Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Bayiku..


__ADS_3

Wiung.. Wiung.. Wiung.. Suara sirine ambulance terus berbunyi dan kecepatan mobil cukup kencang lantaran membawa pasien darurat.


Sepasang tangan terus menggenggam erat seakan tak mau lepas. Mimik wajah merasa bersalah pun ditunjukkan Choki, karna dia sang istri yang tengah hamil besar mengalami pendarahan. D4rah segar mengalir melewat paha Miranda tanpa henti.


Seketika reflek Choki langsung m3nc4but miliknya lantaran terkejut saat merasakan ada air yang menyelimuti miliknya. Yang tadi Miranda tak bersuara lantaran mencoba menahan h3ntakan Choki, seketika berteriak histeris karna melihat d4rah mengalih dan mengotori lantai kamar mandi.


Selama diperjalanan Choki terus memeganh tangan Miranda, ia menciumi tangan Miranda karna merasa bersalah. Bahkan Choki sampai menangis menatap wajah Miranda yang pucat dan ditempelkan selang oksigen dihidungnya. Kesadaran Miranda kini hanya sekitar kurang lebih 50% lantaran lemas. Tetesan air infuspun menetes deras, para perawat yang berada didalampun terus melakukan tindakan guna mempertahankan kesadaran pasien.


"Maafin aku Mir, maaf.." Lirih Choki dalam suara isak tangis seraya mencium tangan Miranda. Pandangan Miranda hanya setengah dasar seraya mendengar suara Choki, air matanya pun mengalir dari sisi kelopak matanya. Seakan tau ketulusan dari permintaan maaf suami terhadapnya. Miranda juga mencoba membalas pegangan tangannya guna memberi isyarat pada Choki kalau ia baik-baik saja.


Sekitar 20 menit berlalu, mobil ambulance pun sampa didepan UGD rumah sakit, brankar Miranda diturunkan dari mobil. Brankar yang membawa Miranda didorong dengan cepat memasukki ruang UGD.


"Pak maaf, kita harus melakukan tindakan operasi, pendarahan pasien cukup parah. Tolong tanda tangani berkas persetujuan dari keluarga pasien diloket pendaftaran." Pinta salah satu staff UGD pada Choki.


Choki mengangguk mengerti lalu melirik sebentar kearah Miranda. Ia mencium kening Miranda dengan tulus dan memberikan kekuatan pada Miranda melalui sentuhannya.


"Aku tinggal sebentar ya, aku mohon bertahan untuk anak kita, aku yakin kamu kuat sayang." Ujar Choki menatap tulus Miranda.


Panggilan kata sayang yang diucapkan Choki untuk pertama kalinya membuat Miranda bahagia begitu mendengarnya. Miranda tak mampu menjawab namun ia menatap Choki seraya tersenyum membalas perkataan Choki.


Setelah meminta izin pada Miranda, Choki bergegas menuju loket pendaftaran untuk menandatangani persetujuan untuk operasi sesar. Perasaan bersalah terus melintas dalam benaknya, pasalnya Choki benar-benar sangat kasar melakukan hal itu pada Miranda, ditambah kondisi Miranda saat ini sedang hamil.


Kesabarannya setipis tisu, terlebih lagi saat Mirandanya menyebutnya sebagai s3t4n. Emosinya langsung meluap sampai tega menampar istrinya diruang tengah yang dimana para staff bisa saja melihat mereka sedang bertengkar sampai ada adegan fisik seperti tadi dirumah.


Kini Choki melangkah terburu-buru menuju UGD tempat Miranda berada, namun saat ia sampai disana, Choki tak melihat keberadaan Miranda. Dengan tergesa-gesa ia bertanya pada perawatvyang berjaga. Perawat menjawab seraya mencoba menenangkan Choki yang terengah-engah lantaran abis berlarian dari loket pendaftaran lalu menuju Ruang UGD.

__ADS_1


"Pak tenang dulu. Tarik napas berlahan." Ucap lembut perawat pada Choki.


"Oke saya tenang, tapi dimana istri saya kenapa gak ada. Anak saya.. Aaghh.!" Jawab Choki frustasi.


"Istri bapak sudah dibawa keruang operasi dilantai atas, mari saya antar. Pasien mungkin sekarang sedang dipersiapkan untuk operasi." Sahut perawat pada Choki seraya berjalan mendahului Choki menuju lift.


"Sus, kelamaan make lift, lewat tangga aja." Ucap Choki seraya mengarah ke tangga dan langsung melangkah lebar menaikki anak tangga lalu disusul suter dibelakangnya.


"Pak, disini.. Bapak kelewatan."


Tanpa menjawab, Choki langsung menerobos pintu masuk ruang operasi. Sebenarnya ini bukan ruang operasi, melainkan ruang tunggu untuk para pasien operasi sebelum mereka menjalankan operasi. Disinilah mereka diganti pakaiannya, lalu diberi infus dll sebelum menjalankan operasi.


