
"Ayo turun.." Ajak Choki pelan saat setelah ia memarkirkan mobilnya digarasi. Tanpa ragu Miranda langsung membuka pintu mobil dan hendak kebelakang bagasi untuk mengambil koper dan barang-barang miliknya.
"Eh gak usah Mir. Biarin aja, nanti biar staff yang bawain kedalem." Sahut Choki saat melihat Miranda membuka pintu bagasi mobil. Awalnya Miranda ngelag sejenak sampai akhirnya mengangguk pelan lalu melangkah mengikuti Choki masuk kedalam rumah melalui pintu samping yang berada tak jauh dari bagasi.
Begitu masuk, Miranda dan Choki langsung disambut hangat oleh para staff yang sudah lama bekerja dengan pak Johan. Ada 2 maid ibu-ibu yang bekerja untuk menyiapkan kebutuhan dan keperluan Choki, dari makan, pakaian dan sebagainya. Dan ada juga 4 orang lelaki yang 3 diantaranya bertubuh kekar sebagai bodyguard dan 1 sebagai supir. Belum lagi penjaga pagar dan beberapa tukang kebun yang juga bekerja dirumah pak Johan yang sekarang ditempati Choki.
Sebelumnya sudah mengetahui dan kenal dengan para maid, namun baru ini ia melihat secara langsung 4 staff laki-lahi yang bekerja dirumah Choki.
Tak heran bila banyak staff yang bekerja dirumah ini, karna ukuran rumah dan pekarangan yang cukup luas, dan lagi nama pak Johan yang memang terpandang diberbagai kalangan. Namun tertutup soal privasi keluarganya. Sampai-sampai beberapa koleganya terkejut saat mengetahui pak Johan telah memiliki anak yaitu Choki. Sedangkan didunia bisnis pak Johan tak pernah menunjukkan jati diri sang istri sah yang telah lama meninggal dan tak ada yang tau kalau Choki anak dari wanita simpanannya. Yang tau hanya pak Irwan sebagai tangan kanan pak Johan. Bahkan Miranda pun tak mengetahui hal itu.
Yang ia tau saat ayahnya bercerita tentang Choki adalah anak dari boss ayahnya dulu yang sempat tinggal dipanti asuhan lantaran ibu Choki pergi meninggalkan suaminya yang tempramen lalu ibu Choki menitipkan Choki disana sampai dewasa. Dan 20 tahun kemudian Choki kembali bertemu ayahnya hingga sekarang. Choki lah yang meneruskan bisnis mendiang ayahnya. Dan untuk sang ibu dari Choki sendiri tak tau keberadaannya dimana sampai saat ini. Ayahnya hanya berpesan pada Miranda untuk menjadi istri yang patuh pada suami dan menjadi ibu yang penyayang saat dirinya kelak menjadi orang tua bagi anak-anaknya.
Saat setelah menerima sambutan dari para staff, Choki melangkah maju seraya melirik sekilas kearah Miranda yang berada tak jauh dibelakangnya. Seakan tau maksud Choki, Miranda langsung menyusul langkah Choki yang menaiki anak tangga menuju kekamarnya.
Ceklek.. Suara pintu kamar terbuka, saat Miranda melangkah perlahan memasuki kamar Choki. Ia sempat melongo sesaat, ketika ia melihat kamar Choki yang gelap, kombinasi warna navylah yang membuat suasana ruang kamar menjadi gelap, namun saat tombol lampu ditekan dan sinar lampu menerangi kamar. Barulah terlihat jelas suasana kamar yang tadinya gelap menjadi lebih terang dan menawan, interior yang simpel dan senada membuat suasana kamar menjadi lebih nyaman.
Ntah ini memang desain kamar yang Choki inginkan atau memang sudah seperti ini sebelumnya. Tapi biarlah, yang pasti kamar ini akan menjadi salah satu kamar ternyaman yang pernah Miranda lihat dan ia akan tidur disini bersama suami dan anaknya nanti.
"Aku mandi dulu ya Mir. Kalau kamu mau mandi, itu handuknya ada dilemari sebelah sana." Tunjuk Choki kearah lemari setelah ia mengakhiri kalimatnya.
