Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Mianhae Chagia


__ADS_3

"Ada lagi Karin-shi.?" Sahut Kim seraya menyerahkan kembali berkas itu pada Karin dan menatap manis kewajah Karin.


"Nee tuan, nanti setelah makan siang anda ada temu janji dengan tuan Max untuk membahas pembelian sekaligus mengecekkan mesin untuk diletakkan dipabrik yang berlokasi di Busan." Jelas Karin tanpa merespon tatapan manis yang dilontar Kim sedari tadi.


Kim berdecak kesal saat sikap manis tak direspon sang kekasih. Akhirnya Kim memberi isyarat melalu jemarinya, menyuruh Karin segera keluar dari ruangannya.


"Nee tuan, saya permisi." Tunduk Karin diiringi langkah mundur lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Kim.


......................


"Kenapa dia natap ku kaya gitu sih, bikin salting aja tuh si Kim." Batin Karin setelah ia menutup pintu ruangan Kim dan kembali melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.


Waktu terus berjalan sampai menunjukkan waktu makan siang. Dan Karin memutuskan bangkit dari duduknya niat hati hendak menuju pantry guna menyiapkan makan siang untuk Kim. Namun tanpa diduga Kim keluar ruangan dan melangkah mendekati meja Karin.


"Karin-shi persiapkan dirimu, 10 menit lagi kita keluar." Jelas Kim dan berlalu meninggalkan Karin. Kim berjalan menuju lift, dan layar lift memunjukkan Kim turun kelantai basemant. Karin yang paham langsung bersiap-siap membawa berkas dan lainnya untuk meeting bertemu Max nanti. Dan segera melangkah lebar menuju basemant.


Setibanya dibasemant mata Karin sempat mengelilingi area disana guna mencari keberadaan mobil Kim. Tak berserang lama akhinrya ia menemukannya dan langsung berjalan mendekat lalu memasuki mobil dan duduk kursi depan.


"Hufh.." Geruh nafas Karin berhembus kasar.


"Aish, kenapa nafasnya saja membuat merasa gugup." Batin Kim saat mendengar nafas Karin dan sekilas melirik kearahnya.


Tanpa aba-aba Kim langsung menancapkan pedal gas dan melajukan mobilnya keluar kantor. Tak ada topik pembahasan diantara mereka slama beberapa menit.


"Tuan, boleh aku bertanya." Minta Karin.


"Emm, katakan." Singkat Kim


"Kenapa kau tidak meminta supir kantor untuk mengantar tuan, bukankah itu lebih pantas dilihat dari pada kau sendiri yang mengendarai mobil ini." Kim tersenyum simpul saat mendengar ucapan Karin.


"Aku sengaja tak memakai supir untuk mengantar meeting kali ini. Bukan tanpa alasan, tapi... Karna aku ingin berdua saja denganmu." Tangan Kim meraba p*ha Karin dengan tatapan nakal ssperti menginginkan sesuatu disana.


Plak..!! Suara tamparan tangan Karin memukul tangan Kim yang nakal.


"Awww sakit babe.. Kuat sekali pukulanmu Karin-shi." Protes Kim sembari mengkibas-kibas pelan tangannya.


"Ooh mianhae tuan, apa sesakit itu..?" Karin merasa bersalah dan langsung menyambar tangan Kim, mengusap lembut agar sakitnya bereda.


"Mianhae-oh aku tak sengaja memukulnya tuan."


Kim hanya diam saat Karin memohon maaf, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan tiba-tiba menarik kasar tangannya dari usapan Karin.


"Aigo.. Ada apa denganmu tuan, aku sudah meminta maaf, aku sungguh tak sengaja memukulnya." Karin terkejut atas sikap Kim.


Tiba-tiba Kim menepikan mobilnya dipinggir jalan kota Seoul. Melirik sinis kearah Karin. Karin yang dibuat bingung atas sikap Kim hanya bisa terbengong saat menghadapi situasi seperti ini.


"Ada apa denganmu Karin-shi.?" Tanya Kik tiba-tiba.


"Mwo.? Aku.? Ada apa denganku tuan.?" Tanya Karin yang benar-benar merasa bingung atas pertanyaan Kim yang malah bertanya.


"Yes it's you, what's wrong with you. Kau tak bersikap manis saat bertemu denganku. Kau tau, aku berharap ketika kau masuk keruanganku kau tersenyum manis sembari berjalan mendekatiku. Tapi nyatanya ekspresimu flat Karin-shi. Aku kesal melihatnya." Jelas Kim soal tadi pagi dikantor saat Karin memberi berkas keruangan Kim.

