
"Rin, sorri ya soal kemarin lusa. Gw gak bermaksud lari. Tapi urgent banget, si mbok lupa bawa pampers untuk non Maura, jadinya gw disuruh buru-buru beli kewarung naik motor. Mangkanya gw langsung ninggalin lo gitu aja."
Flashback On.
"Bob..!!" panggil Choki cukup kencang sembari berlari keluar dari rumah panti.
"I-iya pak, ada apa..??" Boby yang terkejut karna teriakkan Choki yang memanggil namanya dari dalam rumah panti.
"Ini, tolong belikan popok untuk Maura, cepet.!!" perintah Choki sembari memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.
"I-iya pak."
Namun saat Boby hendak masuk kedalam mobil, Choki langsung menghentikan dirinya. "Bob.! Jangan naik mobil, kelamaan. Naik motor aja, sebentar, saya cari dulu kuncinya." Tak berselang lama, Choki kembali dari dalam lalu memberikan kunci motor pada Boby.
Saat ditengah perjalanan, tepatnya dipersimpangan yang tak jauh dari rumah panti. Motor Karin hilang kendali saat berpapasan dengan motor Boby sampai akhirnya Karin terjatuh dari motor.
"KYAAAAAAA" teriak Karin panik.
BRAGHH!!!! "Aawwww..."
"Eeeh eeh buset.." ujar Boby seraya menghentikan motornya dan melihat kearah belakang. Boby melihat Karin tengah susah payah mengangkat sepeda motornya yang terjatuh dijalanan.
"Neng.? Neng gakpapa.? Aduh, maafkeun ya neng, saya teh gak konsen."
Saat motor Karin berhasil diangkat, Boby langsung bergegas pergi meninggalkan Karin begitu saja. "Eh kok ditinggal.! Woi k4mpr3t! Tanggung jawab.!!" teriak Karin yang baru sadar dirinya ditinggal Boby begitu saja. Bahkan Boby tak melirik kearah Karin dan tanpa henti-hentinya Karin ngedumel sepanjang perjalanan kerumah panti.
"Emang k4mpr3t.! Aagrhh shibal. Pabbo, sekkiya.!! Bisa-bisanya abis nambrak langsung lari. Awas kalo ketemu lagi.!" umpat Karin tanpa henti.
Dan saat motor Karin memasuki gerbang rumah, ia melihat 2 mobil alphard berwarna hitam terparkir diarea rumah panti. "Wihh mobil siapa nih.?" tanya Karin pada diri sendiri.
"Mba Karin.." panggil seorang gadis pada Karin sembari menghampirinya.
"Apa Din.?"
"Sini, Dini bantuin." ucap Dini sembari menyambut paper bag dari Karin.
"Din, itu didalemnya ada sabun. Dibagiin ke yang lain ya.."
"Oke siap mba." jawab Dini lembut sembari tersenyum.
"Oiya mba, kak Choki sama mba Mira baru aja sampe. Mereka didalem, kata ibu kalau mba Karin udah pulang, disuruh langsung keruang depan (ruang tamu.)"
Seketika tubuh Karin membeku ditempat sambil menatap kosong kearah tanah. Tanpa pikir panjang, begitu Dini masuk kedalam, Karin langsung terburu-buru melangkah masuk melalui pintu samping. Ia sengaja tak lewat depan lantaran gugup bercampur takut jika bertemu dengan mereka. Dan sampai malam tiba, Karin tak kunjung datang menemui Choki dan Miranda.
Flashback Off.
"Deuhhh dasar. Lelaki tak punya perasaan. Lu tau gak, dengkul gw kaya mau copot. " ucap Karin kesal, namun ekspresi itu terlihat lucu dimata Boby.
"Hahaha, lu gemesin banget si Rin. Kaya bocah. Sorri ya sekali lagi, janji deh.. Lain kali gak gitu lagi." ucap Boby sembari mengacak-acak pucuk kepala Karin.
