
"Annyeong CEO tampan. Boleh aku masuk.?" Sahut Irene yang kini sudah tumbuh dewasa dan cantik.
"Haish kau ini, kenapa datang kesini.? Apa tidak kuliah.?" Tanya Kim sembari menyambut pelukkan hangat dari Irene.
"YA! Aku tak mau mendengar kata-katamu itu. Mana kata manis untukku. Ayolah Kim jangan seperti CEO sungguhan saat dihadapan kekasihmu ini." Rengek Irene menatap kesal wajah Kim yang masih merangkul pinggang Irene.
Kim membulat matanya lalu melepas tangannya dan kembali duduk dikursi kerjanya. "Apa maksudmu.? Kekasih.? Jangan bergurau ditengah hari seperti itu Irene." Ketus Kim dengan tatapan jengah.
"Bukankah kita sekarang sepasang kekasih sekarang.?" Tanya Irene dengan nada menggoda, seraya mendangakkan dagu Kim dengan jari telunjuknya.
"Jaga batasanmu Irene, ingatlah kalau kau itu adikku. Dan jangan lakukan hal konyol disini." Sahut Kim seraya melirik kearah pintu ruangan.
"Haish.. Menyebalkan sekali dengan statusku itu. Ayolah Kim, kau dan aku hanya manusia biasa yang tak luput dari napsu. Lagi pula kita tak memiliki ikatan darah yang sama." Irene berlalu menjauh dan menjatuhkan bokongnya disofa.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, nenek pasti mencarimu. Jangan buat dia cemas dan sakit karna kelakuan yang semakin hari semakin membuat seisi rumah pusing." Jawab Kim dingin.
"Aku tak ingin pulang, jangan bersikap dingin padaku Kim. Apa kau melupakan malam itu denganku.?" Irene menggoda Kim dengan kekehan kecil dilontarkannya.
Kim tak menanggapinya ucapan Irene yang mengingatkannya kembali dikala malam yang memabukkan itu. Sampai melupakan kewarasan dan pada akhirnya Kim melakukan hal diluar batas antara kakak dan adik. Namun ia tak mau menyalahkan Irene sepenuhnya, Kim juga menikmatinya kejadian itu. Namun ia masih sadar dan masih berhati-hati saat melakukannya.
......................
Saat malam tiba, dikediaman tuan Juna.
Kim sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ia bawa dari kantor untuk dipelajari tentang perusahaan yang akan ia pimpin.
"Sejak kapan kau berdiri disana..?"
"Aigo.. Kau tersadar rupanya Chagi..!!" Goda Irene yang berdiri didepan pintu ruangan kerja yang berada dikediaman tuan Juna.
Irene berjalan perlahan mendekati Kim. Merangkul Kim dari belakang dan menjatuhkan dagunya dipundak Kim.
"Kau tak merindukan ku hem.?" Bisik Irene suara sexy dan hembusan nafas yang menggebu seraya menggoda Kim dengan menekan kepala kepala Kim dengan dahinya.
"Jaga bicara dan sikap Irene, aku tak mau nenek melihat kita seperti ini." Kim menjawab dengan nada datar.
"Nenek tak akan tau Chagia.. Nenek pastinya sudah tidur, ayolah.. Aku merindukan lum*tanmu Kim." Tanpa pikir panjang dan tanpa persetujuan Kim. Irene mengubah posisinya kehadapan Kim lalu duduk diatas pangkuan Kim. Menangkup kedua wajah Kim. Kemudian meci*m rakus bib*r seraya mengeluarkan suara manja khas wanita saat menikm*ti cumb*an saat berc*nta.
"Eemmghhh" Suara kenikmatan Irene. Awalnya Kim tak merespon, namun seiring berjalannya lum*tan itu akhirnya meluluhkan pertahanan Kim. Ia membalas sesuai rinte permainan lidah Irene. Bahkan Kim juga membalas denga suara lirihan sesaat Irene mengig*t bib*r bawahnya. Tak hanya disitu, saat ini tangan Kim juga sudah mulai berjalan kesemua tempat untuk mendominasi permaian mereka. Merem*s kuat bok*ng sekal Irene, sesekali memukulnya karna gemas.
