
......................
"Aaaahh..." Suara desah diantara keduanya terdengar secara bersamaan.
Tatapan yang awalnya penuh gairah sekarang berubah menjadi tatapan lelah dan menunjukkan rasa puas diantara keduanya. Musim dingin yang sebentar datang tak begitu terasa ketika bergulatan diantara mereka berlangsung. Kasur yang awalnya tertata rapih kini bentuknya terlihat tak beraturan. Kim dan Karin benar-benar melangsungkannya dengan penuh gairah sampai dan memperdulikan sekitar.
Kim pun merasa terbuai saat permainan Karin yang kian hari kian membuatnya semakin gila. Kini Karin sudah bisa mengimbangi permainan yang Kim inginkan. Saat bercinta, Kim sangat menyukai pergerakkan Karin yang begitu indah dimatanya, namun disatu sisi terkadang ia merasa kasihan pada Karin saat tenaganya mulai habis karna permainan Kim yang menguras tenaga. Namun apa mau dikata, hawa nafsu menyelimuti pikirannya yang terobsesi pada diri Karin si wanita berdarah Indonesia itu. Seakan tak perduli, Kim langsung mengambil alih pimpinan Karin dan menghentakkan seluruh sisa-sisa tenaganya. Dan langsung tergletak lemah diatas tubuh Karin saat semua pelepasan yang ia berikan pada Karin.
......................
...Satu Minggu Telah Berlalu....
Hari-hari diKorea berjalan seperti biasa, aktivitas Karin sebagai pegawai sekaligus sekertaris Kim berjalan lancar tanpa halangan. Begitu sampai dirumah, perannya bukan lagi sebagai sekertaris. Melainkan sebagai wanita Kim yang sudah terlihat seperti seorang istri dimata orang yang melihat mereka.
Aktivitas weekend kali ini diawali dengan Karin yang terbiasa bangun pagi. Saat membuka mata ia melihat Kim yang masih terlelap disebelahnya, Karin menatap sejenak wajah Kim yang terlihat begitu tampan meski sedang tertidur.
Sesekali ia mengelus pelan rambut Kim, tentu saja Karin bahagia saat membuka mata lalu yang dilihat wajah tampan seperti ini. Siapa yang tak mengingikan hal ini, sudah pasti semua wanita menginginkannya. Dan dia sangatlah beruntung bisa menikmati semuanya dengan cuma-cuma. Terlebih lagi dialah yang dipilih Kim untuk menjadi kekasihnya.
......................
Beberapa saat setelah Karin membersihkan diri, ia langsung bergegas menuju laundry room. Sudah menjadi rutinitasnya dihari weekend, ia slalu membereskan segala urusan rumah terutama mencuci pakaian. Saat tengah sibuk dengan mencuci pakaian, Kim melangkah mendekati Karin dengan wajah bantal.
"Oh chagia.. Sudah bangun rupanya, kajja aku siapkan dulu sarapan untukmu." Ucap Karin seraya memberhentikan aktivitasnya.
"Aniyo.. Nanti saja babe." Ujar Kim sembari memeluk Karin belakang.
"Aish Kim, lepaskan ah." Berontak Karin ketika risihsaat Kim asal memeluk dirinya.
"Wae..! Kenapa kau malah marah, aku hanya memelukmu saja.!"
"Nihh, elap dulu air liur yang masih menempel dipipimu itu." Sahut Karin seraya menempelkan tisu pada pipi Kim sembari tertawa dan meninggalkan Kim didalam laundry room.
Kim yang tersadar langsung mengambil tisu itu lalu mengusap kesudut bibirnya. Ia merasa malu dan tertawa kecil saat kekasihnya sudah mengetahui sikap jeleknya yang suka mengences saat tertidur.
......................
Seminggu tekah berlaku, hari yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan pasangan pun datang. Semua persiapan dirumah Miranda pun telah diselesai 100%.
__ADS_1
Hari H sudah tiba, detak jantung Choki terus berderak tak karuan. Berkali-kali ia menggambil napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Jangan gugup nak, nanti malah salah nyebut nama saat ijap kabul nanti." Ledek ibu panti tiba-tiba seraya menepuk pundak Choki.
"Eh ibu.. Enggak bu, ini Choki cuma ngatur napas aja." alih Choki sembari tersenyum.
"Kamu yakin udah ngehubungin Karin nak. Dan apa bener dia gak bisa dateng.?" Tanya Ibu panti tiba-tiba.
