
"Lalu aku memutuskan untuk kekorea meninggalkan tanah kelahiranku. Aku beralasan ingin mewujudkan cita-citaku berkeliling dunia yang dimulai dari negara korea. Padahal ingin menghindari tempat-tempat yang menjadi kenangan manis saat bersama mantan suamiku. Aku berbohong pada semua keluargaku termasuk kakak laki-laki ku. Sebelum aku berangkat kekorea, aku menghubungi teman sekolahku dibangku SMA yang sudah lama bekerja disini. Meminta bantuannya untuk mendapatkan pekerjaan dan aku mendapatkannya, aku melamar pekerjaan sebagai sekertaris. Dan aku diterima sebagai sekertaris CEO."
"Setelah satu bulan bekerja akhirnya aku menerima gaji pertamaku, dan telah berjanji akan mentraktir temanku GADIS. Kami janjian bertemu langsung di caffe yang sudah ditentukan. Dan kau ingat Park, disanalah kita dipertemukan lagi untuk yang ketiga kalinya." Karin tersenyum manis melirik Park yang berada disampingnya.
"Nee aku ingat itu Karin-shi." Park mengelus pucuk kepala Karin dengan lembut.
"Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri, sejujurnya aku bukanlah wanita yang mudah dekat dengan orang lain, apa lagi dengan lawan jenis. Tapi semenjak pernikahan ku berakhir karna perselingkuhan, aku merasa ingin bebas kesana kemari tanpa ada yang melarang. Aku ingin mencoba minuman berakohol bahkan aku tak menolak saat Kim ingin menci*m ku, justru aku yang cendrung agresif sampai akhirnya kami memutuskan untuk menjalin suatu hubungan. Aku bingung dengan kepribadian ku saat ini Park, aku merasa ini bukan diriku yang sebenarnya tapi disisi lain aku merasa baik-baik saja disituasi saat ini."
Park mengeraskan rahangnya saat mendengar perkataan Karin mengenai Kim. "Lantas apa kau mencintai kekasihmu.? Ya, minimal menyukainya."
"Rasa suka itu sudah pasti, tapi kalau untuk mencintainya aku masih berusaha mencobanya."
......................
Waktu terus berjalan cuaca juga sudah semakin panas karna hari sudah siang. Park dan Karin mencari resto disekitar pantai jeju untuk mengisi perut dan menghabiskan waktu bersama.
Mereka berbincang-bincang sembari menyuap makanan kedalam mulut masing-masing. Karin begitu menikmati hidangan seafood yang dijual diresto. Begitu juga dengan Park, ia senang ketika bersama wanita periang seperti Karin, Karin tak berhenti berbicara ketika sudah menemukan topik obrolan.
"Park-shi.."
"hemm." Park menjawab panggilan Karin.
"Boleh aku bercerita tentang temanku? (Gadis)."
"Apa ada masalah antara kau dengannya.? Tanya Park penasaran.
"Ada, awalnya aku tak menyangka dia bisa melakukan hal sejahat itu pada ku."
Flashback On
Disebuah caffe out door disingapure.
__ADS_1
"Rin, ada yang mau tanya ke kamu." Choki menatap serius.
"Apaan kak.? Kayanya penting banget."
Choki menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan foto Karin saat dirangkul penguntit kegang buntu, lalu keluar dari gang buntu itu bersama Park. Foto yang diambil memang tidak jelas namun dari foto tersebut jelas nampak dari postur tubuhnya kalau itu Karin dan untuk postur tubuh laki-laki difoto juga jelas bahwa itu 2 orang yang berbeda.
Karin syok saat melihat foto yang ditunjukkan Choki, dia bertanya-tanya dari mana Choki mendapatkan foto itu.
"Kamu dapet dari mana foto itu kak.? Karin bertanya sembari menahan air mata yang ingin keluar. Tanpa menjawab pertanyaan Karin, lagi-lagi Choki menunjukkan foto saat Karin duduk bersama Park disuatu resto.
"Aku yakin kamu bukan wanita sembarangan, aku bakal dengerin penjelasan kamu sampai semuanya jelas. Awalnya aku ragu kalau difoto ini kamu karna pengambilan fotonya dari jarak jauh, tapi seketika aku bimbang ketika foto kamu yang lagi diresto. Ini beneran foto diwaktu yang sama kan.?" Tatapan Choki seketika dingin saat selesai mengeluarkan uneg-uneg pertanyaan yang slama ini ia pendam.
"Gadis bilang ke aku kalau kamu jadi simpenan boss dan kamu semakin liar ketika tiba dikorea. Gadis udah ceritain semuanya ke aku, kamu bohong soal mau keliling dunia yang dimulai dari negara Korea. Tapi ternyata kamu mau kerja disana dan minta bantuan Gadis untuk dapetin kerjaan dikantor pusat tempat Gadis kerja."
Air mata Karin akhirnya mengalir deras melewati pipi putihnya. Ia mengingat kejadian saat penguntit itu menodongkan sajam tepat didepan wajahnya, untungnya saat itu ada Park yang menolongnya. Kalau tidak, mungkin Karin akan mengalami ancaman sekaligus pelec*han. Disatu sisi ia tak menduga bahwa teman akrabnya sampai tega memfitnah dirinya secara kotor seperti ini, apa lagi fitnahannya tersebut disampaikan ke Kak Choki.
