Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Maaf Kim


__ADS_3

Tak.. Tak.. Tak.. Suara pisau bertemu dengan talenan. Kini Karin tengah sibuk berpacu dengan alat masak didapur, sampai ia tak mendengar suara bel pintu yang sedari tadi berbunyi. Sampai pada akhirnya pintu apart digedor cukup keras dan barulah Karin berhenti dengan aktivitasnya lalu melangkah cepat menuju pintu.


"Nee.." teriak Karin dari dalam.


Ceklek!!! Pintu terbuka dan langsung terlihat seorang pria yang membawa buket bunga mawar merah nan cantik.


"Annyeong nyonya, mianhae-oh aku harus menggedor pintu, karna dari tadi aku pencet bel, anda tidak kunjung keluar." jelas kurir pada Karin.


"Ommo, jinjjah? Maaf tuan, saya sedang didapur tadi." jawab Karin seraya menyambut buket bunga yang diberikan kurir padanya.


"Nee, tak apa nyonya. Tolong tanda tangan disini." titah kurir memberi pulpen. Dengan sopan Karin menyambut dan menandatangin kertas yang disodorkan padanya.


"Baik, gomawo-yo nyonya. Semoga harimu menyenangkan." ujar kurir seraya pamit dan berlalu pergi saat Karin membalas salam sang kurir.


Dirinya yang masih bingung daari siapa buket bunga besar ini, dan salahnya ia tak sempat membaca pengirim yang tertera dikertas yang disodorkan kurir tadi.


Berlalu Karin masuk kembali kedalam dan hendak meletakkan buket bunga disofa, namun langkahnya terhenti tepat disebelah telvon rumah yang baru saja berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Tanpa ragu Karin mengangkat panggilan tersebut dengan mata yang masih memandang buket bunga ditangannya.


"Yeoboseyo.." ucap Karin lembut.


"Hi babe it's me, Kim." sahut Kim dari balik telvon. "Apa kirimanku sudah sampai.?" sambung Kim lembut.


Seketika Karin melirik buket bunga dan kembali fokus pada sambungan telvonnya. "Nee, apa ini untukku.?" titah Karin menjatuhkan bok0ngnya disofa.


"Of course babe, lantas untuk siapa lagi kalau bukan untukmu.?" ujar Kim dengan senyum malu.


"Thanks Kim, aku menyukainya. Omong-omong kenapa kamu menelvon disini.?" tanya Karin


"Nomor tidak aktif chagia, jadi aku langsung menelvon kenomor telvon rumah."


"Jinjjah.? Aku tak tau kalau nomorku tak aktif, nanti aku akan cek ponselku." ujar Karin.


"It's oke babe. Mianhae-oh, aku seharusnya yang memberi buket itu langsung, tapi pertemuan klien ku dihari ini mendadak sekali. Aaggh aku kesal." ucap Kim menyesal.


"Aigo.. Apa yang kamu ucap oppa? Tak baik bicara seperti itu. Bersyukurlah untuk kesibukkan mu hari ini. Aku yang harusnya meminta maaf, kamu sampai repot-repot mengirim buket ini untukku. Dan terima kasih, aku benar-benar menyukainya. Ia cantik." ucap Karin bahagia, sampai tak tersadar air matanya menetes tanpa diminta.


"Aah baguslah jika kamu menyukainya. Dan perlu kamu tau chagia, kecantikkanmu tak ada yang bisa menandinginya. Dimataku hanya kamu yang cantik. Love you babe." bisik Kim diakhir kalimatnya.


"Haha nee, kembalilah bekerja oppa. Aku tak mau mengganggumu terlalu lama. Semangat untuk hari ini." ucap Karin terkekeh ketika mendengar bisikkan Kim dari balik telvon.


"Wait wait!! Kamu belum menjawabnya." ucap Kim cepat. Dan itu membuat bola mata Karin berputar malas.


"I love you too Kim." bisik Karin sekaligus mengakhiri panggilan mereka.


......................


"Aish!! Kamu benar-benar membuatku gila Chagia... I miss you, aku tak sabar untuk nanti malam." gumam Kim salah tingkah, dan tanpa sadar tingkahnya diperhatikan Soya yang sedari tadi sudah berdiri didepannya.


"Kamcagia!! Kau mengagetkanku Soya-shi." oceh Kim terkejut.


"Ouh, mianhae pak Kim, tapi saya memang sudah berdiri disini sedari tadi, sebelum pak Kim berbicara dari balik ponsel." jawab Soya seraya membungkuk.


"Oh ya?? Kalau gitu aku minta maaf karna tak menghiruakanmu. Ada apa.?" ujar Kim langsung to the point.