"Udah bu, Choki udah ngubungin Karin. Perbedaan waktu disana sama disini berbanding kebalik. Jadi gak memungkinkan dia pulang cepet. Choki juga ngasih taunya dadakan. Tapi katanya sih dia bakal secepatnya pulang." Ucap Choki berbohong. Ia mengatakan kebohongan pada Ibu panti kalau dirinya sudah memberi kabar pada Karin kalau dia akan menikah. Tapi nyatanya itu semua tak dilakukan Choki. Ntah apa alasan yang jelas sampai Choki tak mau memberi kabar ini pada Karin.
Slama diperjalanan menuju kerumah Miranda, Choki tak henti-henti mengatur nafasnya, sesekali itu melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya. Dan sesekali ia menoleh ke ibu panti yang duduk tepat disebelahnya dan melontarkan senyum datar. Dan direspon ibu panti dengan menepuk pelan lengan Choki. Seakan menyakinkan Choki semua akan berjalan dengan lancar.
Setibanya mobil diarea rumah Miranda, sopir lekas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Choki dan ibu panti. Mereka melangkah keluar dari mobil dan langsung disambut oleh beberapa orang yang tak lain adalah sanak saudara dari Miranda.
Berbagai pujian dilontarkan pada Choki, terutama ibu-ibu. Mereka memuji ketampanan Choki yang sangat gagah dan sexy. Bahkan ada salah satu tante-tante yang menepuk lengan Choki saat ia menjabat tangannya guna memberi salam.
"Duh.. gagah banget sih, beruntung Miranda dapetin yang begini. Bisa-bisa gak keluar kamar nanti Miranda dibuatnya." Oceh tante tersebut sembari disambut tawa dengan para tamu yang lain. Sedangkan Choki hanya tersenyum malu seraya menoleh kearah tante tersebut dan kembali menoleh kearah ibu panti yang berdiri tepat disebelahnya.
Sampai pada akhirnya Choki memasuki rumah dan bertemu dengan ayah Miranda yang sebantar lagi akan menjadi ayah mertuanya.
"Alhamdulillah sudah sampai kamu nak, ayo masuklah.." titah pak Irwan seraya bangkit perlahan dari kursinya.
"Hahhh tak apa nak, aku masih kuat." Jawab pak Irwan seraya menepuk otot lengannya yang disambut tawa para tamu yang berada disana.
Begitu pun ibu panti, ia tak henti ikut tertawa saat melihat semuanya begitu antusias dan bahagia menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Choki dan ibu panti beserta pak Irwan dipersilahkan untuk duduk didepan meja yang sudah disiapkan untuk melangsungkan ijab kabul.
Salah satu saudara diberi kode isyarat oleh pak Irwan untuk memanggil Miranda yang tak lain calon mempelai wanita agar datang dan melangsungkan ijab kabul. Tak berselang lama, Miranda perlahan menuruni anak tangga sembari tangannya yang dituntun oleh salah satu saudara perempuannya. Semua para tamu melihat kearah Miranda yang tampak cantik berbalutkan busana kebaya pengantin jawa.
Lontaran senyum dan pujian terus terdengar ditelinga Choki, wajahnya mengukir senyum saat ia melihat sosok Miranda turun lalu mendekat kearah. Dan tanpa sadar seketika pandangannya buyar saat pikirannya kembali diingatkan pada sosok Karin. Situasi ini mengingatkan ia saat melihat Karin menuju meja ijab kabul saat melangsungkan pernikahannya dengan Rega.
Hatinya tak bisa berbohong, perasaannya saat itu kacau dan sakit saat mengingat kenangan saat ia bersama Karin. Tak berbeda dengan saat ini, perasaan sakit masih ia rasakan saat harus menghadapi dan menjalani kenyataan yang tak seharusnya terjadi.
Miranda melontarkan senyum pada Choki seraya menjatuhkan bokongnya duduk tepat diatas bantal matras yang disediakan untuk pengantin. Tak berselang lama pak penghulu mulai membacakan surat-surat pendek dan saat setelahnya pak penghulu membacakan rukun nikah dan sedikit berceramah tentang kehidupan setelah menikah.
Semua paea tamu dan calon pengantin setia mendengarnya ceramah yang diberikan penghulu dan ada tawa disela-sela ceramahnya yang menyinggung soal malam pertama.
Sampai saat dimana pak penghulu memberi kode pada pak Irwan untuk menjabat tangan Choki, dan reflek Choki langsung ikut menjabat tangan pak Irwan.