"Iya itu aku kak, saat itu hari dimana aku baru dapet gaji pertamaku. Terus aku mau traktir Gadis makan-makan, tapi tiba-tiba Gadis hubungin aku dan batalin makan-makan malem itu. Alesannya karna shift kerja dia dituker sama temennya, jadi mau gak mau Gadis harus kerja lagi gantiin temennya, Gadis hubungin aku ketika aku udah ada diresto. Kalau cowo yang diresto itu namanya Park, aku ketemu dia waktu dibandara Korea kita gak sengaja tabrakan waktu aku lagi telvonan dengan Gadis, terus dia ngasih aku kartu nama sebagai permintaan maaf, kalau aku kenapa-kenapa jadi bisa langsung hubungin dia lewat kartu nama itu. Setelah satu bulan, secara kebetulan disore hari dan dimalam harinya aku ketemu Park lagi, disore hari aku papasan sama Park waktu aku mau kehalte bus pas pulang kantor. Kalau dimalam harinya aku ketemu dia diresto yang sama kaya difoto, resto itu Gadis yang pilihin untuk kita makan malem. Kalau...." Penjelasan Karin tertahan sejenak saat mencoba menjelaskan soal lelaki penguntit.
"Kalau apa.?" Tanya Choki yang terus menatap Karin serius. Tampak jelas diraut wajah Choki, ada sedikit kekecewaan diwajahnya ketika mengetahui bahwa Karin adalah wanita yang mau sana sini. Namun ia tetap setia mendengar penjelasan Karin tanpa memotong.
Choki berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati kursi Karin, berdiri didepan Karin dan langsung memeluk Karin. Tangis Karin semakin pecah karna mengingat kejadian seram malam itu.
"Maaf Rin, aku gak bermaksud nuduh kamu kaya gini. Aku hanya mau mastiin kalau ucapan Gadis gak bener. Maafin aku ya Rin." Pinta Choki sembari mengelus punggung Karin, menjatuhkan wajahnya kedalam pundak Karin, menyesali semua pikirannya yang sempat tak mempercayai wanita yang ia sayangi.
Flashback Off
......................
"Karin-shi, boleh aku bertemu dengan teman satu kamarmu.? Tangan ku terasa gatal ingin mencabik-cabik mulutnya." Suara tekanan emosi terdengar saat Park mengucapkan kalimatnya.
"YA kau ini berlebihan sekali, jangan sampai kau berani menyentuhnya, kalau sampai kau berani akan ku pastikan bok*ng mu dimakan ikan hiu. Mau bagaimana pun dia tetap temanku."
__ADS_1
"Cih, mana ada teman seperti itu, dia tak pantas kau sebut teman dan kau perlu tau satu hal, kau harus menjauhinya secepat mungkin. Berteman dengan orang seperti itu hanya akan membuatmu terbunuh secara perlahan." Kecam Park dengan nada serius sembari menatap intens Karin.
Karin langsung terdiam begitu mendengar ucapan Park yang membuatnya syok.
......................
Hari sudah mulai gelap, mereka memutuskan untuk pulang ke seoul. Slama diperjalanan Karin dan Park berbincang tentang hal-hal yang menyenangkan dan juga membuat mereka tertawa disela-sela obrolan. Sampai tak terasa mobil Park berhenti diarea depan gedung mes.
"Gomawo-oh Park-shi, senang bisa menghabiskan waktu luang bersamamu." Terukir senyum manis diwajah Karin.
"Nee, aku juga berterima kasih kau sudah menepati janji untuk bersamaku dari pagi hingga petang."
Karin mengangguk dan turun dari mobil. Belum jauh melangkah Park tiba-tiba keluar dari mobil.
"Karin-shi..!!" Park berteriak dan berlari kecil mendekati Karin.
"Ini untuk mu, hampir saja aku lupa memberinya." Menyodorkan paper bag berukuran sedang ke Karin.
"Ommo, apa ini.?" Karin menerima dan langsung membuka paper bag itu karna penasaran, ternyata isinya sekotak coklat pemberian dari Park.
"Wah.. Kau manis sekali Park-shi, Gomawo nee." Karin tersenyum seraya membungkuk badan.
"Ah jangan terlalu kaku begitu Karin-shi, aku senang memberinya." Park mengelus pucuk kepala Karin lalu berpamitan pulang. Karin mengangguk dan senantiasa menunggu Park masuk kedalam mobil dan pergi berlalu meninggalkan area gedung mes. Memastikan mobil Park telah menjauh Karin langsung memutar badan dan melangkahkan kakinya menuju mes.
"Nice Karin-shi.." Sahut suara seseorang yang tak asing terdengar ditelinga. Secara reflek Karin memutar tubuhnya kesumber suara.
"Tu-tuan Kim." Ucap Karin terkejut ketika melihat sosok Kim yang berdiri tak jauh darinya.
......................
......................
__ADS_1
Haduh.. Kacau nih, ada yang ketauan jalan sama cowo lain. Hehehe
Nantikan kelanjutannya dinext episode ya guys. Senang bisa lanjutin novel ini. Mohon doa dan dukungannya ya guys, supaya bisa lanjut kontrak dan di acc mangatoon. Aamiin..