
Tak menyangka bisa kembali ketanah air dengan perasaan yang sulit diucapkan. Meninggalkan sosok pria tampan, penyayang dan tulua mencintai Karin. Rela melepas semua fasilitas mewah yang Karin rasakan slama satu tahun belakangan ini. Namun semua tak ada artinya bila ia juga harus melepas keyakinannya hanya karna cinta dan fasilitas surga duniawi. Karin takut jatuh terlalu dalam dan terhasut untuk melepaskan yang sudah menjadi keyakinannya sejak ia lahir.
Bugh "Hahh capeknya.." keluh Karin saat meletakkan bakul berisi buah naga
"Kamu kalo mau bawa, bawa aja Rin. Pilih gih.." saut Vero tanpa melirik Karin.
"Eh gak usah mas, yang kemarin aja masih ada. Makasih." jawab Karin sopan pada Vero si anak juragan pemilik kebun buah naga tempat ia bekerja sekarang. Saat Choki bekerja dikebun ini yang mengawasi masih juragan, namun sekarang sudah digantikan anaknya yaitu Vero. Salah satu pemuda tampan dan pintar didesa tempat Karin tinggal, namun sikapnya yang dingin dan cuek membuatnya terkesan sombong dimata orang yang melihatnya.
"Em, upahmu mau diambil sekarang atau mau disimpen lagi.?" tanya Vero sekilas menatap Karin.
"Disimpen aja mas. Kalo boleh, Karin ambil upahnya perbulan aja." pinta Karin yang langsung direspon anggukkan Vero.
"Yaudah kalo gitu, Karin pamit pulang ya mas, makasih." pamit Karin sopan, tanpa menunggu jawaban Vero, Karin langsung melangkah pergi. Karna percuma menunggu jawaban pria cuek itu. Tanpa sadar, Vero melihat kepergian Karin lalu kembali fokus pada pekerjaannya menghitung (kg) buah hasil panen minggu ini.
......................
🎧 Senyumlah - Andmesh
Memejamkan mata ditengah ketenangan angin malam yang berhembus pelan. Melepas penat sembari mendengar lagu yang terdengar dari headset membuat Karin merasakan lebih rilex. Mencoba memejamkan mata dengan punggung yang bersandar didinding kursi dan mencoba tersenyum ditengah kehampaan hati dan perasaan yang kian membuatnya merasa bersalah.
Sesekali ia menyentuh bagian PD yang sudah melunak karna sudah dikuras. Sampai selesai setelah Karin melangkah keatas atap rumah panti sembari menunggu kedatangan Gadis. Sampai satu jam kemudian Karin masih menikmati alunan musik, dan tersadar sudah ada seseorang yang berdiri tegak dibelakangnya.
"Dis.? Gak usah iseng." ujar Karin datar tanpa melihat kebelakang.
Senyum hangat terukir diwajah Choki begitu mendengar suara Karin, dengan hati-hati tangan Choki menyentuh pucuk kepala Karin.
"Oi Gadis apaan sih!." bentak Karin sembari menepis tangan dari atas kepalanya.
Degh. Jatungnya berdetak kecang begitu ia berdiri dan berbalik melihat Gadis. Namun bukan Gadis yang ia lihat. "Kak Cho-choki." gumam Karin gugup bercampur kaget.
Choki tak menjawab, ia melirik sembarang arah seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Sampai akhirnya Choki mencoba mengontrol dirinya dan mulai membuka suaranya.
"Kapan kamu pulang.?" tanya Choki tanpa menatap wajah Karin. Sebenarnya ia begitu merindukan Karin sampai ia tak berani menatap wajah Karin apa lagi sampai kontak mata. Ia takut lepas kendali, ditambah lagi sekarang statusnya sudah beristri.
"Baru beberapa minggu lalu kak." jawab Karin pelan. Suara Karin kian membuat Choki berdebar, Choki mencoba menahan diri dengan menarik satu tarikkan nafas dan berbalik memunggungi Karin.
__ADS_1
"Oh. Yaudah yuk turun, kamu belom ketemu istriku kan. Ayok, ku kenalin." jawab Choki sembari melangkah meninggalkan Karin. Ntah sejak kapan, tangan Karin gemetar begitu melihat sikap Choki yang dingin, ditambah lagi dengan pernyataannya yang menyadarkannya bahwa sekarang Choki sudah berstatus.
