Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Siapa Nama Aslimu?


__ADS_3

"Ssshh Aaghh leherku." keluh Kim saat ia sadar dari tidurnya. "Chagiaaa.." sambung Kim memanggil Karin, namun tak ada jawaban.


"Kemana dia.? Kenapa tak membangunkanku untuk bekerja." gumam Kim sembari memijat keningnya dan seketika ia tersentak dam tersadar akan kejadian tadi malam.


"Ommo!! Chagiaa.. Dimana kau.!" teriak Karin memanggil Karin dan berlalu melangkah cepat keluar Kamar. Matanya melihat sekekeling ruangan yang terlihat rapih, bahkan meja makam bekas makan malam pun kini sudah kosong dan rapih.


Pikiran yang sudah overthingking pun membuat perasaannya menjadi gelisah tak karuan saat ia tak melihat keberadaan Karin diseluruh ruang apart. Kim berlari mengelilingi seluruh ruangan dan tetap tak menemukan keneradaan Karin. Sampai pada akhirnya ia meraih ponsel yang masih dikantungi dari semalam, menelvon nomor ponsel Karin namun tak diangkat dan seperkian detik pendengaran Kim terkejut saat ia mendengar suara getaran ponsel.


Perlahan ia mencari dan mendekati suara getar ponsel yang kian jelas terdengar, sampai akhirnya Kim menemukan ponsel Karin yang tergletak diatas nakas meja tv. Dengan tangan gemetar dan pikiran yang mulai kacau, perlahan Kim membuka ponsel Karin.


Beberapa saat setelah memeriksa ponsel Karin, langkah kaki Kim berlari masuk kedalam kamar. Dengan gelisah ia membuka kasar seluruh pintu lemari baju dan memperlihatkan lemari yang telah kosong dan hanya terlihat selembar kertas putih. Seketika Kim menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


"please don't come chagia." gumam Kim gelisah dengan tangan yang bergetar mencoba meraih kertas tersebut. Perubahan ekpresi yang awalnya gelisah kini menjadi emosi dan terlihat pula mata yang berkaca-kaca saat ia membaca surat dari Karin. Sampai pada akhirnya emosinya memuncak sembari meremas kuat kertas ditangannya seakan tak terima dengan semua kejadian ini.


"AAAGGRRHHHHHH...!! KARIN-AHH!!!" Teriak Kim emosi.


......................


"Makanlah, kamu belum makan dari kemarin malam. Setelah itu istirahat, nanti akan aku bangunkan sebelum penerbangan kita." ujar Park pada Karin seraya menyodorkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya.


"Nee, gomawo Park-sii." jawab Karin dengan senyum paksa.


"Jangan sungkan, anggap ini rumah mu sendiri. Jangan hiraukan mereka, mereka hanya sedang menjalankan tugasnya." ujar Park saat melihat gerak-gerik Karin yang terlihat gugup dan gelisah dengan kehadiran para body guard Park yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Nee.." jawab Karin singkat namun rasa tak nyamannya tetap terlihat. Sampai pada akhirnya Park memberi isyarat pada body guardnya agar pergi dari ruang makan.


"Sudah tak ada. Hanya kita disini, makanlah makananmu Karin-ah.." rengek Park manja sembari menyodorkan sendok untuk Karin.


"Mwo?? Ekspresi apa barusan.? Berbeda sekali saat mereka ada dibelakangku tadi." oceh Karin terkejut dengan perubahan ekpresi tegas menjadi gemoy dalam kurun waktu 2 menit.


"Hahaha jinjjah.? Apa aku terlihat sangar tadi.? Haish kau ini, aku tetap Park yang kau kenal Karin-ah."


"Masa.?? Eeh, Jinjjah.??" ucap Karin membenarkan ucapannya yang keceplosan. Park hanya terkekeh saat melihat tingkah Karin keceplosan sampai ia tak sengaja melihat baju Karin basah.


"Wae!! Karin-ah, ke-napa bajumu.?" tanya Park bingung saat ia melihat baju Karin bagian depan yang terlihat basah di satu titik.


Sontak Karin langsung melihat sekaligus dengan cepat ia menutup dadanya lalu berlari meninggalkan Park diruang makan. Karin berlari cepat menuju lantai atas dimana disanalah kamar Karin berada saat setelah ia datang kerumah besar ini.


Saat Kim sudah terkena efek obat dan tertidur pulas, Karin bergegas menghubungi Park melalui pesan lewat ponsel yang telah diberikan Park pada Karin, guna ponsel itu untuk mengelabui Kim agar suatu saat keberadaan Karin tak dilacak oleh Kim.


"Duh, kenapa tumben gak kerasa kenceng nih dada." ucap Karin saat ia masuk kedalam kamar sembari mencari pompa ASI didalam kopernya.


