Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Aaaggrhhhh!!!!


__ADS_3

"Mau ku bantu chagia..?" Sahut Kim seraya melangkah masuk kedalam kamar Karin.


"Emm tak perlu repot-repot, aku hanya memasukkanya separuh saja." Jawab Karin santai setelah melirik Kim, dan kembali menyusun pakaiannya yang tadinya didalam koper hendak dimasukkan kembali kedalam lemari.


Tak disangka Kim melangkah cepat lalu mengambil seluruh pakaian Karin yang berada didalam koper lalu memasukkannya secara kasar kedalam lemari. Sontak hal itu membuat Karin sedikit kaget dan mematung.


"Kenapa harus separuhnya saja?? Apa kau ada niatan untuk pergi lagi.?!" Kim menatap Karin setelah membanting pintu lemari pakaian.


Karin hanya diam tanpa menatap balik wajah Kim, lalu beralih merapihkan koper dan barang lainnya. Setelah beberapa menit Karin naik keatas kasur dan merebahkan dirinya tanpa memperdulikan Kim yang sedari tadi berdiri dan setia memeperhatian aktivitasnya.


"Lepas dulu handuk dikepalamu itu, setelah itu baru naik kekasur." Sahut Kim dengan posisi tangan melingkar didadanya.


"Hoammm.. Aku mengantuk,." Ucap Karin mengalihkan pembicaraan, namun bukannya memajamkan mata ia malah meraba ponsel yang tergletak dimeja samping kasur lalu memainkannya. Karin sedang malas menjawab petanyaan Kim karna akan memicu berdebat dengan Kim. Pasalnya ia sudah mengetahui sedikit demi sedikit tentang sikap Kim yang kalau dia A ya harus A. Sama halnya dia melarang Karin untuk pergi, maka tidak akan ada penolakan ataupun perlawanan yang bisa Karin lakukan.


"YA! Nyonya Kim apa kau tak mendengarkan saat aku berbicara.?! Tanya Kim dengan meninggikan nada bicaranya.


"Aku dengar tuan." Jawab Karin santai seraya memutar tubuhnya menjadi tengkurap. Dan masih setia dengan layar ponselnya. Saat melihat Karin tak acuh padanya, Kim langsung menarik tubuh Karin dan mendudukkan tubuhnya dikursi meja rias. "Duduk dan diam disini, aku akan mengeringkan rambutmu."


Sikap Kim kali ini membuat Karin merasa nyaman. Hanya sekedar hal kecil yang ia lakukan, namun sangat berkesan untuk seorang Kim yang terpandang akan wibawanya. Siapa yang tak jatuh hati pada pria tampan nan kaya ini. Ditambah dengan perhatian serta kepeduliannya yang semakin membuatnya banyak dikagumi kaum hawa. Betapa beruntungnya Karin saat ini bisa memiliki bahkan mungkin dicintai oleh sosok Kim, si pria berkarisma nan gagah.


Betapa nikmatnya sentuhan jari jemari Kim saat mengurai rambut Karin. Ditambah hembusan angin hangat yang dikeluarkan Hair Dryer. Semakin menambah nikmat suasana dimanjakan seperti ini. Kim tersenyum saat melihat wajah Karin dari pantulan cermin. Karin terlihat sesekali memejamkan mata dan tersenyum sendiri, ntah apa yang membuatnya tersenyum.


"Clear nyonya Kim." Sahut Kim sembari mematikan Hair Dryer dan meletakkannya dimeja.


"Thanks tuan. Pelayananmu sangat memuaskan." Ucap Karin sembari menunjukkan ibu jarinya membentuk simbol Sip 👍 (tanda puas). Karin kembali merebahkan tubuhnya seraya memejamkan matanya yang terasa berat dan mengantuk karna masih merasa lelah. Begitupun dengan Kim, ia juga ikut merebahkan tubuhnya tepat disebelah Karin. Memiringkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Karin yang tengah terpejam. Sesekali ia tersenyum melihat wajah Karin, dan tak lama ikut terlelap.


......................


