
PLAK!! PLAKK!!
"Aagh.. Ampun oppa, aagh ampun.. Sakit.!" Ringis Irene seraya menahan sakit saat dirinya bertubi-tubi mendapat tamparan keras dari tangan Kim.
"WANITA SI4LAN!! Tidak tau diuntung kau IRENE-SHI.!! YAAAAA!!." Teriak Kim keras
Irene menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang tersungkur kelantai saat setelah mendapat tamparan dari Kim. Irene ketakutan ketika melihat wajah Kim yang dipenuhi kemarahan.
"APA SALAH ANAKKU PADAMU HAH.!! KATAKAN.!? KENAPA KAU TEGA MEMBUNUHNYA.!?" ujar Kim emosi sembari menjambak rambut Irene dan mendengakkan wajahnya keatas.
"Ampun op-pa.. Kumohon ampuni aku, aku tak sengaja melakukannya. Jangan hukum aku, hiks, hiks,." Jawab Irene dengan suara bergetar ketakutan seraya memegang tangan Kim yang menjambak rambutnya.
Emosi Kim memuncak, pupil matanya membesar sembari menahan air mata yang mulai membendung. Ia mengangkat kasar rambut Irene dan membenturkan berkali-kali kepala Irene kedinding.
"AAAAAAA, sakit oppa... HENTIKAN.! KU MOHON. AAAAGH!" teriak Irene tak henti saat kepalanya terus dihantam kedinding. Sampai petugas polisi menerobos masuk kedalam ruangan. Lalu menahan tubuh Kim agar berhenti menyiksa Irene. Petugas sampai meminta bantuan para penjaga tahanan untuk membantunya menahan tubuh Kim yang besar.
"LEPAS!! YA SEKKIYA. LEPAS KU BILANG!! AAAAGGRHHH!!!" brontak Kim seraya menarih kepala Irene dan hendak menghajarnya kembali. Namun tubuhnya dikukung paksa oleh para petugas dan penjaga tahanan.
"Tuan, berhentilah. Tak pantas jika anda menyiksa wanita." Ujar pertugas polisi pada Kim.
"Dia tak pantas untuk hidup.!! YAAA IRENE-SHI. WANITA J4L4NG, jangan bawa dia pergi.!! YAAAAA SHIB4LL!!". Teriak Kim semabri berontak yang ingin menarik kembali Irene setelah ia melihat Irene dibawa pergi keluar dari ruang tersebut.
Perlahan para petugas dan penjaga tahanan melepas kukungan mereka. Dengan cepat Kim menerobos keluar ruangan dan berlari kencang mengejar petugas yang membawa Irene. Reflek petugas itu menarik Irene dan memaksanya masuk cepat kedalam sel sementara yang berada tak jauh dari sana.
"BERIKAN KUNCINYA!! YAA!!." teriak Kim hendak merebut kunci yang dipegang petugas polisi, namun petugas itu melemparnya kedalam sel yang ada Irene disana dan dengan cepat Irene mengambil kunci itu dan menggenggamnya erat. Petuga itu mengetahui Kim sedang dipuncak emosi, ia bisa melakukan hal gila pada Irene yang mungkin bisa membahayakan Irene.
BUGG!! Satu pukulan keras Kim layangkan kewajah petugas karna tak menuruti perintahnya. Lalu menguncang-gucang besi pembatas seraya berteriak pada Irene agar memberikan kuncinya.
Tubuh Irene terduduk seketika ketika melihat Kim yang menguncang-guncang besi pembatas dengan kencang. Ia menangis ketakutan sembari memeluk kunci didepan dadanya.
"Irene-ah berikan padaku.! Aku akan membunuhmu Irene-ah! Aku tak akan memaafkanmu. Apa salah bayiku Irene-ah. Apa salahnya.." Ujar Kim putus asa seraya menahan isak tangis, dan perlahan berhenti menguncang besi pembatas lalu tertunduk dan perlahan terduduk dengan wajah yang menunduk.
