Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Mira Disini Yah


__ADS_3

"Bam.. Come here, go.. Go.." Panggil Choki pada hewan peliharaannya.


Wushhh!! "Come on Bam..!!" Teriak Choki seraya bertepuk tangan saat hewan peliharaanya berlari mengejar bola yang ia lempar keujung taman.


"Wihhh good boy.!! Hahaha." Ucap Choki bangga seraya mengelus badan dan kepala Bam saat Bam berhasil menangkap bola lalu berlari kencang kearahnya.🦮🐕‍🦺


"Hei boy, sudah lama kita gak bermain seperti ini.. Kamu suka hemm, uluh-uluh...." Ujar Choki dengan nada canda seraya mengelus bulu Bam dan direspon Bam dengan melompat-lompat girang karna majikannya terus mengelus dan memanjakannya.


Tak berselang lama tiba-tiba Bam memperlihatkan sorot mata tajam dan tubuh yang berdiri tegak seakan siaga menjaga tuannya dari bahaya yang akan datang. Tingkah Bam membuat Choki merasa aneh, lalu Choki mencoba mengikuti sorot mata Bam yang tertuju kearah belakang tubuhnya. Dan ternyata Bam melihat Miranda yang sedang berjalan mendekat.


"Sshh.. Ssh.. Bam it's oke. Bob sini.." Choki memanggil Boby saat setelah memberi instruksi pada Bam untuk tetap tenang. Lalu memberikan tali kalung pada Boby yang melikar dileher Bam.


"Aku baru tau mas kamu perlihara anj*g." Ujar Miranda tersenyum sembari merangkul lengan Choki. Namun reflek Choki menangkis tangan Miranda.


"Aku abis main dengan Bam, gak baik buat kesehatan ibu hamil kalau terhirup bulu hewan." Ujar Choki datar sembari menghindar lalu melangkah memasuki rumah mendahului Miranda.


"Mas, kado-kado dirumah ayah kemarin lupa kita bawa, gimana kalau kita pulang dulu buat ngambil semua kadknya." Ujar Miranda sembari mengikuti langkah Choki menaiki anak tangga. Tak ada respon jawaban dari Choki, dan itu membuat Miranda berfikir kalau Choki mengiyakannya.


Saat setelah mereka masuk rumah lalu memasuki kamar, Choki langsung berjalan menuju kekamarnya dan saat setelah masuk kekamar, Choki langsung masuk kekamar mandi tanpa melirik Miranda lalu menutup rapat pintu kamar mandi.


Ntah ada apa dengan Choki saat ini, sikap dinginnya memang sudah menjadi hal biasa bagi Miranda. Namun saat malam pertama pengantin mereka, Choki benar-benar tidak menyentuh Miranda. Jangankan menyentuh, berbalik badan saat tidurpun tidak.


Perasaan Miranda dipenuhi kesedihan dan kegalauan karna sikap suaminya yang tetap dingin meski status mereka kini sudah resmi menjadi suami istri.


"Mas.." Panggil Miranda lembut saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi. Namun jawab Choki hanya berdehem singkat tanpa menoleh.


"Aku tau kamu pasti capek karna acara kemarin. Ee.. Kalau gitu kamu istirahat aja lagi. Biar nanti aku ajak bibi Yani agau Tiur untuk kerumah ayah ngambil kado." Jelas Miranda seraya menatap Choki yang tengah bercermin.


"Gak usah ajak mereka, biar aku yang anter nanti siang." Jawab Choki lagi-lagi tanpa menoleh.


......................


Slama diperjalanan tak ada perbincangan atau obrolan serius diantara Choki dan Miranda. Selalu Mirandalah yang membuka suara untuk memulai obrolan, walaupun balasa Choki hanya singkat. Miranda berusaha untuk membuar suasana menjadi hangat, namun tetap saja. Sikap dan wajah Choki flat.

__ADS_1


Saat mobil berhenti diarea perkarangan rumah, Choki bergegas keluar mobil dengan kesan terburu-buru. Ia membukakan pintu mobil untuk Miranda, sontak sikap Choki membuat Miranda melongo.