__ADS_1


Karin terkekeh sembari menutup mulutnya dengan tangan, ia takut tertawa lepas saat mendengar alasan Kim sampai menunjukkan sikap kasar barusan.


"Jadi karna itu tuan.? Kau sampai menekuk wajahmu, dan menepis tanganku." Karin masih terkekeh kecil sembari manatap Kim.


"YA Karin-shi..!! Aku sedang kesal padamu, kenapa kau justru menunjukkan wajah seperti mengejek seperti itu." Tatapan tajam Kim tak berpaling kemanapun, Kim terus menatap Karin instens.


"Ya Tuhan.. Ternyata dia marah padaku karna sikap profesionalku saat bekerja." Gumam Karin yang masih melirik Kim dengan raut wajah kesal disana.


" Cup.." Sebuah kecupan kilas mendarat dibib*r Kim.


"Mianhae Chagia.. Aku sungguh minta maaf tlah membuatmu kesal. Aku hanya melakukan sikap profesional sebagai karyawan dikantormu. Sungguh, aku tak bermaksud apapun." Karin menangkup kepala belakang Kim dan kembali mengec*p bib*r Kim, dan kec*pan itu berubah menjadi lum*tan lembut. Mereka menautkan bib*r mereka dengan kelembutan.


"Syukurlah kau melakukannya dengan alasan Karin-shi. Aku benar-benar kesal dengan sikapmu tadi." Kim berkata dalam pejamanan mata, namun fisiknya terus bergerak sesuai keiinganan. Tangan Kim mulai mer*ba gun*ng kembar milik Karin.


"Eegmm.." Kim tersenyum menang dalam tautannya saat mendengar suara rintihan dari tubuh Karin.


Sampai pada akhirnya Karin mendorong kasar tubuh Kim. Ci*man mereka sudah terlalu lama, sampai hampir kehabisan oksigen.


"Berhenti tuan, kau benar-benar rakus." Ucap Karin dengan nafas tersengal.


Kim tersenyum jahil saat melihat Karin yang hampir kehabisan nafas karna ulahnya.


"Bukankah kau duluan yang menci*m ku, jadi jangan salahkan bila aku menginginkan lebih." Tatap Kim mendekati wajah Karin. Namun dengan sigap Karin melakukan pertahanan.


"NO.!! Berhentinya Kim, jika terus berlanjut kita akan terlambat. Tuan Max pasti sudah menunggu."


Kim berdecak kesal ketika Karin menyebut nama Max. Ntah kenapa Kim jadi lebih sensitif saat Karin menyebut nama pria lain selain namanya.


Kim dan Karin turun dari mobil, lalu melangkahkan kaki mereka memasuki restoran. Suasana resto itu sangat pekat akan budaya jepang, saat pengunjung memasukinya mereka akam dijamu dengan interior budaya jepang yang didesain modern. Karin senantiasa mengikuti langkah Kim dari belakang sampai pada akhirnya berhenti disuatu ruangan.



Kim melepas sepatu tanpa menyentuhnya dan melangkah masuk. Karin yang melihat itu langsung mengikuti dan langsung melangkah masuk. Diruangan itu ternyata sudah ada Max dan wanita bertubuh sexy dan berparas cantik, wanita itu adalah pendampil Max. Dia bukan sekertaris atau sebagainya, dia hanya pendamping.


Max terkenal sebagai pria haus wanita, dia tak bisa melihat wanita cantik menganggur begitu saja. Sama seperti saat pertemuan diSingapure, saat pertama kali melihat Karin, Max jatuh hati padanya. Sama hal dengan saat ini, Max menatap intens Karin dari ujung kaki hingga kepala. Bukan tak menyadarinya, hanya saja Karin malas membalas tatapan Max yang menginginkan sesuatu dari Karin.


"Hai mr.Kim silahkan masuk, senang bertemu denganmu lagi, dan.. Hai nona Karin." Senyum Max terukir manis seraya menatap dan menyambut kedatangan mereka.


"Hi Max." Sahut Kim singkat.


Mereka pun duduk dikursi lantai yang tersedia, Kim dan Karin duduk bersebelahan. Kalau Max duduk tepat dihadapan Kim dan wanita pendamping Max duduk disebelahnya Max.


Pembahasan tentang bisnis pun dimulai. Max menjelaskan produk mesin terbaik dari perusahaannya, memberi penawaran terbaik untuk Kim. Karin pun mengagumi kelihayan Max saat menjelaskan keunggulan produknya dihadapan Kim. Untuk wanita pendamping disebelahnya Max hanya diam. Wanita itu tak banyak bicara dan hanya tersenyum saat mata Karin dan dia bertemu. Dan setelah Max menjelaskan pada Kim, wanita itu meraba lembut paha Max dan direspon oleh Max dengan senyuman.