__ADS_1


"Klien sudah menunggu diruang meeting pak. Mari, kita kesana bersama. Berkas kontrak sudah ada disaya." ujar Soya sopan. Dan ketika mendengar ucapan Soya tanpa basa basi Kim langsung berdiri dan melangkah lebar keluar dari ruangannya menuju ruang meeting diiringi Soya dibelakangnya.


......................


"Kau masih punya waktu untuk mundur Karin-ah. Jika kau ragu maka urungkan niatmu." ucap seseorang dari balik telvon.


"hiks.. Hiks, aku bingung dengan perasaanku. Aku tak tega untuk meninggalkannya, tapi aku takut untuk melangkah maju. Aku sudah banyak berbuat dosa, aku takut usia ku tak lama lagi." ujar Karin dengan diiringi suara tangis. Tangannya meremas tangkai bunga yang masih setia ia pegang saat ini.


"Semua keputusan ada ditanganmu. Aku tak bisa berbuat apapun ketika kamu hendak berhenti. Dan jangan ragu jika kamu membutuhkanku. Hubungi aku dan aku akan datang untuk membantumu." ujar seseorang tersebut sekaligus memutus sambungan telvon mereka.


Suara lirih tangis dan air mata yang mengalir, rasa sesak kian mendera didada Karin ketika dihadapkan pilihan yang mengharuskannya memilih satu diantaranya.



Buket bunga yang kini menjadi saksi bisu tangis kepedihan yang ia rasakan saat ini dan Karin harus berfikir sebelum bertindak.


......................


Andai disetiap insan yang bernafas tidak dihadapkan pada sebuah pilihan, mungkin semua kehidupan akan berjalan sesuai keinginan. Dan sekalipun harus memilih, kenapa keduanya harus berakhir dengan kekecewaan.


Jika tempat ibadah kita diberi nyawa. Siapa yang akan menjamin bahwa mereka akan mengutarakan cinta dari hati ke hati. Keputusan ini lebih sulit dari sekedar aku mencintaimu. Cinta kita terlihat tulus bagi siapapun yang melihatnya, namun cinta yang berbeda karna agama hanya memiliki dua pilihan yang harus kita pilih.


Memilih pasanganmu, atau justru Tuhanmu. Sayang, tetap berpeluk eratlah pada agamamu. Dan tetaplah taat pada bacaan alkitabmu yang membuatmu kuat pada keimananmu. Karna salah satu caraku mencintaimu ialah dengan tetap membiarkanmu memeluk erat serta mencintai agamamu.


Ingatlah Kim, butir rosariomu tak akan pernah bisa menyatu dengan butir tasbih milikku. Siapapun yang melihatnya akan terpukul saat aku membaca kitab suciku, dan kau justru membaca alkitabmu. Dan saat aku memegang erat tasbihku, kau justru memegang erat rosariomu.


Kim, maafkan aku untuk semua kekacauan ini. Maaf telah menipumu atas kepergianku, hanya dengan cara ini aku bisa pergi dari sisimu. Sebab aku tau betapa keras dan egonya dirimu yang tak akan pernah melepas kepergianku jika aku berucap langsung dihadapanmu. Jangan cari aku Kim, mari kita putus benang yang kusut ini, dan perbaiki semuanya dengan memulai dengan tali benang yang baru.


......................


Dengan tangan yang bergetar hebat serta rahang yang mengeras saat Kim membaca habis selembar kertas yang tertulis tangan Karin, yang ia tinggalkan didalam lemari pakaian yang telah kosong.


Amarah yang memuncak tak bisa memudar dari mimik wajah Kim yang berubah warna menjadi merah. Pancaran mata yang membendung air serta amarah bercampur menjadi satu. Dan tanpa sadar air mata yang terbendung mengalir panas melewati pipinya.


"AAAGGRRHHHHHH...!! KARIN-AHH!!!" Teriak Kim emosi.


Flashback On.


"Chagia.. Aku pulang.." seru Kim dari arah pintu masuk apart.


"Nee jinjjah.? Kajja oppa." titah Karin berlari kecil menghampiri Kim lalu menyambutnya dengan pelukkan hangat.


"Hai chagia, kamu terlihat cantik malam ini." puji Kim saat pelukkan mereka merenggang.


"Gomawo-yo. Bersihkan dirimu, aku mau ambil wine dulu." jawab Karin sembari menyambar tas kerja Kim, namun pinggang Karin ditarik karna Kim ingin mencium bibir Karin yang berwarna nude yang terlihat begitu sexy.


"Emmhhh.." dengus Karin.


"Oppa.., lipstiknya hilang kalau kamu melum4tnya kasar begitu." rengek Karin saat berhasil mendorong dada Kim.


Kim terkekeh saat melihat kekasihnya protes. "Mianhae-oh, bentuknya membuatku tak tahan chagia."


"Haishh alasan.. Cepat bersihkan dirimu, aku sudah membuat steak dahing untukmu." ucap Karin tersenyum pada Kim.

