
Semua para tamu yang berdatangan, tak henti mereka mengucapkan bela sungkawa pada keluarga terutama pada Miranda dan juga Choki.
Tatapan Miranda masih kosong menatap tubuh kaku alm ayahnya yang berada tepat kedepan, saat kedatangannya ambulance kekediaman pak Irwan, Miranda tak banyak bicara saat sanak saudara bertanya padanya, hanya isakkan tangis yang dilontarkan Miranda saat didirinya ditanya mengenai ayahnya.
Tubuhnya kini bersandar dalam rangkulan Choki, dengan setia Choki mendampingi Miranda tanpa ada niat pergi meninggalkannya sendirian. Sesekali tangan Choki memijat kecil pundak Miranda, memberi kekuatan sekaligus kenyamanan untuk Miranda. Dan disaat tangis Miranda muncul, Choki dengan sigap memeluk dan mencium pucuk kepala Miranda. Hanya ini yang bisa Choki lakukan untuk sang istri. Sejujurnya untuk perasaannya saat ini memanglah tak bisa dibohongi.
"Maafin aku Mir, aku belum bisa menyukaimu. Cuman cara ini yang bisa kuberikan, tapi aku janji bakal jaga kamu dan anak kita. Aku janji Mir." Ucap Choki dalam hati seraya mengec*p lama pucuk kepala Miranda.
Pandangan sanak dan saudara yang melihat mereka terutama pada Choki. Mereka sangat bersyukur dan tak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan Miranda untuk dikehidupan selanjutnya tanpa pak Irwan. Sosok Choki sudah cukup untuk meneruskan posisi pak Irwan sebagai pendamping disisi Miranda. Terlebih lagi ketulusan diwajah Choki sangatlah membuat mereka yakin bahwasalnya Choki mencintai Miranda dengan tulus.
......................
Wajah Miranda sangatlah lesu dan pucat, tubuhnya pun ikut melemah. Itu semua dirasakan Choki saat menuntun tangan Miranda menaikki anak tangga.
"Mir.. Masih kuat?" Tanya Choki seraya mengikuti langkah kaki Miranda yang lambat. Miranda hanya membalasnya dengan anggukkan pelan. Namun wajahnya tak bisa membohongi Choki. Meski hanya didalam mobil saat proses pemakaman alm pak Irwan, Miranda tak bisa berhenti menangis dalam kesedihannya yang hanya bisa menyaksikan prosesi pemakaman dari kejauhan, terlebih lagi hari sudah larut malam.
Tradisi dalam sukunya tak bisa dilanggar lantaran dirinya tengah mengandung. Miranda dilarang keras untuk memasuki bahkan menginjakkan kakinya ketanah makam. Dengan itu Choki selalu setia mendampingi Miranda, ia hanya bisa membantunya dengan memegang erat kedua tangannya dan sesekali mengusap lembut kepala Miranda, lalu memberinya air minum untuk asuhan cairan untuk tubuhnya.
"Sini aku gendong aja. Aku gak tega liat kamu kaya gini." "Hehpp". Suara Choki ketika mengendong tubuh Miranda dan melangkah menaiki anak tangga. Dengan perlahan Choki menurunkan tubuh Miranda disisi kasur, dan memintanya agar merebahkan tubuhnya dikasur.
"Aku ambilin makan ya. Kamu belum makan dari siang tadi." Ujar Choki sembari menaikkan selimut menutupi tubuh Miranda. Tak ada jawaban dari Miranda saat Choki berkata. Sampai akhirnya Choki bergegas keluar kamar dan Miranda kembali menangis saat mengingat alm sang ayah.
......................
"Masih marah padaku chagia.." Ucap Kim seraya memeluk Karin dari belakang sembari merebahkan tubuhnya dikasur.
__ADS_1
"Orangnya udah tidur.!" Jawab Karin ketus. Kim yang mendengarnya terkekeh seraya mencium leher jenjang Karin.
"Jalan-jalan yuk, malem ini cuacanya bagus meskipun suhunya dingin." Ajak Kim dengan suara gumam karna bib*rnya masih berada dileher Karin.
Reflek Karin membalikkan badan dan menatap Kim dengan raut wajah senang. "Sungguh? Mau kemana kita?" Sahut Karin senang.
"Kemana pun, asal kamu dan bayiku senang."
"Mwo?? Bayimu?! YA oppa! Dia ada didalam perutku, jadi dia juga bayiku." Protes Karin dengan tatapan kesal.
"Tapi aku yang mentransfernya kedalam sana. Jika bukan karnaku, kau tidak akan merasakan kehadirannya disana." Jelas Kim semakin membuat Karin kembali kesal namun dengan ekspresi wajah gemas.
"Iiihhh menyebalkan.!!! Kalau begitu tidak usah pergi. Aku malas.!" Jawab Karin seraya kembali memunggungi Kim.
