
Keheningan begitu terasa slama didalam mobil. Karin hanya menatap keluar mobil tanpa bergeming sekalipun.
Tangan kanan Kim meraih tangan Karin dan mengeratkan genggamannya. Sesekali ia mencium punggung tangan Karin dengan lembut. Perasaan Kim bahagia saat Karin diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Rencana Kim untuk kepulangan Karin bukan kembali apartnya yang lama, ia akan membawa Karin ke apart yang baru yang dulu sempat ia pesan ke Jay.
"Kemana kita? Bukankah ini arah yang salah.?" tanya Karin bingung.
"Nee, kita akan pindah apart sayang. Aku ingin memberi kejutan untukmu." Jawab Kim seraya tersenyum melirik Karin.
......................
Diwaktu yang bersamaan, pagi ini gedung apart Kim yang lama sudah ramai dengan kedatangan beberapa polisi dan ahli dibidang kejadian kriminalitas. Jay sempat dipertanyakan soal identitasnya dan ia menjawab sebagai pengganti Kim disini.
Saat mobil tahanan tiba, salah satu polisi membukakan pintu dan Irene ditarik keluar dengan cukup kasar. Saat Irene turun dari mobil, betapa terkejutnya Jay saat itu. Benar-benar kejadian diluar pikiran Jay, ia melihat dengan jelas wajah Irene yang tertunduk melintas didepannya dengan mengenakan pakaian tahanan nara pidana.
"Ya Tuhan apa ini.? Irene-ah apa yang terjadi. Ada apa denganmu.?" Gumam Jay seraya mengikuti langkah para petugas menuju lift dan naik kelantai apart Kim.
Sepanjang langkahnya menuju apart Kim, Jay hanya diam sembari memandangi punggung mungil Irene dari belakang. Para wartawan pun sudah menunggu didepan pintu apart Kim, banyak pertanyaan yang dilontarkan pada Irene dan juga pada polisi. Namun Irene hanya bungkam seribu bahasa, dan petugas polisi pun hanya bisa menjawab "Tolong beri kami jalan, dan jangan ricuh saat olah TKP berlangsung."
Para reporter pun sempat bertanya pada Jay mengenai siapa dirinya dan saat setelah tau Jay adalah perwakilan dari Kim, mereka pun bertanya mengenai keberadaan Kim. Namun Jay tak menjawab pertanyaan mereka. Wajar jika sosok Kim dicari-cari, sosok Kim memang cukup terpandang dikalangan pembisnis di Korea. Terlebih lagi kasus ini adalah kasus pembunuhan yang dilakukan orang dalam (Keluarga).
Jay dipersilahkan masuk sebagai saksi olah TKP dan perwakilan dari pemilik Apart (Kim). Slama olah TKP, pandangan Jay tak berpaling sedikitpun, ia benar-benar syok bukan main. Setiap adegan yang diperagaan Irene benar-benar diluar nalar.
"Secemburu itukah kamu atas hubungan mereka." Batin Jay berucap saat ia mendengar kalimat Irene saat menyiksa Karin.
Irene sempat melirik kearah Jay yang tak jauh berada dibelakang para petugas. Sorot matanya tak bisa berbohong, ada rasa ketakutan dan kekhawatiran seakan ia meminta tolong pada Jay. Namun Jay tak bisa berbuat apapun, saat Irene memandang lirih, Jay langsung berpaling dari sorot mata itu. Ntah apa yang membuat Jay berpaling. Seketika air mata Irene menetes ketika melihat sikap acuh Jay padanya.
......................
"Kajja masuklah.."Ucap Kim seraya tersenyum pada Karin diambang pintu apart baru mereka.
Karin mengangguk lalu melangkahkan kakinya memasuki pintu apart itu, dan sempat terkejut sebentar saat melihat isi apart yang penuh dengan warna favoritnya. Yakni putih dan pink, dekorkasinya pun dikombinasi dengan sentuhan warma gold.
Terlebih lagi ada foto-foto dirinya dan juga Kim yang terpajang didinding ruangan dan juga dimeja. Ada vas cantik dan juga bunga plastik nan cantik mengiasi seiisi ruangan. Apart mereka kali ini cukup luas dari apart Kim sebelumnya.
Tanpa sadar langkah Karin perlahan menelusuri seluruh ruangan sampai langkahnya terhenti diruangan yang tertutup rapat, sampai rasa penasarannya ingin membuka pintu dilakuan.
__ADS_1
CEKLEK..!! Pintu terbuka, terlihat suasana ruang yang gelap lantaran lampu belum dinyalakan. Dengan itu Karin memencet tombol lampu.
"Apa ini.. Hiks.." Seketika Karin menutup mulutnya lalu menangis tersedu-sedu saat ia melihat bingkai foto besar yang menampakkan foto Kim dan dirinya yang tengah memegang perutnya yang besar lantaran tengah hamil.
Karin teringat saat ia dan Kim sepakat melakukan sesi pemotretan untuk mengambil momen bahagia mereka saat dirinya tengah hamil besar. Namun kenangan itu mengingatkan atas kejadian yang membuat dirinya trauma sampai sekarang.
