Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Habiskan Makanmu Tuan


__ADS_3

"Agh rupanya tak dikunci." Kim melangkahkan kakinya memasuki kamar Karin, ia melihat kanan kiri nampak sepi sampai pandanganya terpaku pada gundukan selimut yang menutupi tubuh full Karin.


Kim tersenyum hangat saat melihat gundukan selimut itu, lalu melangkah maju mendekati kasur. Ia duduk disisi kasur dan tanpa diduga ia mendengar suara dengkuran kecil dibalik selimut. Kim terkekeh saat mendengarnya.


"Apa kau sangat lelah Chagi.. Sampai mendengkur seperti itu." Gumam Kim sembari menatap gundukan selimut disampingnya. Perlahan namun pasti, Kim membuka selimut dengan hati-hati. Dan benar dugaannya, ada sosok wanita cantik yang sedang tertidur dengan lelapnya. Ntah dari sisi apa Kim menyukai wanita yang kini tinggal satu atap dengannya.


Awalnya Kim hanya mengiyakan permintaan Choki untuk menerima Karin sebagai sekertaris manager pabrik diperusahaannya. Namun karna penasaran seperti apa sosok wanita yang dikagumi Choki, akhirnya ia memutuskan untuk melihatnya secara langsung. Dan benar saja, sejak bertemu dan bertatapan langsung dengan Karin, hati dan pikirannya secara spontan tersentuh. Meski ia mengalihkan pikirannya pada lekuk tubuh Karin namun tetap saja mata dan pikiran Kim terus memandang betapa mengagumkan wajah Karin yang terlihat bersinar, wajah Karin memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa yang melihatnya.


Pada akhirnya Kim memutuskan untuk merekrut Karin sebagai sekertarisnya. Mesti sebenarnya tanpa sekertaris pun ia mampu menyelesaikan sendiri urusan pekerjaan dikantor.


Kini tubuh Kim sudah terbaring disebelah Karin. Ia memandangi wajah pulas kekasihnya dengan mengelus lembut pipi putih Karin dengan jari telunjuknya.


"Eeehhmm.." Karin menggeliyat seperti ulat saat ia merasa terganggu ketika Kim terus mengelus pipinya. Ketika Karin membuka matanya perlahan, ia terkejut begitu melihat Kim berada tepat didepan wajahnya.


"HAaiisshhhhh...! TUAN KIM..!!" Karin bangkit dari tidurnya dan melompat dari kasur karna terkejut. Kim yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Pasalnya ketika Karin melompat, ia mengeluarkan gaya seperti Bruce Lee.


"Ada apa denganmu Karin-shi, kenapa posemu seperti belalang hem..?" Tanya Kim disela-sela tertawanya.


"YA! Tuan, seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau berada dikamarku dan tepat dihadapanku." Oceh Karin sembari mengembalikan posenya seperti biasa. Ia memanyunkan bib*r bawahnya dan menyilangkan tangganya didada, alih-alih itu sebagai penutup rasa malu karna posenya yang seperti Bruce Lee.


Kim yang masih terkekeh karna pose Karin tadi hanya diam tak menjawab, lalu membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar Karin.


"Aku bebas masuk kemana saja, lagi pula kamar ini kan juga kamarku, semua yang ada didalam sini adalah milikku, termasuk kau Karin-shi." Jelas Kim tanpa melirik Karin.


"Kajja kemarilah, ini sudah malam. Besok kita harus bangun pagi dan pergi kekantor." Ajak Kim sembari menepuk pelan sisi kasur yang kosong, memberi kode pada Karin untuk tidur disebelahnya. Karin menuruti perintah Kim tanpa bantahan.


Kini mereka berbaring diatas kasur yang sama. Menatap langit-lagit kamar secara bersamaan, dan beberapa menit kemudian Kim mendekat dirinya memeluk dan menenggelamkan wajahnya kedalam leher Karin. Ia benar-benar merasa nyaman berada disana. Karin pun merespon dengan mengikuti gerakkan yang diinginkan Kim.


Sebenarnya Karin siap jika terjadi hal diluar batas malam ini, namun anehnya setelah beberapa menit, Kim tak melakukan pergerakan apapun. Akhirnya Karin melirik kewajah Kim yang kini sudah tertidur dalam pelukkannya.


