
Selama diperjalanan, tak ada pembicaraan diantara mereka. Sampai akhirnya mobil Park berhenti didepan gedung mes.
"Turunlah dan istirahat. Kau pasti lelah kan Karin-shi." Tanya Park tanpa melirik dan menatap Karin.
Karin dilanda kebingungan saat ini, dia bingung bagaimana ia memulai untuk menceritakan semuanya. Karin masih terdiam dikursi penumpang, menatap kedepan sembari mengigiti kuku jarinya.
Plak..!! Suara pukulan medarat ditangan Karin.
"Aww.." Ringis Karin seraya mengusap tangannya dan melirik Park si pelaku pemukulan. "Apa-apaan kau Park-shi, sakit pabbo." Protes Karin seraya ingin membalas pukulan Park dengan cara yang sama. Namun Park berhasil menahan tangan Karin.
"Awas saja jika kau brani membalasnya, aku akan menciummu jika kau berani..!" Ancam Park dengan tatapan tajam. Namun Karin malah meledeknya dengan menjulurkan lidah.
"Weee🤪. Mana mungkin kau brani Park-shi pabbo🤪."
"Cupp.." Sebuah kecupan kilas mendarat diatas bib*r Karin. Sontak hal itu membuat Karin syok dan terdiam. Lalu ia kembali merapihkan duduknya menghadap kedepan.
"Wae-oh.. Kau benar-benar melakukannya Park-shi.?" Tanya Karin dengan nada datar.
Bukan menjawab Park hanya terdiam seraya menyenderkan punggungnya didinding kursi. Dan menghembuskan nafas kasar. Tanpa pamit, Karin langsung turun dari mobil, melangkahkan kakinya menuju gedung mes. Tak berselang lama mobil Park melewati punggung Karin, memastikan dengan feeling bila mobil Park sudah menjauh barulah Karin berbalik dan berjalan menelusuri jalanan menuju halte bus.
......................
Disisi lain, Park melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyetir dengan satu tangan dan tangan satunya memainkan bib*r bawahnya yang telah mendarat dibib*r sexy Karim tanpa izin.
"Haishhh Shib*l, kenapa bisa aku melakukannya.!! Kau benar-benar bodoh Park." Ucap Park kesal dengan memukul setir mobilnya
"Bagaimana jika dia marah dan mau bertemu denganku lagi. Cih!! Kau pria egois Park. Aku lupa jika Karin sudah memiliki kekasih." Oceh Park kesal dengan dirinya sendiri. Bisa-bisa ia terpesona dengan Karin, sampai tak bisa menahan hasratnya yang ingin menyentuh Karin, bahkan dalam hatinya terbesit ingin memiliki hatinya juga.
"Aaaaggrrhhhh..!!!" Teriak Park dengan mengacak-acak rambutnya.
......................
Langit sudah menunjukkan warna gelap. Tak terasa Karin sudah duduk terlalu lama dihalte. Dan melewati beberapa bus yang menuju apart Kim. Kini Karin melamun menatap aspal jalan tanpa menghiraukan sekeliling. Pikirannya buyar saat mengingat kejadian dimobil Park tadi.
"Kenapa kau melakukannya tanpa izin Park.?" Tanya Karin dalam diamnya. Karin yang sudah mulai bosan beralih merogoh tasnya guna mengambil ponsel didalamnya. Ia memainkan ponselnya tanpa tujuan, tak ada notif apapun didalamnya. Akhirnya Karin membuka galeri foto yang langsung menunjukkan foto-foto dirinya dan Park saat dipulau jeju.
"Dia lucu saat tertawa, matanya seakan hilang.." Karin terkekeh hanya pikirannya mengingat mome-momen menyenangkan saat bersama Park kala itu.
"Apa kau masih mau bertemu dengan ku lagi Park-shi.? Kau sudah merasakan bib*rku dan pastinya kau sudah tidak penasaran dengan diriku." Gumam Karin polos seraya menatap foto Park diponselnya.
Ting.. 📲📲
Notif pesan masuk: From: Mr. Kim💙
"Chagia.. Sedang apa dirimu saat ini.? Kenapa tidak memberiku kabar saat tiba dirumah. Aku akan pulang sebentar lagi, aku bawa cemilan untukmu. Salanghaeyo."
Karin tersenyum saat membaca pesan masuk dari Kim. Dan membalasnya dengan hati-hati. Setelah itu Karin berbalik membuka apk taxi online agar lebih cepat sampai dan tidak didului oleh Kim.
Saat masuk kedalam apart, Karin bergegas menuju kamarnya. Membersihkan diri dan aktivitas lain. Setelah selesai dengan aktivitasnya dikamar ia beranjak keluar kamar sembari membawa setumpuk pakaian kotor, lalu memasukkannya kedalam mesin cuci yang berada di Laundry Room.
__ADS_1
"Baju Kim ada yang kotor gak ya.? Biar sekalian dicuci." Gumam Karin sembari menuangkan sabun kedalam kotak kecil yang berada diluar mesin cuci.