"Kamu gak kangen aku kah kak.?" batin Karin bersuara diiringi tetesan air mata yang jatuh. Rasa sesak, cemburu, marah, kecewa ditambah realita pertemuan mereka setelah setahun lamanya berpisah tak sesuai ekspetasi.
......................
"Karina..." Miranda memanggil Karin begitu ia melihat Karin berada dibelakang Choki.
Degh!! Detak jantung yang terkejut saat mendengar Miranda memanggil namanya diiringi sambutan peluk hangat yang diberikan Miranda.
"Hai Kar, apa kabar. Kamu makin cantik aja." ujar Miranda basa basi. Sekilas Karin melirik kearah Choki yang masih memunggungi dirinya.
"Loh, kalian udah saling kenal.? Kok gak pernah cerita ke ibu.?" sahut ibu panti tiba-tiba.
Karin memaksakan senyuman diwajahnya sembari melepas pelukkan Miranda. "iya bu, panjang ceritanya kalo dijelasin. Intinya kak Choki dengan mba Miranda ngabarin Karin lewat video call kalau mereka mau nikah." jelas Karin bohong. Sontak Miranda menoleh kesuaminya dengan tatapan bertanya.
"Ealah, ibu kira kalian udah pernah ketemu sebelumnya. Yaudah yuk, kita makan bareng. Anak-anak yang lain udah pada nunggu." tutur Ibu panti tersenyum seraya berjalan menuju meja makan.
"Mas.. Kenapa Karin bohong.?" tanya Miranda saat semuanya berjalan lebih dulu kemeja makan.
"Aku gak tau, mungkin Karin gak mau ibu tau soal kehidupan dia waktu diKorea. Dan aku juga gak bilang kalau kita pernah cerita kalau aku ada kerjaan diKorea." jelas Choki.
......................
"Bu maaf, non Maura rewel." bisik Boby pada Miranda, dan sontak Miranda langsunh bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan meja makan begitu saja dan tak lupa disusul Choki.
"Loh heh ngopo ndok.?" tanya ibu Panti panik.
"Nggih, maaf bu. Non Maura rewel." jawab Boby berupaya menenangkan situasi.
"Ealah, ibu kira ngopo. Yowes nak Boby, ayo maem. Akeh iki makanannya." ajak ibu Panti sembari menuntun Boby untuk makan bersama. Lalu setelah itu, ibu panti pergi menyusul Miranda dan Choki.
"Nggih, suwun bu." ujar Boby sopan.
Tatapan sinis dilontarkan Karin pada Boby, dan Boby hanya terdiam acuh agar tak terpancing suasana. "Heh bison jantan.! Jangan ngambil ayam banyak-banyak, awas kalo brani.!" ucap Karin kesal sembari mengacungkan kepalan tangan pada Boby.
Boby hanya terkekeh dengan tikah Karin yang menurutnya lucu. "Judes juga nih cewe. Masih baper rupanya dia soal kejadian tadi sore." batin Boby berucap.
Disisi lain dikamar yang ditempati Miranda dan Choki. Si mbok berusaha menimang-nimang Maura berharap demamnya turun dan lebih tenang. Ditengah-tengah perjalanan dari kota ke desa tempat rumah panti, Maura tiba-tiba demam. Mungkin karna mau flu jadi suhu badan bayi juga ikut tak stabil.
__ADS_1
"Uss uss uss sayang nak.. Cup, cup.." ucap Ibu panti yang ikut menenangkan Maura sembari mengelus kepala mungil bayi yang baru berusia 3 bulan tersebut.
"Mbok, susunya udah gaj anget mungkin. Kalau gak diganti aja mbok, buatin yang baru." ucap Miranda yang mulai panik.
"Gak ngaruh sayang, udah.. Kamu tenang ya, Maura rewel karna badannya Maura lagi gak enak." sahut Choki sembari mengelus kepala Miranda agar tak ikut panik.
Tanpa mereka sadar, Karina yang sedari tadi sudah berdiri diambang pintu, ia menyaksikan adegan drama rumah tangga yang tengah panik menangani bayi 3 bulan yang rewel karna sakit. Hatinya tersentuk saat mendengar suara tangis Maura yang menyayat hati. Pikirannya ingin sekali menggendong Maura, tapi niatnya terhalang tanpa sebab. Sampai pada akhirnya Karin menguratakan isi pikirannya.