"Aaahh leganya.." ujar Karin pelan setengah perjalanan memompa ASInya. "Hiks, Kim.. Maafkan aku." tangis Karin seketika memecah saat pikirannya melintas sosok Kim. Ia teringat saat kesetiannya yang slalu berada disampingnya menemani dirinya yang tengah memerah ASI dan dengan telatennya Kim menuangkan ASI keplastik khusus lalu menyimpannya dilemari freezer.

__ADS_1


Flashback On.


"Chagia.. Mau diapakan semua susumu ini, daging bekuku hampir tak memiliki ruang." keluh Namjoon saat melihat freezer yang terlihat pemuh dengan stok ASI Karin.


"Hufh, aku pun bingung mau dikemanakan semua ASI beku ini." jawab Karin seraya mendekati dan berdiri tepat disamping Kim.


"Kalau kamu mau minumlah, anggap saja itu eskrim." ledek Karin terkekeh


"Haish.. Yang benar saja! Aku tak suka minum susu digelas beling. Aku lebih suka minum susu dari gelas aslinya." jawab Kim santai.


Plak!! Satu tamparan mendarat kep4ntat Kim yang telihat mont0k dengan celana pendek hitam yang ia kenakan. "Dasar m3sum!!" ujar Karin sembari menampar *4**** Kim.


"Awww sshhh sakit chagia.." oceh Kim mengelus pant4tnya yang sakit.


"Haha mian oppa. Lagian pikiranmu hanya dipenuhi dengan bok0ng dan susu." jawab Karin sembari memeluk tangan Kim.


"Aku akan menghubungi Jiwon Nunna. Mungkin ASI mu bisa kita donorkan kesana." ucap Kim dengan tatapan yang masih menatap kulkas.


"Mwo?? Memangnya ASI bisa didonorkan.? Apa ada yang mau.? Apa orang tua bayi mau menerimanya.?" cerewet Karin penuh tanya.


"Haishhh bawelnya.. Sini kau chagia, Cup." oceh Kim seraya menarik tangan Karin lalu mengecup bibirnya.


Dan mulai hari itu, disetiap minggunya Kim dan Karin rajin mengirim ASIp kerumah sakit miliki Nunna Jiwon. Dengan diterimanya donor ASI Karin, hal itu membuat Kim merasa senang terlebih lagi Karin. Dengan senyum penuh bahagia mereka melihat anak-anak yang ada diruang bayi meminum lahap ASIp Karin. Sampai rasa sesak dada menahan tangispun pecah. Bukan kesedihan yang terasa, namun rasa bahagia karna bisa membantu sesama seperti ini.


......................


Tokk Tokk.. Suara ketukkan pintu yang membuat Karin terkejut dan segera menghapus jejak air mata yang megalir dipipinya. "Boleh aku masuk Karin-ah.?" titah Park seraya membuka pintu kamar.


"Nee, masuklah Park." Jawab Karin sembari memaksa senyum diwajahnya.


"Wae-oh Karin-ah.??" ujar Park panik mendekati Karin, saat ia melihat Karin menangis dan terlebih lagi ia melihat sebotol air berwarna putih dan benda yang berbentuk corong berada dimeja nakas dekat kasur.


"Maaf, apa aku membuatmu panik.?" tanya Karin menatap wajah Park yang terlihat bingung dan terlihat bertanya-tanya. "Itu ASI namanya, aku sempat hamil namun.." sambung Karin namun terhenti ditengah kalimatnya dan seketika dadanya terasa sesak saat ingin menyelesaikan kalimatnya.


"Haishh sudahlah. Tak usah dilanjutkan. Aku sudah tau." titah Park memeluk Karin, namun dengan cepat mendorong tubuh perut Park lalu menatapnya serius.


"Kau tau?? Apa maksudnya.?" tanya Karin serius. Dengan menarik nafas lalu menjatuhkan tubuhnya tepat didepan Karin (berjongkok).


"Aku tau semua tentangmu Karin-ah, aku tau siapa kamu, dari mana asalmu, dan bagaimana kehidupanmu. Karin-ah.. Mianhae-oh, aku menyembunyikan identitas asliku. Kita mengenal satu sama lain dengan cara yang lain. Emm maksudku, kamu cukup mengenalku sebagai Park yang kamu kenal setahun lalu."


"Park-shi, kamu sendiri yang bilang ingin mengenal dan ingin tau tentangku sepenuhnya. Tapi kenapa aku tidak boleh mengenal dan mengetahui semua tentangmu.?" ujar Karin dengan satu tangan menyentuh pipi Park yang berada didepannya.


