
"Haaa haa haa huuuhh...!!! Kamu memang gila Rosy-ah. Huuuh.." ujar Jay dengan nafas tersengal.
"Hahaha kamu berlebihan tuan." jawab Rosy seraya terkekeh melihat Jay ngos-ngosan.
"Emmm, aku tak berbohong. Kamu memang gila dan membuat gila saat diatas ranjang." bisik Jay seraya memiringkan badannya menghadap Rosy.
"Jika aku tak mengikutimu waktu itu lalu aku tak bertanya pada Mina apa yang sebenarnya terjadi padamu, mungkin aku masih beranggapan kamu tak ada bedanya dengan wanita penghibur yang bekerja disini." sambung Jay dengan tatapan serius.
"Mianhae tuan, aku tak bisa memberitahumu mengenai masalah keluargaku saat itu. Dan memang saat itu, jalanku sudah buntu. Aku tak bisa menemukan jalan lain selain menjual diriku, dan beruntungnya aku dipertemukan dengan dirimu tuan. Kalau tidak, mungkin aku akan menjadi.." jelas Rosy seraya menahan dirinya agar tak menangis dan Jay menyadari itu.
"Ssttt hei.. Hentikan omong kosongmu sayang. Sini lihat aku, dengarkan ini. Semua yang terjadi dalam hidup kita, semua yang kita jalani itu sudah ditentukan jalan dan bagaimana cara kita menjalankannya pun itu semua sudah diatur dan ditentukan. Baik buruknya hidup kita, semua sudah ditentukan. Cobaan yang diberikan pada kita semua sudah ada porsinya masing-masing dan rintangannya yang akan kita lewati pasti bisa kita lewati."
"Lantas?? Bagaimana mereka yang nasipnya tak seberuntung diriku.?" tanya Rosy dengan polos.
Jay tersenyum seraya menyampingkan rambut Rosy kedaun telinganya. "disatu sisi kita memang harus memiliki kepedulian terhadap sesama manusia, namun disisi lain kita tak berhak menilai bahkan mencampuri masalah dalam hidup orang lain. Biarkan dia menyelesaikan persoalan yang membelit hidupnya. Jika mereka membutuhkan kita dan kita bisa membantu, maka bantulah mereka sesuai dengan kemampuan kita." jelas Jay seraya mencium kening Rosy lalu memeluknya erat.
......................
"Haisshh aku bisa sendiri oppa.!!" omel Karin saat melihat Kim megulurkan tangannya ketika ia hendak turun dari mobil.
"Tak ada penolakkan chagia. Aku tak mau kamu kenapa-kenapa. Kajjah nyonya Kim." titah Kim seraya menyambut tangan Karin yang hendak turun dari mobil.
Dan hari untuk pertama kalinya Karin menginjakkan kakinya ditanah makam, matanya mengelilingi area makam yang luas seraya menarik nafas dalam sebelum kakinya maju melangkah memasuki area makam.
Senyum simpul Kim tunjukkan pada Karin guna menyakinkan Karin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Senyum berat pun Karin lontarkan dengan membalas tatap Kim saat ini.
Tubuhnya mengikut dibelakang Kim yang terus memegang tangannya, mereka melewati disisi makam sebelum sampai ditempat dimana calon anak mereka dimakamkan.
Saat Kim berhenti disitulah sorot mata Karin menatap makam dan Kim secara bergantian. Karin seolah bertanya dengan ukuran makam yang begitu besar seperti makam khusus untuk keluarga besar.
"Ini makam kedua orang tuaku chagia. Dan disini jugalah anak kita dimakamkan. Aku sengaja menempatkannya disisi makam kakek neneknya." jelas Kim dengan nafas yang terdengar berat. Menyadari kesedihan yang datang, Karin memeluk lembut tubuh tinggi Kim tanpa ragu. Ia pun merasakan kesedihan yang ia tahan slama kurun waktu 1 bulan saat setelah kejadian pagi itu. Tak berselang lama, Karin melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Kim yang sudah basah karna air mata.
