
Karin mencoba menahan tangisnya, ia mencoba menatap Park perlahan. Dan benar, saat matanya menatap Park tangisnya pecah. Karin terisak sembari melipat mulutnya agar tak mengeluarkan suara tangis.
Park mencoba menenangkan Karin dengan kembali mengelus pipi Karin dengan ibu jarinya. Saat Park ingin memeluk Karin guna membantu menenangkannya. Namun terhenti saat mereka mendengar suara panggilan ragu dari sudut arah. "Karin.."
Mereka mengarahkan wajahnya kearah sumber suara panggilan. Karin membulatkan matanya saat ia melihat siapa yang memanggil namanya. Sedangkan Park langsung melepas tangannya dari wajah Karin.
"Kak Choki.." Sahut Karin lirih. Ia tak percaya sosok pria yang ia rindukan tiba-tiba muncul dihadapannya saat ini. Choki mendekati Karin dan langsung memeluk Karin dalam pelukkan eratnya. Karin membalas pelukkan itu tak kalah erat. Tangis Karin pecah dalam dekapan Choki. Ia terus terisak tanpa henti, Choki berusaha menenangkan Karin dengan mengelus punggung dan sesekali mencium dalam pucuk kepala Karin. Ia tenang saat mendapatkan kenyamanan yang diberikan Choki, ia juga merindukan aroma tubuh Choki yang membuatnya merasa aman.
Park yang mematung saat melihat Karin berlari dan jatuh dalam dekapan sosok pria asing dihadapannya.
"Siapa dia? Apa dia Choki?" Tanya Park dalam diam yang masih setia melihat mereka berpelukkan dihadapannya tanpa rasa canggung.
"Udah nangisnya..?" Tanya Choki sembari mendorong pelan tubuh Karin, kini tatapan mereka bertemu satu sama lain. Karin menunjukkan wajah manja kepada Choki. Karin mengangguk sembari memajukan bib*r bawahnya seperti anak kecil yang sedang menahan tangisnya. Choki terkekeh kecil saat melihat tingkah Karin.
Kini pandangan Choki beralih kearah Park lalu balik lagi menatap Karin seolah bertanya siapa dia.
"Oiya kak.. Dia Park temanku, aku belum sempet cerita ke kakak soal Park." Jawab Karin seraya menunjuk pelan kearah Park. Park yang mendengar ucapan Karin hanya tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuh dan kepalanya memberi salam. Walaupun sebenarnya ia tak mengerti arti dari ucapan Karin.
"Park-shi, kenalkan dia Choki Hyeong. Yang pernah kubicarakan saat kita diJeju." Karin memperkenalkan Choki pada Park. Mereka melontarkan senyum khas pria, Park sedikit membungkukkan tubuhnya lagi, dan Choki membalasnya dengan hal yang sama seperti Park.
"Hem kalau begitu aku pergi dulu, kalian lanjutkan saja." Ucap Park menatap Karin dan melirik sekilas kearah Choki. Lalu melangkah mundur dan berbalik dan melajukan langkahnya meninggalkan Choki dan Karin.
Karin sempat melirik dan menatap sebentar kearah Choki, Choki mengangguk seakan paham maksud Karin.
"Daegi Park-shi.." Teriak Karin pelan seraya berlari kecil menghampiri Park. Tentu saja Park tersenyum saat namanya dipanggil Karin. Senang karna ia mengira Karin akan pulang bersamanya.
"Kajja, ikut aku dan Choki oppa." Ajak Karin sembari menarik tangan Park dan melangkah mendekati Choki.
......................
Mereka bertiga mengunjungi salah satu caffe terdekat, duduk disalah satu meja yang kosong, yang kebetulan yang kosong berada disudut ruangan.
Choki dan Park sempat bertabrakan saat hendak menduduki kursi kosong yang berada disebelah Karin. Ada rasa canggung diantara keduanya.
"Waduh, apaan nih.. Kok jadi gini.?" Batin Karin bertanya dan melihat 2 pria didekatnya sedang berseteru dalam diam, merasakan suasana menjadi canggung sekaligus tegang, terlihat jelas dari kedua wajah mereka, tak ada yang mau mengalah dalam memperebutkan kursi kosong disebelah Karin.
"Kak Choki sini duduk disini. Park-shi kau duduk disini." Karin meminta mereka untuk duduk dikursi bersebelahan. Sedangkan dia duduk disebrang kursi dan berhadapan langsung dengan mereka berdua.
Senyum kekeh terukir diwajah Karin saat melihat 2 pria yang kini hanya saling diam dan menatap kesembarang arah. Namun kalau dipikir-pikir wajar saja mereka saling menutupu mulut. Secara mereka tidak paham bahasa masing-masing.
"Kak Choki mau pesen apa?" Tanya Karin sembari membuka buku menu yang ia pegang.
"Aku...." Belum selesai Choki bicara tiba-tiba Park mengetuk meja.
