Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Bolehku Lanjutkan


__ADS_3

"Emm sorry madam, aku permisi ketoilet sebentar." Jay beranjak bangkit dari duduknya ketika Miranda mengangguk mengiiyakan.


Jay merogoh kantong celananya, guna mengambil ponsel dan hendak menghubungi seseorang.


......................


Kim tergesah-gesah saat memakai baju dan menyiapkan diri. Ia bergegas keluar kamar tanpa memperdulikan sekitar. Irene yang melihat Kim terburu-buru hanya bisa diam tanpa berkata. Kim melangkah lebar bahkan sesekali berlari kecil menuju basemant. Perasaannya tak tenang namun tersimpan rasa senang saat ia mendapatkan informasi keberadaan Karin begiti Jay menghubunginya beberapa saat lalu.


Kim masuk kedalam mobil, langsung menyalakan mobil dan langsung menanjapkan gas menuju lokasi hotel tempat Choki dan staffnya menginap.


"Kumohon Karin-shi, jangan lari lagi dariku. Kumohon..!!" Gumam Kim seraya memegang setir dan terus menancapkan pedal gas dengan kecepatan penuh.


......................


"Sorri madam jadi menungguku sedari toilet." Ucap Jay yang langsung duduk dan siap menyantap hidangan yang sudah diantar oleh pelayan restoran.


"Yes sir its oke. Hemm, kalau saya boleh tahu dimana Mr.Kim? Apa beliau tak hadir malam ini.?" Tanya Miranda tiba-tiba dan menatap Jay.


"Yes anda benar madam. Beliau juga tak bisa hadir karna ada keperluan mendadak malam ini. Jadi hanya kita disini." Senyum Jay penuh arti. Miranda yang terpesona akan senyumnya hanya bisa membalas senyuman itu dengan senang hati.


......................


Gluk.. Glukk.. Suara tegukkan air melintas ketenggorkkan Karin.


"Ayok, sekarang jelasin ke aku kenapa kakak bisa sampe disini? Dan kenapa kakak tiba-tiba bisa bahasa Korea. Terus kenapa kakak bisa kerja sama denga...." Ucapan Karin terputus saat tiba-tiba Choki mengec*p kilas bib*r sexy Karin. Sontak Karin membeku dengan perlakuan Choki secara tiba-tiba dan tanpa permisi.


"Satu-satu nanyanya Rin.. Aku gak akan kemana-mana. Jadi jangan buru-buru semuanya ditanyain." Ucap Choki lembut dan tersenyum hangat menatap Karin yang masih membeku karna kec*pannya barusan.


Beralih melangkah menjauhi Karin dan mendekati kasur lalu menjatuhkan tubuh kekarnya diatas sana.


"Hahhh.... Lelahnya, besok aja deh ya ceritanya. Besok kan weekend, Hooammmm." Ucap Choki sembari menguap diakhir kalimatnya.


"Eh ehh.. Gak ada ya, pokoknya ceritain semuanya sekarang, jangan buat aku penasaran kamu ya kak, ayok banguunnn..!!" Oceh Karin yang langsung menghampiri Choki, dan berusaha menarik tangan Choki agar bangun tidurnya.


"Aaaaaghhh.." BRUHGGG!!! Tangan Karin ditarik hingga tubuhnya terjatuh disamping tubuh Choki. Dengan cepat Choki memeluk Karin tanpa mengatakan apapun. Dan memejamkan mata dalam pelukkannya.


Karin memberontak lalu mendorong dada Choki dengan kedua tangannya. "A-awas!! Le-lepasin kak.. Ayok cerita, jangan malah tidur.!!!"

__ADS_1


"Sssttt... Kalau kamu ngomong satu kata lagi, aku bakal cium kamu gak cuman di bib*r." Ancam Choki dengan nada santai dan masih setia terpejam sembari mengeratkan pelukkannya.


Dengan seketika Karin terdiam seribu bahasa saat mendengar ancam dari Choki. Dan secara bersamaan Choki merenggangkan pelukkannya berlalu menatap Karin yang berada dibawah wajahnya.


"Kok diem?" Ledek Choki.


