Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Dia Pembunuhnya


__ADS_3

"Chagia, eee.. Ini minumlah. Tapi sedikit saja oke." Sahut Kim alih-alih menepis pernyataan Jay yang keceplosan saat berbicara.


"Ups mian, itu hanya masa lalu. Haha ya itu hanya masa lalu, lagi pula hyeong tak pernah ke club lagi semenjak menjalin hubungan denganmu Karin-ah." Ujar Jay sembari tertawa paksa.


Tatapan sinis Karin lontaran pada Kim dan juga pada Jay. Namun Karin tak mau makan malam mereka menjadi berantakan karna egonya. Walau sejujurnya saat ini ia ingin menjambak rambut Kim dan mencubit dada Kim.


"Wah jinjah.? Apa dia seliar itu, haha aku tak percaya jika melihat wajah appa dari calon baby ku ini. Kim terlihat seperti pria lugu dan bod0h." Ujar Karin meledek seraya menyambar wine lalu meneguknya. "Aaaahh manisnya.. Hem nyam nyam.."


"Haha ya.. Aku pria lugu chagia. Ya kan Jay.?" Lirik Kim bergantian dari Karin ke Jay dan memberi kode pada Jay.


"Wah hahaha iya, kau benar Karin-ah. Dia memang pria bod0h 😬.." Jawab Jay terpaksa tertawa.


Suasana kembali mencair, Karin Kim dan Jay kembali menikmati makanan mereka seraya berbincang kecil bercampur tawa disela obrolan mereka. Namun berbeda dengan suasan hati Irene. Ia seperti sosok tak kasat mata, mereka bertiga seakan tak menganggap kehadirannya.


Perasaannya juga dilanda cemburu bercampur marah yang tertahan. Perasaan cemburunya muncul ketika melihat sikap manis Kim pada Karin, terlebih ia mengingat perlakuan Kim yang kasar pada waktu itu. Tatapan emosinya terus muncul ketika melihat senyum manis Karin yanh ditunjukkan pada Kim.


"Shib*l, dasar wanita si4lan!!" Ujar Irene dalam hati.


"Kamu baik-baik saja Irene-ah.?" Tanya Jay seraya menatap Irene.


"Eoh- ah nee. Aku baik-baik saja." Jawabnya gugup


Kini tatapan Karin dan Kim tertuju pada Irene. Bukan tanpa sebab Karin dan Kim tak menegur Irene, namun perasaan cemburu Karin padanya masih melekat dan perasaan kesal juga masih melekat pada Kim. Mereka sama-sama masih kesal pada Irene yang slalu ikut campur dalam hubungan mereka, terlebih lagi Karin telah dibohongi soal ia yang mengaku sebagai tunangan Kim.


Flashback Off.


......................


"Bayi-ku Jay... Ba-yiku, dia sudah pergi." Ucap Kim dengan suara terbata.


Mata Jay tertuju pada perut Karin yang sudah rata, Jay sempat menghitung dalam dia. Dan benar, hitungannya tepat. Jika memang saat pertemuan itu perut Karin sudah mulai terlihat buncit, seharusnya perut Karin sekarang akan lebih besar. Dan hanya hitungan 2 bulan lagi ia akan melahirkan.

__ADS_1


"Aku tak tau apa yang terjadi. Pihak apart menghubungiku tentang keadaan Karin, lalu memintaku langsung kerumah sakit." Ucap Kim yang masih terbata lantaran masih menangis. Dan dengan waktu bersamaan ia terdiam dan mulai mengingat suatu hal, lalu mendengakkan kepalanya seraya melirik kearah Jay.


"Wae hyeong.?" Tanya Jay bingung.


"Aniyo, aku hanya teringat sesuatu. Jay, apa aku bisa minta tolong." Ujar Kim seraya bangkit dari duduknya. Jay mengangguk walau pikirannya masih bingung.


......................


Kim berjalan menuju basemant rumah sakit kakinya melangkah lebar dengan perasaan yang bercampur antara penasaran emosi. Saat sampai basemant dan masuk kedalam mobil, dengan cepat Kim melajukan mobilnya menuju kantor polisi.


Lagi-lagi Kim menitikkan air mata lantaran saat ia sedang fokus mengemudi, ia teringat kembali saat-saat menyenangkan bersama Karin yang saat itu tengah hamil.


"Aaghh ya Tuhan. Kenapa semua ini harus terjadi, apa salah ku.? Kenapa kau renggut calon bayiku Tuhan." Ucap Kim frustasi dengan air mata yang menetes dari matanya.


Tak berselang lama kini mobil Kim sudah memasuki area parkir kantor kepolisian. Dengan perasaan berat ia mulai memasuki gedung dan mulai bertanya pada polisi yang bertugas.


