Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Aku Muslim Tuan


__ADS_3

"Jadi kau melupakanku begitu saja hem.? Kau lupa jika kau sudah memiliki kekasih.? Kim bertanya dengan tatapan menggoda dan jarinya yang mengelus bok*ng sekal milik Karin.


"Ah aninde tuan aku tak melupakanmu, aku benar-benar lupa untuk mengaktifkan mode dering diponselku, itu saja." Jawab Karin sembari menahan remas*n tangan Kim pada b*kongnya.


"Kalau begitu aku akan membuatmu tidak akan melupakan kejadian untuk malam ini chagi." Kim mengangkat tubuh Karin dan menjatuhkannya diatas sofa. Tanpa pikir panjang Kim mengukung tubuh Karin dengan kedua kakinya.


"YA tuan, apa yang kau lakukan.?"


"Aku sudah bilang kalau malam ini aku akan membuatmu tidak lupa siapa aku." Goda Kim sembari membuka bajunya.


"Tuan tunggu, kau tau kan aku sedang datang bulan, kau ingat kan.?" Kim terdiam sesaat, apa yang dikatakan Karin benar. Bisa-bisanya melupakan kejadian beberapa hari lalu, saat ia menginginkan Karin namun terhalang karna sinar merah.


"Ais Shib*l aku lupa." Gerutu Kim langsung melepaskan kukungannya dan terduduk dibawah lantai seraya mengangkat wajahnya menatap langit-langit apartemennya.


Karin terkekeh kecil saat melihat Kim terduduk dengan rasa kecewa, niatnya malam ini terhalang karna sinar merah yang menghalangin jalannya. Karin duduk memebelangi Kim, merangkul Kim dari belakang lalu mencium pucuk kepala Kim berkali-kali.


"Mianhae tuan, aku juga mengingkanmu malam ini tapi sayangnya kondisiku tak bisa diajak diskusi." Ucap Karin dengan nada kecewa namun menggemaskan saat didengar.


"Tidak masalah Karin-shi, kita masih bisa menghabiskan malam ini dengan berpelukkan sampai pagi." Kim bangkit dari duduknya sembari menahan posisi tubuh Karin menggendongnya seperti kasur beras lalu melangkah menuju kamar.


Malam ini mereka tidur dalam pelukkan yang melekat bagai kertas dan perangko. Wajah Karin tenggelam dalam tengkuk Kim yang sangat nyaman ditambah dengan aroma maskulin yang melekat dikulitnya. Pelukkan itu terasa sangat nyaman, mereka memejamkan mata menutup gelapnya malam hangat ini dan menantikan indahnya sinar mentari dikeesokkan hari.


......................


Dipagi harinya Karin lebih dulu membuka mata, ia melihat Kim yang masih tertidur lelap disampingnya.


"Tampan." Batin Karin saat melihat indahnya ciptaan Tuhan yang bisa ia nikmati saat membuka mata dipagi hari ini. Karin membalikkan badannya lalu bangkit dari kasur, menuju ruang tamu guna mencari tasnya yang tergletak diatas meja ruang tamu. Membuka dan meraih ponselnya yang sudah mati karna tak di cas dari tadi malam.


"Huft, sampe lupa ngecas hp deh, capek banget dari kemarin seharian full dengan Park terus malemnya malah nangis kejer karna dituduh selingkuh dengan pacar sendiri." Gumam Karin seraya menyambungkan sambungan kabel data untuk mengecas ponselnya dan meletakkan dimeja.


Karin melangkahkan kakinya kearah kaca besar yang tertutup hordeng nan besar dan tinggi. Ia membuka hordeng tersebut agar sinar mentari masuk kedalam apartemen dan menyinari seisi ruangan.


"Hah indahnya kota ini." Gumam Karin saat menguap lalu meregangkan tubuhnya dengan melebarkan kedua tangannya.


"Duh laper lagi, ada bahan masakkan gak ya didspur tuang Kim." Gumam Karin seraya melangkahkan kakinya menuju dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Karin langsung mengecek isi kulkas dan mencari bahan makanan yang ready stok.