Karin hanya menggelengkan kepala dan tersenyum sembari melipat bib*rnya agar tak bersuara. Tingkahnya yang gemas membuat Choki tertawa lepas.


"Hahahah, kamu takut hem..?" Tanya Choki sembari menatap dalam wajah Karin. Pandangan mereka kini kembali bertemu. Terlihat jelas dari dalam mata mereka. Terdapat rindu yang terpendam disana. Tak bisa membohongi diri satu sama lain, mereka benar-benar merindukan hal itu.


Seperkian detik Karin menarik baju Choki. Menjatuhkan bib*rnya mengec*p dalam bib*r Choki. Balasan pun diterima dengan baik. Men*utkan kec*pan demi kec*pan tanpa ada rasa canggung diantara keduanya.


Ci*man mereka semakin dalam, perubahan suhu pun bisa mereka rasakan bersamaan. Yang diawal terasa dingin kian menghangat karna taut*n yang mereka ciptakan.


Choki yang dilanda kerinduan yang terpendam dalam lubuk hatinya, berlalu bangkit keatas tubuh Karin tanpa melepas yang sedari tadi menempel. Tangannya mulai menyentuh lekuk tubuh Karin. Tangannya mulai menarik salah satu lipatan lutut kaki Karin dan menekuknya keatas.


Mereka melepas ci*man itu guna mengatur nafas satu sama lain. Mata mereka kembali bertemu, lontaran senyum malu bercampur senang diantara keduanya kembali terukir.


"Bolehku lanjutkan..?" Izin Choki pada Karin, dan direspon anggukkan pelan oleh Karin. Dengan senang Choki kembali menci*m bib*r Karin lalu pindah keleher putih Karin. Menghirup aroma vanilla yang manis, semanis perasaannya yang kini dilanda kegugupan dan kesenangan yang kian membara bercampur menjadi satu. Kepemilikkan Choki sudah berada diatas kepemilikkan Karin.


Saat ketika Choki ingin menurunkan wajahnya kebawah, dengan terkejut keduanya melepaskan diri satu sama lain saat ketika mendengar suara ketukkan pintu dengan tempo ketukkan cepat.


Ceklekk


"H-hyeong..!?" Jawab Choki sembari mengerutkan alis seakan bertanya, (kenapa dia kemari?). Kim membalas tatapan Choki dengan tatapan tanpa arti.


"Siapa kak.?? Kok kamu diem disitu? Miranda ya..?" Tanya Karin dari dalam dan melangkah mendekati Choki. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati siapa yang mengetuk pintu kamar Choki dengan tempot cepat tadi. Yang tak lain adalah Kim.


"Sa-sajangnim Kim." Ucap Karin gugup. Perasaannya tak karuan, ada rasa takut, gugup dan gemetar semua menjadi satu. Ia seakan sedang dipergoki berselingkuh dan mengkhianati hubungan mereka, padahal posisinya saat ini dialah yang tlah dikhianati oleh Kim.


"Disini kau rupanya." Sahut Kim dingin, dan langsung menerobos masuk tanpa memperdulikan tubuh Choki yang sedikit terdorong karna bersenggolan dengan bahunya. Sedangkan Karin langsung mundur beberapa langkah tanpa memalingkan tatapannya yang menatap Kim takut.


"Kajja pulang bersamaku, kita bahas dirumah." Ucap Kim lalu menarik tangan Karin, namun dengan cepat Choki menghadang langkahnya.


"Hyeong gidalyeo (tunggu kak), lepaskan tanganmu dari adikku." Pinta Choki tenang sembari melirik tangan Kim yang memegang.


"Bikyeo Choki-shi.! (Menyingkirlah Choki). Jangan halangi kami, akan kuselesaikan urusanku dengan adikmu. Setelah itu kau bisa berjumpa lagi dengannya besok." Ucap Kim dengan meninggikan nada bicaranya.

__ADS_1


"Urusan apa yang kau maksud? Jika itu urusan pekerjaan, bahas disini. Setelah itu kau boleh pergi. Jangan paksa adikku bekerja 24jam untukmu."


