap kesembarang arah.


"Baiklah aku akan mandi. Setelah itu sarapan. Hemm aroma masakanmu benar-benar membuat napsu makanku bertambah chagia." Kim menghirup dan melirik hidangan diatas meja yang sudah Karin siapkan khusus untuknya.


Memandang punggung Kim dari belakang dan memastikan Kim sudah masuk kedalam kamar. Barulah Karin melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Karin terduduk disisi ranjang, terisak dalam diam. Mengingat perkataan Kim barusan lalu mengelus lembut perut ratanya.


"Bagaimana aku bisa mencintaimu Kim, aku sungguh menyukaimu. Tolong jangan berharap akan kehadirannya. Dinding diantara kita terlalu kokoh untuk dihancurkan sayang. Aku tak mungkin membiarkan itu semua terjadi. Aku tak mau merebutmu dari keyakinanmu." Karin terisak dan menangis sembari menutup mulutnya dengan tangan agar tangisnya tak terdengar oleh Kim. Dadanya terasa sakit karna harus menjalani kehidupan yang penuh drama dan tantangan seperti ini.


......................


***♡Makan sarapanmu sampai habis, jangan sampai aku menemukan satu nasi tersisa dipiring. Aku mencintamu Kim.


...°Karin***...


Kim tersenyum manis saat membaca selembar kertas tergletak tak jauh dari gelas yang berisikan susu untukknya.


"Aku bahagia menemukan wanita sepertimu Karin, teruslah seperti ini. Bantu aku untuk terus mencintaimu dan membutuhkanmu dalam hidupku." Batin Kim berucap lalu ia menjatuhkan bok*ng dikursi dan langsung menyantap sarapan didepannya.


Titt.... Suara kode password pintu apartement dan pintu terbuka.


"Annyeong.. Apa ada orang" Sahut suara wanita dari balik pintu dan perlahan membukanya.


Kim melirik kearah pintu guna memastikan siapa disana. Matanya melebar saat mengetahui siapa yang datang.


"Aish kau ini, masih sama seperti dulu. Buang jauh-jauh egomu pabbo. Jangan munafika kau.!" Ketus Irene dan langsung duduk dikursi yang berhadapan dengan Kim.


Kim yang tadi melotot akhirnya kembali diam dan melanjutkan menyantap sarapannya tanpa melirik Irene.


"Wahh sejak kapan kau sarapan? Apa kau memasaknya sendiri? Atau kau menyewa maid paruh waktu untuk menyiapkan ini semua.?" Irene bertanya heran pada Kim, pasalnya hidangan yang disediakan begitu rapih dan bersih. Seperti sajian ala resto mahal. Dia berfikir sejenak sembari melirik Kim. "Tak mungkin jika maid yang menyiapkan sampai sedetail ini." Batinnya bertanya-tanya.


"Mwo????" Irene berteriak kencang sampai telinga Kim berdengung.


"YA!! Bisakah kau pelankan suaramu. Gendang telingaku bisa pecah karna suaramu.!!


"Wait wait... What the f*ck Kim.! Apa kau sudah memiliki kekasih? Atau jangan-jangan kau sudah menikah tanpa memberitahu aku sebelumnya.? Dimana kekasih atau istrimu itu, dimana?? Aku tak melihatnya disini.." Irene mencecar Kim atas pertanyaannya yang bertubi-tubi sesekali pandangannya mengelilingi apartement Kim.


"Haish kau ini, jika hanya bertanya soal itu kau tak perlu berteriak, dia sudah berangkat kerja."


Irene tak percaya dengan pernyataan Kim, akhirnya Irene bangkit dan berlari kesana kemari, memasuki kamar Kim mencari keberadaan kekasih/istrinya Kim, namun nihil dan tak menemukannya.


"Jika kau tak percaya, kau bisa datang kekantorku untuk memastikannya sendiri. Dia serkertaris ku." Sahut Kim, lalu bangkit dan mengangkat piringnya lalu meletakkanya didalam wastafel.

