
...Pagi Hari diRumah Sakit...
Kim dengan setia menunggu didepan ruangan kemoterapi, ia selalu setia menemani neneknya bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi sang nenek.
Beberapa jam kemudian, brankar yang ditiduri nyonya besar keluar. Kim yang menyadarinya langsung berdiri dan ikut mendorong brankar itu menuju ruang perawatan.
Terlihat jelas wajah pucat nan lemah dari wanita tua bermarga Kim tersebut. Kim berusaha tersenyum ketika sang nenek melihatnya. "Kim disini halmeoni.." ucap Kim lembit sembari megelus tangan neneknya.
Setelah sampai diruang rawat VIP, Dokter memberi isyarat pada Kim untuk melakukan obrolan face to face. Kim mengangguk mengerti dan langsung mengikuti Dokter tersebut duduk disofa yang disedia diruanh rawat inap VIP tersebut.
Dengan hati-hati Dokter tersenut memberikan selembar map dan mengutarakan hasil dari rekam medis nyonya besar dengan penuh kehati-hatian.
"Ini hasil rekam medis nyonya besar Kim tuan. Anda bisa membacanya dengan seksama. Saya akan menjelaskannya jika ada yang ingin ada tanyakan."
Dengan seksama Kim membaca baris perbari kalimat dari isi rekam medis yang diberikan padanya. Sesekali ia menyipitkan mata untuk memastikan ia tak salah membaca. Saat selesai membacanya, perubahan ekspresi begitu terlihat jelas dari mata Kim, wajahnya tertunduk lesu lalu melirik sang nenek yang tengah tertidur karna lelah saat menjalani kemoterapi yang begitu menyakitkan.
Perlahan Dokter itu berdiri dan mendekati Kim sembari memegang pundaknya. Lalu memberinya nasihat dengan suara pelan. "Temani nyonya besar untuk beberapa hari kedepan tuan. Buatlah momen yang bahagia dan menyenangkan saat bersamanya. Itu lebih baik dari pada berharap pada hasil yang anda inginkan dari awal."
......................
"Good Morning Grandma.." sapa Kim saat melihat sang neneknya membuka matanua perlahan.
Mendengar suara sang cucu membuatnya tersipu malu, mencoba tersenyum meski terasa begitu berat. Tak bisa berbohong jikalau penyakit yang beliau derita begitu terasa menyakitkan, namun tak ia tunjukkan pada siapapun sekalipun didepan sang cucu.
Dengan penuh perjuangan nyonya Kim berusaha membuka suaranya "Su-dah berapa lama a-aku disini."
"Apa itu penting dari pada kehadiran cucumu ini nyonya besar.?"
Sang nenek terkekeh ketika mendengar dirinya dipanggil nyonya besar, perlahan ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Kim. Mengelus lembut wajah tampan Kim, dada Kim bergetar merasakan sedih saat merasakan sentuhan tangan sang nenek. Sampai akhirnya Kim tak mampu menahan air matanya, ia menumpahkan air matanya hingga terisak. Kim memeluk erat tangan neneknya dengan menangis tersedu-sedu.
Berbanding terbalik dengan ekspresi sang nenek yang hanya diam menatap cucunya yang menangis seperti anak kecil. "Apa yang harus aku lakukan untukmu nek, apa yang membuatmu bahagia. Katakan padaku, akan ku kabulkan semuanya untukmu." ucap Kim pasrah tanpa menatap wajah sang nenek, ia masih tertunduk dengan memeluk erat tangan sang nenek dipipinya.
"Menikahlah nak, aku ingin melihatmu memiliki pendamping sebelum aku pergi."
__ADS_1
Seketika Kim menegakkan kepalanya dengan menatap wajah neneknya "Nee, akan ku kabulkan permintaanmu. Tapi ku mohon bersabarlah karna aku belum menjemputnya kembali."
"Apa kau belum bisa melupakannya.? Bukalah hatimu untuk wanita yang slalu ada untukmu disaat kau terpuruk." ujar nyonya besar seperti menyinggung sesorang.