"Ck.! Apa kau tak menceritakan tentang hubungan kita Karin-shi.?" Ucap Kim seraya melepaskan pegangan tangannya dan berlarih melirik Karin. Respon Karin hanya diam, tubuhnya mematung, pikirannya penuh kebingungan dana pertanyaan.


Begitupun dengan Choki. Pikirannya dilanda pertanyaan dan kebingungan. Ia tak mengerti dengan situasi ini. Ada apa sebenarnya antara Kim dan Karin.


"Rin.." Panggil Choki lembut. Dan seketika air mata Karin terjatuh saat Choki memanggilnya


"Hei, Rin.. Jangan nangis." Sahut Choki lembut seraya menghampiri Karin dan menyentuh pipi Karin yanh tlah dibanjiri air mata. Kim yang melihatnya mulai dilanda emosi, rahanganya mengeras. Ia melangkah mundur guna mengambil tas dan mantel milik Karin. Berlalu menarik Karin keluar kamar dan membawanya pergi bersamanya. Dan lagi-lagi dicegah oleh Choki.


"YA! Kim-Namjoon-ahh.. Kau tak bisa memaksa adikku untuk ikut denganmu. Jaga batasanmu.!!" Teriak Choki yang sedari tadi sudah menahan emosi, dan akhirnya terluapkan juga.


Kim berhenti melangkah dan kembali menatap Choki. "Seharusnya kau yang menjaga batasan atas dirinya, dia kekasihku.! Aku berhak atas dirinya. Dan berhentinya berakting seolah-olah kau kakak kandungnya.!!" Kim berlalu meninggalkan Choki didalam kamar yang terdiam atas pengakuannya barusan.


......................


"Lepas!! Aku bisa jalan sendiri.!" Karin membrontak karna tangan yang terus-terus ditarik oleh Kim. Ia melepas hanya saat didalam mobil, begitu sampai basemant apartemen. Kim kembali menarik tangan Karin sampai masuk kedalam gedung apartemen.


"Kalau begitu jalan lebih dulu, aku akan berada dibelakangmu." Sahut Kim berlalu mendorong pelan tubuh Karin agar berjalan didepannya. Bukan tanpa sebab Kim melakukan hal posesif seperti ini. Lantaran ia takut Karin akan melarikan diri darinya, sudah cukup lelah tadi sore ia mencari keberadaan Karin sampai malam. Dan akhirnya menemukannya didalam kamar hotel Choki. Untungnya yang memesan hotel untuk Choki adalah perusahaan Kim, jadi dia bisa lebih mudah menemukan nomor kamar Choki.


Slama langkah mereka melaju kedepan, tak ada pembicaraan satu katapun dari mulit mereka. Sampai pada akhirnya Karin dan Kim memasuki apart dan langsung diperlihatkan sosok Irene didalamnya yang sedang duduk manis sembari menonton tv.


"Oppa kau suda..." Ucapan Irene terputus saat ia mengira itu adalah Kim.


"Masuk kekamarmu dan jangan kunci pintunya." Bisik Kim pada Karin dan langsung dituruti Karin tanpa penolakkan.


Tatapan Kim beralih kearah Irene yang tengah berdiri menatap kehadiran mereka. "Pulanglah keapartemenmu, jangan kembali jika aku tak mengundangmu." Ketus Kim pada Irene.


"Mwo?! Kau mengusirku? Apa karna dia kau tega mengusirku hah.?! Begini kau sekarang, dibutakan oleh cinta yang tak sebanding dengan kasih sayang yang ku berikan padamu sedari kita bersama dulu. Ada apa denganmu Oppa, kenapa perubahanmu begitu drastis sekarang.!!" Tutur Irene dengan suara bergetar dan bendungan air mata yang memaksa ingin terjun bebas melewati pipinya. Irene tak menyangka akan mendapat perlakuan tak mengenakan seperti ini dari Kim.


"Ck!! Jangan memancing amarah ku Irene-shi, dan jangan membuatku untuk menjelaskan kembali apa penyebab perubahan sikapku saat ini. Cepat pergi dan jangan ganggu aku.!"


......................


......................


Thanks guys🍒👍

__ADS_1


Jangan lupa follow dan like ya 👍😊


__ADS_2