Mereka melupakan status mereka yang kini sudah menjadi kakak dan adik. Hawa nafsu terus menyelimuti mereka, tak tahan dengan ritme permainan Irene, Kim mengangkat tubuh Irene keatas meja kerjanya, ia berdiri dan menatap Irene dengan tatapan penuh nafsu diwajahnya. Tangannya membuka piyama yang dikenakan Irene, saat terbuka tatapannya berubah menjadi tatapan nakal saat melihat bentuk buah kembar yang begitu menggoda gairahnya. Tangan Kim merem*s salah satu buah itu. Lalu Irene membalas dengan menyentuh lembut dad* kekar Kim. Beralih mengalungi leher Kim dan ingin kembali menci*m Kim. Saat wajah Irene mendekat, pandangan Kim teralihkan pada sosom tumbuh gemuk diarah pintu.
"Hal-halmeoni..!!" Sontak Kim terjut dan mendorong Irene dengan kuat hingga tubuhnya terpental kebelakang.
"Waa.. Waaa.. aaahh..!" Guubbrakkk!!! Suara tubuh Irene terjatuh dari meja kelantai saat Kim mendorong tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti. Lanjutkanlah jika kalian sudah siap ku hanyutkan disungai Han." Ucapan Halmeoni dingin lalu berbalik perlahan dan melangkah pergi dengan papahan tongkat ditangannya.
"Haishh menganggu saja." Gumam Irene seraya mengangkat tubuhnya dari lantai. Sedangkan Kim mematung saat melihat dan mendengar neneknya berbicara.
Flashback Off
Sejak kejadian itu Kim tak lagi mendekati atau merespon sikap Irene. Ia menjaga jarak bahkan cenderung menjauhi adik angkatnya itu. Setelah beberapa bulan kedepan Kim mendapat kabar bahwa Irene pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya. Ntah itu memang keiinginnya atau ada paksaan dari orang lain. Namun Kim tak mau memikirkannya, ia hanya memikirkan pekerjaannya dan kembali menjalin kasih dengan wanita walau pada akhirnya hubungan mereka kandas.
Tok.. Tokk..!! "Boleh aku masuk.." Sahut Karin dari balik pintu kamar Kim.
"Emm, masuklah Chagia.." Sahut Kim seraya menggerikan rambutnya menggunakan Hair Dryer. Karin tersenyum seraya membuka pintu lalu melangkah perlahan saat memasukki kamar Kim.
"Kau belum menutup pintunya sayang.. Tutuplah dulu sebelum tidur, tidak baik saat kita tidur namun pintunya belum tertutup rapat."
"Mwo.?? Aah itu.. Aku hanya ingin meletakkan kembali keranjang ini tuan." Ucap Karin dengan menenteng keranjang baju kotor ditangannya, lalu meletakkannya disebelah pintu kamar mandi.
"Cah, kemarilah bantu aku mengeringkan rambut." Menekan tombol nonaktif lalu memberikan Hair Dryer itu pada Karin. Karin menyambutnya dan kembali menekan tombol aktif dan mulai mambantu mengeringkan rambut Kim.
Karin terlihat telaten saat melakukannya, terlihat jelas wajah Karin dari pantulan cermin. Kim tersenyum saat memandangi wajah kekasihnya yang tengah fokus pada rambutnya.
"Tidurlah disini bersamaku chagia." Pinta Kim seraya memejamkan mata menikmati hembusan angin yang meniup rambutnya dengan kencang.
"Ani-oh, aku akan tidur dikamarku saja tuan." Sahut Karin lembut, lalu mematikan Hair Dryer dan meletakkannya diatas meja rias. Kim memutar bok*ngnya menghadap tubuh Karin lalu memeluknya tanpa izin.