Dengan hati-hati Kim mencerna ucapan sang nenek yang menyinggung dirinya dengan seseorang. "Mwo.? Siapa maksudmu nek.? Tak ada yang mendampingiku saat aku terpuruk kecuali Karin-ah." bukannya tak mengerti masksud sang nenek, namun ia hanya ingin memastikan dan menyakinkan sang nenek bahwa ucapannya salah.
Nyonya Kim tersenyum menatap wajah Kim dengan mengeratkan genggamannya. "Kau pasti mengerti maksudku Kim. Dia wanita yang baik untukmu, dia tak kalah tulus dengan ibumu."
......................
...Dirumah Besar...
Hari demi hari, bahkan bulan demi bulan dilewati semua orang rumah dengan aman damai dan bahagia pasti. Suasana sore hari terlihat mendukung dengan suasana hati para penghuni rumah besar ini.
Suasana ceria ditaman samping rumah, ada Choki, Miranda, Maura Karin dan juga Bam serta Boby yang berada disamping Bam.
"Satuuuuu duuaaa tiiggaaaaa... Yeayyyy adek bisaa...." Suara Karin saat mengajak Maura berjalan menuju sang ayah.
Suara teriakan menyemangati Maura, bahkan Maura pun ikut gembira dengan tepuk tangan saat melihat semuanya tertawa bersama. Suasana bahagia mereka tunjukkan diskre hari yang begitu nyaman. Begitu juga dengan Bam yang melompat-melompat seakan mengerti suasana bahagia saat ini.
"Cilukk baaaaa... Adek, disiniii..." panggil Karin mengajak main Maura yang tengah digendong Choki, posisi Karin dibelakang punggung Choki. Maura yang terlihat senang ketika Karin tiba-tiba muncul dari sisi kanan dan menghilang lalu muncul lagi disisi kiri.
Terlihat jelas pertumbuhan Maura yang semakin hari semakin menakjubkan. Usianya yang kini menginjak 9 bulan dan pertumbuhannya yang sangat baik dan terbilang pesat membuat orang-orang disekelilingnya.
Tiba-tiba Boby berteriak saat ia melihat Miranda jatuh dari kursinya. "Buukkkkkk.....!!!" Seketika semuanya melihat kearah Miranda begitupun Choki, ia langsung memberikan Maura pada Karin dan berlari kencang kearah Miranda. Mengangkat kepala Miranda sembari menepuk pelan pipinya Miranda.
"Mir.. Mira.. Hei.., sadar Mir.." Choki dibuat panik saat Miranda tak merespon panggillannya. Hingga akhirnya ia menggendong Miranda menuju mobil, begitupun Boby yang sigap. Bagaimana dengan Karin, ia mendekap Maura dalam pelukkannya dan tak membiarkannya melihat insiden ini, tubuhnya membeku melihat Miranda sekerika pingsan. Si mbok dan Tiur yang berlari menuju tanam karna suara teriakan Boby yang begitu kencang.
Si mbok histeris dan panik saat malihat Miranda digendong Choki. "YaAllah.... Non Mira.." begitupun Tiur, ia syok melihat majikannya dan tatapannya beralih kepada Karin yang membeku, Tiur berlari mendekati Karin dan langsung mengambil alih Maura.
"Mba Karin kenapa.. Jangan syok berlebihan mba, non Maura ngeliatin mba terus." Mendengar perkataan Tiur, Karin langsung tersadar lalu menghapus air matanya lalu mencoba tersenyum untuk Maura.
Karin mencoba membuyarkan suasana dengan mengajak Maura bercanda. "Cilukkk baa.. Iih kamu ucul banget sih dek kalau liatin Buna gitu.."
__ADS_1
"Boleh aku titip Maura hari ini, aku harus susul mereka kerumah sakit." sambung Karin pada Tiur, Tiur yang paham langsung mengangguk dan langsung membawa Maura masuk kedalam rumah.
Dengan cepat Karin berlari menuju garasi mobil, sebelum ia berlari kegarasi ia berhenti didepan si mbok. "Mbok gakpapa ya dirumah dulu, temenin Tiur jaga Maura, biar Karina yang susul. Doain semua baik-baik aja ya mbok." ucap Karin lembut sembari memeluk erat si mbok.
