Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Annyeong Chagia


__ADS_3

Rasa kantuk yang hilang karna egelisahan ditengah malam yang kian menggelap.


Tak berhenti dengan rasa cemas, sedih serta menunggu kabar dari Boby atau Rian yang tak kunjung datang.


Tiur yang sedari pukul 8 malam menemani Karin dan Maura dikamar pun tak bisa tenang karna melihat Karin yang terus menerus mondar mandir didekat telvon rumah.


"Mba.. Mba tidur aja dulu, nanti kalau ada televon dari mas Boby atau mas Rian. Nanti Tiur..."


"Sssttt.... Kamu aja yang tidur." potong Karin sembari menutup bibirnya dengan telunjuk, memberi isyarat untuk diam.


Rasa cemas yang kian menghantui Karin seketika memudar sedikit saat suara televon rumah berbunyi.


Tringg.. Tringg..


Tak sampai bunyi tringg ketiga, Karin langsung berhamburan melangkah cepat mendekati televon lalu mengangkatnya.


Berharap mendapat kabar baik dari Boby ataupun Rian, namun siapa sangka. Raut wajah yang awalnya berharap akan sesuatu yang baik berubah menjadi semua raut wajah tak percaya.


"Annyeong chagia.."


Ya.. Suara dan sapaan bahasa dari balik televon itulah yang membuat raut wajah Karin berubah total.


Rasa getar dalam diri serta detak jantung yang seakan berhenti dipersekian detik saat mendengar suara tak asing dari balik televon.


"Kim.." gumam Karin dalam hati.


Sontak air matanya terbendung penuh dan pelupuk mata yang tak mampu menahanya hingga air mata itu jatuh ablass melucur bebas dipipi mulus Karin.


"Chagia, apa ini kau.?"


Lagi.. Sapaan suara itu terdengar lagi seakan menyakinkan Karin bahwa ini benar-benar didunia nyata.


"Ais baiklah, biar dia saja yang berbicara dengamu."


"Hemm berbicaralah.." seru Kim seperti menyuruh seseorang berbicara pada Karin.


Namun beberapa detik Karin tak mendengar ada yang berbicara, sampai akhirnya ia mendengar suara seperti benturan, lebih tepatnya suara pukulan.


Bugh!!


"Sshhh.."

__ADS_1


Hanya suara desisan seseorang menahan sakit yang Karin dengar dari balik televonnya.


"Ha..llo.." Karin mencoba memberanikan diri untuk membuka suara.


Srakk srakk srakk..


"Chagia.. Benarkan ini kau, aishh akhirnya.. Fyuhhh."


Sedu Kim tiba-tiba kembali berbicara pada Karin dengan mengeluarkan nafas lega saat ia benar-benar yakin saat mendengar suara Karina.


Deg! Jantung Karin kembali berpaju seperti kuda liar yang berlari kencang.


"Kenapa bisa kau yang menelvon ku."


"Dimana kau.? Apa yang ter..jadi."


Karin menghujani pertanyaan pada Kim, seketika otaknya bekerja seperti detektif yang sedang menyelidiki kasus.


Kim menyeringai tipis saat Karin bertanya padanya. Ia mengatakan dalam dirinya sendiri bahwa Karina memang wanita cerdas dan peka saat membaca situasi saat ini.


"Aku slalu berada didalam hatimu chagia. Bukankah benar hem.?"


"Katakan apa mau mu Kim.!"


"Ouh Ouh.. Kenapa to the point sekali baby. Heh, apa kau tak merindukanku.?"


Seringai Kim tak kalah tajam menyentak dengan nada bicara pelan namun tajam.


"Cukup Kim! Katakan dimana Choki oppa."


"O..ppa? Ha ha ha.. Oppa!??"


Kim tertawa keras saat Karin memanggil Choki dengan sebutan *Oppa*.


Bugh!!


"Aagh..!!" Suara ringisan itu terdengar lagi ditelinga Karin. Bukan ringisan tapi suara lengkuh menahan sakit. Dan Karin kenal dengan suara itu.


"KIM..!!!"


Teriak Karin menggerang geram sembari memeras telapak tangannya. Dan untungnya eranggan geram Karin tak mengusik tidurnya Maura.

__ADS_1


"Wae chagia.? Ada apa.? Kenapa kau seperti kesal begitu.?"


"Cukup Kim. Katakan apa mau mu, berhentilah menyakitinya.!!"


Ucap Karin dengan memelankan nada bicaranya. Ia paham apa yang terjadi saat ini meski ia tak tau apa yang dialami mereka disana.


"Aku tak melakukan apapun chagia. Sungguh."


"Aku hanya duduk manis melihat kekasih gelapmu tersungkir ditanah."


Bisik Kim dengan suara yang bercampur nafas yang seakan bisa Karin rasakan deru angin dari nafas Kim.


Seketika mata Karin membulat sempurna saat mendengar tutur kata Kim dan membuatnya gusar bukan main. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan lalu mengigit ujung jarinya.


Kebiasaan yang slalu Karin lakukan saat panik ataupun termenung.


"Sudah ya. Aku tutup dulu. Next time kita bicara lagi. Aku ingin kembali menyaksikan pertunjukkan menyenangkan dihadapanku ini."


Ujar Kim yang sebenarnya memancing Karin, dan benar saja umpannya tepat sasaran. Umpannya melesan masuk kemulut Karin. Seperkian detik Karin langsung berhamburan memanggil namanya berharap untuk tidak memutus panggilan.


"Kim tunggu.. Tunggu sebentar."


"Katakan dimana kalian."


"Da..dan berhentilah untuk menyakitinya, ku..mohon Kim. Hiks."


Ujar Karin terisak diakhir katanya. Hal itu membuat Kim malah semakin geram dan murka. Mendengar Karina menangis memohon demi pria lain membuatnya dibaka api cemburu yang luar biasa panasnya.


"YA chagia, memangnya apa yang aku lakukan. Bukankah kau dengar tadi, aku hanya duduk manis disini. Aku tak menyentuhnya, aku hanya menyaksikannya saja. Percayalah."


"Datanglah sendiri jika memang kau tak percaya dengan ucapanku."


Jawab Kim dengan tajam seraya menatap tubuh Choki yang masih tersukur ditanah.


......................


......................


Makasih guys, ini bonus ya..


Next insya Allah tiap hari up nya.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, like komen yang membangun mood author ya guys.


Lopyuuuu😘😘


__ADS_2