Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
What.!!??


__ADS_3

Sontak Miranda langsung berdiri dan melihat keajaiban melihat Maura perlahan menelusuri insting menyusunya. Sampai akhirnya Maura berhasil menemukan sumber kehidupan untuknya. Karin tersenyum bahagia saat melihat dan merasakan Maura menghis4p dengan lahap tanpa penolakkan sedikitpun. Bahkan tangis Miranda kembali pecah namun bukan kesedihan yang ia rasakan, melainkan rasa haru dan bahagia begitu melihat putri kecilnya tak lagi menangis.


DEGH!! "apa-apaan ini. Apa maksudnya ini semua.? Kenapa dengan Karin.?" batin Choki berucap saat mendengar bahkan sempat menyaksikan kejadian didalam kamar, sebelum akhirnya ia bersembunyi dibalik dinding. Choki yang sedari tadi sudah berada didepan kamar dengan tangan yang membawa baskom berisikan air hangat untuk putrinya. Namun langkahnya terhenti saat Karina meminta izin pada Miranda dan meminta Miranda untuk tidak memberitahukan pada siapapun. Namun disisi lain, hatinya dan perasaannya merasa lega saat Muara putri kecilnya tak lagi menangis.


......................


Selang beberapa menit Maura terlelap dalam tidurnya, mungkin karna sudah terlalu lelah menangis jadi proses tidur saat menyusu berlangsung cepat. Tak seperti bayi pada umumnya yang memerlukan waktu 1 hingga 2 jam untuk dapat tidur saat menyusu. Perlahan Karin meletakkan tubuh mungil Maura diatas kasur, Miranda dan si mbok yang melihat Maura terlelap dengan tenang membuat mereka bungkam agar bayi kecil itu tak terusik dengam suara yang mereka timbulkan.


"Ayok mbak kita keluar." ajak Karin dengan suara berbisik. Miranda mengangguk mengerti, dan hanya tinggal si mbok yang menjaga Maura dikamar.


Saat Miranda dan Karin hendak keluar kamar, mereka dikejutkan dengan berdirinya Choki didepan kamar. "Mas.." seru Miranda pada Choki dengan tatap senang, sangking senangnya Miranda sampai merangkul lengan kekar Choki didepan Karin.


"Mas, aku mau cerita. Tadi Maura digendong Karin, terus gak tau kenapa Maura perlahan langsung anteng gak rewel lagi. Kita ajak Karin ikut tinggal dirumah ya mas. Jadi kalau lagi ngalamin situasi kaya gini, ada Karin yang bisa nanganin Maura." ujar Miranda polos tanpa beban dengan wajah yang tersenyum.


"What.!!??"


"Hah..?"


Ucap Karin dan Choki berbarengan dengan nada heran penuh tanya. Tatapan mereka bertiga saling beradu, seakan mempertayakan soal pernyataan Miranda.


"Wa-wait, wait, tunggu. Gak gitu juga mba, tadi kebetulan a-ja. Aku tuh nyoba gendong Maura tadi reflek karna kasian dengan si mbok kayanya kecapean. Terus Maura berenti nangis juga itu karna memang udah kecapean nangis juga." Elak Karin gugup, namun kegugupannya dia tutup dengan tempo berbicara yang sedikit cepat.


"Iih apa sih Rin. Tadi kan--" Ups Miranda hampir keceplosan, ia langsung membungkam mulutnya rapat-rapat saat melihat bola mata Karin yang membesar memberi isyarat padanya agar diam.


"Kebetulan aja itu. Bener kata Karin, Maura langsung tidur karna udah kecapean nangis. Yaudah, aku naro baskomnya ke dapur dulu." titah Choki hendak melangkah pergi namun terhenti saat Karin memotong langkahnya.


"Gak usah kak, biar Karin aja sini." Karin langsung menyambar baskom ditqngan Choki dan berlalu pergi meninggalkan mereka.


Saat Karin pergi menjauh, Miranda semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Choki. "Mas.. Aku gak bercanda soal tadi. Mas setuju kan.?" ucap Miranda dengan tatapan penuh harap pada Choki.


"Kamu kenapa si Mir, kamu gak denger tadi.? Itu kebetulan aja." jawab Choki sedikit jengah dengan pertanyaan Miranda untuknya. Walau sebenarnya dilubuk hatinya menyetujui dengan pernyataan Miranda, namun ia tak mau memaksa bila Karin tak menginginkannya.


"Aku akan bujuk Karin dan mas Choki. Ini demi Maura. Karin harus ikut kita pulang kerumah." batin Miranda berucap dalam diam sembari melirik kedalam kamar dengan menatap putri kecilnya yang sudah tertidur pulas.


......................


...Keesokkan Harinya...

__ADS_1


Tujuan Choki dan Miranda ke desa bukan hanya sekedar silahturahmi dengan keluarag Choki disini, melainkan mereka hendak melangsungkan acara aqiqah putri mereka yaitu Maura Queeneyra binti Choki yang dipanggil dengan nama depannya yaitu Maura.


"Oi.." sapa Boby pelan pada Karin yang tengah sibuk menghitung besek diarea dapur. Karin hanya melirik sekilas tanpa menjawab dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Ais masih bete rupanya dia." batin Boby bergumam. "Gua bantuin ya.." sambung Boby dan langsung duduk dilantai beralaskan tikar lalu mengambil tumpukkan besek disampingnya, namun Karin sigap menahan besek tersebut dengan menatap lekat pada Boby.