"Yan.....!!" Teriak Karin saat tak melihat Rian digarasi.
Tiba-tiba Boby berlari masuk kebagasi dan hendak masuk kedalam salah satu mobil.
"Woy Bob, tunggu.. Gw ikut." teriak Karin begitu ia melihat Boby. Tanpa menunggu jawaban Karin langsung masuk kedalam mobil dan Boby melajukan mobilnya dengan cepat.
"Kenapa bukan lo yang anter.?"
"Gw masukkin Bam kekandang dulu tadi, Rian yang anter ibu sama bapak."
Karin menyenderkan kepalanya dengan kasar kekursi mobil, rasa khawarir begitu terlihat diwajah Karin. Bahkan tanpa sadar ia menggigit ujung ibu jarinya hingga tipis.
"Rin, jangan panik ya, Insya Allah semua baik-baik aja. Kita berdoa yang baik-baik ya." ujar Boby dengan meraih tangan Karin yang sedari tadi Karin gigiti. Menggenggam erat tangan Karin, berusaha membuatnya agar lebih tenang.
......................
Begitu sampai dirumah sakit, Karin langsung turun dengan terburu-buru. Ia berlari menuju ruang UGD, Boby yang tertinggal dibelakang mencoba mengejar Karin dengan gelagapan.
Seketika langkah kaki Karin memelan saat mendengar suara teriakan Choki yang berteriak memanggil nama Miranda dengan suara isak tangis. Matanya terpejam dengan tetesan air mata yang jatuh, tubuhnya mematung ditengah koridor rumah sakit tanpa memperdulikan orang-orang sekitarnya yang berhalulalang melewatinya.
Boby yang dengan tergesa-gesa berlari masuk menyusul kedalam rumah sakit, dari kejauhan ia melihat Karin terdiam ditempat dan ia paham dengan sikap Karin karna suara tangis pak Choki yang begitu memilukan. Perlahan langkahnya mendekati Karin dan dengan cepat Boby menarik Karin kedalam pelukkannya.
Boby mengeratkan pelukkannya sembari mengelus punggung Karin, memberinya kenyamanan untuk menangis. "Ikhlas ya Rin.. Ikhlasin semuanya, insya Allah Husnul Khotimah." ucap Boby dengan suara getar menahan tangis. Karin yang sedari tadi terus menangis bahkan ia meremas baju Boby, seolah tak marah dengan keadaan pahit saat ini.
Sosok Miranda yang sudah seperti kakak perempuan baginya pergi tanpa pamit. Karin baru saja merasakan adanya teman curhat dikala ia ingin meluapkan isi cerita hidupnya yang ia pendam slama ini. Miranda pendengar yang baik bahkan penasihat yang baik untukknya, hal itu membuatnya sangat bahagia dengan dipertemukannya ia dan Miranda. Namun semua itu kenapa hanya sebentar, kenapa ia tak diberi kesempatan untuk lebih lama merasakan kebahagiaan dan keberuntungan didalam hidupnya.
Kabar meninggalnya Miranda membuat seluruh keluarga terpukul, si mbok yang pingsan saat menerima telvon dari Rian, Tiur yang kalang kabut berteriak memanggil para staff yang berjaga dirumah untuk membantunya, Maura yang ikut menangis begitu mendengar Tiur berteriak serta melihat si mbok yang ia anggap seperti neneknya sendiri tergeletak dilantai.
Semua orang berduka atas kepergiannya Miranda yang mendadak, bukan hal rahasia lagi untuk mengetahui penyebab meninggalnya Miranda. Penyakit jantungnya lah yang jadi penyebab utama, penyakit jantung sendiri adalah penyakit yang berbahaya bagi sipenderita. Terlebih lagi penyakit ini begitu sensitif untuk sipenderita bila telat meminum obat lalu kesehatan yang menurun bahkan jika terlalu banyak bergerak dan menyebabkan sipenderita kelelahan itu semua bisa berakibat fatal.
__ADS_1
......................
......................