Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Gila Karna Senyuman


__ADS_3

Dengan cepat Choki memeluk erat tubuh Karin, menenggelamkan wajahnya kepundak Karin. Suara isak tangis Karin terdengar begitu menyayat hati, Choki membiarkan Karin menangis, meluapkan emosi yang ia pendam slama ini. Rasa bersalah saat ia dengan tega menampar Karin didepan Miranda tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasan dari Karin.


"Maafin aku Rin, aku memang pria bodoh. Aku gak tau masalah yang nimpah kamu slama ini. Maafin aku." gumam Choki dengan suara berat lantaran menangis merasa bersalah atas perbuatannya kemarin.


"Kakak kenapa nangis, kakak gak salah. Aku yang salah disini kak, udah kakak jangan nangis ya. Karin minta maaf udah buat kakak marah kemarin." ucap Karin cepat seraya melepas pelukkan Choki lalu menghapus air mata di kedua pipi Choki.


Dengan lembut Karin menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Choki. Mencoba tersenyum meski perasaannya masih sesak ketika teringat kejadian yang menimpah dirinya dan calon anaknya.


......................


Cuaca hari ini tak cukup terik seperti kemarin-kemarin. Matahari memang muncul tapi langit cenderung berawan, kadang redup kadang terik. Begitulah kira-kira perasaan seseorang dikala mereka menjalani kehidupan.


Pug.. Pug.. Pug..!! Karin menepuk-nepuk kedua tangannya ketika ia selesai mengisi keranjang yang terisi buah naga hasil dari panennya.


Dengan sekuat tenaga ia mengangkat mengangkat keranjang itu lalu meletakkannya diatas (Angkong) yang biasa digunakan para kuli bangunan untuk mengangkut/mendorong bahan bangunan seperti semen, pasir dan lain-lain.


Setelah berhasil meletakkan keranjang diatas angkong, dengan hati-hati Karin mendorong angkong tersebut kependopo untuk ditimbang, namun naas roda depan angkong Karin menambrak batu sehingga membuat angkong Karin hilang kendala.


"Eee ee eeeh.." ucap Karin panik saat angkongnya oleng namun berhasil terselamatkan karna bantuan seseorang yang menahannya.


"Eh.. Alhamdulillah, makasih mas." ucap Karin lega pada Vero.


"Lain kali hati-hati."


Karin mencoba tersenyum meski rasa tak enak hati melandanya, pasalnya kalau sampai jatuh, otomatis buah hasil panennya akan rusak dan membuat nilai jual turun.


"I-iya mas, maaf ya. Gak tau kalau ada baru didepan."


"Sini saya bantu, kamu jalan aja." titah Vero hendak mengambil alih angkong, namun Karin menahan tangan Vero. Karin yang tak sadar kalau Vero menatap wajahnya ketika ia memegang tangan Vero. Sampai akhirnya tatapan mereka berdua saling bertemu, sekitar 5 detik mereka saling menatap sampai akhirnya Vero menyerah dan memalingkan wajahnya.


"Gak usah mas, gak enak sama yang lain. Masa saya jalan santai sedangkan yang punya kebun dorong gerobak." ujar Karin cengengesan membuyarkan suasana.


"Gak ngaruh kali, gak ada salahnya juga ngebantuin petani sendiri." jawab Vero datar dan langsung merampas angkong lalu mendorongnya.


"Lah mas jangan.. Aku gak enak dengan yang lain, beneran deh." ucap Karin buru-buru dengan menahan tangan Vero lagi.


"Bawel.!! Udah ikut aja."


Akhirnya Karin mengikuti perintah Vero karna kaget saat mendengar nada bicara Vero yang sinis.


Beberapa langkah mereka melangkah, tak ada obrolan dari keduanya. Karin yang sekilas melirik Vero sembari tersenyum tipis lalu menunduk, ntah apa yang membuat Karin senyum. Mungkin karna sikap kemanusiaan yang ada pada diri Vero membuat Karin tersentuh.


"Jangan senyum-senyum sendiri. Dikira gila baru tau ntar." ucap Vero yang sadar Karin sedari tadi tersenyum malu.


"Emang ada larangan buat orang senyum.?" ucap Karin yang akhirnya tersenyum lepas.

__ADS_1


"Gak ada, cuman takut dikira gila aja kalau senyum-senyum sendiri."


