Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Mira Menyuruhku Menikahimu


__ADS_3

...Dua hari setelah 100 harinya meninggalnya Miranda....


Rian lari tergesah-gesah mencari keberadaan Boby didalam rumah.


"haah."


"Bob, ikut gue sekarang. Kita jemput bapak di club."


Ucap Rian dengan nafas terengah.


"Hah? Kenapa? Tumben dijemput. Bapak mabok.?"


Seakan peka apa yang dimaksud Rian saat meminta ikut bersamanya menjemput pak Choki.


Tumbuh Karin mematung ditempat saat mendengar pernyataan Rian ditambah kepekaan Boby terharap Choki.


Ya... Perlu kita ketahui, Boby dan Karin sedang bersama didapur malam ini. Kebiasaan Karin yang tiba-tiba suka lapar ditengah malam sudah menjadi rutinitasnya disetiap malam slalu datang kedapur untuk makan.


"Rin, gue tinggal ya. Abis ini langsung tidur dan jangan keluar dari kamar sampai besok pagi."


Pinta Boby pada Karin lalu pergi terburu-buru menyusul Rian yang sudah lebih dulu pergi menuju mobil.


Karin bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa Boby memintanya untuk tidak keluar-keluar kamar sampai pagi.? Ada apa sebenarnya.


Tak mau ambil pusing, Karin pun langsung membereskan piring kotornya lalu beranjak dari dapur menuju kamar dilantai 2.


Meski sebenarnya ia masih penasaran apa maksud dari perkataan Boby. Toh kak Choki pulang dengan keadaan mabuk itu sudah sering terjadi.


Bahkan dirinya pernah melihat kak Choki pulang dengan keadaan mabuk. Berjalan dengan sempoyongan sampai menghempaskan dirinya disofa, lalu tertidur disana sampai pagi.


Secara tidak langsung Karin paham jika orang sedang mabuk jangan mencoba mendekati ataupun mengajaknya berbincang. Kita tak pernah tau apa yang ada dipikiran orang yang dibawah pengaruh alkohol.


Bersyukur jika tipe orang yang mabuk hanya diam saja. Bagaimana bila tipe orang pemabuk yang kita hadapan memiliki tempramental. Itu pada akan membahayakan diri sendiri.


Mangka dari itu, saat malam dimana Karin melihat Choki pulang dengan keadaan mabuk, ia enggan mendekati Choki. Bahkan ia rela berjalan dengan cara mengendap-endap saat melewati Choki yang tengah tertidur diruang tengah.


......................


Sebelum tidur, Karin terlebih dulu mengecek keadaan Maura, dari popoknya, suhu ruangan yang harus pas agar si bayi mungil ini tak terganggu ditengah tidurnya nanti.


Dan setelah selesai mengecek keadaan Maura, barulah ia memanjakan diri sejenak dengan memoles wajahnya dengan skinnight.


Tersenyum sendiri ketika melihat wajahnya dari pantulan cermin.


"Semenjak kembali ke Indonesia, hanya sesekali aku memanjakan diri seperti ini. Jiwa kuli ku muncul saat kembali kesini."


"Berbeda saat masih diKorea, aku hanya punya kesibukkan didalam rumah."


"Mangka dari itu wajahku lebih terlihat blingg disana. Ha ha ha sudahlah.. Itu dulu Karin, jangan diingat."


Karin mengela nafas saat masih memoles wajahnya.


"Bagaimana kabarnya Kim.? Apa dia baik-baik saja.?"


"Tak mungkin kan dia stress karna aku tinggal pergi."


"Dan ku rasa dia sudah menikah sekarang, dia kan tampan dan kaya raya. Mana mungkin ada wanita yang menolaknya."


Ditengah-tengah obrolan Karin dengan pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar kamar.


Sontak hal itu membuat Karin terkejut dan penasaran. Perlahan ia menutup toples skincarenya lalu berjalan menuju pintu kamar.


Ceklek!!


"Gak ada apa-apa tuh."


