
Choki mengendari mobil menuju kebun, sedangkan Karin membawa sepeda motor saat berangkat kekebun. Namun saat perjalanan pulang kerumah, Karin ikut bersama Choki didalam satu mobil. Lalu sepeda motor Karin dibawa body guard Choki.
"Nasip-nasip, kirain mah bakal satu mobil dengan neng Karin, eh taunya malah sama si jangkrik." ucap Boby sembari memukul pelan motor jangkrik yang ia bawa.
Beberapa kilometer telah dilewatkan, Boby seketika mengerem dengan cepat saat sadar mobil pak Choki berhenti mendadak. Dengan wajah heran dan pikiran yang mendadak bertanya-tanya kenapa mobil pak Choki berhenti mendadak. Saat hendak mengecek kedepan, Boby melihat tangan pak Choki yang keluar dari kaca mobil memberinya isyarat agar melanjutkan perjalanan lebih dulu. Spontan Boby menuruti perintah tuannya dengan mendahului mereka.
Seperkian detik ia melirik kearah dalam mobil, sekilas ia melihat wajah Karin yang terdiam dengan sorot mata yang hanya melihat kedepan.
"Sekali lagi aku tekankan, aku gak akan mau ikut denganmu kak.!"
"Emmphh.."
"Le-lepas.!" Desak Karin saat Choki menarik dirinya dan m3nc1um paksa dirinya. Sekuat tenaga Karin berusaha melepas dengan mendorong dad4 Choki, namun tenaganya kalah.
Hampir satu menit, barulah Choki melepas ke3cupannya saat Karin tak lagi mendesak minta dilepas. Wajah mereka yang terbilang dekat, deru nafas keduanya sampai terdengar ditelinga masing-masing.
"Bawel. Kamu gak berubah Rin, masih bawel dan keras kepala." ucap Choki pelan sembari melirik bib1r sexy Karin. Rasa yang ia rasakan masih sama saat malam terakhir mereka kala itu. Dingin dan manis.
Tatapan tajam diperlihatkan Karin saat Choki mengatakan kalimat barusan. "Kamu mau tau kenapa aku kekeh gak mau ikut denganmu.? Ini alesannya. Kamu tuh cowo egois, plin plan.!" tegas Karin dengan nada suara kecil.
Seketika Choki terdiam membeku dengan masih menatap kedua mata Karin. Sesekali ia menelan slavinanya sembari mencerna maksud dari perkataan Karin.
"Gak b3go kan.? Ngerti kan maksud omonganku tadi.! Apa gini cara kamu menghargai pernikahan.? Gimana kalau istri kamu tau k3lakuan kamu yang kaya gini. Asal maen sosor kaya soang.! Tadinya aku iba saat kamu cerita detail kondisi mba Mira dan Maura, tapi kembali bertekad bulat untuk gak mau ikut kekota."
Perlahan Choki menjauhkan tubuhnya dari hadapan Karin dan menatap kosong kearah depan tanpa berkata apapun. Keheningan tercipta diantara kedua slama beberapa menit, sampai akhirnya Choki membuka suara sembari melajukan kembali mobilnya.
"Kalau itu gak akan terjadi lagi, dan aku berjanji untuk gak ngelakuin hal yang sama seperti tadi. Apa kamu akan mau ikut kami ke kota.?" tanya Choki lembut.
"Apa ucapan kamu bisa dipegang.?"
Choki hanya mengangguk saat Karin balik bertanya padanya. Dan keheningan diantara keduanya kembali terjadi lagi sampai akhirnya mereka sampai dirumah panti. Dengan cepat Karin langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan apapun pada Choki. Choki yang hanya diam sembari menatap punggung Karin menjauh dan menghilang masuk kedalam rumah.
"Kamu tau Rin, rasa didalam hati ini masih sama seperti dulu. Dan perlu kamu tau Rin, pernikahan ini pun sama sekali tak aku inginkan. Tak semudah yang kamu bayangkan Rin, betapa susahnya diriku mencari sosok yang sama sepertimu." ucap Choki dalam hati dengan tatapan kosong kedepan.
......................
"Hai Rin, kamu udah pula-ng" sapa Miranda pada Karin namun Karin tak menghiraukan Miranda dan berlalu begitu saja melewati Miranda.
Hanya berselang lama Choki pun masuk kedalam rumah. "Mas.. Gimana.? Karina mau kan.? Kamu ngomongnya gimana ke Karin.? Gak kasar kan mas.? Soalnya muka Karin nahan kesel gitu. Ada apa mas.?" bertubi-tubi Miranda melontarkan pertanyaan pada Choki yang baru saja masuk kedalam rumah.