__ADS_1


"Satu lagi, ku mohon jangan lakukan hal konyol yang membuat hubungan ku hancur karna ulah bar-bar mu itu.!" Kecam Kim dalam tatapan tajamnya keIrene.


Irene berdiri terpaku ketika mendenger kalimat Kim. Irene mengepalkan tangannya menatap punggung Kim yanh pergi meninggalkannya didalam apartement sendiri. Ia memukul udara dengan perasaan kesal atas kejadian pagi ini.


"Wanita mana yang berhasil meluluhkanmu oppa..!!"


......................


Setibanya Kim dikantor dan duduk dikursi kerjanya, ia menyenderkan punggungnya dan memijat pelipisnya perlahan.


Tok.. Tok.. "Permisi tuan boleh saya masuk." Ucap Karin dari balik pintu.


"Masuklah Karin-shi." Ketika mendapat izin barulah Karin membuka pintu lalu melangkah memasuki ruangan.


"Ini ada beberapa jadwal untukmu hari ini tuan. 2 jam dari sekarang jadwal anda kosong, setelah itu kita akan kedatangan tamu dari perusahaan Johan Grup. Jamuan untuk mereka sudah disiapkan dari kemarin lusa dan..." Kim langsung menarik tangan Karin dan mendudukkan bok*ngnya dipangkuan Kim.


"Aigoo tuan apa-apaan ini, cepat lepaskan nanti ada yang melihat..!" Karin memberontak saat Kim mengencangkan pelukkannya diatas perut rata Karin.


"SSssstttt diamlah Karin-shi. Kau harus diam agar tak memancing karyawan lain untuk datang kesini."


"Yee aku tau itu. Tapi lepaskan tanganmu, aku tak mau ada yang salah paham denganku, karna aku masih karyawan baru disini."


Kim akhirnya menuruti permintaannya dan mendorong perlahan pinggang Karin dari pangkuannya.


"Meeting nanti kau tak perlu ikut, biar aku dan devisi manajemen lainnya yang menghadiri meeting ini."


"Wae-oh, ada apa tuan? Kenapa aku tidak perlu ikut.? Siapa yang persentasi nanti, aku sudah mempelajari semuanya untuk meeting nanti. Dan juga bukankah Johan Grup dari Indonesia. Itu akan memperlancar meeting nanti jika aku ikut hadir." Karin terus mengoceh dan bertanya kenapa ia tak diperbolehkan untuk ikut.


"Pokoknya dirimu tetap tidak boleh ikut, kau masih karyawan baru Karin-shi, bukan maksudku meragukanmu. Namun sifat pemilik dari perusahaan Johan Grup ini agak sedikit berbeda. Aku takut dia meragukanmu saat persentasi nanti karna dia melihat parasmu yang masih muda."


Kim berbohong atas pernyataannya pada Karin. Sebenarnya ia tak mau Karin bertemu dengan Choki, ntah kenapa Kim sangat cemburu bila mereka saling bertatapan. Dan lagi setelah kejadian disingapure, hal itu menyakinkan Kim bahwa diantara mereka pasti memiliki perasaan cinta.


Setelah mendengar penjelasan dari Kim akhirnya ia menurut dan mematuhi perintah Kim. Ia takut kerja sama antar perusahaan mereka akan gagal acc. Padahal Karin ingin sekali bertemu Miranda, Beberapa waktu lalu Miranda menghubunginya secara pribadi lewat DM instagram.


Perusahaan tempat Miranda bekerja akan datang keKorea bertemu dengan Perusahaan Kim. Karin sudah tau lebih dulu karna sudah menerima email dari perusahaan Johan Grup. Namun karna temannya yang menghubungi secara pribadi, ia menyambut kegembiraan itu dengan balasan mengiiyakan untuk mereka berjumpa begitu Miranda sampai diKorea.


......................


......................


Eng Ing Eng... Kira-kira Choki, Miranda dan Karin ketemu gak ya.??

__ADS_1


Terus bakal kebongkar gak ya kalau Karin sebenarnya bukan adik kandung Choki.


Terud terus....??? Hemmm lanjutin bacanya di next episode ya guys 👍😁


__ADS_2