"Ayok keluar, kok malah bengong." Ucap Choki seraya tersenyum tipis.


"Eh iya, makasih mas." Jawab Miranda dengan tersenyum namun ada tatapan bingung lantaran nerasa tak percaya dengan perubahan sikap Choki secara tiba-tiba.


"Assalammualaikum ayah.." Seru Miranda seraya memasuki rumah. Tak ada jawaban dari siapapun disana.


Rumah yang kemarin begitu ramai serta ada gelak canda tawa, kini kembali sepi seperti sedia kala. Taman samping rumahpun kini sudah kembali bersih, sepertinya pihak W.O sangat profesional, mereka benar-benar membersihkan semuanya dan mengembalikan suasana rumah seperti sedia kala.


Kini kaki Miranda melangkah perlahan menaiki anak tangga, dan Choki yang melihat Miranda pun ikut menaiki anak tangga. Miranda melangkah menuju kamar ayahnya yang tak jauh dari tangga, saat mengetuk seraya memanggil namun tak ada jawaban dan itu membuatnya merasa heran lalu membuka pintu kamar ayahnya yang ternyata tak dikunci.


"Ayah.." Panggil Miranda seraya melihat kearah kasur namun tak ada sosok pak Irwan disana. Dan kembali melihat sekeliling namun tetap nihil. Sampai akhirnya Miranda keluar dengan cepat begitu mendenvar suara seorang wanita menyapa suaminya.


"Oh mbok Yu toh.. Mbok dimana ayah.?" Tanya Miranda pada mbok Yu yang tak lain adalah seorang pembantunya sekaligus perawat yang sudah bekerja dirumahnya sejak Miranda masih kecil.


Wajah mbok Yu nampak kebingungan saat ingin menjawab pertanyaan Miranda. Hal itu membuat Miranda melangkah mendekati mbok Yu seakan merasa ada yang tak beres. Dan ternyata benar dugaan Miranda, mbok Yu menitikkan air mata ketika Miranda memegang kedua tangan mbok Yu.


"I-itu mbak,, ba-bapak..."


"Bapak apa?? Kenapa?!!" Potong Miranda panik dan menoleh kearah Choki dan kembali menatap mbok Yu yang tertunduk.


"Bapak masuk rumah sakit mbak." Lirih mbok Yu seraya menangis.


Sontak dada Miranda terasa sesak saat mendengar penjelasan mbok Yu, seketika kakinya lemas seakan tak mampu menahan diri dan ingin terjatuh, namun reflek Choki menangkup lengan Miranda dan menahannya agar tak terjatuh kelantai.


"Rumah sakit mana? Kenapa Bapak bisa masuk rumah sakit.? Terus kenapa gak ngabarin kita.!?" Tanya Choki tajam seraya melirik mbok Yu.


"Ma-maaf pak Choki, mbok gak ngebolehin bapak untuk ngasih tau mbak Mira karna takut ganggu malem-malem. Bapak ngeluh sakit didadanya pas nganter mbak sama bapak keluar rumah. Gak lama bapak pingsan terus....." Ucapan mbok Yu terpotong ketika Choki menyentaknya untuk diam lalu mengajaknya untuk memberitahu dimana alamat rumah sakit tempat pak Irwan dirawat.


......................


Slama diperjalanan tak ada suara obrolan selain suara isak tangis Miranda dan ucapan mbok Yu menenangkan Miranda. Mengajaknya untuk istigfar seraya mendoakan bapak agar tetap sehat dan (sadar). Saat mbok Yu tak sengaja mengucapkan kata (sadar). Kata itu membuat Miranda kembali terisak. Pasalnya Miranda tau betul apa yang terjadi dengan ayahnya saat ini.

__ADS_1


Choki hanya bisa diam dan sesekali melihat kebelakang lewat kaca tengah. Ia melajukan mobilnya dengan cepat, agar tak banyak membuang waktu diperjalanan.


Sekitar 10 menit kemudian mobil Choki tiba dirumah sakit dan segera memarkirkan mobilnya diarea parkir. Miranda dan mbok Yu segera turun dan langsung berlari kecil masuk ke gedung rumah sakit.