"Buset banyak amat daging pork difreezer. Daging sapinya masa gak ada sih, terus mau masak apa aku kalau cuman ada ini." Karin memanyunkan mulutnya saat ia hanya menemukan bahan makanan yang ia sendiri tak bisa memakannya. Namun Karin tak putus asa, ia kembali mencari bahan makanan dilemari dapur. Dan akhirnya ia menemukan pasta, keju dan kawan-kawannya.


Karin sempat terdiam sesaat sembari melihat bahan makanan yang ia pegang. Berpikir menu apa yang akan ia masak dengan menu ini, setelah ia memutuskan untuk memasak Spaghetti Carbonara tanpa daging. Karin mengulung bajunya dan mulai bertempur dengan peralatan dapur.


Disisi lain saat Kim bergerak mengganti posisi tidurnya dan meraba sekelilingnya yang terasa kosong, ia membuka matanya melihat sekeliling kasur tanpa ada sosok Karin disana. Kim terduduk lalu menyenderkan punggungnya didinding kasur.


"Kemana dia sepagi ini, apa dia sudah pulang tanpa berpamitan denganku." Gumam Kim dalam pejaman matanya, lalu telinganya mendengar seperti suara ketukkan spatula dan panci. Ia melihat kearah pintu kamar lalu bangkit guna memastikan suara yang ia dengar. Kim melihat punggung Karin dari balik pintu, Kim tersenyum saat melihat Karin tengah asik dengan alat tempur masak didapur dan ia kembali masuk kekamar guna membersihkan diri terlebih dulu.


Sesaat setelah kegiatan Karin didapur, ia menyiapkan hidangannya diatas meja makan lalu menoleh keasar pintu kamar Kim.

__ADS_1


"Apa dia belum bangun, karna hari libur kali ya jadi males-malesan buat bangun pagi." Gumam Karin seraya meninggalkan meja makan lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Kim dan membuka perlahan pintu kamar dan betapa terkejutnya ia saat melihat Kim hanya menggunakan handuk putih yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Oh mian tuan saya tak tahu kalau tuan baru selesai mandi." Spontan Karin membalikkan badannya dan hendak keluar kamar namun Kim dengan cepat menahan tangan Karin.


"Kenapa harus minta maaf, bukannya kamu juga sudah pernah melihatnya." Ucap Kim sembari menarik tangan Karin masuk kedalam kamar. Karin mengikuti tarikkan tangan Kim dengan berjalan mundur sembari menundukkan wajahnya guna menjaga pandangan. Kim yang melihatnya hanya tersenyum gemas. Ia menyeret tubuh Karin kesisi kasur memberi isyarat agar duduk disana. Lalu ia kembali keaktivitasnya memakai celana dan baju tanpa rasa malu didepan Karin. Tentu saja hal itu tak dilihat Karin karna ia benar-benar menundukkan kepalanya bahkan menutup rapat matanya.


"Aku sudah selesai Karin-shi." Sahut Kim yang ternyata sudah berjongkok didepan tubuh Karin.


"Ouh oke tuan, kalau begitu kajja kita sarapan." Karin gugup sekaligus kaget melihat Kim yang ternyata sudah berada dihadapannya dan ntah sudah berapa lama Kim berjongkok didepannya. Karin berlalu meninggalkan Kim begitu saja karna rasa gugupnya yang ia rasakan sudah benar-benar diluar kepala.


Kim kembali tersenyum dengan sikap Karin yang menggemaskan dimatanya. Ia bangkit dan melangkah keluar kamar menuju meja makan, menghampiri Karin yang sudah duduk menunggunya.


"Wah, kau yang memasak ini Karin-shi.?" Kim memuji setelah melihat hidangan yang Karin sajikan begitu menggugah selera makan dipagi hari ini.



"Nee tuan, tapi maaf aku tak menambahkan daging didalamnnya."