Senyum manis dan sorot mata yang cantik begitu terpancar terang diwajah Park. "Apa kamu tidak akan membenciku setelah kamu mengetahui semua tentangku.? Aku ragu Karin-ah, aku ragu ingin memberitahu siapa aku sebenarnya. Bolehkah kita tetap berteman seperti ini.?"

__ADS_1


Terlihat perubahan ekspresi yang awalnya senyum manis nan terang, kini berubah menjadi senyum keraguan yang ditunjukkan Park pada Karin. Keraguan akan sesuatu yang takut akan menimbulkan masalah baru. Dengan berat hati Karin mencoba memaksa senyumnya didepan Park.


"Owkey.. Aku tak akan bertanya apapun tentang siapa kamu, tapi bolehkah aku tau siapa nama aslimu.?" ujar Karin yang membuat Park tersentak seketika.


"Jimin. Park Jimin. Kamu bisa panggil aku Park atau Jimin. Panggillah sesukamu Karin-ah." ucap Park pelan dan perlahan wajahnya mendekati wajah Karin sampai membuat mata Karin terpejam tanpa sadar.


Satu kejadian yang membuat Karin tersentuh, dan ntah apa yang membuatnya menerima perlakuan Park padanya saat ini. Kecupan itu terasa begitu dingin dan lembut ditambah teksturnya yang seperti Jelly membuat Karin terbuai akan kekenyalan ketika digigit.


"Aku akan ambilkan makan untukmu dulu, tadi kamu belum sempat makan." ucap Park gugup begitu ia menyudahi paksa aksi dadakannya tersebut. Dengan cepat Park bangkit lalu berjalan meninggalkan kamar.


Langkah kaki yang terlihat lebar ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Perasaan gugup dan hampir tak terkontrol membuatnya kalang kanbut dibuatnya. Respon Karin yang tak terduga membuat Park seketika ikut terbuai saat kejadian berlangsung.


"Haishh!! Hampir saja, jika tidak. Ntah apa yang akan terjadi selanjutnya." titah Park memasuki area dapur yang membuat para koki disana terkejut. Dan reflek membungkuk memberi hormat pada Park.


"Ada yang bisa kami bantun tuan.?" ujar chef senior pada Park.


"Nee, berikan aku sarapan baru untuk wanitaku." ucap Park tanpa ragu.


"Baik tuan, beri kami waktu 5 menit untuk menyiapkan sekaligus mengantarkannya keatas." ujar chef senior itu pada Park, namun Park memberi isyarat dengan menunjukkan jari telunjuknya keatas.


"Anii. Aku akan menunggunya dan biarkan aku saja yang membawanya. Siapkan saja dalam satu nampan." sahur Park tersenyum kecil seraya menyenderkan bok0ngnya disudut meja. Dan sikap Park kali ini benar-benar membuat para karyawan dapur terkejut, pasalnya perubahan sikap dan emosional Park benar-benar berbanding terbalik dari biasanya.


"Baik tuan."


Tak perlu sampai 5 menit, permintaan Park sudah siap dan langsung ia terima begitu chef senior menyodorkan tampan ditangannya dengan sopan.


"Thanks.." ujar Park tanpa ragu, dan lagi-lagi membuat para karyawan dapur dibuat terkejut untuk yang ketiga kalinya. Yang pertama Park tanpa ragu memasuki dapur kotor dengan alas kaki mahalnya. Yang kedua, Park tanpa ragu meminta lalu rela menunggu permintaannya datang. Dan yang ketiga, Park terlihat tulus ketika ia mengucapkan terima kasih pada bawahannya.


Dengan langkah maju meninggalkan dapur kotor dan untaian senyum malu dipancarkan wajah tampan Park. Para karyawan dapur yang melihat seluruh kejadian hari ini benar-benar membuat mereka saling pandang satu sama lain. Menatap heran apa yang membuat Tuan mereka bersikap berbalik dari biasanya.


Tok tok tok.. Suara ketukkan pintu yang terdengar Karin membuat kakinya melangkah maju untuk membukakan pintu. "Hai.." sahut Karin tanpa ragu begitu ia melihat Park yang berdiri didepan kamarnya dan nampan yang berisi makanan dan minum yang ia bawa ditangannya.


"Boleh aku masuk." tanya Park ragu.


"Nee, masuklah tuan Park." jawab Karin sembari meledek Park yang terlihat menahan senyum malu diwajahnya.


......................


......................


Duh.. Baper author kalau udah nyambung ke bagian Park Jimin. Bayanhgin aja pas Park nahan senyum. Terus nahan nafsu, terus adegan yang buat dada berdesir diwaktu yang bersamaan.


AAAGGGHH!!! Shibow banget pokoknya ðŸĪŠðŸ˜†

__ADS_1


__ADS_2