
"Chagia, hajima!." Bisik Kim seraya menarik pelan tangan Karin yang ingin menyentuh salah satu patung yang dipajang.
"Wae?? Aku hanya penasaran sebentar." Sahut heran karna Kim nampak panik saat tangannya ingin menyentuh patung mini yang tersusun rapih dimeja museum.
"Aish kau ini, mereka buka barang yang bisa dibeli. Jadi jangan sentuh sembarangan oke." Ujar Kim sembari menggenggam tangan Karin lalu memasukkannya kedalam saku jas musim dingin yang dikenakannya.
"Lagian kenapa oppa mengajakku kemari, disini sunyi sepi. Membosankan tau." Protes Karin dengan memanyunkan bibirnya sexy nya.
"Haishh gemasnya nyonya Kim ku.." Ucap Kim seraya menyenderkan kepalanya keatas kepala Karin sembari berjalan kedepan menelusurin lorong museum.
"Oppa setelah ini ayo makan ramyeon, dari semalam aku menginginkannya. Sampai-sampai aku memimpikan memakan ramyeon." Celoteh Karin seraya menyenderkan kepalanya dipundak Kim.
"Oke nyonya Kim, setelah ini kita makan ramyeon. Emm, apa ini keinginan anakku juga chagia.?"
"Emm.." Angguk Karin sembari tersenyum.
Karin dan Kim pun melanjutkan kunjungannya dimuseum seni tempat favorit Kim. Lalu setelah keluar dari museum itu, mereka berjalan kaki menuju kedai ramyeon terdekat sembari menikmati jatuhnya salju yang turun dari atas langit dibulan Desember ini. Ini kali pertamanya Karin bisa melihat salju didepan matanya.
Karin tak bisa diam saat berjalan, ia terus melangkah kedepan sembari membentuk jejak kakinya kekanan dan kiri. Kim yang melihatnya sampai was-was dan tak pernah berhenti memberi Karin omelan agar berhati-hati. Kim takut Karin tergelincir saat menginjak jalan yang licin.
"Chagia.. Pelan-pelan saja jalannya. Hais!! berhentilah bertingkah seperti anak kecil.!"
......................
"Janji nee hanya kali ini saja kau memakan ramyeon instan." ujar Kim sembari memberikan semangkuk ramyeon yang telah Kim seduh tadi.
Karin mengangguk happy saat menerima ramyeon dari Kim. Dan langsung membuka penutup mangkuk lalu menghirup uap yang menggebul keluar. "Hemmm enaknya. Nyam nyamm" Sahut Karin dengan nada gemas.
Kim tersenyum seraya mengusak-usak kepala Karin. Terlihat senyum bahagia ketika melihat wanitanya begitu happy menikmati ramyeon darinya.
Waktu terus berjalan, hari demi hari dilewati. Dan tak terasa sekarang sudah masuk bulan ke 5 usia kandungan Karin. Perutnya semakin hari semakin membesar dan membuncit. Tak ada keluhan selama ia hamil, hanya sikap manjanya pada Kim semakin waktu semakin manja. Ada saja tingkah laku yang membuat Kim semakin menyayangi dan mencintai wanitanya. Apapun permintaan sang kekasih akan selalu Kim wujudkan tapi tetap pada batasannya. Selagi itu masih normal dan aman untuk sang buah hati, maka akan Kim kabulkan.
__ADS_1
Sikap Kim juga semakin berjalannya waktu, ia semakin lembut. Tak ada sikap kasar ataupun posesif yang berlebihan yang ia tunjukkan pada Karin. Hal-hal romantis selalu Kim berikan, tak jarang juga Kim membawakan sesuatu untuk Karin saat selepas pulang dari kantornya.
Ada kesenangan tersendiri untuk Kim disaat mereka melakukan hubungan intim, Karin lebih cendrung agresif disaat aktivitas malam mereka. Ntah memang itu keiinginannya atau karna bawaan hormon dari wanita hamil. Tapi ya sudahlah, bukan masalah yang harus dibahas.
"Woo woo.. Pelan babe, aku takut dia kenapa-kenapa." Ujar Kim saat memegang perut Karin ketika Karin ingin menungganginya.
"Hahaha perutku tak akan jatuh oppa, tak usah memegangnya seperti itu." Jawab Karin sembari tertawa geli saat melihat ekspresi Kim.
"YA oppa, diam dan nikmati saja oke.." Sahut Karin dengan nada menggoda seraya meraba dad* bidang Kim.
"Haish.. Baiklah, lakukan sesukamu nyonya Kim."
......................
Keseharian Karin jauh berbanding terbalik dengan kehidupan Miranda. Tak ada keromantisan diantara Miranda dan Choki.
Sikap dingin Choki pada Miranda membuat hubungan mereka renggang. Jangankan hubungan romantis, hubungan komunikasi diantara keduanya pun jarang terlihat. Yang menjadi saksi kedinginan diantara keduanya adalah maid dan staaf yang bekerja dirumah Choki, kerap sekali staff melihat mereka seperti seseorang yang sedang perang dingin saat berpapasan ataupun makan dimeja makan bersama.
Hingga adu mulut diantara keduanya terjadi pada saat Miranda mulai protes dengan sikap Choki yang terlalu dingin kepadanya.
