Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Jangan Membantah


__ADS_3

Waktu terus berjalan, hari demi hari terus terlewati. Kesibukan terus berjalan diantara dua negara yang berbeda.


Choki dan Miranda kini tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu seminggu kedepan. Pernikahan mereka diselenggaran dengan sederhana sesuai permintaan Miranda. Bukan tanpa alasan, lantaran perkembangan janin yang terus berkembang dalam perutnya. Ia takut jika terlalu lama mengundur waktu, perutnya akan terlihat semakin membesar.


"Kami punya rekomendasi desain yang lebih simpel untuk sambul undangannya bu." Sahut staff WO ditengah-tengah Miranda dan Choki yang sedang melihat beberala desain yang berada dibuku album undangan.


Miranda melirik Choki guna memberi kode. Apakah mau menerima tawaran dari sang WO atau tetap dengan pilihan mereka sebelumnya.


"Terserah kamu aja, kalau kamu suka ini yaudah ini aja. Atau kalau mau diliat dulu gakpapa. Masih ada waktu." Ujar Choki seraya merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya.


"Sebentar, ada telvon dari kantor." Ucap Choki seraya melangkah pergi meninggalkan Miranda dan staff WO.


"Yaudah, tetep dipilihan kami yang tadi aja ya mba. Untuk menu makanannya kami rasa cocok di sampel makanan yang tipe A. Sama tolong tambahan di dessertnya ya, saya mau tambah stand waffle ice cream. Tamu undangan yang dateng kebanyakan pasti bawa anak-anak. Jadi saya rasa cocok untuk hidangan anak-anak nantinya. Jelas Miranda seraya tersenyum.


"Oke bu, saya catat dulu ya tambahan dan yang lainnya didaftar list." Ucap staff seraya membalas senyum.


......................


"Gimana? Udah clear?" Tanya Choki seraya membalikkan tubuhnya kebelakang saat sadar Miranda menghampirinya.


"Udah, aku tadi nambahin menu stand waffle ice cream. Gakpapa kan.?" Tanya Miranda.


"Oh ya gakpapa, terserah kamu aja." Ucap Choki singkat.


Saat beberapa detik keheningan diantara keduanya, Choki menatap Miranda yang sedang menatap kearah depan. Ia mengikuti arah pandangannya yang mengarah pada gerobak asinan mangga disebrang jalan. Awalnya Choki ragu untuk bertanya lantaran Miranda langsung melangkah mundur dan kembali masuk kedalam. Dan disusul Choki yang juga ikut masuk kedalam.


Setelah kurang lebih 30 menit mereka menyelesaikan urusan WO. Choki dan Miranda berpamitan pada staff WO dan bergegas melangkah keluar ruangan.


Kemudian Choki dan Miranda menuju mobil dan saat keduanya tlah masuk kedalam mobil. Choki kemudian menghidupankan mobil dan menyetel musik agar tak terjadi kesunyian didalamnya.


"Tunggu bentar ya, aku keluar sebentar." Ujar Choki tanpa menunggu jawaban iya dari Miranda.


Miranda hanya diam tanpa menjawab, kemudian merogoh tasnya seraya mengambil ponsel untuk dimainkan. Karna merasa bosan bila menunggu Choki yang ntah mau kemana.

__ADS_1


Sekitar 10 menit berlalu, Choki kembali masuk kedalam mobil dengan membawa 1 kantong plastik hitam ditangannya lalu memberikannya pada Miranda.


"Nih, dimakan." Ucap Choki singkat saat setelah menyodorkan sekaligus menaruh plastik itu diatas paha Miranda.


"Apa ini.?" Tanya Miranda sembari membuka bungkus plastik hitam pemberian Choki. Seketika senyum diwajahnya terukir manis, ternyata isinya 2 pack petisan/rujak beserta dengan bumbu kacang khas sebagai teman untuk menikmatinya.


"Makasih banyak Ky. Tau aja aku kalau aku lagi pengen." Ujar Miranda dengan melontar senyum pada Choki.


"Iya, yaudah dimakan."


"Eem nanti aja deh, kalau udah sampe kantor. Aku simpen dulu di kulkas pantry biar dingin." Ucap Miranda sembari memegang pipinya seraya menahan rasa ngilu pada giginya, karna ia sudah membayangkan saat menggigit buah mangga asam nan dingin.


Tanpa menunjukkan ekspresi apapun dan hanya melihat sekilas kearah Miranda, Choki langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Yang pasti memang belum ada tanda-tanda suka ataupun sayang pada Miranda. Yang ada dalam pikiran Choki saat ini hanyalah pada anak yang dikandung Miranda. Mau bagaimanapun ia harus bertanggung jawab atas semua kebutuhan dan kehidupan anaknya kelak. Untuk urusan perasaan bukanlah sesuatu yang penting baginya.


......................


"Mir, boleh bahas sesuatu gak.?" Tanya Choki tanpa melirik seraya memegang kendali stir ditangannya.


"Boleh dong, mau bahas apa?" Ucap Miranda antusias lalu sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Choki dan menatapnya.


"Gakpapa sayang, aku nurut apa kata suamiku aja." Bisik Miranda pelan ditelinga Choki sembari tersenyum. Kecanggungan yang dirasakan Choki muncul saat merasakan hembusan deru nafas Miranda. Tak ada penolakan dari Choki, karna mau bagaimanapun sebentar lagi mereka akan seger menikah. Mungkin hal ini akan menjadi kebiasaan setelah menikah. Jadi Choki mulai membiasakan sikap Miranda yang ingin dekat-dekat dengannya. Terlebih lagi saat menciumnya secara tiba-tiba tanpa izin.


......................