Karin memutar tubuhnya melangkahkan kakinya menuju kamar Kim. Ia mengecek sekeliling guna mencari dimana Kim meletakkan pakaian kotornya.
"Ah itu dia.." Sahut Karin sesaat matanya mengarah kekeranjang berukuran sedang yang berada didekat pintu kamar mandi. Saat Karin ingin membawa keranjang tersebut, matanya tertuju pada meja kecil yang memiliki laci dibawahnya.
"Apa fungsi meja ini ya, ditaruh disudut kamar begitu aja. Warna dan bentuknya gak masuk gini sama suasana kamar Kim." Oceh Karin sembari melihat meja dan menyesuaikan dengan interiol kamar Kim. Namun Karin enggan untuk membuka laci tersebut dan kembali melakukan aktivitasnya.
Tak beserang lama terdengar suara tombol touch screen dari luar pintu.
Ceklek.. Suara pintu terbuka, sontak Karin mengintip dari dapur.
"Annyeon Chagia.. Kau kah itu?" Sahut Karin seraya melangkahkan kakinya mendekati pintu.
"Nee, aku pulang.." Sahut Kim
Karin tersenyum saat mendengar sekaligus menatap Kim yang sedang melepas sepatu lalu memakai sendal.
"Kemarilah, aku bantu lepaskan mantelmu." Pinta Karin seraya memarik mantel jas yang dikenakan Kim lalu melipatnya dan menggantungkan dipergelangan tangannya.
"Thanks babe.." Sahut Kim lalu mengulurkan tangannya mengambil paper bag mini yang ia letakkan dilantai saat Karin membantu melepaskan mantel jasnya.
"Ini untukmu, makan lah." Menyodorkan paper bag tersebut dan disambut oleh tangan Karin.
"Wah... Gomawo-oh." Karin mengecup pipi Kim sekilas dan melontar senyuman manis. Kim menatap sendu wajah Karin, mendekati wajahnya beralih memandang bib*r sexy Karin. Saat ingin menci*mnya Karin dengan lembut menahan bib*r Kim.
"Hufh.." Deru nafas kasar dihembuskan Kim dibawah guyuran shower.
"Kenapa kau muncul lagi.!!" Batin Kim berucap, Ia mengarahkan wajahnya menghadap keatas, membiarkan air mengguyur wajah tampannya.
Flashbak On
"IRENE.....!!" Teriak Kim dengan suara kesal.
"Halmeoni tolong aku...!!" Teriak seorang gadis kecil yang berlari kearah seorang wanita paruh baya.
Happ.. "Wae.. Ada apa irene, kenapa berlarian seperti ini." Nenek itu menangkap dan bertanya pada gadis kecil itu.
"I-itu.. Kim mengejarku, dia slalu memarahiku nek." Aduan dari seorang gadis kecil berusia 5 tahun yang memiliki wajah cantik nan imut. Apa lagi saat sedang kesal, ia akan memanyunkan bib*r mungilnya.
"Dimana kau hah. Jangan bersembunyi lagi, cepat kembalian pensilku kesayanganku." Bentak Kim sembari melangkahkan kaki keluar dari kamar dengan cepat.
"Astaga, kalian bertengkar lagi. Kim bisakah kau akur dengan Irene dalam waktu sejam.!" Sahut seorang wanita cantik yaitu ibu dari Kim.
"Irene yang seharusnya eomma salahkan, dia mengambil pensil kesayanganku tanpa izin. Dia menyebalkan, sungguh menyebalkan." Kim meninggalkan mereka diruang tamu, irene yang melihat Kim hanya pergi kekamarnya. Dan irene menangis dalam pelukkan nenek Kim. Nenek Kim menenangkan irene dengan cara mengusap kepala dan punggung gadis kecil itu. Begitu juga dengan eomma Kim yang sudah duduk disebalah irene sedari tadi.
...Skip Makan Malam Keluarga...
Malam ini keluarga Kim mengadakan acara jamuan makan malam, mereka mengundang beberapa kerabat dan keluarga terdekat untuk makan malam dirumah mereka.
__ADS_1
"Yeobo, apa semua sudah siap.?" Tanya tuan Juna pada istrinya.
"Sudah chagi.. Jangan kau pikirkan urusan kami para wanita, perdulikan saja penampilanmu malam ini." Sahut eomma Kim seraya mengec*p kilas bib*r suaminya.
"Hemm kau memang wanita paling pengertian sayang, aku beruntung memilikimu." Tuan Juna tersenyum bangga pada istrinya.
Setelah siap-siap, tuan Juna dan istrinya menuruni anak tangga dan menyambut para tamu yang telah datang. Disisi lain kamar.
"Oppa Kim, kau didalam.?" Panggil Irene sembari membuka pintu kamar Kim.