__ADS_1
"Kenapa tuanku jadi cengen begini.? Kamu lemah sekali tuan Kim. Tidak malu kalau mereka menertawakanmu yang cengeng seperti ini." ledek Karin pelan yang dibalas dengan senyum Kim sembari menghapus jejak air matanya dan menghirup ingusnya.
"Kamu pun sama chagia. Lihat saja ingusmu itu, sudah meler kemana-mana."
"Hah? Jinjjah? Haishh aku tak menyadarinya. Reseh banget ini ingus, bikin malu aja.!" omel Karin dengan bahasa Indonesia diakhir kalimatnya.
"Upss. Mian oppa, aku keceplosan." sambung Karin reflek menutup mulutnya.
"Nee.. Tak apa, aku anggap aku tak mendengarnya." jawab Kim seraya mengelus kepala Karin.
Mereka melangsungkan kunjungan mereka kemakam keluarga Kim dengan membersihkan sekitar makam lalu berdoa. Dimulai dengan Kim yang serius menunduk dengan mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Karin terdiam sejenak saat melihat Kim dengan keseriusannya.
"Betapa bodohnya aku slama setahun ini. Kemana aku slama setahun ini. Kenapa harus sekejam ini kenyataan yang harus aku jalani." ucap batin Karin yang tersadar akan kenyataan yang menampar kesadarannya ketika ia melihat Kim menggenggam kalung yang ia pakai sembari berdoa dengan serius.
"Oppa.. Haruskah kita berpisah.?" sambung Karin dalam benaknya yang terasa sesak saat menatap wajah Kim dari samping yang terlihat begitu tenang.
......................
......................
Owekk...!!! Owekkk waaaa..!!!!
"Cup. Cup. Cup. Sayang nak, uusss ussss usss sayang.." Ucap Choki seraya menimang-nimang sang anak agar berhenti dari tangisnya. Miranda yang sedari tadi duduk dikasur pun hendak berdiri namun Choki melarangnya dengan isyarat dari sorot matanya.
"Gakpapa mas, gantian sini.. Aku yang gendong Maura." Titah Miranda dengan melebarkan kedua tangannya.
"Mir.. Udah gakpapa aku aja, kamu istirahat. Inget kata Dokter tadi siang, kamu gak boleh kecapean." Jawab Choki seraya bergoyang-goyangkan tubuhnya menimang Maura yang masih menangis. Dan tak lama Mbok Yu datang dengan berlari kecil dengan membawa sebotol susu ditangannya.
"Ini pak. Sini.. Biar si mbok yang gendong." sahut mbok dengan sigap mengambil alih Maura lalu menyusuinya dengan telaten.
"Uluhhh anak boto hausnya. Sayang... Lama ya si mbok bikin susunya." oceh mbok Yu menatap Maura yang menyedot rakus susu yang diberikan mbok Yu. Choki yang melihatnya pun tersenyum lega, ia sedari tadi risau saat sang anak terus menangis karna haus.
__ADS_1
"Mas.." lirih Miranda yang membuyarkan tatapan Choki pada Maura.
"Ya sayang.. Masih kerasa sakit?" sahut Choki mendengkati istrinya. Miranda menggeleng kecil seraya memegang punggung tangan suaminya yang kini sudah berada disampingnya.
"Makasih ya, udah bantu aku dan mbok untuk ngurus Maura. Maafin aku mas, ASI ku kosong, aku gak bisa kasih asupan yang baik untuk Maura. aku belum bisa jadi ibu seutuhnya untuknya." Ujar Miranda tiba-tiba terisak seraya menundukkan kepala.
"Heii heii sayang.. Kok ngomongnya gitu sih.. Ssttt jangan gitu ah. Gak ada yang namanya ibu setengah-setengah atau gak bisa jadi ibu seutuhnya atau apalah itu. Kamu itu wanita hebat Mir, kamu ibu yang hebat, dengan kamu yang melahirkan Maura pun kamu sudah sangat hebat. Kamu lihat dong, anak kita sehat sayang, dan dia cantik persis kaya kamu.. Udah ya, jangan ngomong gitu lagi." Jelas Choki dengan memeluk erat tubuh Miranda yang masih terisak.