"Aigo.. Kau tertidur rupanya tuan." Gumam Karin sembari menatap wajah Kim yang sudah tertidur. Namun sebenarnya Kim mendengar suara Karin, ia tak benar-benar tidur. Hanya saja ia memaksa memejamkan mata guna menahan napsunya agar tidak memberontak ingin dipuaskan.


Bukan Karin jika tak jahil. Karin justru mengec*p bib*r Kim berkali-kali. Bahkan ia melum*tnya dengan lembut. Namun tetap Kim tak bergeming dan tak merespon. Sampai akhirnya Karin menyerah, ia merenggangkan tubuhnya dan berbalik memunggungi Kim.

__ADS_1


Kim membuka matanya sedikit guna memastikan sutuasi saat ini. Dan benar, kini Karin sudah memunggunginya.


"Kau marah padaku Karin-shi.?" Bisik Kim ditelinga Karin sembari mengalungkan tangannya diatas perut Karin.


Karin hanya diam tak membalas pertanyaan Kim, ia memejamkan matanya sebab kesal dengan Kim yang tak meresponnya sedari tadi. Kim yang merasa diacuhkan lantas menarik lembut pinggang Karin agar masuk kedalam dekapannya.


"Chagiya.." suara lembut memanggil Karin, namun tak ada respon darinya. Kim menatap intens wajah Karin yang masih setia memejamkan mata.


"Apa kau menginginkannya hem.?" Sahut Kim menyentuh dan mengangkat lembut dagu Karin dengan satu tangannya. Karin yang tadinya terpejam secara perlahan membuka matanya dan menatap wajah Kim yang berada tak jauh dari wajahnya. Karin tersenyum dan dibalas oleh Kim dengan senyuman manis.


"Kau memancingku dengan pertanyaan itu, agar aku membuka mata dan menatapmu hem.?" Tanya Karin dengan tatapan sendu dan tatapannya perpaling kebawah yang kini menatap bib*r Kim. Ia menunjukkan ekspresi bahwa memang benar Karin menginginkannya.


"Apa masa terhalangmu sudah selesai Karin-shi.?" Kim memastikan sebelum memulai. Karin mengangguk pelan mengartikan ia sudah selesai dan menginginkan malam ini bersama Kim.


Kim menci*m kening Karin dengan penuh perasaan, memejamkan mata adalah sikap respon Karin atas sikap Kim. Setelah seperskian detik Kim melepas ci*man itu dan menatap sendu wajah Karin. Lalu dengan perlahan mengec*p bib*r Karin dan kec*pan itu berubah menjadi lum*tan kasar. Karin merespon dengan mengimbangin permainan Kim. Karna terlalu agresif sampai mereka kehabisan nafas dan melepaskan tauatan lalu menghirup oksigen dengan rakus.


Tertawa kecil terukir diwajah mereka berdua dan setelahnya mereka saling menatap satu sama lain. Karin mendekati Kim dan bangkit dari posisinya. Mendorong perlahan dada Kim untuk berbaring diatas kasur. Menatap dalam mata Kim dan tatapan itu berubah menjadi pejaman mata diiringi dengan datangnya kec*pan manis diatas bibirnya. Kim membalasnya menjadi lum*tan lembut.


Mereka menghabiskan malam panjang ini dengan saling bertukar perasaan nyaman melalui sentuhan. Menguatkan satu sama lain dengan genggaman erat, menatap sendu satu sama lain dan memberitahu dengan sorot mata yang mengatakan aku puas denganmu malam ini. Saling berpelukkan dalam dinginnya malam, tertidur didalam satu helai selimut yang sama.


......................


Karin bergegas bangkit dari kasur, menyambar pakaiannya dilantai yang sempat terlempar kesembarang arah. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan mandi dan berpakaian rumah dan melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Kim dan dirinya.


Setelah selesai dengan semua aktivitasnya ia kembali kekamarnya untuk berganti pakaiannya, ia sudah tak melihat Kim diatas kasurnya, ntah sejak kapan Kim meninggalkan kamarnya. Akhirnya Karin melangkahkan kakinya menuju kamar Kim guna memastikan Kim berada disana. Setelah masuk kedalam kamar, ternyata Kim sedang memakai dasi didepan cermin.


"Cah.. Aku bantu pakaikan tuan." Titah Karin mengambil alih dasi dikerah Kim. Senyum canggung terukir diwajah Kim, ntah kenapa ia kini menjadi sosok yang mudah canggung terlebih lagi saat berhadapan dengan Karin.


