Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Ya!! Kim Namjoon!!


__ADS_3

Dengan bersamaan saat pintu terbuka, kaki Miranda melangkah keluar dari kamar mandi. Miranda ingat kalau koper-koper masih dibagasi mobil dan belum diantar oleh staff kekamar. Jadi sekarang tubuh Miranda hanya berbalut handuk kimono.


Awalnya ia canggung saat hendak keluar, namun setelah dipikir-pikir kenapa harus canggung. Toh ini malam pengantin untuknya dan juga mas Choki. Dan hal ini akan menjadi pemandangan disetiap harinya. Miranda tak henti tersenyum malu saat menghayal masa yang akan datang.


Saat keluar kamar mandi, awalnya Miranda tak ingin melirik kearah mas Choki. Namun ia ingat saat ia meletakkan ponselnya dikasur, dan akhirnya ia mendekati kasur yang sekarang ditidurin Choki. Dan langsung mengambil ponsel yang sudah tergletak dimeja samping kasur.


"Pules banget tidurnya. Mana seksi banget lagi kalau tidur begini." Batin Miranda saat berdiri disamping tubuh Choki, seraya memandangi tubuh Choki yang tebalut selimut tanpa mengenakan baju. Ditambah lagi dengan tatto full ditangan kanannya. Menambah kesan sexy bagi yang melihatnya.


Miranda melangkah pelan kearah sisi kasur yang kosong, lantaran tak ingin menganggu tidurnya Choki. Ia ikut merebahkan tubuhnya dan terpejam sesaat lalu kembali membuka matanya.


"Duhhay... Pegel banget ini kaki sama pinggang, capek juga ternyata ya jadi ratu sehari." Gumam Miranda seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya. Saat setelah itu ia menatap layar ponselnya dan tersenyum bahagia saat memandangi foto-foto pernikahannya.


......................


"Bagaimana? Kenapa dengannya.? Apa dia baik-baik saja.?" Tanya Kim panik pada Dokter pribadinya.


"Kamu apakan dia bisa sampai seperti ini Kim.?!" Tanya Jiwon pada Kim dengan nada penuh penekanan sembari mengecek kembali tubuh Karin.


(Jiwon adalah dokter wanita yang bergabung dalam perusahaan Kim dan menjadi salah satu dokter pribadinya Kim.)


"Ah itu.. eem, aku.." Jawab Kim tak tuntas lantaran gugup saat mencoba menjelaskannya pada Jiwon.


"Ck kau ini.!!" Bentak Jiwon dengan lirikkan sinis, saat setelah itu Jiwon mencoba membuka selimut yang menutup separuh tubuh Karin. Namun saat Jiwon ingin membukanya, tangannya ditahan oleh Kim.


"Wae?? Apa kau masih saja posesif?! Aku ini Dokter, lagi pula aku dan dia sama-sama wanita."


"Bu-bukan itu. Tapii..." Jawab Kim ragu seraya melirik polos kearah tubuh Karin. Dan Jiwon yang termakan akan tatapan polos Kim, dengan pelan mengangkat selimut dan syok saat melihat ternyata Karin tidak menggunakan cel*na.


Tagg!! Suara gepl*kan tangan yang memukul kep*la Kim terdenger jelas, sampai-sampai ringisan dilontarkan Kim. Namun tak ada protes disana, yanh perlu kita ketahui disini usia Jiwon lebih tua dari Kim. Jadi Kim masih harus menghormatinya.


"Benar-benar kau ya!! Pria tak tau diri kau Kim. Ini pasti ulahmu kan.!!" Bentak Jiwon dengan plolotan mata yang menahan amarah.


"Ais sudahlah, siksa aku nanti setelah kau mengeceknya dengan baik." Ujar Kim seraya mengelus kepalanya yang terasa sakit.


Tak lama setelahnya Jiwon kembali mengecek bagian perut Karin tanpa membuka selimut yang menutupi tubuh Karin. Kim dengan setia mendampingi Karin saat tubuhnya dicek secara menyeluruh oleh Jiwon.


"Aku turun sebentar, ada alat yang ingin ku ambil dimobil." Sahut Jiwon saat setelah menyopot stetoskop ditelinganya.