"Hahaha.. Ya gak gitu juga kali konsepnya, masa orang bisa gila cuman karna senyum-senyum sendiri." tawa Karin sembari menatap wajah Vero yang terlihat menahan tawa.


"Iya sih, tapi ada juga yang gila karna ngeliat orang senyum."


"Hah? Gimana.? Tanya Karin penasaran.


"Iya. Dia tergila-gila karna ngeliat seseorang senyum. Sampai akhirnya dia senyum-senyum sendiri dibuatnya." ucap Vero santai dengan senyum diwajahnya.


Karin yang ngelag karna gak mudeng hanya bisa ternganga bengong sembari mencerna dengan baik ucapan Vero.


"Gimana sih.? Gak mudeng aku, coba jelasin pelan-pelan mas. Mungkin sekali lagi aku bakal ngerti."


"Gak ada penjelasan kedua kali. Pikir aja sendiri." jawab Vero dengan senyum menang diwajahnya sembari mengencangkan laju angkong mendahului Karin. Karin yang masih bingung tak lagi berkutik dengan pertanyaan, dengan cepat ia ikut melangkah lebar mengikuti Vero yang sudah lebih dulu didepannya.


Beberapa saat kemudian, terlihat pemandangan para petani yang tengah sibuk mensortir buah naga dipendopo, termasuk Karin yang ikut membantu mensortir buah naga dari ukuran hingga fisik buah naga yang layak jual dan tak layak jual. Meski sebenarnya tugas para petani sudah diberikan sesuai jadwal, namun jika ada yang ingin membantu maka tak ada larangan disana. Kecuali ketika tengah sibuk, ada petani yang santai-santai dalam bekerja. Maka tak segan-segan mandor menegurnya dengan nada tinggi.


Tengah asik dengan akrivitas mensortir buah naga, Karin tersadar ada seseorang yang menepuk pelan pundaknya dari belakang.


"Mba Karina. Mas Vero manggil mba kedalem." ucap rahmat pelan pada Karin. (salah satu petani kebun buah naga.)


"Oh iya mas, makasih." jawab Karin lembut dan bergegas berdiri dan langsung melangkah menuju ruangan Vero yang berada satu atap dengan tempat pensortir buah naga.


Tog.. Tog.. Tog.. Karin mengetuk pelan pintu ruangan Vero yang tak tertutup rapat lalu mendorong pelan pintu itu. Saat hendak melangkah masuk, dirinya seketika terdiam sesaat ketika ia melihat Choki ada didalam sana yang tengah duduk berhadapan dengan Vero yang hanya dibatasi dengan meja kayu.


"Kak Choki. Kok disini.?"


"Kenapa.? Aku juga dulu kerja disini. Gak boleh kalau aku kesini.?" tanya Choki dingin pada Karin yang perlahan melangkah mendekat.


"Duduk Rin." potong Vero mempersilahkan Karin duduk dikursi yang berada disebelah Choki.


"Oh iya, makasih mas." jawab Karin ramah dan tersenyum manis pada Vero.


"Dih, senyum apa itu." gumam batin Choki saat melihat senyum Karin untun Vero.


"Ver jangan lama-lama. Keburu macet." tuntas Choki menatap Vero.


"Oke oke, slow Kii. Rin jadi gini." belum sempat Vero menyelesaikan kalimatnya dengan manatap Karin. Karin langsung memotong kalimat Vero dengan membalas tatapan Vero lalu beralih menatap Choki disebelahnya.


"Aku gak bisa. Kak, kan aku udah bilang tadi lagi dirumah. Aku gak bisa ikut kakak kekota." ucap Karin dengan tekanan kalimat tegas.


"Kenapa.? Kamu gak kasih aku alesan yang logis kenapa kamu gak mau ikut aku kekota." Tanya Choki tak kalah tegas.


"Haiis, udah lah kak. Kakak bisa cari orang lain untuk jalan keluarnya. Gak harus aku." Karin mulai jengah saat harus mulai berdebat dengan Choki.

__ADS_1


Vero yang tak mengerti akar permasalahan mereka, hanya bisa mencoba menjadi penengah diantara kedua saudara yang sedarah ini. Vero yang mulai paham dengan melihat rahang Choki yang mengeras seakan menahan emosi, ia pun langsung membuka suara untuk mencairkan suasana.


"Rin, gak ada salahnya kok kamu ikut kekota, kerja dengan kakakmu disana bisa jadi batu loncatan kamu untuk kedepannya. Gak ada salahnya untuk ambil kesempatan ini Rin."