Isak tangis Kim terdengar begitu menyesakkan dada bagi siapa yang mendengar. Begitu juga Irene yang menangis ketakutan melihat Kim yang sangar karna emosi. Rasa takutnya menutupi rasa sakit kepalanya yang habis dibenturkan Kim kedinding.
Petugas dan penjaga tahanan hanya terdiam melihat Kim yang masih menangis putus asa. Mereka menyaksikan emosi dan amarah yang ditunjukkan Kim saat ini. Mereka jadi saksi bisu atas kejadian hari ini. Bagi seorang pria, mereka pun ikut merasakan sakit dan marah bila berada diposisi Kim ketika mendengar calon bayinya dibunuh tanpa belas Kasih.
...Flasback Off....
__ADS_1
......................
Kini Jay tengah berhadapan langsung dengan Irene, mereka duduk saling berhadapan dan hanya dihalangi dengan meja didepan mereka dan satu petugas masing-masing dibelakang mereka.
Tatapan serius dan dingin dilontarkan Jay begitu menatap Irene. Sedangkan Irene hanya menunduk tanpa membalas.
"Irene-ah.. Ada apa denganmu.?" Tanya Jay lembut dan hati-hati.
Ketika mendengar suara dari Jay, seketika air mata Irene terjantuh. Dan saat itulah Jay meraih tangan Irene lalu memegangnya erat.
"Wae wae.. Jangan menangis, aku ikut sedih jika kamu menangis." Ujar Jay lembut. Isakkan tangis Irene semakin terdengar begitu ia mendapat perlakuan lembut dari Jay. Jauh berbanding terbalik saat ia berhadapan dengan Kim beberapa hari lalu.
"Aku takut Jay. Aku takut.." Ujar Irene dengan tubuh yang terlihat bergetar seraya menangis pelan.
Dengan cepat Jay bangkit dan langsung memeluk tubuh Irene. Memberi isyarat pada petugas polis untuk membiarkan dirinya memeluk Irene. Jay mengusap-usap pelan punggung Irene dan memejamkan matanya sejenak dan mencerna semua cerita Irene ketika mendapat siksaan dari Kim.
"Tenanglah, aku disini. Menangislah bila itu membuatmu merasa lebih tenang." Ujar Jay seraya menenangkan Irene. Namun perasaan kecewa pada Irene tak bisa ia bohongi. Terlepas dari perasaan cintanya, hal ini benarbenar gila dan tak masuk akal. Api cemburu bisa membuatnya sampai tega membunuh tanpa belas kasih.
......................
"Ssshh.. Aww," Ringis Karin saat menggeser posisi tubuhnya saat tidur. Ia merasa panas dibagian dadanya. Terasa berat dan panas, rasa panas itu datang seiring berjalannya waktu dan terasa seperti tertusuk jarum dibagian tertentu. Tak lama baju yang Karin pakai basah dan ia merasa ada tetesan air yang hangat mengalir disisi dadanya.
Karin langsung reflek melihat kedalam bajunya, ia melihat p4yud4ranya yang membengkak dan terus mengeluarkan tetesan ASI yang menetes deras daru punt!ngnya.
"KIM..!!" teriak Karin memanggil Kim karna terkejut. Mendengar Karin berteriak, Kim langsung bergegas masuk kedalam kamar dengan berlari.
"Wae wae wae.?? Ada apa sayang.? Kamu mimpi buruk.?" tanya Kim panik sembari melompat keatas kasur, namun sorot matanya melihat baju Karin yang sudah basah.
"Apa ini.? Kenapa bajumu basah chagia.?"
"ASI ku keluar Kim." Ucap Karin pelan seraya meremas ujung bajunya. Ia masih merasa sakit pada dadanya dan juga kembali sedih ketika mengingat bayinya yang telah tiada.
"Lalu? Harus diapakan ini? Ahh tunggu, aku akan menelvon Ji Woon nunna dan bertanya padanya." ujar Kim sembari menuruni kasur dan hendak mengambil ponselnya disofa yang tadi ia lempar begitu saja saat Karin berteriak memanggilnya.