"Mir.." Panggil Choki lembut saat setelah ia melangkah menghampiri. Mta Miranda terbuka dengan sangat lambat, wajah dan bibirnya tampak pucat. Choki mencoba tersenyum meski air matanya kini menetes saat melihat sang istri yang terbaring lemah karnanya.


"Makasih mas.." Jawab Miranda dengan suara berat sembari mencoba tersenyum meski berat rasanya. Tangan Choki tak berhenti mengelus lembut kepala dan wajah Miranda. Matanya memerah saat menatap Miranda, tak berselang lama perawat yang bertugas diruang tunggu operasi pasien pun menghampiri Choki dan Miranda. Meminta izin pada Choki untuk membawa Miranda masuk keruang operasi. Dan menyuruh Choki untuk menunggu diluar ruangan.


"Tolong titip istri saya, saya yakin kalian bisa menyelamatkan mereka."Ujar Choki pada perawat sekaligus mencium kening Miranda saat sebelum brankarnya didorong masuk keruang operasi.


Choki bergegas keluar ruangan saat setelah melihat brankar Miranda masuk kedalam ruang operasi. Ia duduk disalah satu kursi yang tersedia di depan ruang operasi. Penampilan dan wajah kalut, pandangannya kosong kedepan. Rasa bersalah terus menyelimuti pikirannya saat ini, tak henti-henti ia melirik kearah pintu ruang operasi. Sesekali ia mengintip dari balik kaca yang menempel dipintu, meski ia tak bisa melihat apa yang terjadi didalam.


Kini Choki kembali menunggu sembari duduk dikursi, dan berselang kurang lebih 2 jam lamanya ia menunggu. Terdengar suara tangisan bayi yang cukup kencang dari dalam. Reflek Choki langsung berdiri namun tak melangkah maju, sorot matanya mengarah kepintu ruang operasi. Berharap seseorang keluar dari sana, dan ternyata harapannya benar. Saat melihat seorang perawat keluar dengan mendorong sebuah brankar kecil yang berisikan bayi, kaki Choki melangkah mendekati brankar tersebut dan melihat seorang bayi mungkin yang tertutup dengan sebuah tabung transparan.


"Bayiku.. Kamu lahir slamat nak." Ucap Choki terharu dengan tetesan air mata yang mengalir melewati pipinya.


"Mari pak ikut saya keruang bayi, bapak bisa adzanin putri bapak disana." Sahut perawat yang secara tidak langsung membuyarkan pandangan Choki saat tak berkedip ketika melihat bayinya.

__ADS_1


Choki mengangguk pelan seraya mengikuti brangkar putrinya menuju ruang bayi. Sesampainya disana, Choki dipersilahkan perawat untuk menggendong putri kecilnya, namun tingkah Choki kikuk saat hendak mengangkat putrinya. Sampai akhirnya ia dibantu oleh perawat itu agar mempermudah saat menggendong anaknya.


Perasaan bahagia bercampur was-was kini ia rasakan. Tubuh putri yang begitu kecil membuat ia mematung saat menggendongnnya. Choki kembali menitikkan air mata saat melihat bibir mungil putrinya yang mengetap-etap kecil seperti mencicipi sesuatu.


Tak menunggu lama, Choki menarik napas dalam mengatur emosionalnya agar tak kembali menangis, lalu ia mulai mengadzani putrinya ditelinga sebelah kanan, lalu komat ditelinga kirinya. Saat selesai, perawat kembali mengambil alih gendongan putri Choki.


"Apa istri saya masih diruang operasi sus.?"


"Mungkin iya pak, nanti akan kami beritahu jika tindakkan pada pasien Ny.Miranda telah selesai. Eem, apa bapak bawa baju ganti bayi dan ibunya.?" Tanya Perawat diakhir kalimatnya.


Choki sempet bengong saat mendengar pertanyaan perawat tersebut. Jangan kan untuk membawa baju ganti, sendal yang Choki pakai saja sendal dalam rumah yang berbentuk seperti sendal hotel namun tebal.


"Kalau memang gak sempet bawa, boleh minta tolong keluarga yang dirumah pak, untuk bawa baju ganti pasien." Sambung perawat.


"He'em nanti saya telvon keluarga dirumah. Makasih sus. Saya titip anak saya." Jawab Choki sekaligus berpamit keluar ruangan.


📲📲 Dredd .. Dred... "Hallo, iya pak ada apa.?" Ucap Bobby begitu mengangkat panggilan masuk dari pak Choki.


"Baik pak, saya sampein ke mbok Yu dan langsung saya antar kerumah sakit." Ujar Bobby seraya mematikan sambungan telvon lalu melangkah masuk kedalam rumah menuju kekamar mbok Yu yang tertelak didekat dapur bersih.


Tog.. Tog.. Suara ketukkan pintu namun tak ada respon dari dalam, sampai pada akhirnya Bobby melangkah mundur dan hentak pergi dari sana.


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2