"Annyeong tuan.. Ada yang bisa saja bantu. Laporan apa yang mau kau laporkan.?" Tanya polisi yang bertugas.


"Aku kemari karna mendapat info tentang kejadian yang terjadi diapart XX tempat ku tinggal." Jelas Kim


"Nee, kurasa kejadiannya pagi ini. Aku ingin menyelesaikan kasus ini sesuai hukum." Ujar Kim dengan nada datar seraya menahan emosi.


"Baik tuan, bisa saya minta keterangan anda tuan.?" ujar petugas


......................


Langkah kaki terasa sangat berat, penampilannya kini terlihat sangat kacau. Beruntung waktu sudah menunjukkan tengah malam, lorong rumah sakit kini terlihat sepi tak ada orang satupun selain Kim.


Ceklek, suara pintu terbuka. Kim melihat Jay yang tengah tertidur disofa dengan posisi meringkuk dan tangan melingkar didadanya seperti menahan rasa dingin.


Dengan waktu seperkian detik pandangan Kim teralihkan pada Karin yang masih belum sadarkan diri dengan berbagai selang yang menempel ditubuhnya.

__ADS_1


Kim kembali menitikkan air mata saat tangannya mencoba meraih tangan Karin yang tertempel selang infus. Merasa terusik dengan suara isakkan kecil Jay membuka matanya perlahan. Dengan pandangan yang masih kabur, Jay melihat tubuh Kim yang terduduk disisi ranjang dengan tangan yang memegang tangan Karin.


"Kapan kau sampai hyeong.?" Tanya Jay pelan


"Eoh, baru saja." jawab Kim singkat tanpa menoleh.


"Hyeong mianhae, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi pada Karin-shi.?" Tanya Jay hati-hati.


Pertanyaan Jay membuat perasaan sedih kembali muncul dalam diri Kim. Ia memandang sendu wajah Karin yang masih terlelap bak orang tidur. Tangannya menyentuh surai rambut Karin, mengelus lembut dengan penuh perasaan yang terlihat jelas dari sorot matanya.


"Aku tak menyangka jika dia brani melakukan hal sekeji ini. Aku tau dia cemburu, tapi perbuatannya benar-benar diluar nalar." Ujar Kim yang masih membuat Jay bingung.


"Kau tau kan Jay, aku paling benci dengan orang yang hanya berani mein belakang. Aku tak akan memaafkan perbuataanya sekalipun ia orang terdekatku." sambung Kim lagi dengan nada dingin seraya mengusap-usap lembut pipi Karin dengan jari telunjuknya.


"Mian hyeong, aku masih tak mengerti." Ujar Jay


"Pelakunya Irene, dia pelaku dari kejadian yang menimpa kekasih dan calon bayiku. Dia pembunuhnya."


Seketika mata Jay melotot lebar, dengan jelas Jay mendengar Kim menyebut nama Irene dan menyebut Irene sebagai pelaku dan pembunuh. Instingnya langsung tersambung begitu saja. Jay melihat kembali perut Karin yang telah rata lalu beralih kebawah yang lebam membiru seperti bekas pukulan. Jay masih tak percaya dengan apa yang ia dengar, namun ia tau betul Kim tidak akan berbohong. Apa lagi dengan situasinya saat ini.


"Jay gomawo-yo. Kau mau membantu menjaga Karin hari ini. Jika kau tak percaya dengan ucapanku, besok lusa kau bisa ikut denganku menjadi saksi saat olah TKP diapart ku." Ujar Kim seraya bangkit dari duduknya dan menatap Jay dengan wajah lelah dan sembab lantaran terus menangis sepanjang hari ini.


"Nee hyeong." Jawab Jay datar dan masih bingung.


"Hyeong istirahatlah, aku keluar sebentar. Nanti aku kembali." Sambung Jay seraya melangkah pergi keluar kamar.


Selama peninggalan Jay, Kim tak berpaling memandang wajah Karin. Tangan terus mengelus lembut punggung tangan Karin. Ia berharap Karin segera bangun dari tidurnya, ia sudah sangat merindukan suara Karin yang membuatnya merasa nyaman saat mendengarnya.


"Chagia, kapan kau bangun.? Bangunlah, jangan tertidur terus. Apa kau tak bosan hem.?" Ucap Kim dengan suara pelan seraya menarik nafas dan menahannya sejenak agar tak kembali menangis.


......................

__ADS_1


Maaf guys aku up nya sedikit, lagi ada urusan mendadak diakhir tahun ini. Hehe


Makasih ya masih setia untuk baca cerita novel Author. Jangan lupa untuk like dan follow ya.. Kalau ada yang mau ngasih masukkan dan sebagainya, boleh kok.. Silahkan komen aja oke..


__ADS_2