"Wae? Bukankah srok daging banyak difreezer." Tanya Kim sembari menyuapkan sarapan kemulutnya.


"Aku tak makan daging prok tuan, jadi aku tak menggabungkannya saat memasak."


"Wae? Apa kau diet daging.?"


"YA tuan, bisakah kau pelan-pelan saat mengunyah. Itu pasti sakit." Karin panik saat Kim benar-benar tebatuk-batuk karna tersedak, ia bediri dari duduknya dan membantu memukul pelan leher belakang Kim guna membantu meringankan rasa sakit saat tersedak makanan. Saat Kim memberi isyarat bahwa ia sudah tak apa-apa barulah Karin kembali duduk kekursinya.


"Apa kau bilang tadi Karin-shi, kau seorang muslim.?" Kim kembali bertanya guna menyakinkan pendengarannya. Karin hanyan mengangguk sembari menyuapkan sarapannya kemulut. Sontak hal itu membuat Kim canggung sesaat.


Setelah selesai sarapan Karin bergegas merapihkan piring dan lainnya lalu membawanya kedapur, dibantu Kim membersihkan meja dengan mengelapnya dengan tisu lalu merapihkan kursi. Karin melirik sekilas kegiatan Kim, hal itu mengingatkannya saat ia masih bersama Rega. Mereka benar-benar sepasang suami istri idaman. Membangun keluarga yang harmonis saling menolong satu sama lain. Karin yang tersadar langsung menggelengkan kepalanya pelan guna membuyarkan ingatan masa lalunya.


Selesai dengan kegiatannya Karin bergegas mengambil ponsel diatas meja memasukkannya kedalam tas dan tak lupa mengambil paper bag berisikan coklat pemberian Park tadi malam.


"Mau kemana kau Karin-shi.?" Panggil Kim yang sedari tadi sedang duduk sembari menonton tayangan televisi.


"Aku akan pulang tuan Kim, teman satu kamarku pasti sudah mencariku.


"Sepertinya kau salah menilai temanmu Karin-shi." Ucapan Kim membuat Karin mengerutkan alisnya seakan tak mengerti dengan ucapannya.


"Maksudmu tuan.?" Tanya Karin penasaran lalu melangkahkan kakinya dan menjatuhkan bokongnya duduk disamping Kim.


Flashback On


"Dimana kau Karin-shi, kenapa dia tak membalas dan menjawab panggilanku." Gerutu Kim seraya melajukan mobilnya menuju mes Karin. Kim tak jadi berangkat ke Busan karna pertemuannya dengan kliennya dibatalkan menjadi minggu depan.


Sesampainya Kim digedung mes, ia bertanya pada penjaga gedung untuk menanyakan nomor kamar Karin. Namun penjaga gedung mengatakan tak ada pegawai pabrik yang bernama Karin. Lalu Kim memberi klue bahwa yang ia cari adalah Tenaga Kerja dari Indonesia namun tetap hasilnya Nihil, tidak ada identitas yang namanya Karin. Sampai saat dimana kebetulan sekali Gadis melintas kearah gerbang dan medengar sekilas nama Karin disebut. Gadis bertanya pada penjaga gedung.

__ADS_1


"Ahjussi apa kau menyebut nama Karin-shi barusan."


"Nee, taun ini mencari identitas bernama Karin-shi. Aah aku baru ingat, bukankah dia teman satu kamar denganmu.? Aku lupa menulis identitasnya di buku. Aish aku ini sudah makin lupa dengan bertambahnya usia." Gerutu ahjussi disela-sela kalimatnya.


Gadis melirik kearah Kim yang begitu rapih dan menawan. Seakan tak percaya pada Karin, kenapa banyak sekali lelaki tampan yang mendekatinya.


"Apa tuan mencarinya.? Dia baru saja pergi pagi ini, ntah kemana dia pergi. Kurasa dia pergi berkencan dengan pria yang berbeda lagi setiap pekannya." Jelas Gadis yang membuat Kim membulatkan matanya.