Karin menoleh kesana kemari dari balik pintu yang terbuka sedikit. Namun tak menemukan hasil. Sampai akhirnya ia melangkah keluar kamar.


"Astaga."


"Hei, kenapa dengan kak Choki.?"


"Apa dia gak apa-apa.?"


Karin terkejut saat Boby, Rian dan dua body guard lainnya membopong tubuh Choki naik keatas lalu menuju kamarnya.


Penampilan Choki sangat kaca, bau alkohol dari tubuhnya sangat menusuk. Karin bisa mencium bau alkohol itu saat mereka melewatinya.


"Akan ku buatkan sesuatu untuknya. Semoga membantu."


"Kasihan sekali kamu kak sampai mengalami hal buruk seperti ini."

__ADS_1


Seru Karin sembari melangkah menuruni anak tangga.


......................


...Dikamar Choki...


Brugh!!


"Haah capek. Pak Choki berat juga ternyata."


"Huss lambe mu minta digeprek."


Sentak Boby pada salah satu body guard yang mulutnya lemes.


"Udah ayok keluar, biarin pak Choki istirahat."


Ajak Boby hendak melangkah menuju pintu kamar, tapi langkahnya yang kedua terhenti saat ia melihat Karin sudah berada diambang pintu dengan sebuah nampan ditangannya.


"Buset, ngapain dia masuk. Udah dibilang jangan keluar kamar."


"Ngeyel." seru Boby dalam dirinya.


"Gue dateng buat ngasih ini."


"Tolong suruh kak Choki makan ini. Seenggaknya kuahnya aja diminum."


Ucap Karin dengan memberi nampan berisikan sup pereda mabuk yang biasa ia buatkan saat masih diKorea. Resep supnya sendiri ia dapatkan dari Kim. Kim yang meminta belajar membuat sup pereda mabuk.


"Suruh dia sendiri yang kasih ke saya."


"Kalian keluar."


Tiba-tiba Choki bersuara dengan keadaan mata terpejam.


Sontak semua orang yang ada dikamarnya terdiam seribu bahasa.


"Mampus... Pak Choki masih sadar."


"Gimana nasip gue.." gumam salah satu body guard yang tadi menyinggung berat badan pak Choki.


"KALIAN DENGER GAK.? KELUARR!!"


Choki berteriak kepada para body guardnya. Sontak dengan serentak mereka keluar begitu mendengar teriak dari pak Choki.


Sebelum benar-benar keluar, Boby melirik Karin dengan tatapan kecewa.


"Rin... Gue kesel banget dengan lo. Sumpah ya.. Pengen banget gue seret lo keluar dari sini."


Seru Boby dalam hati dengan mata yang tak henti menatap Karin sembari melangkah keluar kamar.


Hanya bisa pasrah dengan keadaan dan status. Boby tak bisa beebuat lebih selain menurut dengan perintah majikan.


Kalian pasti paham kenapa Boby daei awal mewanti-wanti Karin untuk tetap dikamar. Banyak sekali ciri-ciri orang mabuk, salah satunya mereka tak mampu mengendalikan hasrat mereka terhadap lawan jenis.


Dan perlu kita ketahui, semabuk-mabuknya kita dalam pengaruh alkohol. Kita masih sadar apa yanh terjadi disekeliling kita disaat waktu yang bersamaan.


Seperti halnya yang Choki rasakan, ia sadar apa yang dibicara para body guardnya saat mereka membopong tubuh Choki dan meletakkannya diatas kasur besar dikamarnya.


Bahkan ia tau ketika Karin berbicara pada Boby dan meminta Boby untuk memberikan sup pereda mabuk untuknya.


Hanya saja tubuh dan matanya terasa berat untuk digerakkan. Hanya mulut dan telinga yang masih berfungsi dengan baik.


Ceklek.. Suara pintu tertutup


Tanpa rasa takut Karin melangkahkan kakinya mendekati sisi kasur yang dimana Choki tidur disana.


Ia meletakkan nampan diatas meja nakas dekat kasur, lalu menyeret salah satu kursi kecil berbentuk bulat dan langsung duduk menghadap Choki yang masih terpejam.