"Gak usah oppa. Jangan ganggu eonni malam-malam begini." Sahut Karin cepat sembari menahan tangan Kim.
"Terus kita harus gimana chagia? Bajumu semakin basah, nanti kamu sakit bila terus dibiarkan." jawab Kim khawatir.
__ADS_1
"Ambilkan air hangat dan handuk saja, aku pernah membaca artikel tentang masalah perASI'an seperti ini. Itu akan membantu, sshh." ucap Karin sembari meringis menahan sakit dan panas pada dadanya.
"Oke oke.. Tunggu, aku akan ambilkan. Bertahanlah chagia." Ucap Kim cepat sembari melompat turun dari kasur dan bergegas menuju dapur.
"Aduhh sakitnya.. Panas banget.!!" ringis Karin menahan sakit sembari meraba pelan buah dadanya yang begitu bengkak bagai buah semangka. Ditambah tetesan ASI yang terus menetez tanpa henti.
Tak berselang lama, Kim kembali masuk kekamar sembari membawa mangkuk besar yang berisikan air hangat dan juga handuk kecil ditangannya.
"Ini chagia, lalu harus diapakan ini.? Beritahu aku, biar aku saja yang lakukan." Ujar Kim seraya menaruh mangkuk itu diatas meja dekat kasur.
"Sshh,, rendam handuknya lalu peras, setelah itu berikan padaku." Jelas Karin yang langsung dilakukan Kim.
Saat Kim merendam handuk dan memerasnya, Karin bergegas membuka bajunya didepan Kim tanpa rasa malu. Betapa terjekutnya Kim ketika melihat gundukkan favoritnya begitu terlihat bes4r bak bola semangk4. Namun saat pikiran kotornya melintas seketika buyar ketika Kim melihat tetesan air yang berwarna putih terus menetes deras dibagian punt!ngnya yang berwarna caramel tersebut.
"Sini oppa handuknya.." Pinta Karin sembari mengulurkan tangannya.
"Ah nee. Ini chagia." Jawab Kim gugup
Dengan perlaha Karin melebarkan handuk hangat itu dan dengan hati-hati ia menempelkannya diatas dua dadanya. Karin memejamkan matanya dan merasa sedikit rilex dan nyaman ketika handuk hangat itu menyelimuti dadanya yang sakit.
Saat bersamaan, Kim mendudukan bok0ngnya diatas kasur tepat disebelah Karin. "Apa begitu menyakitkan chagia.?" tanya Kim lembut seraya membaca ekspresi Karin yang tadinya menahan sakit dan seketika merasa nyaman ketika handuk hangat itu menempel dibuah dadanya.
"Emm.. Tapi sekarang lebih enak oppa." Jawab Karin tanpa membuka matanya.
"Aku pernah mendengar tentang ibu menyusui yang memompa ASI-nya dan menyimpannya dikulkas. Apa perlu kita lakukan itu.?"
"Untuk apa aku memompanya? Siapa yang akan meminumnya.?" Sahut Ketus dan tanpa sadar air matanya mengalir dari sisi matanya. Dan Kim menyadari itu.
"Setidaknya kamu tidak kesakitan seperti ini." Ujar Kim lembut sembari menghapus jejak air mata Karin dengan jarinya.
"Aku akan minta seseorang belikan alatnya sekarang. Tunggu sebentar ya, aku ambil ponselku dulu." Sambung Kim seraya mencium kening Karin saat sebelum ia keluar kamar.
Saat terdengar Kim menutup pintu, Karin membuka matanya. Ia kembali menangis sembari melihat dadanya yang masih tertutup handuk. "Seharusnya aku sedang menggendongmu nak." Lirih Karin dengan suara isak tangisnya dan suara rintihan tangis Karin terdengar oleh Kim. Meski Kim tak mengerti yang Karin ucapkan, namun ia tau betapa sedihnya Karin yang harus kehilangan bayinya dengan cara seperti ini.
......................
......................
__ADS_1
Yuk bisa yuk di Like guys 😁😁