"Woi ilah!! Berantakan dong rambut gue.!" ucap Karin makin kesal dan hendak membalas namun Boby menghindar. Tanpa sadar mereka saling melemparkan candaan satu sama lain, terlihat seperti sudah saling mengenal dekat.
"Oiya, gw boleh minta nomor lu boleh gak Rin.?" pinta Boby tiba-tiba.
"Buat apaan.?"
__ADS_1
"Buat gw jadiin nomor togel, kali-kali kan nomor hp lu keluar. Mayan buat beli seblak."
"Hahahhaa p3akk.!! Seriusan buat apaan.?" tanya Karin serius tapi sambil tertawa karna mendengar jokes Boby.
"Ya buat kontakkan sama elu lah. Besok gw udah balik keJakarta, takut kangen gw nanti." jawab Boby sembari menahan senyum.
DEGG!! Seketika Karin terdiam, yang awal ia tertawa dan merasa terhibur, seketika terdiam seribu bahasa saat Boby yang meminta nomor ponselnya. Hal itu mengingatkan satu hal yang menyangkut tentang Kim. Ia teringat saat hendak pergi dari Korea, ia dengan sengaja meninggalkan ponselnya dilaci. Dengan tujuan, agar tak terlacak dimana dirinya berada.
"Oii Karina..! Jangan ngelamun, ntar kesambet." Kaget Boby menyadarkan Karin dari lamunannya.
"Ehh iya.. Sorri-sorri."
"Mana.??" pinta Boby lagi.
"Apanya.?"
"Nomo..." ucapan Boby terputus saat seseorang meneriaki nama Karin dari bawah atap.
"Mba Karin... Dipanggil ibu.."
"Eh iya.. Tunggu.. Ini mba turun." ucap Karin cepat dan terburu-buru pergi turun meninggalkan Boby begitu saja.
......................
...Keesokkan Harinya DiKamar si mbok...
Suara tangis Maura kian terdengar kencang dari dalam kamar, si mbok terus berusaha menenangkan Maura dengan cara menimang-nimang.
"Permisi.." sapa Karin sembari menyeruak masuk kedalam kamar.
"Hallo cantik. Haus ya dek.., emm lutuna kalau nangis gini." ledek Karin mengajak Maura ngobrol sembari memberikan ASI untuknya.
Perasaannya ketika memberikan ASI tak dapat ia utarakan dengan kata-kata. Tatapan mata Maura dan Karin saling memandang satu sama lain, seakan mereka sedang mengobrol dari hati kehati. Wajah gembira Maura dapat dilihat dari mulutnya yang tersenyum sembari bergerak menyedot ASI, hal itu membuat si mbok dan Karin ikut tersenyum melihat tingkah Maura.
"Hei anak bayik, jangan senyum-senyum gitu ah. Aku jadi gumush tauu.." ucap Karin gemes sembari mencolek-colek pipi gembul Maura.
"Sehat-sehat ya dek, nanti kapan-kapan kita temu lagi ya.."
"Kalau kamu mau, kamu boleh ikut kami kekota." sahut Choki tiba-tiba sembari melangkah masuk kekamar bersama Miranda.
Dengan cepat Karin menarik kain jarig yang ada di tangan si mbok untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka karna sedang menyusui Maura. Wajah Karin hanya tertunduk dan terdiam tak berani membalas ucapan Choki.
"Rin.. Tolong dipertimbangkan, kamu mau kan nolongin Maura." ucap Miranda lembut dengan tangannya yang memegang pundak Karin.
"Maaf mba, t-tapi aku gak bisa. Aku gak bisa ninggalin kerjaan aku disini. Aku baru aja kerja 2 minggu, gak enak kalau harus berenti."
"Soal itu, biar aku yang ngomong ke Vero." singkat Choki lalu meninggalkan mereka begitu saja. Miranda menatap Choki yang perlahan menghilang dari balik pintu, lalu kembali berbalik menatap Karin yang sedang meletakkan Maura diatas kasur bayi.
