
"Ono opo cah lanang.." Sahut mbok Yu tiba-tiba yang membuat Bobby terkejut bukan main.
"Kyaaa!! Iis mbok Yu, ngangetin wae toh kalau ngomong. Mboee toel sitik toh ben aku rak deg deg ser..."
Mbok Yu tertawa saat mendengar jeritan Bobby seperti b4nci, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang kekar dan maco.
"Wis wis.. Ono opo nyari si mbok.?"
"Iku loh, pak Choki nelvon aku, minta si mbok nyiapi baju-bajunya ibu karo baju bayi, terus nyuruh aku nganter mbok ke rumah sakit." Ujar Bobby dengan bahasa jawa.
"Yo.. Mbok wis paham, niki wis mbok siapin. Yokk berangkat, takut nanti ditunggu bapak."
Bobby pun bergegas mengangkat tas yang dibawa mbok Yu dari kamar pak Choki menuju keluar rumah lalu memasukkannya kedalam bagasi mobil. Saat setelah memastikan mbok Yu masuk mobil, barulah Bobby melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.
......................
Kelopak mata Miranda mulai terbuka perlahan meski masih terasa begitu berat. Ia melihat langit-langit atap rumah sakit dan juga sinar lampu putih yang menerangi ruangan. Saat melirik kesebelah kanan, ia melihat sang suami yang tengah berdiri tegap seraya melihatnya dengan tatapan bahagia.
Choki tersenyum pada Miranda dan langsung menghujani ciuman dikening Miranda. "Makasih sayang, makasih mau bertahan. Maafin aku yang belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu."
Air mata Miranda kembali menetes saat mendengar ucapan Choki yang begitu menyentuh perasaannya. "Maafin aku juga mas, terlalu nuntut kamu untuk..." Ucapan Miranda terpotong saat Choki menci*m bib*r Miranda. Tak ada pergerakkan dari ci*man tersebut, sampai beberapa saat kemudian barulah Choki melepaskannya dengan perlahan. Tatapan Choki menatap sendu kedua bola mata Miranda. Wajah mereka kini saling berdekatan satu sama lain.
"Jangan ucap kata maaf untukku Mir, akulah yang salah disini. Aku pria bodoh yang menyia-nyiakan wanita sepertimu. Aku berjanji dikemudian hari akan menjadi pria satu-satunya yang tulus menjaga dan menjadi suami terbaik untukmu." Jelas Choki dengan suara tulus seraya mengelus pipi Miranda.
Miranda terpejam dan kembali menitikkan air mata. Ia begitu tersentuh dengan kalimat Choki. Ia bersyukur saat kejadian beberapa jam lalu saat ia mengalami pendarahan hebat. Ia berfikir jika kejadian itu tidak terjadi, mungkin saja hubungannya dengan sang suami akan terus dingin dan kemungkinan akan ada perceraian dalam rumah tangganya.
......................
Seorang wanita tengah berdiri didepan cermin dan menatap dirinya lalu memperhatian perutnya yang kian hari kian membesar. Namun anehnya disaat ia mengenakan pakaian over size, dirinya tak terlihat seperti wanita hamil. Tubuhnya pun tak membengkak seperti wanita hamil pada umumnya.
"Syukurlah, badanku tetap slim seperti biasa. Hihi." Ujar Karin saat mengelus-elus perutnya didepan cermin.
"Chagia...." panggil Kim seraya melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Wow.. So sexy my girlfriend."
Kim memeluk Karind dari belakang sembari melihat pantulan diri mereka didepan cermin. Karin membalas pelukkan Kim dengan berbalik badan dan menatap wajah Kim dengan sorot mata sendu. Seakan paham maksud dari tatapannya. Kim menurutkan wajahnya lalu mendekatkan bib*rnya.
__ADS_1
Tautan demi tautan mereka tuaikan sangat dalam. Eratan tangan yang melingkarpun seakan tau ketukkan irama yang sedangan dimainkan.
"Mau dilanjut dikasur babe." Bisik Kim pelan saat melepas tautannya.
"Nanti malam saja ya, bukannya hari ini kamu udah janji mau nemenin aku beli baju baby.?"
"Aku janji hanya sebentar, setelah itu kita berangkat. Dia pasti mengerti dengan appanya." Rengek Kim seraya mengelus perut buncit Karin.
"Haish kau ini, aku sudah siap seperti ini, anti berantakan lagi gimana." Protes Karin dengen memanyukan bibir sexynya.
"Kalau begitu aku punya ide, aku janji ini tidak akan membuat penampilanmu berantakan." Ujar Kim sembari tersenyum nakal. Tangan Karin ditarik Kim kearah kasur. Kim duduk disisi kasur dengan Karin yang berdiri didepan Kim dengan mimik wajah bingung.
"Menunduklah babe, lalukan dengan lid4hmu." Ucap Kim dengan mengecup perut Karin dan menarik pelan tangan Karin agar terduduk dibawah kakinya.
"Asshhhh. Ssshhh.. Yes babe, ouh..!! Ehmm.!!" suara Kim mer4ung nikm4t saat merasakan permainan lincah yang dilakukan Karin pada jun!0rnya.
"Aaaghh.. Kim, kamu sudah janji.." Teriak Karin saat Kim menarik paksa dirinya untuk berbaring dikasur. Kim m3n4rik drees Karin ke4tas lalu melakukannya. Hasrat nafsu Kim sudah menggingkari janjinya.