"Apa maksudmu.? Apa mungkin Karin seperti itu.?" Ucap Kim masih tak percaya dengan pernyataan Gadis.


"Jika kau tak percaya tunggu saja dia sampai pulang. Dan kurasa dia tak akan pulang malam ini." Gadis berlalu pergi meninggalkan Kim yang mematung karna mendengar penjelasan Gadis.


Flashbak Off


"Apa yang dikatanya benar Karin-shi.?" Tanya Kim sembari menoleh kesamping menatap sinis Karin.


"YA tuan apa katamu barusan, yang benar saja, apa aku terlihat seperti wanita murah*n."? Protes Karin sembari membuang wajah.


"Tentu saja aku percaya pada temanmu saat aku melihat sendiri tadi malam, saat kau diantar Park lalu dia mengelus pucuk kepalamu."


"Aish kalian ini, kenapa jadi menuduhku yang tidak-tidak. Tuan, kau perlu tau satu hal tentangku. Slama hidupku 23 Tahun ini aku hanya mengenal 4 pria dalam hidupku. Yang pertama mantan suami ku, yang kedua adalah kakak laki-laki ku yaitu kak Choki, yang ketiga adalah temanku Park, dan yang terakhir adalah kau. Lantas dimananya aku bergonta ganti pasangan setiap pekannya, sedangkan aku saja dikorea belum genap 2 bulan." Jelas Karin dengan tempo bicara yang cepat karna kesal saat mendengar cerita Kim saat Gadis mengatakan dia wanita yang suka berganti-ganti pasangan tiap pekannya.


"Aku juga merasa aneh pada Gadis, kak Choki waktu disingapure juga menanyakan hal yang sama padaku seperti pertanyaanmu barusan."


"Jadi kau bertemu Choki disingapure Karin-shi.? Kenapa tidak mengenalkannya padaku.? Tanya Kim yang sedari tadi menatap Karin saat ia menjelaskan semuanya.


"Waktu itu kita belum menjalin kasih jad.." Karin terdiam sejenak lalu menatap intens mata Kim. Kim mengangkat alisnya memberi kode ada apa menantapnya seperti itu.


"Tuan, kak Choki berkata padaku bahwa dia baru-baru ini menjadi CEO disalah satu kantor di Jakarta, dan ikut keacara jamuan kemarin disingapure. Berarti kalian saling mengenal, benar kan.? Tanya Karin serius sembari menangkup wajah Kim.


"Ah itu aku tidak begitu mengenalnya, hanya pernah mendengar namanya. Lagi pula seperti yang kau katakan tadi, dia baru menjadi CEO. Jadi kemungkinan dia belum terkenal seperti aku." Titah Kim mengalihkan rasa gugupnya saat Karin bertanya serius, dan untungnya Karin tak kembali bertanya mengenai ia mengenal Choki atau tidak.


"Hem ya kau benar tuan, dia baru menjadi CEO. Dan pasti belum banyak yang mengenalnya." Kim mengangguk saat Karin sudah terlihat teralihkan.


"Kalau begitu tinggallah bersamaku, kau akan terhindar dari teman toxic seperti teman satu kamarmu itu." Ucap Kim spontan tanpa berfikir panjang.


"Aish yang benar saja, mana bisa kita tinggal satu atap. Apa kata tetanggamu disini bila ada yang tinggal satu atap tanpa ikatan sah." Celoteh Karin sembari menatap sinis Kim.


"Apa kau lupa kalau ini Korea Karin-shi, pikirkanlah lagi tentang tawaranku. Dan ku sarankan kau selesaikan terlebih dulu urusanmu dengan teman satu kamarmu itu." Jelas Kim pada Karin, lalu menjatuhkan kepalanya kedalam pangkuan Karin, memejamkan matanya diatas sana.


......................


Oke guys, kita lanjut di next episode ya. Dukung Author terus ya guys, semoga review novel Author lolos dan bisa dikontrak dengan Mangatoon.👍😊


Author juga menerima kritik dan saran ya guys...

__ADS_1


__ADS_2