"Udah coba dikompres badannya.?" sahut Karin tiba-tiba yang membuat semua orang dikamar tersebut menileh kearahnya.
"Sejak kapan kamu disitu.?" tanya Choki datar.
"Barusan. Aku niatnya mau kekamar, tapi denger suara tangis bayi, jadinya melipir kesini" (melipir\=mampir.)
"Yowes, ibu ambil air anget dulu. Ndok, kamu bantu ibu. Ayo" ajak Ibu panti pada Karin.
"Choki aja bu yang bantu ibu." sahut Choki tiba-tiba.
"Gak usah nang, ben ibu wae karo Karin."
"Gakpapa bu, sekalian Choki mau ambil barang di mobil yang ketinggalan." titah Choki yang langsung keluar dari kamar.
Tangis Maura tak kunjung henti, kepanikkan makin bertambah dengan Miranda yang tiba-tiba ikut menitikkan air mata. "Maafin mamah ya nak, mamah gak bisa nyusuin kamu. Kamu jadi kesakitan begini karna mamah." lirih Miranda diiringi isak tangisnya.
"Non Mira, jangan ngomong gitu ah, gak baik non. Nanti Maura makin sedih kalau liat mamahnya ikut sedih." jawab Mbok pada Miranda yang masih terisak.
"Mba.. Udah ya, jangan ikut nangis. Kasian Maura." ujar Karin sembari mengelus punggung Miranda.
"Mba, aku mau izin ke mba boleh.? Aku mau nolongin Maura, tapi ada satu syarat. Tolong jangan kasih tau siapapun, mau itu kak Choki ataupun Ibu." ucap Karin yang membuat Miranda dan si Mbok terdiam. Hanya terdengar suara jeritan tangis Maura didalam kamar.
Karina mencoba menarik nafas dalam sebelum ia menjelaskan apa maksud dari ucapannya. "Ceritanya panjang kalau aku ceritain sekarang. Tolong izinin aku nyusuin Maura. Dengan ini insya Allah Maura bisa lebih tenang. Mba Miranda gak usah khawatir soal aku bersih, sehat atau sebagainya. Insya Allah aku sehat dari penyakit apapun. Tolong izinin ya mba, kasian Maura." jelas Karin yang membuat Miranda membisu namun ia mengangguk sebagai tanda memberi izin pada Karin.
Karin tersenyum saat Miranda memberinya izin, perlahan ia bangkit dari duduknya dan menghampiri si mbok lalu reflek memberikan Maura pada Karin.
"Bismillah.." ucap Karin begitu ia berhasil menggendong Maura, perlahan Karin membuka kancing bajunya lalu menyodorkan PDnya pada pipi mungil Maura. Senyuma bahagia diukir mbok saat Maura merespon punt1ng hangat milik Karin yang menyentuh pipinya.
Sontak Miranda langsung berdiri dan melihat keajaiban melihat Maura perlahan menelusuri insting menyusunya. Sampai akhirnya Maura berhasil menemukan sumber kehidupan untuknya. Karin tersenyum bahagia saat melihat dan merasakan Maura menghis4p dengan lahap tanpa penolakkan sedikitpun. Bahkan tangis Miranda kembali pecah namun bukan kesedihan yang ia rasakan, melainkan rasa haru dan bahagia begitu melihat putri kecilnya tak lagi menangis.
DEGH!! "apa-apaan ini. Apa maksudnya ini semua.? Kenapa dengan Karin.?" batin Choki berucap saat mendengar bahkan sempat menyaksikan kejadian didalam kamar, sebelum akhirnya ia bersembunyi dibalik dinding. Choki yang sedari tadi sudah berada didepan kamar dengan tangan yang membawa baskom berisikan air hangat untuk putrinya. Namun langkahnya terhenti saat Karina meminta izin pada Miranda dan meminta Miranda untuk tidak memberitahukan pada siapapun. Namun disisi lain, hatinya dan perasaannya merasa lega saat Muara putri kecilnya tak lagi menangis.
__ADS_1
......................
......................