"Mba, aku permisi ya, mau ke kebun." pamit Karin saat setelah meletakkan Maura. Saat Karin hendak melangkah keluar, tangannya ditahan Miranda. Sontak Karin langsung menatap Miranda begitupun dengan Miranda yang menatap Karin penuh arap.
"Please. Help me for the first and last time Rin.." lirih Miranda pada Karin. Karin hanya mampu tersenyum dan perlahan menangkis pelan tangan Miranda dari tangannya.
"Aku berangkat dulu ya mba, nanti siang aku pulang lagi nyusuin Maura." ucap Karin sembari tersenyum, lalu bergegas pergi meninggalkan kamar.
Perlahan Karin berjalan menuju luar rumah, saat keluar dari dalam ia melihat Boby sedang duduk didekat mobil bersama 3 orang pria yang tak lain adalah bawahan Choki. Karna tak mengenal mereka selain Boby, Karin melewati mereka begitu saja dan bergegas menaiki motornya. Namun saat hendak menancapkan gas motor, ia tersadar akan sesuatu yang tertinggal.
__ADS_1
"Kenapa Rin.?" tanya Boby saat melihat Karin tak jadi pergi.
"Topi gw ketinggalan." jawab Karin singkat dan segera berlari kecil masuk kedalam rumah.
"Wuih Bob, kenal lu dengan tu cewe.?" tanya salah satu body guard pad Boby. Boby hanya tersenyum salah tingkah saat setelah memberi kode dengan mengangkat kedua alisnya, tingkahnya itu semakin membuat para body guard yang lain bersorak meledek Boby.
"Asikk Boby....." seru sama-sama.
......................
Ceklek, pintu kamar terbuka. Saat hendak mengambil topi yang tergantu dibalik pintu, seketika pula Karin terkejut dan hendak berteriak namun dengan cepat tangan Choki membekap mulut Karin.
"Sstttt..!!"
"Kakak ngapain disini.?" tanya Karin dengan suara sumbang karna masih dibekap Choki. Perlahan Choki melepas bekapannya lalu menutup rapat pintu kamar Karin.
"Kakak ngapain.?"
"A-aku.. Ada yang mau aku omongin dengan kamu." jawab Choki sembari menggaruk ujung pelipisnya yang tak terasa gatal.
Seakan paham maksud Choki, Karin perlahan memegang tangan Choki dengan lembut. "Maaf kak, tapi aku gak bisa. Masih banyak cara untuk dapetin ASI, gak cuman dari aku. Kakak bisa beli dirumah sakit yang nyediain donor ASI."
"Maafin aku kak, aku gak bisa kalau harus ikut kalian. Aku takut terjadi sesuatu diluar kendali kita." batin Karin bergumam sembari tangannya yang bergerak mengambil topi.
Choki yang sedari tadi hanya memperhatikan pergerakkan Karin, matanya yang tak berkedip saat melihat Karin dari dekat seperti ini membuatnya membeku seketika. Ntah kenapa detak jantungnya berdetak cepat saat berada didekat Karin.
"Saranmu tadi udah aku rundingin dengan Miranda. Tapi dia nolak, dengan alasan gak tau asal usul si pendonor. Miranda sangat posesif jika menyangkut soal Maura, ku kira Miranda akan nolak saat kamu menawarkan diri. Tapi ternyata dia dengan lapang dada mempersilahkan kamu menyusui Maura."
"Rin.. Miranda punya penyakit jantung yang mengharuskan dia meminum kbat secara rutin, dan efek sampingnya ASI dia gak berproduksi dengan baik. Maka sebab itu Maura slama 3 bulan ini gak pernah minum ASI sekalipun. Baru ini dia merasakan ASI. Bahkan demamnya pun langsung turun saat kamu menyusuinya. Aku gak akan tanya-tanya soal masa lalu mu dan Kim bagaimana tempo hari. Aku gak akan buat kamu mengingat kejadian buruk yang menimpahmu dimasa lalu saat bersama Kim. Tolong bantu kami Rin, ini semua demi anakku."