"Aaghh mianhae chagia. Aku tak tahan, aku janji akan perlahan. Aaghhh..." Ujar Kim sembari melakukan aktivitasnya.
......................
...Beberapa jam kemudian...
"Chagia, aku bingung harus pilih yang mana. Apa ini cocok untuk junior Kim ku nanti.?" Tanya Kim seraya menunjukkan baju bayi berwarna pink dan biru.
"Aku juga bingung oppa. Lagi pula kita belum tau kan jenis kelamin baby kita."
"Baiklah kalau begitu. Kita beli saja 22nya." Ujar Kim sembari memasukkan baju baby ditangannya kedalam troli.
"Mwo?? Aniy-ah oppa, salah satu saja. Sayang kalau hanya dipakai 1."
"Tak apa babe, sisanya bisa dipakai untuk baby kita yang kedua." Ujar Kim dengan nada menggoda seraya menoel bib*r sexy Karin.
Karin melongo sejenak saat Kim mengucap tentang baby yang kedua. "Ommo!! Yang benar saja kau Kim. Yang didalam perutku saja belum launching, kau sudah membahas tentang anak kedua.!?" Ujar Karin ketus
"Hahaha ada apa Chagia? Apa kau keberatan hem?" tanya Kim seraya tertawa saat melihat perubahan ekspresi Karin.
"Aniya, hanya saja.. Ah, bukan apa-apa oppa." Ucap Karin terpotong saat pikirannya terlintas tentang status mereka saat ini. Rasa khawatir yang membuatnya terus menerus overthingking tentang kehidupannya dimasa yang akan datang. Akankah hubungan mereka tetap berjalan seperti ini, atau akankah ada perubahan positif tentang status hubungan mereka kedepannya. Tapi sudahlah, biarkan waktu terus berjalan dan takdir yang akan menentukan jalan hidup mereka esok.
__ADS_1
"YA chagia. Ada apa? Apa yang menganggu pikiranmu hem.? Katakan padaku.?" Tanya Kim serius seraya menatap dalam wajah Karin.
"Aniyo oppa, aku hanya memikirkan untuk makan malam nanti." Alih Karin berbohong.
"Sssttt, jangan mencoba membohongiku, katakan apa yang kamu pikirkan.?"
Karin mulai membalas tatap Kim yang tak kalah dalam. Ia menarik napas dalam lalu menggembuskannya, seketika Karin mengecup kilas bib*r Kim lalu tersenyum.
"Aku mencintaimu Kim." Bisik Karin pelan saat setelah melepas kecup4nnya. Dan berlalu melangkah kedepan meninggalkan Kim yang mematung saat mendapatkan kiss dadakan ketika ditempat umum seperti ini. Ini kali pertamanya Karin melakukannya seperti ini.
Jika mereka keluar rumah, Kim lah yang slalu bersikap posesif bahkan ia sering menci*m Karin ketika ada seorang pria yang segala atau tak segala melihat Karin. Namun kali ini berbeda, ntah sebab apa yang membuat Karin menci*mnya ditempat umum seperti ini, tapi yang pasti Kim menyukai.
Kin tersenyum senang saat setelah Karin menci*mnya. Terlihat jelas dari rona warna merah dipipi dan telinganya. "Aish kenapa dia menggemaskan sekali, aku benar-benar dimabuk cinta karnanya."
"Oppa.. Apa kau mau menjadi manekin disana. Palliyo.." Teriak Karin dari depan sembari menoleh kearah Kim.
"Nee, aku datang.." Ujar Kim gembira seraya mendorong trolinya kedepan.
......................
"Hufh... Lelahnya." Ucap Karin sembari mengelus perutnya dan menunggu Kim menekan pintu apartnya.
"Aigo.. Gemasnya kekasihku, sebentar ya, sebelum tidur aku akan mengelus pinggangmu sampai pagi."
"Bohong, aku tak percaya padamu. Kamu pasti langsung terlelap sampai mendengkur, kamu slalu bohong disetiap janjimu oppa." Protes Karin seraya melangkah masuk keapart saat setelah pintu apart terbuka.
"hahah aniyo, kali ini aku janji. Aku akan mengelusnya sampai kamu benar-benar terlelap." Ujap Kim sembari tertawa ketika mengingat saat ia berjanji menemani Karin menonton drakor, tapi ia malah terlelap duluan. Dan setelah kejadian itu, Karin mengacuhkannya sampai berhari-hari.
"Janji ya.. Awas kalau bohong. Aku cubit perut kamu oppa." Ucap Karin sembari menoel perut Kim.
Kim merasa geli saat ditoel lalu ia berlari masuk kedalam untuk menghindari Karin. Mereka tertawa kecil seperti anak kecil yang tengah bercanda. Dan tak menyadari jika ada seseorang wanita tua yang tengah duduk disofa ruang tengah dan melihat mereka yang tengah bercanda satu sama lain.
"Ehem."
Setika mereka terdiam laku menoleh kesumber suara, Kim membulatkan matanya saat melihat sosom wanita tua yang tengah duduk disofa dan Karin yang terdiam lantaran bingung dengan kehadiran wanita tua itu diapartnya Kim.
"Ne-nenek.." Ucap Kim gagap saat menyebut wanita tua itu nenek.
Sontak Karin sedikit menutup mulutnya lantara terkejut saat mendengar Kim memanggil wanita itu nenek. Sorot mata Nyonya Kim tak henti menatap sang cucu dan sang wanita yang berada disebelah Kim. Ia bahkan melihat perut Karin yang membuncit.
__ADS_1
......................
......................