"Kau menolakku hem.?" Tanya Kim mendengakkan wajahnya keatas menatap wajah Karin dan dibalas oleh tatap Karin.
Kim hanya diam tanpa menjawab dan memalingkan matanya kesembarang arah, ia tak mungkin berkata jujur bila dirinya tadi pergi bukan untuk urusan kantor. Melainkan pergi menemui Irene yang telah kembali keKorea setelah 10 tahun pergi dan tinggal menetap di Amerika.
"Sudah tuan, kembalilah istirahat. Besok aku akan siapkan sarapan lagi untukmu. Dan akan ku usahakan menu hidangannya akan berbeda setiap hari." Karin tersenyum lalu mendorong pelan pundak Kim agar melepaskan pelukkannya. Alih-alih mendorong, justru Kim menahannya dan semakin mengeratkan tangannya dipinggang Karin.
Kim mengangkat tubuh Karin, berjalan beberapa langkah kearas kasur lalu menjatuhkannya tubuh mereka keatas kasur. Masih setia dengan pelukkannya Kim menatap wajah Karin yang berada sangat dekat dengannya. Sampai tak ada jarak diantara keduanya.
Cup.. "Inikah yang kau mau sayang.?" Karin bersuara saat menci*m sekilas bib*r Kim.
Kim tersenyum sembari mengangguk pelan kepalanya. Karin yang juga ikut tersenyum seakan mengerti betul bagaimana dengan langkah selanjutnya. "Kau ingin aku yang memimpin sayang.?" Goda Karin seraya mengec*p kilas jakun Kim yang terlihat naik turun saat Karin mengambil alih dan terduduk tetap diatas kejantan Kim.
"Lakukan sayang, lakukan sesukamu. Aku menyukai semua yang kau lakukan." Terdengar suara rintihan dan terlihat pejaman mata yang menikmati sent*han bib*r Karin saat tengah bermain diatas lehernya.
Tanpa pikir panjang Karin kembali mendudukan bok*ngnya diatas kejant*nan Kim. Sedikit menggoy*ngkan pingg*lnya "Eemgghh Chagia, rupanya dia sudah meng*ras." Kim tersenyum malu saat Karin mengatakan miliknya sudah meng*ras.
Kari meraih tubuh Kim memberi isyarat agar bangkit dari tidurnya. Karin meraih baju bagian bawah lalu menarik keatas dan membuang kesembarang arah. Alih-alih membuang baju Kim, Karinpun ikut menanggalkan bajunya dihadapan Kim. Terlihat jelas dua buah timun suri berukuran sedang yang tertutup keranjang berwarna navy.
"YA Chagia.. Kenapa dia terlihat begitu kencang hemm.?" Goda Kim seraya menci*m salah satu diantaranya.
Karin terkekeh saat mendengar pernyataan Kim. "Tentu saja masih kencang, aku belum pernah menyusui bayi tuan."
__ADS_1
"Kalau begitu mulai sekarang jadikan aku bayimu, aku akan memintamu menyusuiku setiap malam." Dengan Gemas Kim mer*mas salah satu diantaranya sembari menatap dalam wajah Karin yang kini mengeluarkan ekspresi kenikm*tan.
Karin mendorong kasar tubuh Kim hingga terbaring diatas kasur. Menuruni tubuh Kim dengan kec*pan bib*r disetiap incinya. Menyentuh celana Kim dengan tangan mungilnya lalu menariknya hingga terlepas dan menjatuhkannya kelantai. Terlihat jelas kejantanan Kim sudah berdiri layaknya tiang yang terlihat sangat kokoh.
Karin menyentuh lalu mengelus lembut tiang itu dengan sentuhan demi sentuhan, sampai terlihat jelas pejaman mata Kim yang mengatakan sangat menyukai sentuhan tangan mungil Karin.
