
"Mwo?! Kau mengusirku? Apa karna dia kau tega mengusirku hah.?! Begini kau sekarang, dibutakan oleh cinta yang tak sebanding dengan kasih sayang yang ku berikan padamu sedari kita bersama dulu. Ada apa denganmu Oppa, kenapa perubahanmu begitu drastis sekarang.!!" Tutur Irene dengan suara bergetar dan bendungan air mata yang memaksa ingin terjun bebas melewati pipinya. Irene tak menyangka akan mendapat perlakuan tak mengenakan seperti ini dari Kim.
"Ck!! Jangan memancing amarah ku Irene-shi, dan jangan membuatku untuk menjelaskan kembali apa penyebab perubahan sikapku saat ini. Cepat pergi dan jangan ganggu aku.!"
"Aku tidak akan kemana-kemana.!" Jawab Irene sembari melingkarkan tangan dengan mimik wajah rengek seperti anak kecil.
"Yaishhh.. Bisakah kau mengerti untuk kali ini Irene-shi. Kau terus menganggu ku, aku hany...."
Ceklek.. Suara pintu terbuka.
"Mau kau apakan koper itu Karin-shi.?!" Tanya Kim heran saat meliat Karin keluar kamar dengan mengangkat koper besar. Tanpa menjawab, Karin melangkah melewati Kim dan Irene.
"Mau kemana.?!" Tanya Kim sembari menahan tangan Karin.
"Tolong lepaskan tangan anda tuan.!" Jawab Karin sinis seraya melirik Kim.
Kim menarik paksa tubuh Karin agar tak pergi meninggalkan apartemennya, namun ada perlawanan dari Karin yang tak mau kalah dari tarikkan Kim.
"YA!! Tuan!! Lepas ku bilang, sudah cukup kau mempermainkan perasaanku dengan cara seperti ini. Kehadiranku sebagai selingkuhanmu hanya akan membuat kekacauan. Aku tak ingin membuat kalian bertengkar hanya karna wanita rendahan sepertiku." Ucap Karin seraya berontak ingin melepaskan tangannya dari Kim.
"Apa maksudmu!? Siapa yang kau maksud selingkuhan.?" Tanya Kim heran menatap Karin lalu beralih melirik kearah Irene.
"Wae!? Aku tak bilang padanya kalau dia selingkuhan. Aku hanya bilang kau dan aku sepasang kekasih." Sahut Irene santai.
"Aaggrhhh.." Geram Kim saat mendengar ucapan Irene. Dan menarik koper yang dipegang Karin lalu mebanting kesembarang arah. Dan kemudian ia kembali memegang kasar tangan Karin.
"Chagia, jangan percaya ucapannya, dia hanya berpura-pura. Percaya padaku.!!" Ucap Kim serius dan menatap Karin sendu.
"Cih.. Aku harus percaya pada lelaki sepertimu, lalu jika memang kau dan dia tak ada hubungan apapun. Kenapa dia ada disini? Bahkan dia dengan telaten membuatkan makanan untukmu." Tanya Karin penuh penekanan.
"Tentu saja aku membuatkannya makanan, sebelum mengenalmu, Kim dan aku sudah jauh lebih lama tinggal bersama." Sahut Irene tiba-tiba.
Lirikkan Karin beralih tajam menatap Irene. Kelopak matanya membendung air mata penuh emosi. Kim yang melihatnya sempat tertegun, ia tau emosi Karin saat ini sedang memuncak.
"CUKUP IRENE-shi.! Lebih baik kau pergi sekarang sebelum aku berbuat kasar padamu." Tekan Kim seraya menarik kasar tangan Karin memasukki kamar.
Kim menghempas tubuh Karin keatas sofa yang ada didalam kamar. Menatap Karin yang tertunduk dan melihat tubuhnya bergetar karna menangis. Seperkian detik Kim meninggalkan Karin didalam kamar, dan mengunci pintu kamarnya.
Dengan emosi yang masih memuncak, Kim melangkah terburu-buru mendekati Irene, mengambil tas Irene yang tergletak dimeja tv. Lalu menarik paksa tubuh Irene agar keluar dari apartemennya.
"AAAGGHHH!! Sakit Oppa le-lepas!!." Ringis Irene sembari mengikuti langkah Kim yang berusaha menariknyaenuju pintu.
"Jangan kembali dan menunjukkan batang hidungmu dihadapan ku lagi.! Atau aku akan membuatmu merasakan akibatnya.!" Kesal Kim saat berhasil menghempas tubuh Irene kearah pintu keluar dari apartemennya.
__ADS_1
"Tega kau Kim! Sadarlah sebelum kau terjatuh terlalu dalam. Kau dan dia tak akan bisa bersama. Ini semua hanya sementara. Aku yakin itu.! Kau tak bisa mengambil dia dari Tuhannya Kim.!" Teriak Irene dengan wajah yang sudah dipenuhi guyuran air mata.
