Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
GILA KAMU KIM!


__ADS_3

"Oppa.." Lirih Karin dengan suara serak. Ia memanggil Kim saat pertama ia membuka matanya perlahan dan melihat Kim yang tertidur dengan posisi terduduk dengan kepala yang tegletak disisi kasurnya.


Sontak Kim langsung terbangun dari tidurnya dan terkejut saat mendengar suara Karin.


"Eoh eoh.. Chagia..." Sahut Kim seraya memeluk Karin yang masih terbaring lemah.


"Aigo.. Chagia, syukurlah.. Aiihh aku khawatir jika kamu sampai koma karna tak kunjung sadar." Lirih Kim seraya memandang wajah Karin yang masih pucat dan ada beberapa warna lebam biru karna bentukan dan bekas pukulan.


Seketika Karin menangis tanpa suara. Ia mengingat kejadian kemarin saat dirinya dihajar habis-habisan sampai harus merasakan kesakitan yang luar biasa pada perutnya.


"Perutku sakit op-pa.." Rintih Karin seraya mencoba memegang perutnya dan setengah sadar saat ia meraba pelan perutnya yang kini sudah kembali rata.


"Oppa?? WAE!!! Dimana bayiku? OPPA...!!!! DIMANA BAYIKU!!" Teriak Karin histeris saat menyadari perutnya yang tak lagi buncit dan menatap Kim yang tak menjawab pertanyaannya.


"Oppa!! Jawab aku. Dimana bayiku?! YA!!!!!! DIMANA DIA!!" Teriakkan Karin semakin keras saat Kim kunjung menjawabnya. Kim meraih tubuh Karin, memeluknya erat dan ikut menangis karna sedih sekaligus tak mampu menjawab kenyataan yang sebenarnya.


Tangis Karin pecah saat Kim memeluknya dan ikut menangis. Diamnya Kim seakan memberi jawaban pada Karin. Perut Karin masih terasa sakit lantaran jahitan yang belum kering, namun tangannya masih kuat saat memukul dan mencakar tubuh Kim. Ia terbawa emosi lantaran Kim yang masih saja diam saat ia bertanya mengenai keberadaan bayinya.


Seketika Karin mendoronh tubuh Kim dan menangkup wajah Kim. "Oppa katakan padaku, dia baik-baik saja kan.? Dimana dia oppa? Aku ingin melihatnya, bawa aku padanya sayang. Kajja.?" Ujar Karin seraya menatap wajah Kim sembari memohon.


"Mian-hae chagia.. Mian.." Jawab Kim dengan suara berat.


"WAeee?? Untuk apa meminta maaf? Kajja bawa aku keruang bayi. Aku ingin bertemu dengan bayi kita." Sahut Karin antusias, namun Kim tak menggubris Karin dan masih tetao terdiam.


"Jika kamu tak bisa menemaniku untuk melihatnya, biarkan aku bisa sendiri yang kesana. Minggir.! Aagghhhh!!."


Seakan termakan emosi karna sikap Kim yang hanya diam. Karin memberontak dengan mencoba memaksa turun dari kasur. Namun ia tak mampu bergerak saat sakit pada jahitannya terasa sangat amat menyakitkan.


"Wae wae wae... YA! Chagia jangan paksa dirimu, diam dan istirahatlah. Kamu baru saja menjalankan operasi, jangan membuat aku khawatir."

__ADS_1


"KAMU NYURUH AKU DIAM!? GAK BISA KIM, AKU GAK BISA DIEM SAAT KAMU CUMAN BISA DIEM SAAT AKU NANYA DIMANA BAYI AKU.!! Teriak Karin dengan suara meninggi.


"YA! Jangan berteriak saat berbicara denganku! Dengar sini! Disini bukan hanya kamu yang merasa kehilangan. Aku juga merasa kehilangan. Jadi bersikaplah dengan tenang, dan terima kenyataannya.! Dia sudah pergi Karin-ah." Jelas Kim yang membuat Karin seketika membisu dan memandang wajah Kim yang kini berada sangat dekat dengannya.


"Kamu bilang apa? Apa aku gak salah dengar? Aku baru aja denger kalau kamu bilang aku kehilangan bayiku dan kamu suruh aku tenang! GILA KAMU KIM! AAAAGRHH!! Minggir..! Aku gak bisa percaya omongan kamu sebelum aku liat sendiri dengan mata kepalaku.!"


Karin memberontak dengan memaksa turun dari kasurnya dan menarik paksa selang infus yang menancap ditangannya. Karin menahan perit diperut bagian bawahnya. Ia melangkah pelan, mencoba meninggalkan kamarnya. Tubuhnya tertatih sembari memegang tembok dan terus melangkah pelan.


Kim yang awal terdiam ditempat langsung melangkah menghampiri Karin dan mencoba menuntunnya perlahan namun Karin menepis dan menolak Kim menyentuhnya.


"Chagia.. Kamu mau kemana.?"


"Apa kamu tuli?! Aku mau liat anak aku, kalau kamu gak mau nganterin, aku bisa sendiri.!" ujar Karin judes.