Disisi lain diKorea. Saat jam sudah menunjukkan waktu kerja perkantoran telah berakhir.


Posisi Karin yang masih disibukkan dengan beberaoa dokumen dimejanya tanpa sadar Kim melewati meja kerjanya yang hendak pulang. Tak ada tegur menegur diantara keduanya, ini sesuai kesepakatan antara mereka. Karin tak ingin pulang keapartemen secara bersamaan. Bukan tanpa sebab, lantaran ia tak mau menjadi bahas gosip diantara para pegawai kalausalnya dia dan Kim menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


Dred.. Dreddd.... 📲📲 Suara notif getar ponsel Karin. Segera Karin melihat siapa yang menghubunginya, dan ternyata nama yang muncul adalah nama Kim. Tanpa basa basi Karin langsung mengangkat telvon Kim.


"Yeobseo.." Sahut Karin saat setelah menekan tombol hijau.


"Kenapa lama sekali mengangkatnya?! Cepatlah pulang! Jangan membuatku menunggu terlalu lama. Ihaehada.?!" Ucap Kim dengan suara tinggi dan terburu-buru.

__ADS_1


"Nee, aku akan pulang cepat." Sahut Karin langsung menutup telvon dengan rasa jengah. Sikap Kim yang posesif seperti ini membuatnya sedikit terkekang dan risih. Setiap gerak-geriknya selalu dipantau oleh Kim.


Flashback On


Bahkan pernah suatu hari, ketika Karin bangun dipagi buta, karna ingin mencuci baju yang sudah menumpuk. Tak lama setelahnya Kim mengomelinya habis-habisan, karna saat Kim terbangun dari tidurnya ia tak mendapati Karin disebelahnya.


Sontak hal itu membuat Kim terkejut dan langsung lompat dari kasur dengan perasaan kacau memikirkan keberadaan Karin. Lalu berteriak dengan kencang sembari berlari keluar kamar guna mencari keberadaan Karin.


Karin yang mendengar teriak Kim pun tak kalah terkejut. Ia bergegas melangkah cepat menuju kamar, sampai pada akhirnya mereka saling menatap. Tatapan Karin saat itu bingung karna tak tau alasan Kim berteriak memanggil namanya, lain hal dengan tatapan Kim, tatapannya penuh amarah. Wajah bantal khas orang bangun tidur seketika hilang karna tertutup dengan tatapan marahnya itu.


Belum sempat Karin bertanya, Kim sudah lebih dulu langsung memegang tangan Karin dengan kasar lalu menariknya masuk kedalam kamar.


Kim mendorong tubuh Karin hingga terjatuh keatas kasur. Mengukukung tubuh Karin tanpa berkata apapun. Sorot matanya tajam, sampai membuat Karin diam kebingungan.


"Sudah ku bilang berapa kali padamu, jangan pergi tanpa seizinku.!" Ucap Kim dengan suara tinggi dan penekanan disetiap katanya.


"Aigo.. Aku hanya sedang mencuci baju Kim, aku tak keluar dari rumah ini. Kenapa kau slalu mengekang setiap pergerakkanku seperti ini.!" Ucap Karin dengan meninggikan suara diakhri kalimatnya.


"Jangan banyak bertanya, kau hanya perlu menurut Karin-shi. Aku bilang izin ya izin, jangan membantah dengan alasan apapun.!" Ucap Kim seraya melepas kukungannya dan berlalu meninggalkan Karin begitu saja. Sampai tak disadari air mata Karin menetes. Ia menangis saat setelah mendapat bentakkan dari Kim.


Hati sakit saat mendapat bentakkan kasar dari kekasihnya. Hal itu mengingatkannya akan pernikahannya dengan mas Rega kala itu. Rega tak pernah bersikap kasar bahkan Rega tak pernah meninggikan suaranya ketika mereka sedang berselisih paham. Berbeda dengan sikap Kim akhir-akhir ini. Perlakuannya memang baik dan perhatian sangat lembut, namun disaat perasaan emosinya terusik. Ia tak segan membentak bahkan berteriak pada Karin. Saat setelahnya emosinya kembali mereda barulah Kim menunjukkan kembali sikap perhatiannya pada Karin, Kim tak pernah mengucap kata maaf saat setelah ia meluapkan emosinya. Ntah mungkin karna gengsi lalu ia menggantinya dengan menunjukkan sikap perhatiannya, seperti membantu Karin mencuci piring. Lalu membantunya merapihkan kasur saat setelah mereka bangun pagi dan hendak berangkat kekantor. Dan pernah suatu ketika Kim dilanda cemburu saat mendapati Karin berbincang dengan salah satu staff pria dikantornya.


Kim tak sengan memberi SP pada pegawai pria itu bahkan ia tak sengan ingin memecat pegawai itu dihadapan Karin. Namun hal itu tak terjadi lantaran Karin memohon maaf pada Kim, mencoba merayu Kim dengan berbagai cara agar memaafkan pegawai pria tersebut. Sampai berjanji pada Kim akan menjaga sikapnya bila bertemu dengan lawan jenisnya. Dan sampai pada akhirnya Kim luluh dan memaafkan lalu mengurungkan niatnya untuk memecat pegawai prianya tersebut.


Flashback Off.


"Hufh.. Mau sampai kapan ia posesif kaya gini." Gumam Karin ditengah aktivitasnya yang sedang membereskan barang-barang dan hendak melangkah menuju lift.


Karin melangkah keluar saat pintu lift terbuka, lalu menekan kartu absensi. Saat hendak menuju halte bus telinganya mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan.


"Karin-shi..!!" Suara teriakan yang membuat Karin reflek langsung mengarah kearah sumber suara.


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2