"Emm aku menyukainya, jika memang ini yang terbagus dan bandel. Mungkin aku bisa memesan lebih untuk pabrikku diBusan." Tutur Kim seraya membaca detail produk mesin diatas kertas yang ia pegang.


Max tersenyum senang saat Kim mengutarakan suara dan menyukai produknya. Sebenarnya pertemuan ini bisa saja digantikan oleh manager produksi. Namun Kim memilih melihatnya secara langsung una memastikan mesin yang dipakai haruslah yang terbaik. Agar barang yang dihasilkan nantinya berkualitas terbaik.


Setelah membahas soal bisnis, mereka pun menyantap makan siang dan berbincang omong kosong belaka. Karin pun menyapa wanita yang berada disebelah Max, wanita itu bukan orang barat seperti Max, melainkan wanita Korea. Jadi saat mengobrol Karin tak perlu berbelit-bilit mengucapkan bahasa Inggris. Perlu kita ketahui, tokoh Karin disini memang pintar dalam berbahasa, namun bahasa yang ia kuasai hanya dua bahasa, yaitu bahasanya sendiri Indonesia, dan yang satu lagi bahasa Korea.


......................

__ADS_1


Tak terasa waktu terus berjalan, selesai meeting Karin dan Kim kembali ke kantor. Kim kembali keruangannya, begitupun dengan Karin. Sampai akhirnya waktu jam kantor telah berakhirnya.


Dredd.. Dredd.. πŸ“²πŸ“²


Pesan masuk: Park🐣


"Karin-shi aku sudah didepan kantormu. Cepat turun nee, aku menunggumu."


"Mampus..!! Lupa cerita gua. Aduh gimana nih.?" Batin Karin sembari menepuk jidat, dan kini menggigit kuku jarinya sembari memikirkan bagaimana caranya beralasan pada Kim.


"Kau kenapa Karin-shi..?" Tanya Kim tiba-tiba.


"Astaga!!! Tu-tuan, sejak kapan anda disitu." Kejut Karin saat melihat Kim yang sudah berdiri didepan mejanya.


"Baru saja, ada apa denganmu.? Kenapa seperti banyak pikiran seperti itu.?" Tanya Kim bingung melihat tingkah Karin.


"Aah aninde tuan, aku ha-nya biasa saja." Karin berusaha tersenyum saat berbicara, guna menutupi perasaannya yang sedang bingung.


"Arraseo.. Aku hanya ingin memberitahumu, aku akan pulang telat hari ini. Jangan menungguku nee, istirahatlah duluan." Kim menutup mulutnya dengan separuh tangan menyamping, sembari tersenyum gemas saat berbisik.


Karin yang merasa heran hanya mengangguk perlahan sembari memaksa senyum diwajahnya. Kim berlalu meninggalkan Karin ditempat.


"Haisss hampir saja ketahuan. Syukurlah keberuntungan masih memihakku saat ini." Gumam Karin seraya menaruh telapak tangannya tepat dibagian jantungnya.


......................


15 menit berlalu, Karin sudah siap turun kelantai bawah menemui mobil Park. Karin sengaja mengulur waktu, semastikan dengan feelingnya bahwa Kim sudah pergi jauh dari kantor.


Ceklek.. Braggh. Suara pintu mobil terbuka dan kembali tertutup.


"Kenapa lama sekali.?" Tanya Park ketika Karin masuk kedalam mobil.


"Sudahlah jangan banyak tanya, palli-oh jalan." Ketus Karin


"YA! Aku baru satu kali berbicara padamu hari ini, kenapa kau menuduhku banyak bicara dan menyuruhku diam."


"Hufth.. Bukan begitu Park-shi, mianhae-oh.." Karin menurunkan nada bicaranya sembari menatap Park lelah.


"Emm.." Singkat Park dengan anggukkan kepala, lalu menjalankan mobilnya.


Selama diperjalanan, tak ada pembicaraan diantara mereka. Sampai akhirnya mobil Park berhenti didepan gedung mes.


"Turunlah dan istirahat. Kau pasti lelah kan Karin-shi." Tanya Park tanpa melirik dan menatap Karin.


Karin dilanda kebingungan saat ini, dia bingung bagaimana ia memulai untuk menceritakan semuanya.


......................


......................


Oke guys sekian dulu ya.. Biar greget dan penasaran gimana kelanjutan ceritanya.. Author Up tiap hari dijam malam ya guys.

__ADS_1


__ADS_2