Tanpa memperdulikan ucapan Irene, Kim bergegas membuka pintu dan mendorong tubuh Irene perlahan. Lalu menutup pintu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Disisi lain, Karin mendengar perseteruan mereka dari dalam kamar. Ia tak mampu menahan tangisnya yang semakin menjadi saat mendengar ucapan Irene akan keyakinan mereka yang bertolak belakang.
"Ya Allah apa maksud dari ini semua. Kesalahan apa yang tlah ku perbuat dimasa lalu. Sampai aku harus menghadapi perasaan cinta bertolak belakang seperti ini." Gumam Karin seraya menahan tangisnya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Tak berselang lama Kim kembali membuka pintu jamar Karin. Dan melangkah perlahan masuk kedalam.
Kim berlutut tepat didepan tubuh Karin. Menatap Karin sendu dan perasaan bersalah atas kejadian hari ini. Ia menarik lembut tangan Karin, mengusap perlahan pergelangan tangan mungil itu guna meredakan rasa sakit akibat cengkramannya saat menahan Karin.
"Mianhae Chagia.. Aku tak sengaja membuatnya sakit." Ucap Kim lembut dan masih dengan usapannya. Karin tak merespon dan membiarkan Kim terus dengan posisinya.
"Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku tidak siap jika harus kehilanganmu. Aku dan Irene tak memiliki hubungan apapun. Dia adik angkatku sedari kecil. Percayalah Karin-shi, kami benar-benar tak memiliki hubungan yang lebih." Ucap Kim lirih seraya menundukkan kepalanya. Sekilas Karin melirik Kim yang tertunduk ia seakan bisa melihat kesedihan yang menempel ditubuh Kim.
Dengan perlaham dan hati-hati Karin mengusap pucuk kepala Kim, tindakan Karin sontak membuat Kim mendongakkan kepalanya. Karin tersenyum saat tatapan keduanya bertemu.
"Berjanjilah untuk tetap berada disampingku. Apapun itu keadaannya." Ucap Kim tulus dengan tatapan serius. Karin hanya membalasnya dengan tersenyum manis dan masih terus mengusap lembut kepala Kim.
Dihatinya saat ini penuh dengan keraguan. Disatu sisi dia menyukai bahkan sudah mulai mencintai bossnya. Namun disisi lain dia ragu akan kesetiaan yang hubungan ini. Akankan berlangsung lama atau akan terputus ditengah jalan. Dirinya saat ini berada didekat Kim, namun pikirannya diisi sosok Choki yang ia tinggalkan tanpa pamit karna kejadian saat dihotel tadi.
"Aku ragu akan hubungan ini Kim. Aku takut terjatuh terlalu dalam sampai aku takut tidak mampu berdiri tegak, mau bagaimanapun waktu itu akan datang. Yang dimana dinding pertahanan kita benar-benar kokoh dan tidak bisa kita robohkan." Batin Karin seraya menatap Kim sendu. Ia mencoba untuk menahan ekspresi kesedihan yang dirasakan saat ini.
Karin terbuai dengan sentuhan Kim kian menghanyutkan. Sampai saat dimana Kim menuntun dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh kekasur.
"Ada apa ini?? Kenapa aku tak bisa marah padanya atas kejadian hari ini. Sikapnya ini seketika membuatku luluh. Bahkan sikap tempramen dan ucapan kasarnya seakan tertutup oleh sentuhan yang ia berikan padaku." Batin Karin berucap seraya mengikuti irama permainan Kim yang tak henti menjelajahi tubunya dari atas hingga kebawah.
"Aku benci aroma yang menempel ditubuhmu Karin-shi.!! Ku anggap kita impas atas kejadian hari ini. Dan akan ku pastikan setelah ini, kau tidak akan menghilang lagi dariku. Akan ku hapus jejak aroma ini. Ku harap dia belu menyentuh area favoritku." Batin Kim berdecak kesal saat mencium aroma maskulin dileher Karin. Kim sudah menduganya, Choki tak akan menyia-nyiakan kesempatan begitu saja.
"Ku harap ia belum menyentuh area favoritku." Batin Kim kembali berbicara sembari memasukkan jarinya kedalam area favoritnya itu.
"Aaaghhh.!!" Suara Karin saat Kim mengeluarkan jarinya dengan kasar.
Tanpa rasa canggung Kim menghirup jari-jari. Senyuman sinis terukir diwajah Kim saat setelah mencium jarinya.
"Aku menyukai aromanya Karin-shi." Alih Kim seraya menunjukkan mimik wajah menggoda. Bukan Karin namanya jika tidak menantang lawannya.
"Kec*p lah sayang, kec*plah jika kau menyukainya. Buat aku tebuai akan sens*si yang kau berikan." Ucap Karin dengan sorot mata menggoda.
Seketika Kim langsung menuruti permintaan kekasihnya itu. Suara kha sKarim terus dia lontarkan. Suara Karin terdengar indah dipendengaran Kim. Ia semakin terobsesi pada Karin dan tak rela bila harus membaginya pada siapapun.
......................
__ADS_1
......................