"Aaashhhh, bisakah lebih cepat chagiaa.." Minta Kim seraya meremas kuat rambut Karin bahkan sesekali ia menekan kepala kekasihnya hingga merasakan tongkatnya sudah sangat mentok didalam.
"Emmghhh.. Huekk!!" Reflek Karin mengeluarkan paksa tongkat Kim dari mulutnya. Kim terkekeh saat melihat Karin tersiksa karna tekanan yang ia berikan.
"Iiih nyebelin.." Batin Karin sembari memukul pelan paha Kim dan menatap kesal wajah Kim.
Kini Kim yang mengambil alih pimpinan. Ia meraih tengkuk Karin meci*mnya dengan lembut, mendorong tubuh Karin dibawahnya. mer*mas salah satu timun suri dengan lembutan lalu meneruskan kembali sentuhannya dan masuk kedalam celana Karin menurunkan tangannya sampai kearea V milik Karin.
"Aaaghhh cha-giaaa, jangan menyentuhnya seperti itu. A-aku malu.." Ucap Karin dengan mengigit salah satu jarinya guna menutupi rasa malu saat Kim menatap dalam wajah Karin yang menunjukkan ekspresi suka dengan sentuh Kim disana. Alih-alih melepaskan tangan Kim, ia membantu melepaskan celan Karin sama seperti yang dilakukan Karin padanya.
Membuka lebar kaki Karin, menampakkan dengan jelas bentuk mungil V yang sudah siap untuk dimasuki tongkat milik Kim.
"Babe bolehkah aku bermain dengan jariku dulu..?" Tanpa menunggu jawaban dengan tegas Kim menyentakkan jarinya masuk kedalam.
"AAAAGHHH..!!" ******* Karin terdengar keras saat jari Kim bermain kasar didalam sana, sesekali Karin mengangkat pinggulnya mengikuti irama permainan jari Kim. Puas dengan fantasinya, Kim menuntun tongkat agar masuk dengan mudah kedalam V milik Karin.
"Emmmghhh.. Kenapa begitu hangat didalam sini." Batin Kim berbicara namun pinggulnya terus memaju mundurkan dan sesekali menyentak dengan gagah tongkatnya sampai si pemilik V meringis nikmat dibuatnya.
"Aaghh Kim, aku tahan..." Ringis Karin.
"Kau ingin menyudahinya chagia, kajja.. Sudahi semuanya bersama. Akupun sudah tak tahan ingin melepaskannya." Goy*ngan demi goy*ngan terus dihentakkan Kim dengan kuat. Sampai pada akhirnya mereka menyelesaikan semuanya secara.
"AAAAAGHHH KIM..!!"
"AAGGGRRHHHHH hyang-yu BABE.."
Desah mereka disaat yang bersamaan. Kim tersenyum senang saat melihat wajah kekasihnya yang menatap penuh kepuasan atas permaiananya malam ini. Kim menjatuhkan tubuhnya disebalah Karin, mengatur nafas keduanya dengan menghirup oksigen sambil menatap langit-lagit.
"Mau kemana..?" Tanya Kim meraih tangan Karin yang hendak beranjak dari kasur.
"Augio chagia, sikap apa ini.? Kau terlalu posesif terhadapku.!! Aku hanya ingin kekamar mandi membersihkan ini." Menunjuk Mrs.V nya dengan lirikkan.
Kim tersenyum kekeh melihat dan mendengar kekasihnya yang mengomel sembari memegangi area V nya. Kim melepaskan tangannya dan menatap langkah Karin sampai menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Tak berselang lama Karin keluar dari kamar mandi lalu melangkah perlahan mendekati kasur, menaiki kasur secara perlahan agar tak menganggu Kim yang telah tertidur pulas.
Karin memandangi wajah pria tampan yang kini sudah menjadi kekasihnya. Mengelus rambut Kim dengan senyuman yang terukir diwajahnya yang penuh arti didalamnya, lalu ia memejamkan mata dan tertidur dibawah selimut yang sama bersama Kim.
......................
__ADS_1
......................