Karin terus melangkah dilorong rumah sakit dan ditemani Kim yang berada dibelakangnya. Beberapa menit lalu beberap perawat yang bertugas memergoki Karin yang berjalan tanpa memberitahu mereka. Awalnya mereka hendak menegur Karin, namun langkah mereka terhenti saat melihat isyarat dari Kim untuk tetap membiarkannya dan jangan mendekati Karin.


Sampai pada akhirnya Karin tiap didepan ruang kamar bayi. Kaca bening nan besar menjadi pembatas. Siapapun yang melintas dapat melihat dengan jelas bayi-bayi yang berada didalam kasur kecilbyang berbentuk tabung. Karin menyentuh kaca itu dengan sorot mata kesedihan.


Air matanya mengalir deras saat ia melihat bayi-bayi yang sedang tertidur lelap dengan tubuhnya yang berbalut bedong. Hatinya terasa teriris saat mengingat kejadian kemarin yang menimpah dirinya dan juga bayinya.


"Kenapa aku gak bisa dapet kesempatan untuk punya Anak ya Allah." Gumam Karin sembari terisak. Ia berkali-kali membentur pelan kepalanya kedinding kaca.


"Chagia.." Panggil Kim seraya mendekat dan meraih tubuh Karin lalu memeluknya


Tangis Karin pecah saat Kim memeluk erat tubuhnya, ia juga ikut menitikkan air matanya. Kesedihan yang mereka rasakan amatlah menyakitkan, merasa paling terpuruk dalam menghadapi cobaan yang datang secara tiba-tiba. Para pasien dan orang-orang yang lewat hanya bisa melihat sekilas tanpa manatap lama keduanya. Mereka juga pasti mengerti dengan situasi yang dialami Karin dan juga Kim.


......................


"Lain kali kalau ingin turun dan berjalan jangan memaksakan diri ya Nyonya." Ucap Dokter saat setelah ia memeriksa j4hitan dip3rut Karin.

__ADS_1


Karin tak menjawab sepatah kata pun apa yang diucapkan Dokter padanya. Pandangannya kosong kedepan.


Dokter menarik nafas saat setelah melihat pasiennya yang terlihat begitu stress atas kejadian yang menimpah diri dan juga calon bayinya.


"Tuan Kim, bisa kita bicara diluar sebentar." Pinta Dokter saat menoleh ke arah Kim. Kim pun mengangguk dan mengikuti Dokter melangkah keluar kamar meninggalkan Karin sejenak.


......................


"Apa jahitannya bermasalah Dok.?" Tanya Kim khawatir.


"Aniyo, lukanya aman. Hanya saja emosional yang dialami pasien harus diwaspadai. Jauhkan pasien dari benda-benda yang membahayakan dirinya. Sebisa mungkin pantau pasien sesering mungkin. Saya khawatir kejadian ini membuat dirinya semakin stress dan berujung depresi berat." Jelas Dokter tanpa basa basi.


Beberapa menit kemudian Kim kembali masuk kedalam kamar, ia melihat Karin yang sudah tertidur dengan posisi memiringkan tubuhnya membelakangi Kim. Pernyataan dan saran Dokter padanya tadi membuat pikiran dan perasaannya semakin menyayangi dan mencintai Karin.


"Chagia, mianhae.. Aku tak becus menjagamu dan juga bayi kita. Kali ini biarkan aku menebus kelalai'anku chagia." Gumam Kim begitu menatap wajah Karin. Dan seketika Kim menitikkan air matanya saat setelah ia melihat mata Karin mengeluarkan air matanya.


Kim mengecup lama kening Karin, perasaan sayang begitu tulus Kim curahkan lewat ciumannya itu. Karin pun merasa tersentuh atas sentuhann bib*r Kim yang terasa dingin dan bergetar karna menahan tangis.


Tak lama Karin mendengakkan wajahnya dan menatap Kim. "Tidurlah chagia, maaf aku ganggu tidur kau ya." Ujar Kim. Karin menggeleng dan tersenyum datar ketika membalas ucapan Kim.


Kim pun mulai tersenyum saat melihat senyum terukir diwajah Karin. "Kamu ingin sesuatu? Mau makan buah?" Tanya Kim.


Tanpa menjawab, tangan Karin meraih wajah Kim yang kini berada dihadapannya. Seakan paham saat Kim melihat sorot mata Karin yang tertuju pada bib*rnya. Kim pun mengikuti arah tujuan yang Karin inginkan.


Awalnya hanya sekedar sentuhan, dan lama kelamaan sentuhan itu berubah menjadi permaian yang begitu menenangkan. T4utan yang mereka mainkan seakan obat yang majur untuk mengobati perasaan sedih yang mereka alami saat ini.


Walau rasa kehilangan dan kesedihan mereka hanya terobati sesaat. Setidaknya ciuman mereka kali ini bisa membuat mereka sedikit tenang. "Izinkan aku merawatmu chagia." Ucap Kim disela-sela ciuman mereka, dan Kim kembali melanjutkan ciumannya dengan menangkup kepala belakang Karin.


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2