Mendengar cerita Choki membuat perasaan Karin tersentuh, terutama mengenai Maura dan Miranda. Untuk masalah Kim, ia tak terlalu memusingkannya. Pasalnya ia kembali ke Indonesia berniat untuk lepas dan melupakan pria yang ia cintai slama satu tahun lalu. Namun ia mengenal siapa Choki, si pria keras kepala dan tak suka dibantah ataupun ditolak. Rasa ingin memilikinya sangat kuat, bahkan ia siap untuk mengorbankan apapun tanpa berfikir resiko yang ia hadapi didepannya.
"Tapi maaf kak aku tetep gak bisa. Tolong ngertiin aku, kamu dan Miranda orang yang terpandang sekarang, pastinya kalian akan sangat dengan mudah menemukan pendonor." jawab Karin tanpa menatap Choki, saat hendak membuka pintu, dengan cepat Choki menarik lengan Karin menjauh dari pintu.
"Apa alasan kamu gak mau bantu aku.?" tanya Choki tegas.
"Ya aku gak bisa kak, aku teringat kerjaan disini. V-vero tu lebih galak dari jurangan. Bapak sama anak itu sama aja. Mereka bakal marah besar kalau aku out dari sana tiba-tiba." jawab Karin berbohong.
"Karin.. Karin.. Kamu mau nyoba bohongin aku.? Yang kenal Vero lebih dulu tuh aku, bukan kamu. Aku tau jelas gimana Vero, biar aku yang ngomong nanti dengan Vero. Kamu siapin baju-baju kamu, nanti sore kita berangkat keJakarta."
"ENGGAK.!!" jawab Karin dengan suara sentakkan yang membuat Choki sedikit terkejut.
"Oke kalau kamu gak mau. Tapi jangan salahin aku kalau ibu tau soal ini, soal kamu yang hamil dengan pria asing, bahkan kamu tinggal dengan dia tanpa ikatan status yang sah.!" ancam Choki pada Karin.
Dengan cepat Karin menarik baju Choki saat Choki sudah melangkah mendekati pintu. "Kak jangan... Aku gak mau Ibu tau, plis jangan.." lirih Karin dengan isak tangis, memohon pada Choki agar tak memberitahu pada Ibu panti mengenai dirinya.
"Aku juga gak mau ini semua terjadi, aku akui aku salah. Aku termakan cinta waktu itu, aku udah minum pil KB biar aku gak hamil sampai akhirnya Kim tau dan marah ketika tau kalau aku minum pil itu. Aku bahagia aku bisa hamil kak, aku bisa buktiin kesemua orang yang pernah fitnah akau kalau aku mandul, terutama kekeluarga mantan suamiku (Rega). Aku happy bayiku menendang-nendang perutku dari dalam. Kami bahagia saat itu, tapi semua itu cuman sebentar. Irene dateng nyamperin aku keapart dengan amarah yang memuncak tanpa aku tau sebabnya apa. Sampai akhirnya dia tega melampiaskan amarahannya dengan menyiksaku, memukulku bahkan menendang perutku, dia menyakiti anak yang ada didalam perutku, dia tega membunuh anak yang ku tunggu-tunggu kehadirannya. Sekuat tenaga aku nyoba buat ngelawan, tapi aku kalah kak, perutku sakit, penglihatanku perlahan menghilang. Yang aku liat terakhir hanya darah yang mengalir dari kakiku kelantai. Sampai akhirnya aku sadar kalau aku udah--"
Dengan cepat Choki memeluk erat tubuh Karin, menenggelamkan wajahnya kepundak Karin. Suara isak tangis Karin terdengar begitu menyayat hati, Choki membiarkan Karin menangis, meluapkan emosi yang ia pendam slama ini. Rasa bersalah saat ia dengan tega menampar Karin didepan Miranda tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasan dari Karin.
"Maafin aku Rin, aku memang pria bodoh. Aku gak tau masalah yang nimpah kamu slama ini. Maafin aku." gumam Choki dengan suara berat lantaran menangis merasa bersalah atas perbuatannya kemarin.
......................
......................
__ADS_1