Choki mencoba tersenyum pada Miranda sembari menyentuh wajah Miranda. "Kamu tenang aja ya, Karin pasti ikut dengan kita. Dia kesel karna bossnya main pecat dia tanpa alasan. Pas dia tau itu permintaan aku, dia sempet marah tapi aku berhasil bujuk dia." ucap Choki berbohong. Choki tak ada alasan lain selain berbohong. Semua ia lakukan demi kesehatan Maura dan juga Miranda. Rasa tak tega ketika melihat Miranda menahan sakit karna penyakitnya, ditambah dikala Maura ikut sakit, hal itu membuat Choki mengingat jasa-jasa alm ayah Miranda padanya dan juga alm ayahnya (Johan).
......................
...Sore Hari...
"Ndok, hati-hati yo. Harus nurut opo kata mas mu ojo ngerepoti yo ndok." ucap Ibu panti saat Karin memeluk Ibu panti tanda berpamitan.
"Nggih bu, ibu sehat-sehat disini. Insya Allah sebulan sekali Karin mudik ya bu. Tiap gajian Karin bakal mudik nemuin ibu." jawab Karin yang membuat orang-orang yang ada disekitarnya tertawa. Karin, Choki dan Miranda sepakat untuk menutupi alasan yang sebenarnya dari Ibu panti. Choki meminta izin pada Ibu panti untuk membawa Karin kekota untuk bekerja dikantornya, dan pastinya ibu panti menyetujui itu. Terlebih lagi ibu panti memang menginginkan Karin lekas pergi dari desa. Omongan para orang desa yang julid saat menyindir status Karin. Hal itu membuat hatinya sakit, apa lagi disaat Karin menyendiri diatap disetiap malamnya. Hati ibu mana yang tak sedih melihat putri asuhnya mengalami nasip malang seperti ini.
Saat Choki, Miranda dan yang lain bergantian berpamitan pada Ibu panti dan lagi body guard Choki memberitahunya bahwa semua barang sudah masuk kedalam bagasi mobil. Satu persatu mereka masuk kedalam mobil. Satu mobil ditumpangi supir (Boby), Choki, Miranda, Maura dan pastinya Karin. Sedangkan si mbok bersama para body guard dimobil satunya.
Karin melambaikan tangannya keluar jendela, dengan mata yang berkaca-kaca memandang Ibu panti dan para adik-adiknya yang kian menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
"Rin, tutup kacanya. Anginnya masuk, ada bayi disini." ketus Choki pada Karin.
"Eh iya, maaf mba." ucap Karin cengengesan sembari menutup kembali kaca mobil.
"Gakpapa Rin, aku juga dulu gitu waktu masih pengantin baru. Selesai acara lanjut diboyong kerumah mas Choki." ujar Miranda tersenyum malu sembari menatap Choki yang duduk dikursi depan.
Karin hanya ikut tersenyum merespon cerita Miranda dan ia mengingat kejadian tadi siang. Dan kembali kesal saat mengingatnya. "Dasar! Bisa-bisanya dia nyia-nyiain istri setulus ini." oceh Karin kesal dalam hati.
Gimana dengan perasaan Boby.? So pasti sangat-sangat senang, tak masalah tak dapat nomor ponsel Karin. Toh kedepannya dia bisa melihat Karin setiap hari. Begitu ia tau Karin akan ikut kekota, hatinya berbunga-bunga terlebih lagi ia tak mampu menahan senyum ketika Karin meminta tolong padanya untuk mengangkat kopernya kedalam bagasi.
Flashback On.
"Duh tolongin dong, mayan berat nih."
"Eh iya, sini.. Koper siapa nih Rin.?" tanya Boby yang peka saat melihat koper yang dibawa Karin bukanlah milik dari keluarga pak Choki.
"Koper kang somay didepan. Tolong dikasih ya, kasian nyariin soalnya." oceh Karin membohongi Boby yang seketika bengong mendengar ucapan Karin.
"Hahaha ya koper gue lah Bob, emang koper siape lagi. Gue ikut kekota, mau cosplay jadi majikan disana. Baek-baek lo sama gue ya, kalau gak gua pecut otot lengan lo dengan serabut kelapa." sambung Karin dengan tertawa puas saat berhasil meledek Boby.
"Eh gimana.? Seriusan Rin lo ikut kekota.? Wuihh.." seru Boby dengan perasaan yang berbinar-binar senang bukan main.
"Dih.. Kenape lo Bob.?" tanya Karin heran.
"Gakpapa Rin. Ada lagi gak barang yang mau dimasukin. Sini gue bantu." jawab Boby mengalihkan rasa senang pada dirinya agar tak terlihat terlalu menonjol dimata Karin.
Flaahback Off.
......................
"Eh, iya pak gakpapa kok. Lagi nikmati suasana sore hari disini. Beda memang ya pak, perjalanan sore didesa sama dikota. Disini tuh bikin betah, tapi balik ke kota nanti pastinya bikin makin nyaman karna sehabis dari desa. Pikiran terasa lebih rilex. Hehe" oceh Boby panjang lebar tanpa sadar Miranda mengetahui apa yang dirasakan Boby saat ini. Sekilas ia melirik secara bergantian kearah Boby dan Karin yang duduk pas dibelakang pengemudi.
