
"Kenapa lama sekali Karin-shi.? apa barang belanjaannya terlalu banyak sampai kau kesusahan mengangkatnya."
Sontak Karin terdiam, ia teringat saat dibasemant tadi. Sebenarnya ia tak begitu kesusahan karna hampir seluruh barang diangkat oleh Park lalu dimasukkan kedalam bagasi mobil. Jadi yang seharusnya ditanya adalah Park bukan Karin.
"Aninde tuan, semua aman-aman saja. Sudah tersusun rapih dan trolinya sudah ku letakkan disamping lift seperti arahanmu."
"Gadis pintar, cah.. Makanlah hidanganmu selagi nasinya masih hangat." Kim mengelus pucuk kepala Karin seraya melontarkan senyuman manis diwajahnya.
......................
Selesai dengan aktivitas makan siang, Kim dan Karin kembali melangkah kaki mereka beriringan mengelilingi lantai mall. Mereka berjalan seperti bukan sepasang kekasih yang sedang berkencan. Mereka benar-benar berjalan beriringan tanpa berpegangan tangan. Sebenarnya Karin ingin berinissiatif duluan untuk menyambar tangan Kim. Namun rasa gengsinya mengurungkan niatnya, ia takut Kim merasa risih. Dan lain gaya Kim dan Karin sangat terbanting jauh. Dari merk baju saja sudah bisa terlihat diantara mereka. Itu sebabnya pikiran Karin terus bertanya-tanya, kenapa Kim mau menjalin hubungan kasih dengannya.
"Ada apa Karin-shi.? Sepertinya ada banyak pikiran didalam otakmu." Tanya Kim tiba-tiba saat ia melirik kilas kearah Karin.
"Oh itu, tidak ada tuan. Aku tak memikirkan apapun." Karin mengeles saat Kim secara tiba-tiba bertanya seakan ia tau apa yang sedang Karin pikirkan.
"Hem baiklah kalau begitu, oh ya.. Apa kau mau membeli tas atau baju dan semacamnya. Pilih saja mana yang kau suka, aku akan menemanimu."
Karin yang mendengarnya hanya bengong dan terdiam pasalnya gelagat Kim agak aneh, Kim terlihat kebingungan sembari memberi kode dari matanya yang menunjuk kearah toko yang menjual tas, pakaian, dan sebagainya.
"Aah, mianhae Karin-shi. Sebenarnya ini kali pertamaku berkencan dengan seorang wanita. Hemm, maksudku dengan kekasih." Sahut Kim sembari menggarut dahinya yang tak gatal. Tampak rasa gugup dipancarkan wajahnya
Sontak Karin makin terbengong saat Kim berkata jujur tentang pertama kali berkencannya. Pasalnya yang Karin tau Kim pernah memiliki kekasih namun hubungan itu kandas tanpa sebab yang Karin tau. Alih-alih mengalihkan rasa gugupnya Kim, Karin berinisiatif dengan merangkul tangan Kim dan mengajaknya melangkah kembali menelurusi mall.
"Tuan jika memang ini kali pertamamu kencan, izinkan aku untuk menjadi pengemudi dihari ini." Karin tersenyum genit seraya menatap Kim yang tersipu malu saat Karin berbisik ditelinga Kim.
"Aku akan memperkenalkanmu bagaimana cara berkencan selayaknya sepasang kekasih." Karin menarik Kim memasuki studio film, Karin memulai kencan ini dengan menonton film.
"Tuan, kau suka film berjendre apa.?" Tanya Karin ditengah-tengah ia melihat daftar film yang akan ditayangkan dibioskop ini.
"Apa saja, terserah padamu saja Karin-shi." Singkat Kim yang masih terlihat kaku.
Karin melirik sekilas kewajah Kim tanpa ekspresi saat ditanya, membuat Karin memutarkan malas bola matanya.
"Aish dia ini, tingkahnya terlihat aneh saat diajak berkencan selayaknya sepasang kekasi, berbanding terbaik saat sedang berdua dirumah." Gumam Karin yang terdengar ditelinga Kim. Dan saat Kim mendengarnya ia merasa tersingung dan langsung merangkul Karin mendekati telinganya lalu berbisik.
__ADS_1
"Jika kau bergumam lagi dan menjelekkan diriku, akan ku pastikan kau tidak bisa berjalan setelah ini Karin-shi." Bisik Kim dan lanjut mengecup kilas pipi putih Karin. Sontak hal itu membuat Karin tersenyum pepsoden karna menahan geli akibat hembusan nafas Kim dan kecupannya yang menggelikan bulu kuduk.
