
"Apa-apaan mereka."
"Kenapa pak Choki memeluk Karin dengan ekspresi begitu."
"Aku tahu betul ekspresi apa itu."
Seru Boby kesal sembari meremas keras tali yang mengikat kalung leher yang Bam kenakan.
......................
...Di Depan Rumah Besar...
Choki mencium pipi putri kecilnya lalu mengelus lembut kepala mungil anaknya.
"Ayah brangkat kerja dulu ya nak."
"Jadi anak baik dirumah ya.."
"Jangan buat Buna ngomel-ngomel."
"Kasian.. Nanti suara Buna habis."
"Kan jadinya ayah gak kebagian buat denger suara Buna yang indah ini.."
Celetuk Choki cengengesan dengan lirikkan nakal melirik Karin. Sontak mata Karin membulat sempurna.
Blushhh..
Pipi Karin langsung berubah merah padam karna malu saat mendengar ucapannya.
"Iiih nyebelin.. Reseh banget sih nih laki.!!"
"AAAAAAAA kan malu didenger Maura..." Umpat Karin dalam hati.
"Hei.. Kok ngelamun"
"Aku berangkat.. Love you.." Bisik Choki mendekatkan wajahnya ketelinga Karin.
SYERRRR..
Lagi-lagi Karin dibjat tak berkutik dengan sikap Choki.
Darahnya berdesir cepat karna gugup sekaligus deg degan saat Choki menggodanya.
......................
...Dikantor Johan Gruop...
Ting.. Suara pintu lift terbuka.
__ADS_1
Choki melangkahkan kakinya keluar lift dengan penuh semangat.
Tak biasanya ia merasakan kesegaran dihari ini. Mungkin karna jatah semalam yang mempengaruhi energi positif yang mengalir dalam darahnya.
"Aghhh... Karin benar-benar memenuhi pikiranku."
Gumam Choki cengengesan, tanpa memperdulikan dirinya yang menjadi pusat perhatian sedari tadi saat ia tiba di lobby kantornya.
Tap Tap Tap Tap...
Suara langkah Choki terdengar sedikit menggema saat ia memasuki ruangannya.
Segera ia meletakkan hand bag nya lalu menjatuhkan bokongnya dikursi kebesarannya.
"Haah.."
"Pagi yang cerah dan menyegarkan."
Seru Choki menghela nafas bahagia. Bagaimana tidak menyegarkan, aktivitas panasnya tadi malam benar-benar menggairahkan.
Disetiap hentakkan yang Choki lakukan benar-benar membuat gairahnya berkobar bagaikan api.
Hampir 2 tahun ia menelan mentah-mentah kepahitan hasrat yang tak bisa ia salurkan. Bukannya tak mau mengeluarkannya secara mandiri. Akan tetapi hal itu bukanlah tipe Choki.
Lebih tidak keluar dari pada keluar secara mandiri tanpa adanya lawan main.
......................
"Bagaimana.?"
"Apa masih belum ada respon.?"
Kim bertanya pada serketarisnya mengenai email yang dikirimkan ke perusahaan Choki.
"Sudah tuan. Tapi..."
Kim langsung melirik tajam dan penuh tanda tanya saat mendengar ucapan serketarisnya yang terhenti.
"Johan Gruop tidak mengAcc tawaran kita dengan alasan harga yang tidak cocok."
Sambung serketaris pria itu menjelaskan dengan suara sopan namun raut wajah yang tegang.
"Ck.! Mau bermain api rupanya kau Choki-shi."
Decak Kim geram dengan sorot mata tajam mengintimidasi.
"Ada lagi yang mau kau laporkan.?"
"Kalau tidak ada. Aku minta tolong undur semua jadwalku slama 1 bulan kedepan."
__ADS_1
"Aku sendiri yang akan turun tangan mengenai Johan Gruop."
Tuntas Kim pada serketarisnya dan langsung di iyakan oleh serketarisnya.
......................
...Apartemen Kim di Seoul...
Ting Ting Ting
**Suara benturan antara sendok, garpu dan piring mengisi keheningan yang tercipta diantara Kim dan Soya yang tengah menyantap makan malam mereka hari ini.
Soya yang slalu mencari cara agar lebih banyak berinteraksi dengan Kim (suaminya). Semaksimal mungkin ia menyiapkan segala keperluan Kim dan semaksimal mungkin berpenampilan baik dan menarik didepan suaminya meski tengah lelah seharian mengurus rumah.
"Soya-shi.."
Seru Kim tiba-tiba memecahkan kehingan mereka. Dan hal itu disambut antusias senang oleh Soya.
Sangat Jarang Kim memanggilnya, jangankan memanggilnya. Untuk sekedar berpamitan saat hendak berangkat kekantor pun tidak.
Kim slalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Soya yang slalu setia berdiri didepan pintu untuk membukakannya untuk Kim yang hendak berangkat kerja.
Sangat sulit mengambil hati Kim. Hatinya masih terisi penuh oleh cintanya yaitu Karina. Wanita berdarah Indonesia yang memiliki tubuh sexy dan kulit kuning langsat. Yang memiliki daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.
"Lusa aku akan pergi keluar negeri slama beberapa minggu."
"Mungkin satu bulan."
"Jadi kau tak perlu menunggu dan menyiapkan malam untukku mulai besok."
Jelas Kim seraya menyuap makanan terakhirnya dalam satu suapan. Lalu bangkit dari duduknya dan hendak pergi menjauh.
Mata nanar Soya yang bisa dihindari, matanya berkaca-kaca saat mendengar ucapan Kim. Bukan tanpa alasan sikapnya menjadi melow seperti ini.
Ia mengetahui dari feelingnya yang mengatakan bahwa Kim akan pergi menemui cintanya yaitu Karina.
"Apa kau akan pergi menemuinya oppa.?"
Tanya Soya tiba-tiba tanpa melirik kearah Kim yang sudah diam mematung tak jauh di belakangnya.
"Haah.."
"Jika kau sudah tau, untuk apa bertanya."
"Ingatlah akan kontrak yang kau tanda tangani sebelum kita menikah."
"Jangan membawa pernikahan kontrak ini kedalam hatimu. Kau sendiri yang menyetujuinya, jadi tak usah pasang wajah memelasmu ketika mendengar suamimu mencintai wanita lain."
Ketus Kim dengan menghela nafas pendek sebelum memulai kalimat yang menyadarkan Soya atas pernikahan kontraknya ini**.
__ADS_1
......................
......................