"Bisa bangun.?"


"Sini aku bantu kalau masih pusing."


Seru Karin dengan menyodorkan bantuan untuk membopong lengan Choki. Dan hendak mendudukkan tubunya menyender didinding kasur.


Bukannya meringankan beban Karin, justru Choki menarik Karin kedalam dekapannya.


"Aaaagh." Karin terjatuh kedalam dekapan Choki.


Bau alkohol yang masih sangat menyengat hingga menusuk ujung hidung Karin membuatnya merasa tak nyaman. Bau alkohol tersebut bukanlah alkohol biasa. Seperti alkohol yang memiliki persen (%) yang tinggi.


Hendak berontak tapi tertahan, hendak mendorong namun semakin ditekan dan terjebak didalam sana.

__ADS_1


"Kak..!! Lepas.."


"Gak."


"Bau iihh, gak suka."


Oceh Karin protes saat tubuhnya ditekan dalam pelukkan Choki.


"Kalau gak mau gimana.?"


"Nanti keburu dingin supnya."


"Ayok lepas dulu. Nanti peluk lagi. Janji."


Seru Karin mau tak mau harus melakukan trik ini agar diturutin oleh Choki. Dan benar saja, saat Karin berjanji disitulah Choki menurut.


"Emang dasar bayi. Harus dikasih empan dulu baru nurut."


Choki tersenyum seringai saat mendengar ocehan Karin. Perlahan ia membuka matanya lalu mencoba untuk duduk namun kepalanya masih begitu berat untuk diangkat.


Spontan Karin mengambil bantal yang berada dibelah Choki, lalu menaruhnya diatas bantal yang Choki menopang kepala Choki.


"Udah gini aja gak papa."


"Pelan-pelan ya menyuruput kuahnya."


"Awas keselek."


oceh Karin tak henti sembari menyodorkan sesendok kuah sup kearah mulut Choki.


Ocehan Karin membuat Choki berdecak.


"Bawel."


Sruuppp...


"Gimana? Enak?"


Choki mengangguk menjawab pertanyaan Karin yang membuat si pembuat sup tersebut tersenyum bangga.


Dengan telaten Karin terus menyuapi Choki hingga sup tersebut hampir habis.


"Udah enakkan badannya.?"


"Langsung tidur ya kak, besok aku buatkan lagi supnya."


Ucap Karin hendak membereskan sisah sup dimangkuk lalu hendak bangkit daei kursinya. Namun dengan cepat Choki menahan pergerakkan Karin dengan menarik tangan Karin.


Karin menoleh menatapa Choki dengan raut wajah bertanya-tanya.


"Apa Mira pernah bilang sesuatu padamu sebelum ia pergi."


Ucap Choki secara tiba-tiba menanyakan hal yang menyangkut dirinya dan alm Miranda.


Karin langsung menggeleng cepat. Tanpa dia sadari sikapnya sangat mudah dibaca Choki.


"Aku kenal kamu dari kecil Rin."


"Aku tau kamu lagi menutupi sesuatu dariku saat ini."


"Bisa kita bicarakan ini secara blak-blakan Rin.?"


"Mira menyuruhku menikahimu."


"Kak stop.!!"


"Jangan bahas hal yang gak mungkin terjadi. Itu hanyalah omong kosong belaka. Itu gak akan terjadi."


Oceh Karin geram saat harus mendengar ungkapan dari mulut Choki mengenai permintaan alm Mira yang terdengar konyol dan mustahil.


Tangan Karin gemetar ebat, bahkan Choki bisa merasakan getaran itu. Emosi didalam kepala Karin memuncak dengan sorot mata tajam menatap kebawah lantai.


Perlahan Choki bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Karin. Tangan yang sedari tadi tak lepas memegang erat pergelangan tangan Karin.


Perlahan terlepas lalu naik keatas menangkup satu pipi kiri Karin.


"Aku tau ini terdengar mustahil. Tapi yang dikatakan istriku mengenai status kita yang tidak memiliki ikatan darh itu benar adanya."


"Tak masalah jika kita menikah."


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2