Akhirnya Karin sudah memutuskan untuk memilih film, lalu melangkah menuju meja pembelian tiket. Memesan dua tiket dan memilih kursi penonton. Dan tak lupa Karin juga memesan popcorn dan dua minum bersoda. Sedangkan Kim benar-benar seperti robot, terlihat kaku dan masih setia mengikuti langkah Karin kesana kemari.
"Kajja kita masuk tuan." Ajak Karin mendahulu Kim didepannya sembari membawa popcorn dan paper cup holder yang berisikan minuman yang Karin pesan. Kim hanya mengikuti dari belakang tanpa ekpresi. Ntah apa yang dirasakan Kim sehingga begitu kaku saat ini.
Setelah masuk kedalam dan mencari tempat duduk, setelah ketemu Karin langsung menjatuhkan bokong dikursi dan diiringi Kim yang mengikutinya. Selama mereka menonton hanya ada aktivitas memakan popcorn dan senyum gemas yang terukir diwajah Karin saat terjadi adegan romantis. Sedangkan Kim hanya menunjukkan ekpresi datar, ia tetap dengan jiwa CEOnya tanpa bisa menikmati suasana saat ini. Benar-benar pria kaku. Karin melirik Kim sekilas dan kembali menatap layar besar didepannya.
Sesekali Karin menyodorkan popcorn kedepan mulut Kim. Awalnya Kim mengelak saat disuapi, namun bukan Karin kalau menyerah begitu saja. Karin menangkup kedua pipi Kim dengan satu tangan, dan tangan satunya memasukkan popcorn kedalamnya. Hal itu mau tak mau ditrima Kim dengan senyum malu yang terukir diwajahnya. Ia sebenarnya gemas saat melihat Karin yang terlihat kesal saat Kim menolak suapan popcorn darinya.
Setelah film berangakhir mereka melangkah meninggalkan bioskop.
"Ada lagi yang ingin kau kunjungi Karin-shi.?" Tanya Kim yang kini menggenggam tangan Karin sembari mengayunkannya perlahan seirama dengan langkah kaki mereka. Karin yang senang melihat perubahan ekpresi pada Kim senantiasa menerima perlakuan manisnnya.
"Aninde tuan kurasa cukup, hari sudah mulai gelap. Kajja kita pulang saja, aku khawatir bahan makanan dimobil akan layu karna terlalu lama dibagasi."
Awalnya Kim menolak dan tak mempermasalahkan soal bahan pangan yang layu. Namun karna paksaan Karinlah yang meluluhkan perasaannya. Dan akhirnya menuruti permintaan Karin. Mereka melangkah menuju lift dan turun kebasemant tempat mobil Kim terparkir.
Setelah masuk kedalam mobil dan Kim melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, slama diperjalanan mereka hanya berbincang kecil dan sesekali membahas soal pekerjaan lalu berlanjut dengan candaan yang dilontarkan Karin saat memuji Kim yang berhasil ia luluhkan dan mulai berani membuang rasa kakunya saat berkencan. Kim yang merasa canggung saat dirinya dipuji hanya menunjukkan sikap canggung namun tetap tersenyum malu dan terlihat menahan rasa ingin menertawakan dirinya sendiri.
......................
Kim meletakkan belanjaannya dilantai dapur lalu diikuti dengan Karin.
"Aku akan mandi dulu." Sahut Kim berlalu meninggalkan Karin didapur. Karin hanya mengangguk saat Kim memberitahunya, lalu melanjutkan aktivitasnya didapur dengan mengeluarkan isi belanjaannya mereka dan mulai menyusun semua bahan pangan mau sabun ditempatnya masing-masing. Setelah selesai menyusun semuanya Karin melanjutkan aktivitasnya dengan memasak menu masakan untuk makan malam. Sedangkan Kim masih setia dengan urusan dirinya dikamar.
Tokk.. Tok.. Suara ketukkan pintu. "Tuan Kim, apa kau sudah selesai.?" Sahut Karin dari luar memastikan keadaan didalam kamar Kim.
"Nee, masuklah Karin-shi." Saat Kim memberi izin, barulah Karin membuka pintu lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam, saat berada didalam Karin tak melihat sosok Kim disana, hanya handuk yang tergletak diatas kasur.
"Kemana dia, bukankah tadi suaranya yang menyuruhku masuk." Gumam Karin seraya mecari keberadaan Kim.
__ADS_1
Haappp.. Kim mendekap Karin dari belakang, sontak hal itu mengejutkan Karin, namun ia membalasnya dengan senyuman dan membalas dekapan Kim.
"Aaish tuan, kau mengejutkanku.! Bisakah kau tak mengejutkanku beberapa kali dalam satu hari." Karin protes karna setiap ada kesempataan untuk mengejutkan dirinya maka Kim akan melakukannya.