Tug.. Tug.. Park mengetuk meja dengan jari telunjuknya kearah Karin. Dia seakan paham apa yang diucapkan Karin ke Choki. Dan menuntut untuk dirinya agar diperhatikan juga oleh Karin.
__ADS_1
"Hehe.. Park-shi kau mau pesan sesuatu.?" Tanya Karin dengan bahasa Korea dan menunjukkan mimik wajah gemas.
"Eoh, aku pesan coffe americano saja." Jawab Park seraya mengeluarkan ponselnya lalu memainkannya guna menghilangkan kejenuhan saat ini. Ia merasa canggung ketika bersama orang selain Karin.
"Rin.. Aku pesen coklat panas satu dan.." Choki kembali menatap buku menu ditangannya. Sontak hal itu membuat Karin mengerutkan alisnya.
"Kak.. Dari kapan kakak paham tulisan hangeul?" Tanya Karin sembari melirik lalu menarik sedikit buku dari dan menatap serius wajah Choki. Pasalnya buku menu itu bertuliskan tulisan hangeul.
Choki terdiam memandang kesembarang arah, sebenarnya dia belum menceritakan detail tentang kehidupannya pada Karin. Choki melirik ke arah Park yang masih setia menatap layar ponselnya.
"Emm itu... aku bakal cerita sedetailnya kekamu, tapi gak disini." Jawab Choki ragu sembari menggaruk pelipis yang tak gatal.
......................
Disisi lain ditempat yang berbeda. Kim tengah dilanda kekhawatiran dan rasa bersalah. Kim memikirkan dimana Karin berada, sudah berjam-jam dia mengeliling area kota Seoul. Namun hasilnya tetap nihil, dia tak menemukan Karin dimana pun. Pesannya pun tak kunjung dibalas, bahkan telvonnya tak diangkat sampai pada akhirnya nomor Karin tak aktif.
Kim menyerah dan memutuskan pulang keapartementnya, langkah kakinya berat saat memasuki gedung apartement. Pikirannya kalut, pelampilannya kusut tak beraturan.
"Kau dimana chagia?? Kenapa aku begitu bodoh sampai tak bisa menemukanmu."
Tit... Suara tombol password berhasil dibuka. Saat pintu dibuka, Kim langsung dihadang sosok bertubuh mungil dihapannya. Awalnya Kim terkejut dan berharap sosok yang ia cari slama berjam-jam diluar tadi sudah berdiri tepat didepannya. Namun sayang, harapannya pupus begitu mengetahui siapa yang ada dihadapannya.
"Annyeong, kau sudah pulang..?" Tanya Irene dengan senyuman ceria diwajahnya. Tanpa menunggu jawaba Kim, Irene bergegas menyambar tas dan jas yang dipegang Kim. Lalu melangkah kekamar Kim guna meletakkan tas dan jas Kim.
"Oppa.. Kajja, kita makan malam bersama. Aku sudah memasak untukmu dan untukku." Ajak Irene dengan suara lembut, dan melirik Kim yang tak bergeming saat diajak bicara.
Ketika dia duduk sembari menatap hidangan yang sedang disajikan untuknya. Pandangannya kosong namun pikirannya terus memikirkan kekasihnya yang sampai sekarang belum juga kembali.
"Cah.. Makanlah selagi hangat." ujar Irene dan ikut menyuap makanan yang ada dipiringnya.
"O-oppa mianhae-oh.. Aku tak bermaksud mengatakan hal buruk padanya." Ucap Irene tiba-tiba disela-sela makan mereka.
Sentak Kim memberhentikan aktivitas makannya. Lalu menatap kesembarang arah. Sontak hal itu membuat Irene terdiam dan merasa tak enak namun tetap menyuapkan hidangannya masuk kemulutnya.
"Apa yang kau katakan pada Karin.?!" Tanya Kim serius namun tanpa melirik Irene.
"Aku hanya bilang aku kekasihmu, dan menyuruhnya untuk menjauhimu. Aku mengatakan itu hanya untuk mengetesnya, tak lebih.. Aku hanya ingin melihat seberapa besar perlawanannya kepadaku. Namun hasilnya NOL.! Dia diam tanpa bergemir apalagi marah. Dia tak mencintaimu dengan serius.!" Jawab Irene dengan meninggikan suaranya diakhir kalimatnya.
BRAGKKKK!!! Suara hentakkan meja yang dilakukan Kim dan berdiri menatap tajam Irene dengan penuh emosi.
"Tak seharusnya kau mengatakan hal BOHONG begitu padanya.!! Kau seharusnya sadar, kau dan aku adalah saudara. Meski tak ada ikatan darah, tapi kau dan aku sudah menjadi saudara sedari kita masih kecil.! Aku muak dengan semua perasaan konyol ini Irene-shi.! Berhentilah mengangguku, berhentilah mengusik hubunganku dengan wanitaku. Kumohon Irene-shi berhentilah.." Tangis Kim pecah diakhirnya ucapannya, Kim kembali duduk dan menangis dalam tutupan tangannya.