"Chagia, dimana kam.." Teriak Kim saat mencari keberadaan Karin dan terhenti ketika melihat pintu gudang terbuka lebar. Kaki Kim melangkah memasuki ruang gudah dan melihat tubuh Karin yang terduduk dilantai yang sedang memangis didepan bingkai foto besar yang memperlihatkan foto mereka saat Karin tengah hamil.
"Aish sh*bal kenapa mereka tak membuangnya." Gerutu Kim pelan seraya melangkah maju mendekati Karin.
"Chagia.." Panggil Kim pelan sembari ikut terduduk dilantai lalu memeluk erat tubuh Karin.
"Oppa.. Kenapa harus anakku yang pergi, kenapa bukan aku. Apa salahnya sampai harus menanggung semua ini?!" Ujar Karin terisak dalam pelukkan Kim.
Kim tak menjawab pernyataan Karin, ia hanya diam memeluk erat sembari mencium pucuk kepala Karin. Perasaannya pun goyah ketika merasakan getaran tubuh Karin karna menangis. Air mata Kim ikut terjatuh saat ia melihat kembali foto dirinya bersama Karin yang terlihat bahagia sembari memegang perut Karin. Bayi yang seharusnya masih ada bersama mereka saat ini, namun semua pupus begitu saja.
"Aku berjanji akan membalas semua perbuatannya chagia, aku berjanji padamu." Ujar Kim dengan suara bergetar.
......................
"Apa kamu sudah tau semuanya.?" Tanya Karin pelan.
"Nee, pihak apart menelvonku saat dia hendak pergi meninggalkan gedung. Aku sengaja membawamu kemari, hari ini pihak kepolisian sedang melakukan olah TKP. Kita akan tinggal disini mulai hari ini. Lupakan tempat itu, oke." jelas Kim sembari mengusap lembut punggung Karin.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Karin, ia hanya mengangguk dan kembali terisak ketika mendengar penjelasan Kim.
Tak berselang Kim pergi meninggalkan Karin yang sudah tertidur, ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Apa kau masih disana.?" Tanya Kim
"Baiklah, ku harap kau tak protes dengan tindakanku Jay. Aku tau kau masih mencintainya. Tapi ketahuilah, dia sudah memiliki suami, dan tak seharusnya kau masih mendekati apa lagi menjalin hubungan dengannya." Jelas Kim seraya memutuskan panggilan tersebut.
......................
...Disisi lain dikantor polisi....
__ADS_1
Kini Jay tengah berhadapan langsung dengan Irene, mereka duduk saling berhadapan dan hanya dihalangi dengan meja didepan mereka dan satu petugas masing-masing dibelakang mereka.
Tatapan serius dan dingin dilontarkan Jay begitu menatap Irene. Sedangkan Irene hanya menunduk tanpa membalas.
"Irene-ah.. Ada apa denganmu.?" Tanya Jay lembut dan hati-hati.
Ketika mendengar suara dari Jay, seketika air mata Irene terjantuh. Dan saat itulah Jay meraih tangan Irene lalu memegangnya erat.
"Wae wae.. Jangan menangis, aku ikut sedih jika kamu menangis." Ujar Jay lembut. Isakkan tangis Irene semakin terdengar begitu ia mendapat perlakuan lembut dari Jay. Jauh berbanding terbalik saat ia berhadapan dengan Kim beberapa hari lalu.
Flashback On
"Bawa aku untuk bertemu dengan pelaku.!" ujar Kim dingin seraya menatap petugas.
"Mianhae tuan, sebenarnya waktu pertemuan antara kalian bukan saat ini." Jawab petugas gugup, pasalnya ia tau siapa sosok Kim.
"Berapa mau mu. Katakan.!" Ujar Kim mulai emosi.
"Eoh, eoh.. Aniyo tuan, baiklah. Ikuti saya." Balas petugas semakin gugup.
Akhirnya petugas itu luluh dan mulai memberikan petunjuk agar Kim mengikuti langkahnya. Lalu petugas itu juga memberi kode pada penjaga tahanan untuk mengikuti mereka dari belakang, untuk berjaga-jaga jika mereka dibutuhkan. Kasus ini benar-benar akan buming, lantaran pelakunya sendiri adalah orang dalam (Keluarga.) maka dari itu petugas polisi yang memberi arah pada Kim meminta agar penjaga tahanan untuk mengikuti mereka agar saat emosi Kim memuncak mereka sigap dalam mencegahnya.
"Silahkan masuk dan duduk disini tuan." Ujar petugas sembari menarik kursi yang berada didalam ruangan untuk Kim.
Tak berselang lama penjaga tahanan membuka lebar pintu sembari memegang lengan Irene dan menariknya perlahan memasuki ruangan.
Bukan seperti orang awam yang kebingungan saat melihat saudaranya sendiri berada digedung penjara saat ini. Kim sudah paham ketika melihat tangan Irene yang terborgol dan memakai baju tahanan.
Seketika rahang Kim mengeras dan sorot mata tajamnya tak henti menatap Irene dengan wajah yang tertunduk ketakutan. Rasa malu dan bersalah kini Irene rasakan, ia tak berani menatap Kim saat ini.
"Kenapa kau masih disini, keluarlah.!" Ujar Kim dingin saat menatap penjaga tahanan berada dibelakang Irene.
"Mianhae tuan, saya harus..."
"KU BILANG KELUARR!!" potong Kim seraya berteriak kearah penjaga tersebut.
__ADS_1