"Hah? Gimana?" Karin kaget saat mendengar penjelasan dari Vero sekaligus mendengar saran darinya, sampai tak sadar kalau Vero menjelaskannya dengan nada lembut, nada biacaranya itu tak seperti dirinya yang terkenal dingin dan hemat dalam bicara.


"Astaga Chokiiiii, bisa-bisa dia bohong. Tapi kalau dia jujur, bisa berabe urusan. Yakali dia cerita ke Vero kalau t3t3 gw bisa ngeluarin ASI tanpa h4midun dulu. Mana status gw jendes. Bisa jadi jadi bulan-bulan sedesa gw kalau dia jujur." oceh Karin dalam hati sembari menggigit ujung kuku ibu jarinya.


Plak!!


"Kebiasaan kalau mikir pasti gigit jari. Jorok!" sentak Choki sembari memukul tangan Karin.


"Issh sakit tau.! Udah, pokoknya aku gak mau ikut. Mau kakak minta tolong mas Vero pecat aku dari sini, aku tetep gak ikut. Masih banyak kerjaan diluaran sana yang mau nerima aku."


"Oke! Tapi jangan salahin aku kalau ibu tau semuanya." Ancam Choki dengan mata yang melotot dan lagi rahang yang mengeras menahan kesal.


"Apaan sih. Kenapa harus bawa-bawa ibu. Gak usah kaya anak kecil deh, apa-apa ngadu apa-apa ngadu. Inget umur, inget udah punya anak. Masih aja egois.!"


"Itu jalan satu-satu kalau kamu masih kekeh gak mau ikut. Jangan salahin aku kalau kamu diomelin abis-abisan sama ibu."


"Ini nih yang bikin kesel. Badan doang gede, tapi otak kaya siput. Lelet! Kalau ibu tau semuanya bukan cuman aku yang diomelin tapi kamu juga.!!"


Kepala yang terasa tersentil pusing karna melihat kakak beradik tak sedarah ini saling beradu mulut membuat Vero yang tadi mencoba santai, akhirnya ikut meledak karna ulah kedua orang dihadapannya ini.


Bragg!! Suara gebrakan meja yang membuat Choki dan Karin terdiam seribu bahasa.


"Woi.!! Bisa diem gak! Jangan ribut disini. Kalau mau ribut sana keluar.!!"


"Elu sih." gumam Karin pelan pada Choki.


"Sopan kamu ya nyebut elu-elu."


"Ya lagian nyari gara-gara. Maksa-maksa juga." ucap Karin tertunduk merasa bersalah.


"Dah sana. Pada pulang gih, kepala gua nyut-nyutan liat lorang. Ditengahin malah bikin naik darah. Kamu Rin, keputusan ada dikamu, dateng enggaknya kamu besok kesini saya terima. Dan elu Ki, bener kata Karin, jangan kaya bocah yang apa-apa harus ngambil jalan pintas dengan cara ngadu-ngadu. Kasian ibu udah renta dimakan usia, udah seharusnya ibu ngeliat kalian akur, kalian udah sama-sama dewasa dan udah sama-sama punya pengalaman. Jadi kalau mau ambil keputusan jangan kaya gini."


Mendengar penjelasan Vero membuat pikiran Choki kembali terbuka saat ia menyinggung soal ibu yang kini tak lagi muda. Dan Karin hanya terdiam dengan anggukkan kecil membalas saran dari Vero.


Sampai akhirnya berdebatan mereka betiga berakhir dengan satu sama lain peegi dari ruangan. Lebih tepatnya Choki dan Karin dipersilahkan pulang kerumah untuk kembali menyelesaikan permasalahan mereka.


Choki mengendari mobil menuju kebun, sedangkan Karin membawa sepeda motor saat berangkat kekebun. Namun saat perjalanan pulang kerumah, Karin ikut bersama Choki didalam satu mobil. Lalu sepeda motor Karin dibawa body guard Choki.


"Nasip-nasip, kirain mah bakal satu mobil dengan neng Karin, eh taunya malah sama si jangkrik." ucap Boby sembari memukul pelan motor jangkrik yang ia bawa.


......................

__ADS_1


......................


Sedih ya Bob, niat pengen lirik-lirik dari spion dalem, eh malah natap kaca mobil gelep dari luar. Wkwkwkkw sabar ya bob.


__ADS_2