"YA.!! Bisakah kau mengetuk pintunya dulu, kau tidak memiliki sopan santun saat sembarang masuk kekamar ku." Oceh Kim dengan kesal sembari menatap sinis Irene.
Irene lemas saat Kim memarahinya sembari menggenggam pensil milik Kim dibalik tubuhnya, niat hati ingin mengembalikannya. Namun saat mendengar Kim memarahinya niat itu ia urungkan, dan memilih kembali kekamarnya.
Saat acara jamuan makan malam segera dimulai, Kim dan juga Irene dipanggil oelh maid untuk turun dan bergabung bersama kedua orang tuanya. Dan acarapun dimulai, para tamu asik berbincang disela-sela makan. Sampai akhirnya tuan Juma berdiri.
"Mohon perhatiannya sebentar.!!" Ting Ting Ting. Suara ketukkan gelas menggunakan sendok yang dilakukan oleh tuan Juna.
Semua tamu yang berada dimeja makanpun terdiam heran menatap tuan Juna. Mereka terheran dengan sikap Juna, seperti ada yang ingin disampaikan.
"Maaf menganggu kalian yang sedang berbincang, tapi aku disini selaku tuan rumah ingin mengucapkan terimakasih pada kalian yang telah datang dan menerima jamuan makan malam dirumahku."
"Aku tak mau bertele-tele." Ucap tuan Juna sembari menarik lembut lengan istrinya agar berdiri disampingnya, dan melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin mengumumkan bahwa wanita pujaan hatiku ini sekarang telah mengandung anakku yang kedua." Sontak hal itu memecahkan suasana menjadi riuh piuh gembira, semua orang bertepuk tangan dan mengucapkan slamat pada mereka.
"Haishh, menyebalkan jika harus memiliki adik lagi, irene saja sudah cukup membuatku kesal, kenapa eomma dan appa harus pinya anak lagi." Gumam Kim dengan kesal tanpa menatap sekeliling.
Tuan Juna dan sang istri menyambut gelas minuman yang dibawakan pelayan. Mereka bersulang untuk menyambut pertumbuhan sang buah hati mereka didalam sana. Semua tamu pun mengangkat gelas membalas gelas yang diangkat tuan Juna lebih dulu. Ciirrss 🥂..
Setelah meneguk minuman hanya berselang seperskian detik tiba-tiba tuan Juna dan sang istri ambruk kelantai. Tubuh mereka kejang-kejang dan mulut mereka mengeluarkan bus* putih yang cukup banyak. Sontak hal itu membuat semua tamu panik terutama nenek Kim, Irene dan juga Kim. Semua mendekati tuan Juna dan juga sang istri. Mereka melakukan pertolongan dengan membawa tuan Juna dan sang istri kerumah sakit.
Namun disayangkan nyawa mereka tak tertolong, mereka meninggal dalam perjalanan kerumah sakit. Awal mula keadaan meriah kini menjadi muram, Kim nangis histeris dalam pelukkan neneknya. Begitupun dengan Irene ia ikut menangis dalam gendongan seorang maid yang mengurus mereka sejak kecil.
Hari pemakaman pun tiba, semua keluarga berkumpul diaera pemakanan elit yang berada tak jauh dari kota Seoul. Semua keluarga tertundu dan merasakan kesedihan yang mendalam. Kim hanya terdiam slama acara pemakaman berlangsung. Perasaannya hancur ketika melihat peti kedua orang tuanya dimasukkan kedalam lubang yang sama. Begitupun nenek dan Irene, sesekali nenek menyeka air mata yang jauh, dan irene terus menangis tanpa henti. Memanggil-manggil eomma dan appa angkatnya yang sudah tiada.
...13 Tahun Kemudian...
Setelah kejadian belasan tahun lalu yang menimpah Kim dan keluarganya. Kini Kim telah berusia 20 tahun. Ia berada disalah satu kantor pusat yang terletak dikota Seoul, ia duduk dibangku kerja yang dulunya milik sang appa. Kim mengantikan posisi appanya ketika ia sudah berusia 20 tahun. Semenjak kejadian itu Kim slalu dihantui rasa takut saat meminum minuman berakohol. Namun seiring berjalannya waktu rasa itu hilang berkat bantuan wanita yang kini berdiri diambal pintu ruangan Kim.
"Annyeong CEO tampan. Boleh aku masuk.?" Sahut Irene yang kini sudah tumbuh dewasa dan cantik.
"Haish kau ini, kenapa datang kesini.? Apa tidak kuliah.?" Tanya Kim sembari menyambut pelukkan hangat dari Irene.
"YA! Aku tak mau mendengar kata-katamu itu. Mana kata manis untukku. Ayolah Kim jangan seperti CEO sungguhan ketika dihadapan kekasihmu ini." Rengek Irene menatap kesal wajah Kim yang masih merangkul pinggang Irene.
......................
Lanjut besok guys wkwkkw😁
Sabar ya guys, insya Allah ceritanya makin seru kok. Setia terus ya baca novel Author👍😊
__ADS_1