"Cepet mbok, dimana kamar ayah.!?" Gerutu Miranda saat sudah memasuki gedung rumah sakit. Choki yang berada dibelakang, berusaha mengikuti Miranda dengan melangkah lebar agar tak tertinggal jauh.


"Mbak, yang ini kamar bapak." Panggil mbok Yu saat melihat Miranda kelabasan saat menuju kamar pasien. Tanpa menjawab, Miranda langsung masuk keruang pasien dan seketika menangis saat melihat ayahnya yang terbaring lemah dengan selang yang nenancam dihidungnya. Dan ada beberapa alat bantu detak jantung dan tabung oksigen.


"Ayah...!!" Panggil Miranda sembari menangis, ia sudah tak mampu menahan tangis dan rasa sesak didadanya saat melihat orang tuanya terbaring tak berdaya seperti ini.


Choki yang sudah berdiri dibelakang Miranda sedari tadi, berusaha untuk memenangkan Miranda dengan mengelus lembut punggung Miranda. Suara tangis yang pecah membuat seising ruangan ikut merasakan sakit yang teramat dalam. Bagaimana tidak, orang tua semata wayangnya yang Miranda sayangi tinggallah pak Irwan seorang. Miranda tak mau kalau sampai kehilangan sang ayah, sudah cukup ibunya saja yang pergi meninggalkan mereka berdua lebih dulu. Itu saja sudah membuatnya kacau saat melihat secara langsung ketika ibunya menggembuskan nafas terakhirnya.


"Ayah.. Bangun yah.. Kok bisa sampe kaya gini sih yah, ayah kenapa gak bilang kalau dada ayah sakit. Hiks hiks..!!" Ujar Miranda sembari memegang erat tangan pak Irwan.


"Yah.. Bangun.." Lirih Miranda dalam isak tangisnya. Setelah beberapa detik kemudian, jari pak Irwan memunjukkan pergerakkan kecil yang dirasakan Miranda. Reflek Miranda membulatkan mata lalu menatap ayahnya.


"Yah, ini Mira yah, Ayah.." Panggil Miranda lembut sembari mengelus pipi keriput pak Irwan. Terlihat wajah yang tak lagi segar, banyak kerutan yang termakan oleh usia.


Senyum tipis terukir dibib*r pak Irwan saat ia melihat putri cantiknya berada disisinya. Sekuat tenaga pak Irwan memperErat genggaman tangan putrinya. Seolah memberi isyarat ada yang ingin ia katanya.


"Mira disini yah, ayah cepet sehat ya. Nanti kita pulang sama-sama oke yah.." Seru Miranda dengan setia mengeratkan genggaman tangannya.


Pandangan pak Irwan teralihkan kearah Choki, tersenyum tanpa berkata saat melihat Choki yang berdiri tepat dibelakang Miranda dan dengan setia mengelus lembut punggung dan pundak putrinya. Choki yang menyadari tatapan pak Irwan hanya bisa terdiam dan mencoba membalas denfan senyuman, meski ia tak begitu mengerti apa maksud dari tatapan sekaligus respon senyum dari pak Irwan.


Ntah kenapa respon pak Irwan kini menunjukkan gelagat aneh saat setelah menatap kedua anaknya. Nafasnya terlihat sesak, Miranda, Choki dan mbok Yu ikut merasakan ada keanehan dari gelagat pak Irwan yang tam biasa. Kepanikkan mulai terjadi ketika tubuh pak Irwan mengalami kejam, reflek mbok Yu menekan bel darurat berkali-kali.


Seketika perawat dan Dokter yang berjaga langsung menyerbu masuk kedalam ruang pasien. Dan meminta para keluarga untuk menunggu diluar. Awalnya Miranda menolak, namun dengan cepat Choki memeluk Miranda seiring mengajaknya melangkah keluar ruangan.


"Biarkan Dokter yang menangani ayah, percayakan semua pada mereka. Dan kita disini berdoa ya.." Ucap Choki lembut tanpa melepaskan pelukkan mereka.


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2