__ADS_1


"Wahhh.. Apa ini steak sapi.?" tanya Kim yang langsung menghampiri meja makan dan hendak duduk.


"Wait, wait, wait!! Jangan menyentuhnya sebelum kamu cuci tangan." larang Karin dengan sorot mata tajam.


"Come on chagia, satu iris saja.. Setelah itu aku mandi." mohon Kim pada Karin namun tak ada jawaban dari mulut Karin melainkan dari sorot mata yang tajam, sampai akhirnya Kim menyerah.


"Okey okey.. Aku mandi, aishh punya wanita bawel sepertimu aku harus banyak mengalah." titah Kim bangkit dari duduk dan mendahului Karin.


"Maaf sayang, bukan maksudku melarangmu mencicipinya. Tapi, izinkan aku lebih lama mengobrol denganmu." ucap Karin dalam hati seraya tertunduk sedih sembari mengontrol tangisnya agar tak menetes.


Tak menunggu waktu lama, Kim selesai dengan aktivitas bersih-bersihnya lalu melangkah keluar dari dalam kamar.


"Sudah selesai.? Kemarilah.." titah Karin menyambut Kim dengan membentangkan kedua tangannya.


"wae wae wae.. Ada apa chagia? Tak seperti biasanya kamu begini.?" tanya Kim heran.


"Mwo?? Apa tidak boleh aku bermanja-manja denganmu Kim.? Yasudah kalau begitu, aku tak lagi meminta dipeluk olehmu." oceh Karin cemberut.


"Aigoo.. Jangan marah chagia, kemarilah.. Kamu boleh memelukku sesukamu, kapanpun dan dimanapun. Hanya saja aku sedikit merasa aneh dengan sikap manjamu akhir-akhir ini." ujar Kim seraya memeluk Karin.


"Tapi sudahlah tak usah dipikirkan. Itu hanya pikiran omong kosong saja. Yang terpenting kamu tetap berada disamping seperti sekarang. Tak perduli apapun perubahan sikap yang akan kamu tunjukkan secara segala ataupun tidak. Aku benar-benar jatuh cinta padamu chagia." sambung Kim seraya melepas pelukkannya lalu memandang dalam wajah Karin dari dekat.


"Kamu membuatku tersentuh Oppa. Ayo kita makan, cacingku sudah mengamuk didalam." ucap Karin dengan tangan yang mengelus perut ratanya.


......................


"Kenapa menatapku begitu.? Ada yang ingin kamu katakan.?" tanya Kim disela-sela suapannya.


"Anii. Justru aku yang ingin berkata begitu. Kamu terlihat gugup Oppa.? Apa ada sesuatu yang membuatmu gelisah?"


Deg!! "Matilah aku, dia mengetahuinya." ucap Kim dalam hati. Pasalnya memang ada kegelisahan dalam dirinya sejak dalam perjalanan pulang. Ia gugup, takut akan ucapannya yang salah saat mengungkapkan isi hatinya lalu hendak melamar pada Karin.


"Hoamm, aku tak gugup chagia, perasaanmu saja." jawab Kim sambil menguapk ditengah-tengah ucapannya.


"Ya ampun, apa udah bereaksi.? Cepet banget.?" ujar Karin dalam hati saat meliha Kim terus menguap seperti orang ngantuk berat.


"Haishh kenapa kepalaku berat begini. Chagia?? Wae wae wae.. Kenapa pandanganku buram begini." ucap Kim panik saat melihat Karin yang ada didepannya terlihat bergoyang-goyang seperti dedauan yang tertiup angin.


"Chagia, kepalaku berat sekali." titah Kim meraih tangan Karin.


"Kajja kembalilah kekamar. Kemarilah, kamu sepertinya lelah oppa."


"Ani-oh. Aku baik-baik saja. Aki benar-benar tak pernah merasa seperti ini sebelumnya." jawab Kim seraya melangkah lunglai dengan tangannya yang dipapah Karin. Sampai pada akhirnya tubuhnya jatuh kekasur dan tak sadarkan diri.


Dengan raut wajah sedih, Karin membenarkan posisi tidur Kim lalu menyelimutinya. Lalu menyalakan AC agar membuatnya lebih nyaman saat tertidur.


"Maaf Kim, aku harus melakukan cara ini agar bisa pergi darimu. Aku tak mau kita terlalu jatuh kedalam jurang dosa. Jaga dirimu sayang. Aku menyayangimu." ujar Karin dengan tangan yang mengeluh pipi Kim lalu mencium dalam kening Kim yang sudah tertidur pulas. Sebelumnya Karin tak menyangka jika efek obat tidur yang dibelinya diapotik sangat kuat dan beraksi sangat cepat.


......................


......................


Guys, jan lupa di Like ya. Lopyu efribadeh ðŸĪŠðŸ˜˜ðŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2