"Kamu pembohong Rin!! Kamu PEMBOHONG!! Aaaagrrhhhhh!!!" Teriak Choki didalam kamar hotel. Kekesalan ia memuncak saat mendengar Kim menyebut mereka adalah sepasang kekasih. Terlebih lagi Karin memilih pergi dengan Kim ketimbang bertahan dengannya disini.
Emosi Choki semakin menjadi, pikirannya sudah cukup stress dengan pekerjaan dan tubuhnya lelah karna perjalanan yang cukup jauh ini. Choki memesan minuman beralkohol yang dijual dihotel. Meneguk minuman itu tanpa menikmati rasa yang terkandunh didalamnya.
Ditengah-tengah tegukkannya, terdengar suara samar ketukkan pintu. Awalnya Choki tak menghiraukan suara itu. Namun ketukkannya semakin lama semakin terdengar. Karna tak ingin berhalusinasi akibat efek minumannya. Ia melangkah mendekati pintu dengan tubuh yang sedikit sempoyongan.
Ceklek... Pintu terbuka, Choki melihat sosok wanita yang tak asing namun aneh saat dipandang secara dalam. Dimatanya terlihat sosok Miranda, namun pikirannya berkata bahwa itu adalah Karin. Sesekali ia mengedipkan matanya mencoba konsetrasi, namun hasilnya tetap sama.
"Ka-kamu kem-kembali hem..?" Ucap Choki dengan nada khas orang mabuk. Miranda bingung dibuatnya dan sekilas mencium bau alkohol dari mulut Choki.
"Pak Choki.. Bapak mabuk?" Tanya Miranda seraya menatap wajah Choki dalam, guna meyakinkan pertanyaannya. Bukannya menjawab, Choki malah menarik paksa Miranda masuk kedalam kamarnya. Membanting pintu lalu mendorong tubuh Miranda kedinding kamar dengan kasar.
Choki mengukung tubuh Miranda dengan kedua tangan kekarnya. Kini tatapan mereka bertemu. Pikiran Choki benar-benar kacau saat ini. Wanita yang seharusnya ia kukung bukan Miranda, tapi Karin.
"Katakan apa mau mu.?!" Tanya Choki sinis.
"Apa maksudnya Ky, aku gak ngerti." Jawab Miranda polos lantaran memang ia tak mengerti apa maksud Choki.
Tanpa bertanya kembali, Choki langsung ******* kasar bib*r Miranda. Tentu saja ada balasan dari Miranda karna memang sebenarnya ini adalah suatu hal yang ia inginkan dari Choki. Namun cara Choki terlalu kasar, sampai ia sedikit kesulitan untuk mengimbanginya.
Cupp.. Suara kec*pan terakhir terdengar saat Choki melepas lum*tannya. "Pergilah dari sini, tinggalkan aku." Pinta Choki tanpa menoleh dan berbalik hendak meninggalkan Miranda. Namun dengan cepat Miranda menarik lengan kekasar Choki dan memeluknya. Tak ada respon baik Choki dia hanya diam saat Miranda memeluknya. Seketika ia membulatkan matanya saat Miranda mulai menci*mi lehernya sembari menghembuskan nafas ditelinga Choki.
"Aku menginginkannya Ky.." Bisik Miranda dengan nada menggoda. Dan tanpa pikir panjang Choki menarik kasar Miranda dan menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Emosinya kembali datang ketika mengingat aktivitasnya yang gagal dengan Karin. Yang seharusnya mereka tuntaskan malam ini, namun digagalkan karna kedatangan Kim.
Choki menarik kasar baju yang dikenakan Miranda tanpa memperdulikan perasaan wanita yang berada dibawah kukungannya.
Miranda mencoba bangkit guna membantu melepaskan pakaian yanh dikenakan Choki. Namun Choki menolak dan membalikkan tubuh Miranda dengan kasar.
"Diam dan nikmati saja.!!" Bentak Choki pada Miranda yang kini sudah terngkurap dengan tubuh polosnya.
Choki memasuki area gelap disana. Sentakan demi sentakan ia jalankan dengan kasar. "Aaghh apa ini.?" Batin Choki berkata namun tubuhnya masih setia bergerak. Ternyata Ia bukanlah yang pertama bagi Miranda. Ia tak mengira wajah Miranda yang polos dan terkesan lugu berbanding terbalik dengan tubuhnya.
Dengan perasaan yang masih kesal. Choki terus memimpin tanpa henti, bahkan ia sampai tega menjambak rambut Miranda sampai wajahnya mendangak keatas. Miranda sudah melakukan pelepasan namun bukan dengan rasa yang nikmat melainkan ia menahan sakit, sampai akhirnya ia mencoba menikmati permainan yang Choki berikan. Sampai pada akhirnya mereka melakukan pelepasan secara bersamaan.
......................
......................
Oke stop guys, lanjut besok ya.. Heheh
Jangan lupa follow dan like ya.. Kritik dan saran juga boleh. Silahkan ketik dikolom komentar 👍😊🙏
__ADS_1