Mbok Yu yang sedari tadi mendengar ucapan non Miranda, tanpa sadar air matanya menetes dibaju Maura. Dengan cepat mbok Yu menyeka air matanya lalu kembali fokus menyusui Maura yang perlahan mulai terlelap dalam gendongannya.
Flashbak On.
"Aaghhhh.. Ouhh.. Haaah haaahhh!!" Desah Choki diakhir puncak aktivitas malamnya bersama Miranda. Saat bersamaan Miranda meraih tisu diatas lalu memberinya pada Choki dengan senyum malu Choki menerimanya lalu mengusap bersih cairan yang ada diatas pusaran Miranda.
"Sorri sayang, aku lupa beli sarung. Jadinya keluar disini." tutur Choki seraya mengepal tisu ditangannya.
"Hahaha apasih mas, sebenernya didalem pun gakpapa. Tapi jangan marah kalau aku hamil lagi nantinya." ledek Miranda yang membuat Choki melirik tajam kearahnya.
"BIG NO sayang! Inget pesen Dokter. Sebelum Maura 2 tahun, kamu gak boleh hamil." jawab Choki dengan mengacungkan jari telunjuknya pada Miranda.
"Kok kamu yang posesif sih, harusnya aku yang nolak untuk hamil lagi. Ini malah kamu."
Choki tersenyum pepsodent lalu mendekati Miranda seraya mencium keningnya. "Aku masih trauma melihatmu masuk kedalam ruang operasi, jadi jangan dulu hamil sebelum aku siap. Oke.." Bisik Choki seraya menuruni kasur dan melangkah masuk kedalam kamar mandi. Miranda tersenyum simpul dengan menatap punggung Choki yang kian menjauh dan menghilang kedalam kamar mandi. Tak lama saat Choki masuk kedalam kamar mandi. Tiba-tiba Miranda bangkit dari kasur, berusaha melangkah cepat meski terasa berat. Ia menuju meja rias yang ada disebrang kasur. Dengan tangan yang gemetar ia membuka laci meja, mengambil beberapa obat didalam sana lalu menelannya bulat-bulat tanpa dibantu air. Seketika tubuhnya terduduk lemas, dadanya terasa sakit dibagian kiri. Miranda meresah buah dada kiri seakan menahan sakit yang teramat.
Tanpa disadari Choki melihat semua pergerakkan Miranda dari sela pintu kamar mandi yang terbuka. Tatapan matanya sedih saat melihat Miranda yang menahan sakit disetiap usai melakukan hubungan badan dengannya. Penyakit bawaan dari sang Ayah (pak Irwan) menurun pada Miranda. Slama ini Miranda menutupi penyakitnya pada Choki, sampai pada akhirnya saat setelah operasi Maura berhasil. Choki diberitahu pada Dokter bahwa Miranda mengidap penyakit jantung bawaan dan disarankan untuk bedrest total.
Itulah sebabnya setiap aktivitas mereka, Choki tak pernah bermain dengan durasi yang lama. Mengingat ucapan Dokter yang terus tergiang dikepalanya. Perasaan tak tega begitu melihat sang istri yang menderita akibat rasa sakit yang ia rasakan. Terlihat langkahnya yang berat menuju kasur pun begitu menyayat hatinya. Ditambah Maura yang tak bisa mendapatkan ASI dari Miranda, membuat Choki semakin tersayat. Sugestinya tentang ASI adalah asupan terbaik untuk tumbuh kembang sang bayi. Namun semua tak bisa diberikan Miranda lantara pengaruh obat yang dikonsumsinya tak baik untuk seorang ibu menyusui. Namun apa mau dikata, kesehatannya lebih penting saat ini.
Flashback Off.
......................
__ADS_1
......................