Irene yang terdiam pun ikut meneteskan air mata. Ia tak menyangka Kim akan menangis sembari memintanya untuk berhenti menganggunya. Sudah tidak ada perasaan cinta didalam hati Kim untuknya. Kim benar-benar berubah, Irene merasakan itu ketika mendengar suara Kim yang bergetar saat menyebut (stop untuk mengusik hubungannya dengan wanita pilihannya). Tedengar suara ketulusan dalam pengucapan itu.
Kim terisak saat dalam kukungan wajahnya yang tergletak dimeja. Hal itu semakin membuat Irene yakin sudah tidak ada tempat untuknya dihati Kim.
__ADS_1
Tak berselang lama, Kim terdiam dan bangkit dari kukungannya lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Irene sendiri dimeja makan. Kim berjalan dengan langkah berat lalu menutup pintu dengan perlahan. Terdengar suara tubuh yang jatuh membentur dinding pintu.
Suara itu membuat Irene merasakan kesedihan yang dirasakan Kim saat ini.
"Betapa beruntungnya wanita itu bisa dicintai Kim setulus ini. Aku tak menyangka posisiku telah digantikan oleh wanita itu. Aku iri padanya." Ucap Irene dalam hati seraya melihat pintu kamar Kim dan samar-samar mendengar suara isak tangis didalamnya.
......................
"Karin-shi.. Kajja, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam, tak baik jika kau pulang seorang diri." Sahut Park tiba-tiba disela-sela obrolan Choki dan Karin.
"Ah, tidak perlu.. Aku yang akan mengantarnya pulang." Ucap Choki dengan bahasa Korea. Sontak hal itu membuat merek terkejut bersamaan.
"Wuaahhh... Kau bisa bahasa Korea?? Kenapa tak bilang dari tadi??" Tanya Park sembari menyenggol lengan Choki dengan lengannya.
"Ais kak Choki.. Kok bohong sih,.!!" Ucap Karin gemas dan reflek mencubit pipi Choki.
Park yang melihat tingkah Karin langsung merubah ekspresinya menjadi datar. Dan melirik jengah kesembarang arah.
"Palli-oh Karin-shi.." Ajak Park namun ia berjalan lebih dulu meninggalkan mereka yang masih didalam caffe.
"Rin.. Aku mau cerita semua kekamu malem ini. Ikut aku kehotel ya, aku janji gak akan terjadi apa-apa. Setelah itu, aku anter kamu pulang naik taksi." Ucap Choki buru-buru sembari memegang tangan Karin seakan menahannya untuk pulang bersama Park.
Karin tersenyum melihat Choki. "He-emm.. Tapi aku bilang dulu ke Park, gak enak soalnya kalau gak bilang ke dia, kakak tunggu sini ya.." Karin melangkah keluar Caffe mencari Park disana.
"Karin-shi.. Disini.." Panggil Park sembari melambaikan tangannya keatas. Karin berlari kecil kearah sumber suara. Park tersenyum lalu merampas tangan Karin dan hendak membawanya berjalan bersama, namun dengan cepat Karin menahannya.
"Wae..?" Tanya Park heran.
"Mianhae Park-shi, sepertinya aku tak bisa pulang denganmu hari ini. Kakakku datang jauh-jauh kemari. Dan ada beberapa hal penting yang ingin dia bicarakan padaku."
Park mengeraskan rahangnya ketika mendengar ucapan Karin. Ingin sekali rasanya ia meluapkan emosinya disini, namun apa daya. Tatapan Karin yang menatap sendu wajahnya tak mampu membuatnya berkutik.
"Kalau begitu aku ikut denganmu nee, aku takut terjadi sesuatu padamu." Pinta Park sembari merempat lembut tangan Karin.
"Oh aninde.. Tak perlu ada yang kau takuti dan khawatirkan. Aku pasti baik-baik saja. Lagi pula dia kakakku, dia pasti membantu jika terjadi sesuatu denganku."
"Cckkk, baiklah kalau begitu. Pergilah, aku tak bisa menahan dan memaksamu." Ucap Park seraya melepas genggamannya. Karin tersenyum dan mengangguk lalu pergi melangkah meninggalkan Park.
Park tak bergerak sampai saat ia melihat Karin dan Choki keluar dari caffe dengan saling berpegangan tangan. Telihat dari kejauahan, Choki tak henti-henti berbicara penuh riang dan Karin membalasnya dengan senyuman manis dan tak berpaling dari tatapannya menatap Choki yang terus berbicara.
"Haissssh.. Kenapa mereka membuatku muak. Aku benci perasaan ini.!!" Gerutu Park berlalu meninggalkan lokasi.
......................
......................
__ADS_1
Lanjut lagi besok guys.. Maaf telat Up, abis belanja bulanan. Heheh
Makasih ya udah jadi lembaca setia. Dukung karya aku dengan like dan komen ya guys 👍😊