Kim tersenyum senang saat Karin protes namun tak melawan dengan melepas dekapannya. Hal itu membuat Kim semakin mengeratkan dekapannya, sesekali ia mengec*p pipi dan leher putih Karin. Aroma tubuhnya sangat menenangkan pikiran. Ntah sejak kapan Kim menyukainya, intinya ia senang berada didekat Karin.
"Tu-an ayolah.. Berhenti seperti ini, aku belum mandi. Tubuhku pasti bau asam." Celoteh Karin sembari memcoba melepas dekapan Kim yang didiamkan malah semakin erat.
Kim tak merespon ucapan Karin, justru ia malah semakin larut didalam sana. Perlahan Kim melangkah dan membawa Karin berjalan mendekati sisi kasur. Dan menghempaskan tubuh keduanya diatas kasur. Kim masih setia diposisinya saat ini, kepala yang bersandar dipundak Karin dan bib*r yang sesekali mengec*p leher Karin.
"Aaaa.. Tuan kau tak mendengarku, itu makananmu sudah ku siapkan, makanlah dulu. Nanti keburu dingin."
Lagi-lagi Kim tak menjawab ucapan Karin, namun Kim perlahan lepas dekapannya dan bangkit dari tidurnya lalu duduk disisi kasur sembari menatap Karin yang kini sedang mengatur napas akibat dekapan Kim yang lumayan menguras oksigen didalam dada Karin.
Kim tersenyum saat melihat tingkah Karin yang ngos-ngosan. "Arraseo, aku akan makan terlebih dulu, setelah ini kau tak punya alasan apapun untuk menghindariku Karin-shi." Ucap Kim yang kini sudah berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh.
"Haish syukurlah dia pergi, kalau tidak ntah apa yang terjadi. Mungkin saja aku dan dia..." Karin menepis pikiran negatifnya dan langsung bangkit lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. Saat keluar, Karin melihat Kim sedang menyuap hidangan yang sudah Karin masak untuknya sambil sesekali mengecek ponsel ditangannya.
Karin kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya tanpa menegur Kim yang sedang makan. Setelah masuk kekamar, ia menjatuhkan tubuhnya keatas kasur lalu menggeliyat seperti ulat guna merenggangkan otot tubuhnya yang terasa lelah setelah melakukan aktivitas hari ini.
Beberapa menit kemudian, setelah Karin menggeliyat dan memejamkan matanya sejenak, ia bangkit dari kasurnya dan langsung bergegas menuju kamar mandi.
Disisi lain, setelah selesai melahap habis hidangan yang Karin masak untuknya, kini Kim mengangkat piring dan teman-temannya lalu membawanya kedapur dan langsung mencucinya. Selesai dengan akitivitas didapur Kim mendatangi ruang tamu guna merehatkan sejenak tubuhnya dengan bersantai disofa sembari menonton acara ditv. Tepat satu jam lamanya Kim bersantai diruang tamu, ia menoleh dan menatap pintu kamar Karin yang tertutup rapat.
"Kenapa dia lama sekali mandinya, apa dia tidak mau bersantai disini bersamaku." Gumam Kim yang tak berpaling dari sorot pandangnya yang terus menatap pintu kamar Karin.
Karna merasa penasaran akhirnya Kim bangkit dari sofa, melangkahkan kakinya menuju kamar Karin. Beberapa kali ia mengetuk pintu dan memanggil Karin dari luar namun tak ada jawaban. Terlintas rasa khawatir didalam pikiran Kim saat ini, dan mencoba terus mengetuk pintu dan memanggilnya, sampai pada akhirnya Kim mencoba menekan gagang pintu sampai terbuka.
"Agh rupanya tak dikunci." Kim melangkahkan kakinya memasuki kamar Karin, ia melihat kanan kiri nampak sepi sampai pandanganya terpaku pada gundukan selimut yang menutupi tubuh full Karin.
Kim tersenyum hangat saat melihat gundukan selimut itu, lalu melangkah maju mendekati kasur. Ia duduk disisi kasur dan tanpa diduga ia mendengar suara dengkuran kecil dibalik selimut. Kim terkekeh saat mendengarnya.
"Apa kau sangat lelah Chagi.. Sampai mendengkur seperti itu." Gumam Kim sembari menatap gundukan selimut disampingnya.
......................
__ADS_1
Hai guys... Yuk bisa yuk bantu Author biar makin semangat ngetik episode selanjutanya.
Alhamdulillah karya novel Author udah diterima dan sekarang udah dikontrak dong hehe.. Ini semua berkat kalian guys, makasih banyak ya guys.. Love you so much pokoknya 👍😁