Miranda mengangguk mengerti saat Choki memberitahunya. Saat setelah Choki masuk kedalam kamar mandi, Miranda langsung melangkah mendekati lemari yang ditunjuk Choki dan setelah itu ia duduk disisi kasur sembari membalas chat dari teman, kerabat dan gruop alumni sekolah serta gruop kantor yang memberinya slamat atas pernikahannya dengan Choki. Sesekali ia melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup dan kembali melihat layar ponsel seraya setia menunggu Choki selesai mandi.
Saat ia membalas chat di WA. Ia beralih ke instagram, Miranda hendak memposting foto ia dan Choki saat setelah ijab kabul yang berpose saat memegang buku nikah. Seketika ia mengingat seseorang yang tak hadir diacaranya tadi dan membulatkan mata ketika menyadarinya.
"Eh iya.! Karina gak dateng ya tadi.?" Gumam Miranda terkejut saat setelah memposting fotonya dengan caption cincin dan emot sepasang pengantin pria dan wanita.
"Duh, kok gw baru sadar sih. Emang gak dateng atau memang... Ais...!!" Gerutu Miranda seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menggerakkan ibu jarinya ke tombol DM dan hendak menghubungi Karin disana. Namun niatnya terhenti saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dan dengan reflek Miranda meletakkan ponselnya diatas kasur, lalu dengan cepat berdiri karna terkejut dan langsung melangkah mendekati Choki.
"Udah mandinya mas.?" Tanya Miranda yang membuat Choki sedikit tersentak saat Miranda memanggilnya dengan sebutan mas. Choki mengangguk pelan sembari mengeringkan kepalanya dengan handuk. Tubuhnya kini hanya terbalut dengan handuk putih kimono.
__ADS_1
Choki menoleh saat setelah ia mendengar pintu kamar mandi tertutup dan terkunci. Dan kembali mengarahkan tubuhnya ke kasur, lalu Choki meraih ponsel Miranda dan meletakkannya diatas meja tanpa melihat layar ponsel yang masih menyala dan memperlihatnya isi chattingan Karin dan Miranda di DM instagram.
......................
...Disore Hari di Kota Seoul Korea Selatan...
Saat Karin sedang membayar belanjaannya dikasir, ponselnya bergetar dan memperlihatkan ada notif pesan masuk dari Kim. Saat Karin membuka pesan dari Kim, ia membaca seraya membulatkan mata karna terkejut. Seakan tau nada bicara dari ketikkan Kim yang seperti orang emosi. Ia bergegas mempercepat transaksinya lalu menuju mobil sembari membawa barang belanjaannya.
Saat ini Karin sudah memilik sim internasional, yang dimana ia aman dan bebas mengendarai kendaraan saat berada diluar negeri, semua ini berkat Kim. Jika bukan karnanya, mungkin akan sulit mendapatkan Sim dengan waktu tempo hanya beberapa hari saja.
Saat memastikan semua barang sudah masuk dan ia sudah mengenaikan sabuk pengaman. Barulah ia menancapkan gas dan melaju dengan kecepatan sedang. Ingin sekali rasanya Karin membawa mobil ini dengan kecepatan penuh, lantaran ia tak mau membuat dirinya penasaran kenapa Kim sampai seemosi itu untuk menyuruhnya cepat pulang.
Tak berselang lama, sekitar 20 menit diperjalanan, akhirnya ia sampai dibasemant apartemennya dan langsung turun dengan membawa barang belanjaan lalu berjalan dengan langkah panjang seraya memasuki gedung apartemen.
Tit.. Tit.. Titt... Suara tombol password ditekan dan pintu berhasil terbuka. Saat mendorong pintu kedalam, pandangan Karin dikejutkan dengan pecah beling yang berserakan dilantai dekat dengan pintu masuk.
"Aigo!! Kim.. Ada apa ini.??" Teriak Karin dengan suara tak terlalu tinggi seraya melangkah pelan melewati pecah beling yang berserakkan dilantai.
"Kenapa lama sekali kau pulang hah.!?" Bentak Kim sembari melangkah mendekati Karin lalu menarik lengan Karin berserta menyambar amplop coklat itu. Lalu menyeret Karin masuk ke dalam kamarnya.
"Aaaghhh Kim ada apa denganmu.? Lepas dulu, ini sakit Kim." Ringis Karin seraya menahan sakit karna cengkraman Kim.