__ADS_1
"Ssstt ehh.. Sabar toh nak, buru-buru banget. Masih pagi ini.." Ledek pak penghulu sembari menepuk pelan tangan Choki. Yang disambung tawa para tamu sekaligus Choki dan Miranda.
Saat setelah diberi perintah untuk saling menjabat tangan, barulah Choki mengulurkan tangannya seraya menjabat tangan pak Irwan.
Dan pembacaan ijab kabul pun dimulai. Pak penghulu dengan setia memberi arahan pada pak Irwan dengan menunjuk tulisan yang ada dilembar keras tepat diatas meja.
"Wahai Nak Choki." Ucap pak Irwan.
"Ya saya." Jawab Choki.
"Saya nikahkan anak perempuan saya Miranda Putri pada engkau Choki, dengan mas kawin emas seberat 20 gram dan uang sebesar Rp.201.222." Ucap pak Irwan dengan suara berat sembari menahan tangis. Dan tanpa disadari Miranda menetes air matanya dan menghapus cepat dengan tisu yang ia pegang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Miranda Putri binti Irwan Samsudin dengan emas kawin tersebut tunai." Jelas Choki lantang saat setelah selesai mengucapkan ijab kabul dalam 1 tarikkan nafas. Dan disambut sah oleh pak penghulu dan begitu juga dengan para tamu.
Seketika tangis pak Irwan pecah saat setelah mendengar Choki mengucap ijab kabul, tangis bahagia pun ikit dirasakan Miranda dan para sanak saudara lainnya.
Choki melingkarkan cincin emas pada jari Miranda begitu pun dengan Miranda. Ia melingkarkan cincin emas putih pada jari manis Choki, dan dengan perintah penghulu Miranda mencium punggung tangan Choki lalu disambut Choki dengan mencium kening Miranda. Tepuk tangan dan sorakan bahagia dilontarkan para saudara dan tamu yang datang.
Acara pernikahan yang terkesan sederhana namun sangat hikmat dan bahagia. Choki dan Miranda mengganti pakaian mereka dikamar ganti dan langsung melangkah menuju pelaminan outdoor diarea perkarangan belakang rumah yang memang sudah dipilih mereka untuk melangsungkan acara.
Waktu demi waktu berjalan lancar, acara pun semakin meriah dengan kedatangan para anak panti yang ikut memeriahkan acara. Mereka berjoget bersama mengikuti alunan musik. Begitupun dengan Miranda dan Choki yanh ditarik agar ikut berjoget bersama. Ya walau pada umumnya para pengantin pasti malu-malu saat ikut berjoget.
Sampai acara selesai, sebagai mana kesepakatan Choki dan Miranda yang ingin langsung tinggal dikediaman pak Johan yang sekarang ditempati Choki. Awalnya para saudara sedikit protes pada putusan mereka, namun pak Irwan mencoba meyakinkan para kakaka dan adiknya untuk mengerti permasalahan pengantin baru, dan jangan menyamakan tradisi jaman mereka yang dimana tidak diperbolehkan pergi sebelum 3 hari setelah hari H pesta pernikahan.
Akhirnya para saudara pun luluh dan memang bukan urusan mereka untuk ikut campur. Choki dan Miranda berpamitan dimalam hari setelah acara selesai, dan saat setelah Choki mengantar ibu panti berserta anak panti. Dan memastikan pak sopir perlahan saat membawa mereka kerumah panti.
"Yah, Miranda pamit ya. Nanti Miranda sering-sering main kesini." ucap Miranda seraya memeluk ayahnya dan tanpa sadsr meneteskan air mata.
Pak Irwan yang awalnya tegar pada akhirnya ikut menitikkan air mata dihadapan Choki dan Miranda. Choki yang mengerti situasi saat ini, mencoba memberi kode pada Miranda dengan menepuk pelan pundak Miranda.
"Jangan nak, pulanglah.. Nanti keburu malam, tak baik berada dijalan saat tengah malam." sahut pak Irwan saat melihat Choki dan Miranda.
"Terima kasih yah, nanti kalau Miranda ingin kemari, saya yang akan mengantarkannya." ujar Choki sembari bersaliman dengan pak Irwan.
Saat setelah berpamitan, Miranda dan Choki melangkah menuju mobil dan masuk kedalamnya. Saat sebelum Choki melajukan mobilnya, Miranda membuka kaca dan melambaikan tangan pada ayahnya dan dibalas pak Irwan dengan senyum diwajahnya. Dan saat setelah itu barulah Choki melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
......................
......................
__ADS_1