Beberapa bulan pun berlalu. Setelah meeting dengan perusahaan Kim. Choki dan staff nya kembali ke Indonesia. Tak ada perbincangan serius diantara mereka. Terutama Miranda dan Choki. Setelah kejadian panas dianatar kedua. Mereka tampak biasa saja saat bertemu dikantor, seakan tak terjadi apa-apa diantara keduanya. Dan terlebih lagi Miranda tak lagi berkunjung kerumah Choki diakhir weekend.

__ADS_1


Lain hal dengan Karin dan Kim. Semakin hari semakin ada saja yang membuat keduanya saling melontarkan senyum bahagia. Dan tak jarang juga mereka bersenda gurau, bercanda satu sama lain saat sedang menikmati waktu senggang dirumah. Bahkan seiring berjalannya waktu Kim mulai menunjukkan sisi kepribadiannya yang usil terhadap Karin. Dari yang mengejutkan Karin saat hendak keluar kamar. Dan sesekali Kim menoel tubuh Karin yang saat sedang berada dikantor. Namun tetap dengan mimik wajah yang dingin ketika berada dikantor.


......................


Ceklek.!!! Suara pintu terbuka. "Apa kamu gak bisa mengetuk pintunya dulu sebelum asal masuk menerobos tanpa izin." Sahut Choki dingin.


Tagk.. Suara bentak jauh diatas meja kerja Choki. Miranda meletakkan benda itu kehadapan Choki. Seketik Choki mengambil dan melihat benda yang diberikan Miranda.



Choki membulatkan matanya dan langsung menatap Miranda penuh tanya. Wajah Miranda menunjukkan raut wajah sedih dan ingin menangis, namun ia tahan.


"A-ku gak menduga ini akan terjadi Ky, tolong tanggung jawab atas anak ini. A-aku gak mau ngeliatt ayah kenapa-kenapa, aku gak mau penyakit jantung ayah kumat karna tau semua ini." Ucap Miranda dengan suara berat sembari menahan tangis. Namun bendungan air matanya tak lagi kuat menampung kesedihan dan tanpa izin akhirnya mengalir begitu saja.


Choki terdiam dan kembali menatap kosong kearah testpack yang ia pegang sedari tadi. Pikirannya seketika kacau. "Bagaimana bisa, aaghh bodohnya aku!!!" Batin Choki berucap kesal atas kejadian ini dengan ekspresi tatapan kosong namun rahangnya mengeras seakan menahan emosi.


"Tapi Mir, bisa aja kan itu bukan anak aku. Lagian aku bukan pria pertama yang pernah berhubungan dengan kamu." Ucap Choki seraya bangkit sembari menatap Miranda penuh tanya.


"Si*l*n!!! Beranii kamu tampar aku hah!!" Sentak Choki dengan pelototan mata emosi lalu mengangkat tangannya keatas dan hendak membalas perlakuan Miranda. Bukannya menghindar, Miranda malah menatap lekat kearah Choki tanpa berkedip.


"Apa!! Kamu bales hah?! Ayok!! Bales kalau itu bisa menghilangkan bayi ini.! Aku siap!!." Teriak Miranda dengan tatapan yang masih setia menatap Choki penuh emosi. Perlahan Choki menurunkan tangannya dan mengelus bekas tamp*ran Miranda tadi.


"Jangan asal bicara kamu Ky. Meskipun kamu bukan yang pertama, tapi dia tak seceroboh dirimu yang termakan napsu saat melakukannya." Sahut Miranda dingin.


"Kalau kamu gak bisa tanggung jawab, setidaknya bantu aku carikan seseorang yang bisa membuangnya." Ucap Miranda dengan getir dan hendak menglangkah pergi. Namun tangannya ditahan Choki.


"Tunggu Mir, tolong jangan buang bayi itu. Dia gak bersalah, akulah yang memang ceroboh. Aku bakal nikahin kamu secepatnya. Kita bicarain ini nanti setelah jam kantor selesai." sahut Choki pelan dan perlahan melepas pegangannya. Choki menatap punggung Miranda perlahan pergi meninggalkan ruangannya.