__ADS_1


"Hajima. Biar aku saja, katakan dibagian mana alatnya dan berikan kunci mobilmu." Ujar Kim sembari melangkah menghadang langlah Jiwon.


"Aish!! sudah aku saja, kau tak akan tau alatnya yang mana." Ujar Jiwon jengah.


"Aniyo.. Jika kau yang mengambil itu akan lama, kasihani kekasihku. Dia belum sadar." Rengek Kim dengan wajah memelas. Karna malas menghadapi sikapnya, akhirnya Jiwon memberi kunci mobilnya dan memberitahu ciri-ciri alat yang harus diambil Kim.


Tak lama setelah Kim pergi, Karin tersadar dan mencoba membuka matanya perlahan. Pandangannya masih samar-samar lantaran kepalanya yang pusing ditambah perutnya yang masih terasa kram.


"Aaghh perutku." ringis Karin dengan bahasa IND.


"Eoh, kau sudah sadar rupanya. Pelan-pelan..." Sahut Jiwon seraya melangkah masuk kekamar dengan membawa segelas air.


"Kajja, aku bantu.." Ujar Jiwon saat melihat dan membantu Karin yang ingin duduk dan bersender didinding kasur. Lalu menarik selimut keatas guna menutupi kaki Karin.


"Siapa kamu.?" Tanya Karin dalam bahasa Korea.


"Aku? Kenalkan aku Jiwon, aku Dokter yang bekerja sama dengan perusahaan milik Kim." Jawab Jiwon tersenyum seraya mengulurkan tangan lalu disambut pelan dengan Karin.


"Siapa namamu?." Tanya Jiwon ramah.


"Aku Karin." Jawab Karin singkat.


"Dia sedang kebawah. Ini, minumlah dulu." Ujar Jiwon seraya memberikan segelas air yang ia bawa dari dapur tadi. Karin mengangguk pelan sembari menerima lalu meneguknya hingga habis. Jiwon menggeleng pelan saat melihat Karin yang terlihat kehausan.


Jiwon dan Karin menoleh kearah pintu kamar saat sama-sama mendengar suara langkah kaki Kim yang melangkah cepat.


"Nunna, yang ini bukan.?" Tanya Kim saat memasuki kamar. Dan tertegun saat eihat Karin sudah sadar. Kim langsung menghampiri Karin dengan melompat kekasur dan melempar tas yang ia bawa kearah Jiwon.


"Chagia, mana yang sakit, ini.. Apa masih sakit hem.?" Tanya Kim sembari memegang pelan perut rata Karin, karna yang ia dengar saat sebelum Karin pingsan, Karin mengeluh soal perutnya.


"Ya!! Kim Namjoon!! Si*lan kau. Kau pikir benda ini murah hah.! Bisa-bisa kau melempar. Bagaimana jika aku tidak berhasil menangkapnya tadi.!" Teriak Jiwon setelah terdiam karna syok saatKim melempar tas miliknya dan langsung menghampiri Karin tanpa memperdulikan kehadirannya.


Karin dan Kim menahan pekak pada telinga mereka masing-masing saat mendengar teriak Jiwon.


"Jika kau tidak memohon padaku tadi, aku malas datang dijam seperti ini.! Asal kau tau ya.!! Kau menganggu malam mesraku dengan suamiku tau.!!" Ucap Jiwon dengan nada emosi sembari berteriak dengan napas terengah-engah.


Saat mendengar ocehan Jiwon, dengan reflek Kim langsung mundur dan turun dari kasur sembari memegang bantal, ntah untuk apa bantal itu. Setelah beberapa detik, Jiwon kembali mengatur napasnya dan sekilas melirik Kim yang berdiri disebrang kasur dengan menundukkan wajahnya seraya memeluk bantal.

__ADS_1


"Diam disitu dan jangan banyak ulah." Sahut Jiwon ketus seraya membuka tas ditangannya. Lalu menghidupkan alat yang berbentuk laptop mini yang tak lain adalah Mindray (alat usg).


"Karin-shi.. Bisakah kamu kembali berbaring." pinta Jiwon seraya mendudukan bok*ng disisi kasur dekat dengan Karin.