"Mau sampe kapan kamu giniin aku mas.?! Kamu tuh kenapa sih? Aku bingung sama sikap kamu yang berubah-ubah begini. Kamu dingin sama aku disaat kita dirumah. Tapi disaat kumpul bareng keluarga aku, sikap kamu tuh lembut bahkan perhatian sama aku. Kamu nih kenapa sih mas.!" Omel Miranda dengan nada tinggi saat mereka baru saja pulang dari acara keluarga Miranda.
"Aku biasa aja, kamu aja mungkin yang ngerasa aku seperti itu." Jawab Choki singkat.
"Mas cukup bersikap dingin kaya gini ke aku. Aku ini istri kamu mas, gak seharusnya kamu kaya gini.!" Bentak Miranda yang mulai termakan emosi lantaran ditinggal Choki naik kelantai atas begitu saja.
"Mas aku lagi ngomong sama orang orang bukan sama s3t4n.!!" Teriak Miranda yang membuat langkah Choki terhenti lalu berbalik badan dan kembali turun mendekati Miranda.
PLAKKK!!! Satu tamparan keras mendarat dipipi mulus sebelah kiri Miranda.
Tamparan itu membuat wajah Miranda memerah dan ekspresi yang melongo lantaran kaget dan menahan rasa sakit. Rasanya panas dan baal ia rasakan disaat bersamaan, air matanya seketika mengalir tanpa meminta izin. Kali pertamanya ia ditampar seorang pria slama hidupnya.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu. Aku ini suamimu.!" Bentak Choki seraya menatap dengan tatapan emosi pada Miranda.
"Ck, suami kamu bilang? Mana ada suami kaya kamu mas! Jangan sebut dirimu suami kalau kamu sendiri gak bisa ngasih nafkah batin pada istrimu. Kamu selalu nolak disaat aku memintanya. Pantaskah seorang istri mengemis disetiap malamnya agar sang suami mau meny3tub*hinya.!" Ujar Miranda panjang lebar dengan suara getar dan dengan guyuran air mata yang mengalir deras dipipinya.
"CUKUP MIR, CUKUP. Kamu gak berhak mengomentari suamimu sendiri seperti itu.! Dan aku punya alasan kenapa aku seperti ini kepadamu."
"Apa! Apa alasanmu mas? Aku ini istrimu mas, aku punya hak untuk memintanya. Kamu jangan egois gini bisa kan mas. Atau jangan-jangan kamu selingkuh dibelakangku mas? Iya mas? Apa bener kamu selingkuh hah!!" Ujar Miranda sembari menangis histeris. Tangannya menarik kerah kemeja Choki, bahkan sesekali ia memukul d*da Choki lantaran emosi.
Choki hanya diam mematung saat setelah ia menampar Miranda, ia merasa menyesal saat setelah menampar pipi istrinya, terlebih lagi rasa bersalah itu bertambah dengan melihat sikap Miranda yang penuh kecewa karna sikap dinginnya slama ini. Namun ego dan emosinya kembali muncul saat Miranda menuduhnya selingkuh. Dengan kasar, Choki menarik tangan Miranda lalu menyeretnya menaiki anak tangga.
Staff dan maid yang melihat pertikaian mereka hanya bisa diam tak bisa berbaut apa-apa. Disatu sisi itu bukan urusan mereka, dan disisi lain mereka tidak punya hak maju satu langkah untuk memisahkan mereka. Karna itu sudah menjadi peraturan saat bekerja dengan Choki. Dilarang keras untuk ijut campur dalam urusan pribadinya.
Choki membawa Miranda masuk kekamar, ia tak perduli dengan suara ringisan Miranda yang minta dilepas lantaran cengkraman Choki begitu sakit baginya. Saat setelah masuk kekamar, Choki memojokkan tubuh Miranda kedindingnya lalu mengukungnya. Sorot mata Choki penuh amarah saat menatap lekat wajah Miranda.
"Katakan sekali lagi, apa yang kamu minta dariku.?!" Tanya Choki sinis
Miranda masih terdiam seraya memegang tangannya yang sakit ditambah pipinya masih terasa sedikit sakit akibat tamparan Choki.
"Woi!! Kamu budeg atau apa hah!. Aku ini nanya ke kamu.!" Teriak Choki yang membuat gendang telinga Miranda berdengung. Dengan cepat Miranda mendoronh tubuh Choki menjauh darinya.
"Sana br3ngs3k!! percuma aku minta kekamu kalau kamu sendiri gak ada hasrat saat melakukannya. Aku capek dengan terus mengemis meminta hakku yang seharusnya aku dapatkan dengan cara yang lembut." Jawab Miranda sembari mendorong tubuh Choki, lalu ia melangkah mendekati kasur dan langsung duduk diatasnya.
"Heh lembut kamu bilang? Jika memang kamu capek karna terus menerus mengemis. Maka akan aku kabulkan permintaan yang kamu inginkan sejak lama. Tapi jangan berharap ada kelembutan disana. Aku benci kelembutan." Jelaa Choki seraya mendekati wajah Miranda saat menjelaskan kalimatnya hingga tuntas.
Saat setelah itu, Choki melangkah pergi mendekati lemari es yang terdapat di sudut kamar mereka. Lemari es itu memang sudah ada jauh sebelum Miranda hadir kerumah besar.
Choki meraih sebotol wine yang memang slalu ready didalamnya. Ia membuka penutup kayu lalu meneguknya berkali-kali. Saat setelahnya ia menaruh botol wine diatas lemari es. Lalu berputar arah mendekati Miranda dengan tatapan sinis.
......................
......................
__ADS_1