__ADS_1


Choki kembali duduk dikursinya dan memegang keningnya yang terasa pening saat mendapati kejadian saat ini. Ia merasa sangat bodoh sekaligus kecewa dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu pada wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Dan mau tak mau ia harus bertanggung jawab atas anak itu, ia tak tega jika harus membiarkan Miranda membuangnya. Terlebih lagi kondisi ayah Miranda yang kini sedang sakit-sakitan.


"Aaaggrhhhh!!!!" Teriak Choki frutasi sembari memukul kepala dan menjambak rambutnya.


......................


"Kalau kamu gak yakin, kita bisa mengambil langkah lain." Ucap Miranda datar tanpa menoleh kearah Choki yang tengah menyetir kemudi mobil.


Choki tak membalas ucapan Miranda. Ia masih tetap fokus pada kemudinya dan sesekali melirik kearah luar jendela. Dipikirannya terlintas wajah Karin yang tersenyum manis padanya. Tanpa sadar Choki malah mengemudikan mobilnya kerumahnya bukan kerumah Miranda sebagaimana rencana awal sepulang kantor tadi.


"Ck!! Dari sini saja aku udah bisa nebak Ky kalau kamu memang gak ada niatan untuk tanggung jawab. Udahlah, mendingan sekarang kamu pikirin dan cari orang atau dokter kenalan kamu untuk bantu aku gug*rin kandungan ini.!" Sahut Miranda sinis diakhir ucapannya.


"Cukup Mir!! Jangan kamu singgung soal gug*rin kandungan lagi. Kamu gak ngerasa apa kalau posisi kamu dibayi itu. Dia pasti sedih kalau tau ibunya mau gug*rin dia gitu aja."


"Ya terus aku harus gimana? Aku gak mungkin jalanin hari-hari ku dengan mengandung anak ini tanpa seorang bapak. Kamu sih enak gak akan nanggung malu, lah aku?? Aku harus berjalan kemanapun dengan perut yang semakin hari semakin membuncit.!"


"Kamu ini beg* atau gimana sih! Aku udah bilang kan tadi dikantor. Aku bakal tanggung jawab atas anak yang kamu kandung. Aku bawa kamu kesini karna aku harus ganti baju dulu sebelum aku kerumah kamu." Jawab Choki dengan mengalihkan pembicaraan seolah ia memang ingin mengganti baju lebih dulu. Padahal dia sendiri tak mengerti kenapa bisa dia mengemudi sampai didepan rumahnya.


"Ayok turun, kamu tunggu diruang tamu. Aku salin baju dulu, setelah itu kita kerumahmu untuk bahas pernikahan dengan ayahmu." Ajak Choki pada Miranda seraya turun dari mobil.


Miranda mengikuti Choki keluar dari mobil lalu melangkah memasuki rumah besar milik Choki yang sebentar lagi akan menjadi rumahnya juga.


"Tunggu sebentar, kalau kamu haus tinggal minta ke bibi atau kamu bisa sendiri kedapur ngambil minum disana." Ucap Choki sembari menoleh kearag Miranda dibelakangnnya dan kembali melangkah kedepan menaikki anak tangga menuju kamarnya.


Sepeninggalan Choki, Miranda duduk diam disofa dan menatap sekeliling ruang tengah yang tampak megah dan sepi. Lalu ia menundukkan wajahnya seraya menatap perut rata dan mengelusnya perlahan.


"Semoga dengan hadirnya kamu nanti hati ayahmu akan terbuka untukku. Aku mencintainya nak. Aku tak pernag berfikir ingin memilikinya dengan cara seperti ini. Namun takdir menyatukan kami dengan hadirnya kamu didalam perutku." Gumam Miranda seraya meneteskan air matanya.


...........................

__ADS_1


Oke lanjut besok guys, semoga mood Author balik membaik ya. Jangan lupa Like dan komennya guys. Slamat membaca alur crita fiktif novel aku 😊👍


__ADS_2