"Sudah selesai.. Sekarang saatnya dirimu sarapan tuan, aku sudah siapkan dimeja."


"Kajja sarapan bersama.." Ajak Kim


"Aku sudah sarapan lebih dulu tadi."

__ADS_1


"Wae-oh.. Kau tak menungguku lagi, bahkan makan malam pun kau tak menemani ku Karin-shi." Kim protes atas sikap Karin yang seperti menghindarinya.


"Mian soal tadi malam, aku tak pede menemanimu karna aku belum mandi, dan untuk pagi ini aku harus lebih dulu berangkat menuju kantor. Kita tak bisa bersama menuju kantor, aku tak mau karyawan lain melihat kita berdampingan sepagi ini." Jelas Karin dengan tatapan sendu seraya menatap wajah Kim yang berada diatas wajahnya. Tubuh Karin sangat pendek bila bersebelahan dengan Kim. Jadi dia harus mendengakkan wajahnya saat berbicara sembari menatap Kim.


Yang dikatakan Karin ada benarnya, terlebih lagi Karin baru satu bulan lebih bekerja sebagai sekertarisnya. Akhirnya Kim mengiiyakan dan memberi izin pada Karin untuk berangkat lebih dulu menuju kantor.


"Habiskan makanmu tuan, jika sudah selesai taruh piringnya diwastafel dan tinggalkan saja, biar aku yang mencucinya sepulang kerja nanti. Aku pamit nee." Jelas Karin melangkah mendekati Kim yang tengah melahap sarapannya dan mengecup pipi Kim sekilas lalu melangkahkan kakinya keluar apart.


"Mengapa sikapnya sangat manis, bukankah ini masih terlalu pagi untuk mendapatkan sikap semanis ini." Gumam Kim sembari menatap punggung Karin menjauh dan menghilang dari balik pintu.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Kim mematuhi perintah Karin dengan membereskan meja dan meletakkan piring kotor diwastafel. Lalu melangkah dan menyambar tas dan jasnya yang tergeletak diatas sofa lalu pergi menuju basemant apart. Kim mengendarai mobilnya dengan suasana hati yang cerah seperti cuaca pagi hari ini. Suasana pagi ini benar-benar mendukung untuk mengawali hari yang indah.


......................


"Slamat pagi tuan Kim." Sahut Karin berdiri dan diiringi tubuh yang tertunduk guna menghormati Kim yang melintas melewati meja kerjanya.


Setelah beberapa saat Karin mengetuk pintu ruangan Kim. Lalu melangkah masuk kedalam begitu Kim menjawab dan memberi izin masuk.


"Permisi tuan, ini ada beberapa berkas yang sudah selesai dicopy dan harus ditanda tangani." Titah Karin mendekati meja kerja Kim dan menyerahkan berkas ditangannya. Kim merespon dengan menerima lalu membaca sebentar guna memastikan lalu menanda tangani berkas tersebut.


"Ada lagi Karin-shi.?" Sahut Kim seraya menyerahkan kembali berkas itu pada Karin dan menatap manis kewajah Karin.


"Nee tuan, nanti setelah makan siang anda ada temu janji dengan tuan Max untuk membahas pembelian sekaligus mengecekkan mesin untuk diletakkan dipabrik yang berlokasi di Busan." Jelas Karin tanpa merespon tatapan manis yang dilontar Kim sedari tadi.


Kim berdecak kesal saat sikap manis tak direspon sang kekasih. Akhirnya Kim memberi isyarat melalu jemarinya, menyuruh Karin segera keluar dari ruangannya.


"Nee tuan, saya permisi." Tunduk Karin diiringi langkah mundur lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Kim.


"Cih.! bisa-bisanya dia melupakan ku dalam satu malam." Gerutu Kim saat setelah menatap Karin yang hilang dari balik pintu.


......................


Eh buset babang Kim emosi aja sih, baru juga ngerasa happy dipagi hari ada yang nyiapin sarapan. Hahah maklum ya guys, baru menjalin kasih, wajarin aja kalau ngerasa kaya dicuekin. Padahal mah Karin menjaga sikap profesionalnya dalam bekerja.

__ADS_1


Author lanjut besok ya guys, pantengin terus pokoknya ya guys..


Jangan lupa komen dan likenya ya👍😁


__ADS_2