"Yakin kamu Bob.? Yaudah kalau gitu, kamu tinggal disini aja, sembari jagain rumah panti." ledek Miranda yang langsung direspon Choki dengan anggukkan kepala. "Boleh juga." sambung Choki setuju.
Seketika Boby langsung kalang kabut dibuatnya. Panik akan keseriusan majikannya membuat ia merespon dengan cepat. "Eh ya jangan atuh buk pak. Kan saya kerjanya dikota, dirumah bapak sama ibu, masa tiba-tiba saya dideportasi."
Miranda hanya merespon senyum ledek saat ketika Boby mengomel protes akan keputusannya, begitu pun Karin ia cengengesan sembari mengigit ujung kuku ibu jarinya guna menahan suara tawanya agar tak keluar. Boby pun tak kalah menahan senyumnya yang manis saat melihat tingkah Karin dari kaca spion.
"Duh geulisnya pisan kamu Rin." gumam Boby dalam hati.
......................
Jam demi jam terus berputar, tak terasa sudah hampir 3 jam mobil melaju melintasi toll antar kota.
"Huwekkk.. Huwekk, tangis Maura terdengar kencang memecahkan suasana dimobil. Reflek Miranda langsung membuka sabuk pengamannya dan langsung berputar badan kebelakang mengambil Maura dari box bayi yang memang di dudukkan dibangku paling belakang.
"Sini mba, Karin ASIin dulu. Haus mungkin." sahut Karin setengah sadar karna sedari tadi ia tertidur slama perjalanan.
"Hah. Gimana.? ASIin.?" ucap Boby dalam hati dengan ekspresi bengong saat telinganya tak salah mendengar ucapan Karin yang akan memberikan ASI pada Maura.
"Kenapa Bob.?" tanya Choki tiba-tiba
"ee.. Gak pak, gakpapa." jawab Boby cepat dan terlihat sedikit syok.
__ADS_1
"Depan nanti mampir rest area. Saya mau nyebad dulu."
"Iya pak, siap." mulut Boby menjawab tapi matanya terus berusaha melirik kebelakang melalui kaca spion tengah.
Tak berselang lama, Boby mengarahkan mobilnya kearah rest area, dan mobil satunya yang membawa si mbok mengikuti daei belakang.
"Rin, aku tinggal bentar ya. Mau ketoilet, atau kamu mau bareng, biar Maura dipegang mas Choki dulu." ujar Miranda.
"Gakpapa mba, kita gantian aja."
"Oke, bentar ya."
Saat Miranda keluar tak lama Choki pun ikut keluar. Seperti yang kita tau Boby masih terbengong-begong memikirkan Karin yang memberikan ASI pada Maura, pasalnya ia tak tau mengenai masa lalu Karin.
"Oi, gak turun lo.?" tanya Karin memecahkan keheningan didalam mobil. Namun Boby tak menjawab malah fokus pada ponselnya.
"Lah dikacangin. Oi bison jantan.!!" (PLAKK) sambung Karin sembari memukul Boby dari belakang.
"Aaggh sakitttt."
"Lebay!! Lagi ngapain si.? Ditanya ngomong malah diem."
"Bentar. Gw lagi baca google."
"Hah gimana.? Baca google. Emang apaan.?"
"Itu. Soal cewe yang bisa ngasilin ASI tapi gak punya anak." jawab Boby polos. Dan Karin langsung tertawa begitu mendengar jawab dariBoby yang terdengar konyol.
"Hahahha ya mana ada b3go. Ya pasti harus hamil dulu baru bisa ngasilin ASI. Lulusan mana si lu kok b3go banget."
"Dahh, dari pada puyeng nyari jawaban yang gak akan lo dapetin di google. Mending turun beliin gw cemilan, laper nih. Abis dikuras Maura." sambung Karin meminta tolong pada Boby.
Sejenak Boby terdiam memandang kesembarang arah, ia membenarkan perkataan Karin bahwa yang ia cari tak akan mungkin ketemu jawabannya. Namun pikirannya terus dikeliling dengan berbagai macam pertanyaan.
"Oii Bobyyy.. Udah gak usah dipikirin, nanti gw ceritain asal muasal semuanya begitu kita sampe Jakarta. Sekarang gw minta tolong beliin cemilan, kasian Maura udah pules, takut bangun kalau harus gw bawa keluar."
"Oke deh, lo mau dibeliin apa.?"
"P0p mie 1 yang kuning yahh. Kuahnya setengah aja. Oce oce.." jawab Karin dengan nada gemas.
"Dih gumush amat nih cewe. Si4lan, baper lagi gw." gumam Boby dalam hati.
"Oi Bob.!!"
"Eh iya. Oke, gw turun bentar. Tunggu ya." jawab Boby dengan senyum manis di wajahnya.
......................
......................
Yang nanya soal Kim.
Kim ada kok, aku lagi fokusin Karin di Indo dulu. Kim bakal muncul nanti. Ikutin aja alur ceritanya. Okeš
__ADS_1