Kim tak menggubris ringisan Karin, justru ia semakin kuat mencengkram dan menarik tubuhnya sampai menarik tubuh Karin agar berhadapan denganya. Tatapan Kim saat ini penuh amarah, terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras dan sorot matanya yang memerah lantaran menahan emosi.
Karin yang merasa takut mencoba untuk tidak menangis saat menatap wajah Kim, ntah kesalahan apa yang dilakukan Karin sampai membuat Kim semarah ini.
"Jawab pertanyaan ku setelah kau melihat isi dari amplop ini.!" Ujar Kim penuh penekanan, lalu menyerahkan amplop coklat ditangannya. Karin yang menerimanya langsung membuka dengan perlahan. Saat ia menarik keluar isi amplop tersebut, sontak Karin menutup mulutnya seraya melihat foto-foto dirinya saat bertemu dengan Park minggu lalu.
Karin melirik kearah Kim lalu kembali melihat foto-foto itu. Tubuhnya bergetar bukan karna takut, melainkan ia syok sekaligus penasaran. Bagaimana bisa Kim mendapatkan ini semua.
__ADS_1
"Wae?? Kamu terkejut sayang??" Tanya Kim sinis.
"Sekarang jawab aku, apa kamu berselingkuh dengan pria yang ada difoto itu?!" Timpah Kim seraya bertanya dengan nada bicara yang mulai terdengar emosi. Seketika Karin meremas foto yang ada ditangannya saat mendengar pertanyaan Kim.
Kim yang menyadari tingkah Karin dan langsung melontarkan kalimat yang membuat Karin makin terselimut emosi.
"Jadi benar. Janda muda ini berselingkuh dibelakang kekasihnya.? Aku jadi ragu soal perceraianmu, atau itu hanya omong kosong saja. Jangan-jangan kamu yang berselingkuh sampai-samp....."
PLAKKKK!!!! Suara tamparan keras mend*rat diwajah Kim. Sampai wajah Kim terb*wa kes*mping saat mendapat t*mparan dari Karin.
"Tutup mulutmu Kim.!! Jika memang kau ingin menghin*ku, hina saja aku sebagai wanita mur*han. Tapi jangan pernah membawa masa laluku.!! Teriak Karin dengan suara bergetar dengan tangan yang ikut gemetar lantaran terasa p*nas seusai men*mpar pipi kiri Kim.
"Sh*bal!! Berani kau...Plakk!!! Kim men*mpar pip Karin cukup keras sampai Karin ters*ngkur kelantai. Tak ada teriakkan dari Karin saat Kim membalas tamp*rannya.
Hanya terdengar suara isakkan tangis, dan tanpa Kim sadari dari suara isakkan tangis itulah sumber rasa sakit yang Karin tahan akibat t*mparan Kim yang cukup ker*s dan menyakitkan.
"Kemari kau.!!" Kim yang masih diselimuti emosi lantaran termakan api cemburu dan ditambah pipinya dit*mpar oleh seorang wanita. Kim merasa tak terima dirinya diperlakukan seperti ini.
Ia menarik tubuh Karin dengan kedua tangannya lalu melemparnya kearah kasur, seperti kejadian-kejadian sebelum. Disaat Kim dilanda emosi pada Karin, ia tak segan mem*ki dengan nada tinggi dan menyet*bui Karin dengan kasar.
"Kim hajima!! Kumohon Kim, sakit... Aaghh sakit Kim.. Ampun.!!!" Teriak Karin meminta ampun saat Kim melakukannya dengan k*sar dan tanpa aba-aba.
"Ini akibatnya kau tak mau mematuhiku. Ini hukuman untukmu Karin-shi.!" Bentak Kim sembari memimpin dirinya terhadap Karin. Hent*kkan keras terus Kim lakukan, suara des*han Karin terus terdengar. Namun bukan des*han nikmat, melainkan des*han menahan sakit. Perutnya terasa keram saat Kim dengan sengaja menyentakan pingg*lnya dengan kuat.
"Aaghh Kim ku mo-hon berhenti, aaghh perut-ku Kim." Ucap Karin dengan suara melemah dan matanya yang mulai menyipit dan seketika terpejam diikuti tangannya yang terjatuh keatas kasur.
Sontak Kim langsung menghentikan aktivitasnya lalu menepuk pelan pipi Karin, berharap ia tersadar.
......................
__ADS_1
......................