"Nunna, dari mana kau tau nama kekasihku..?" Tanya Kim dengan suara redam karna ia menutupinya dengan bantal.


Jiwon kembali melirik sinis kearah Kim, seketika Kim kembali menundukkan wajahnya, ntah memang takut atau apalah itu. Yang pasti tingkahnya membuat Karin terkekeh dalam hati dan merasa tak tega melihat Kim seperti ini.


"Oppa.." Panggil Karin lembut seraya mengulurkan tangan kirinya, ia memberi kode pada Kim agar mendekat dan duduk disamping. Tanpa ragu Kim langsung melompat kembali keatas kasur dan berlindung diatas pundak Karin seraya menatap Jiwon yang tak memperdulikan tingkah Kim yang seperi anak kecil.


Karin tersenyum kekeh melihat tingkah Kim lalu mengusap lembut wajah Kim dan menyenderkan kepalanya diatas pucuk kepala Kim.


Saat beberapa detik Kim terbangun dan duduk saat melihat Jiwon mengolesi semacam jell diatas alas yang berbentuk seperti mic. Ia ingin bertanya namun ragu dan takut bila Jiwon kembali menyemprotnya dengan teriakkan.


"Mianhaeyo.." Ucap Jiwon seraya membuka kaos Karin hingga memperlihatnya perut ratanya. Sontak Kim memegang tangan Karin erat saat ia melihat layar Mindray yang dipangku Jiwon. Ntah perasaan tegang apa yang dirasakan Kim. Pemandangan ini baru pertama kali ia lihat dan membuat hati dan perasaannya tersentuh seketika.


"Nunna mian.. Apa maksud gambar dari layar laptopmu itu.?" Tanya Kim pelan namun penuh rasa penasaran dari balik kalimatnya.


"Berapa IQ mu Kim.?" Tanya Jiwon santai.


"Mwo? Apa hubungannya dengan IQ'ku.?" Jawab Kim heran seraya melirik Karin lalu kembali melirik Jiwon.


"Yaish aku lupa, ini kali pertama untuk kalian, ini bukan laptop bod*h. Ini namanya alat Mindray atau bisa disebut dengan sebutan alat USG. You understand Kim.?" Jelas Jiwon sembari menjauhkan alat pada perut Karin lalu membantu menutup baju Karin.


Kim terdiam sejenak sembari membantu Karin bangkit dan memberikan bantal pada punggu Karin agar nyaman saar bersender.


"Untung kau menelvonku, jika kau menelvon dokter lain. Ku pastikan kalian aka disuruh kerumah sakit besok." Ujar Jiwon yang masih membuat Kim dan Karin kebingungan dan saling melontarkan tatapan penuh tanya.


"Eem nunna tunggu, jadi in..." Tanya Kim kembali sembari turun dari kasur.


"Oiya satu lagi. Jangan kesehatanmu Karin-shi, usia kandunganmu masih belum genap 4 minggu. Dan kau, jangan kasar saat bermain. Ihaehada.! (Mengerti)." Ujar Jiwon saat memotong pertanyaan Kim dan berlalu melangkah keluar kamar.


Tentu saja saat mendengar penjelasan dari Dokter Jiwon. Kim langsung menghampiri Karin dan memelukanya lalu membanjiri wajahnya dengan ci*man. Karin membalas pelukkan Kim, ia juga merasa bahagia saat mendapat kabar bahwa dirinya hamil. Ia mengingat masa lalunya, saat ia dituduh mandul oleh mantan mertuanya.


"Oppa, antar dulu Dokter Jiwon. Kasihan bila harus turun kebasemant sendirian." Ucap Karin yang masih dalam dekapan Kim.


"Biarkan saja. Dia bisa sendiri."Jawab Kim semasa bodo pada Jiwon. Dan saat mendegar jawaban ketus itu, Karin reflek mecubit perut Kim dan menyuruh untuk cepat mengejar dan berterimakasih pada Dokter Jiwon. Sampai akhirnya mau tak mau Kim menuruti permintaan Karin. Saat sebelum mengejar Jiwon, Kim kembali meci*m wajah Karin dan ditutup dengan mengelus perut ratanya Karin.

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2