"Haish kenapa tingkahmu sangat cute chagia.. Kalau begitu oke, kita dirumah saja. Aku juga ingin menjenguk juniar Kim'ku." Ujar Kim dengan memulai aksinya menggerayangi leher Karin lalu menggerakkan tangannya memasuki baju Karin.
......................
"Pelan-pelan.." Ucap Choki saat melihat Miranda meminum air saat selesai mqkan. dengan tergesa-gesa. "Lain kali apapun keadaannya, kamu harus tetep makan. Apa lagi kondisi kamu lagi hamil begini." Sahut Choki menasehati Miranda.
"Makasih mas.." Ucap Miranda pelan saat ia melihat Choki hendak melangkah pergi keluar kamar, balasan dari Choki hanya mengangguk sembari menoleh kearah Miranda. Setelah itu ia keluar kamar dan kembali kekamar saat semua orang berpamitan.
Saat kembali kekamar, Choki melihat kearah meja rias yang dipenuhi dengan kotak yang berbalut kertas kado. Tujuan mereka pulang kemari awalnya hanya ingin mengambil kado-kado ini. Namun semua kado ini terlupakan saat mendapat kabar alm pak Irwan snag ayah mertuanya masuk rumah sakit.
Choki mengambil salah satu kado berbentuk kotak yang bertulisan nama (dari Kanaya) yang tertulis dengan huruf kecil dibagian sudut kotak kado tersebut. Nama itu adalah nama salah satu anak panti. Kanaya adalah gadis kecil berusia 8 tahun, sudut bibir Choki mengukir senyum tipis saat menguncang-guncang kecil kotak ditangannya.
__ADS_1
Saat setelah itu Choki terdiam sesaat, lalu ia meletakkan kembali kado tersebut bersama kado-kado yang lain. Pikirannya kembali memikirkan sosok wanita yang tak ia beri kabar perihal pernikahannya. Sejujurnya Choki ingin memberi kabar namun ntah kenapa Choki ragu saat itu.
"Hufh .." Hela Choki saat menyandarkan punggungnya kedinding kasur. Tubuhnya terasa pegal-pegal, bahkan sampai berbunyi banyak saat dirinya merenggangkan kekanan dan kekiri. Tanpa sadar suara kretekkan tulangnya mengusik telinga Miranda.
"Mas.." Sahut Miranda dengan suara parau khas suara orang bangun tidur.
"Kenapa bangun. Tidur lagi gih." Pinta Choki seraya melihat wajah Miranda yang sebab karna seharian menangis.
"Iya mas, tamu-tamu sama tante dan om udah pada pulang..?"
"Udah setengah jam yang lalu. Yaudah, kamu lanjut tidur gih. Untuk 3 harinya ayah sampe 100 hari, aku udah minta tolong mbok Yu untuk nanganin semuanya" Jelas Choki seraya membuka selimut dikakinya, lalu membaringkan diri dan menyelimuti setengah tubuhnya.
Tanpa menjawab, Miranda mendekatkan diri lalu memeluk Choki dari samping. Choki terkejut dan detak jantungnya berdebar saat Miranda memeluknya. Mau bagaimanapun Choki pria normal, jadi saat dirinya mengalami hak seperti ini sudah pasti gugup.
Namun sejujurnya Choki dengan sengaja menghindari Miranda dari malam pertama sampai saat ini. Ia menghindari lantaran teringat akan kejadian saat dirinya yang mabuk sampai tak bisa mengendalikan hasratnya. Jika tidak mabuk, mungkin saat ini ia tak bersama dengan Miranda. Tapi bersama Karin, wanita yang ia cintai sejak lama. Choki belum bisa menyukai Miranda bahkan memiliki perasaan sedikitpun tidak.
Choki tak membalas pelukkan Miranda, tubuhnya hanya diam mematung tanpa bergerak sedikitpun. Sampai akhirnya ia memaksakan matanya terpejam, mencoba menahan diri agar tak kelewat batas walaupun dalam agama dan hukum, mereka halal dan sah jika melakukan hubungan suami istri.
Sampai beberapa saat kemudian, akhirnya Choki menyampingkan tubuhnya dan membalas pelukkan Miranda tak kalah erat. "Maaf untuk hal ini Mir. Aku bener-bener gak bisa. Aku takut kamu sakit terlalu dalam." Ucap batin Choki seraya memejamkan mata.
Namun beberapa saat kemudian Choki membalas pelukkan Miranda bukan karna keinginannya, tapi karna feelingnya berkata seakan memberitahunya bahwa Miranda menginginkan sesuatu darinya. Oleh sebab itu ia membalas pelukkan erat Miranda lalu memintanya untuk tidur. "Istirihatlah Mir, jaga kesehatanmu." Ucap Choki pelan.
Miranda yang mendengarnya pun hanya mengangguk pelan lalu menurut dengan perintah Choki dengan memejamkan matanya. Mereka pun tertidur bersama tanpa ada sentuhan lain selain pelukkan dari keduanya.
......................
__ADS_1
......................