"Yang ini idah diitung. Kalo mau bantuin, masukin kertas nasi ini kedalem beseknya." ucap Karin sembari memberi kertas nasi pada Boby.


"Wokeh, siap laksanakan nona Karina." jawab Boby dengan senang.


"Tau dari mana lo nama gw.?" tanya Karin sok acuh padahal kepo.


"Ada deh.." jawab Boby.


"Alah, palingan juga tau karna liat foto gw yang dipajang diruang tamu depan kan.?" ujar Karin meremehkan jawaban Boby.


"Enggak tuh. Gw taunya dari bapak."


"Bapak.? Kak Choki maksud lo.?" tanya Karin penasaran namun masih dengan sikap sok acuh.


"Iya lah, siapa lagi. Bapak tu kan kakak lu. Lu itu adeknya, jadi pastinya bapak banyak cerita tentang adeknya yang kabur keKorea." ujar Boby menyindir Karin.


"Aakhh.. Sakit tulul.! Ringis Boby pura-pura kesakitan akibat dipukul sembari mengelus-elus lengannya.


"Deuhh lebay! Pelan gw mukulnya. Palsu berarti tu otot, timbang digempl4k gitu doang ngeringis kek b4nci dic0l0k." ucap Karin meledek Bony yang langsung direspon Boby dengan tertawa terbahak-bahak.


"Hahahah apa lo bilang tadi.? B4nci dic0l0k. Wkwkwkw gak nyangka gw, cewe cantik kek lo bisa ngeres juga otaknya." tawa Boby pecah sembari menahan perutnya yang keram karna tertawa.


"Heh!! Ngadi-ngadi lu. Dic0l0k idungnya b3go. Deuhh.. Otak elu yang ngeres berarti, pikirannya kemana-mana. Dasar otak ******.!" oceh Karin membela diri dengan kembali memukul lengan kekar Boby. Boby tetap tertawa karna hal receh soal c0l0k menc0l0k. Sampai tawa Boby langsung terhenti dwngan cepat saat Choki datang menghampiri mereka berdua.


"Disini rupanya." ujar Choki dingin. Menyadari hal itu, Boby langsung berdiri sejajar dengan Choki.


"Iya pak, maaf sebelumnya. Ada yang perlu dibantu pak.?" tanya Boby sopan.


"Bantuin kerjaan didepan, disini bukan tempat kamu." ucap Choki menyindir.


"Iya pak, saya permisi kalau gitu." jawab Boby tanpa basa basi dengan Karin dan langsung melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Karin yang sedari tadi memang hanya diam dan setia melanjutkan aktivitasnya. Menyusul besek yang telah dilapisi kertas nasi.

__ADS_1


"Rin, ka-lau udah selesai aku mau ngomong berdua dengan kamu." ucap Choli pelan dengan tatapan dan perasaan yang cukup gugup.


"Disini aja kak. Kan sama aja, ini kita lagi berdua." jawab Karin datar tanpa melihat Choki.


"Kalau seandainya pertanyaanku menyinggung harga dirimu dan terdengar orang lain selain kita disini. Apa kamu sanggup nahan malu.?!" ujar Choki dengan perubahan penekanan nada yang menyindir. Bak tertampar oleh ucapan Choki, Karin langsung tersadar apa yang dimaksud Choki.


"Maksud kakak.? Aku gak ngerti." elak Karin sekilas melihat wajah Choki yang kini jaraknya sudah sejajar dengannya. Tatapan Choki seakan mengintimidasi, perasaan takut menyelimuti Karin ketika melihat tatapan Choki yang terus menatapnya tanpa berkedip.


Flashback On.


"Mas, coba dipikirin lagi. Kalau ada Karina dirumah besar, rumah makin rame. Aku ada temen curhat, si mbok juga pasti gak terlalu capek jagai Maura, Karin pasti bantu si mbok juga kan buat jagai Maura." bujuk Miranda ketika sedang menyiapkan baju ganti Choki dikamar.


"Apa yang buat kamu terkesan maksa banget kaya gini ngebujuk aku untuk setuju atas permintaan kamu untuk ajak Karin kerumah besar.?" tanya Choki sembari mengambil baju dari tangan Miranda.


"Aku gak maksa kamu kok mas, aku cuman minta kamu untuk renungin ucapan aku barusan. Gak ada salahnya kan kalau Karin ikut tinggal dirumah. Rumah jadi makin rame, dan siapa tau Karin juga bisa kerja dikantor, dari pada dia harus kerja dikebun." oceh Miranda tanpa henti dan tanpa sadar sedari awal Miranda berbicara, Choki terus memperhatikannya tanpa berpaling. Sampai pada akhirnya Miranda berhenti ketika ia melihat suaminya yang ternyata memperhatikannya dengan tatapan lekat.


Seraya menghela nafas dan perlahan Choki mendekatkan dirinya serta menarik tengkuk Miranda dan mencium bib1r Miranda sebelum akhirnya Choki mengutarakan pertanyaan pada Miranda. "Jawab dengan jujur, kalau kamu jujur, akan aku pikirkan lagi permintaanmu itu. Apa ada yang kamu sembunyiin dariku hem.?" tanya Choki pelan sembari mengelus pipi Miranda.


"Emm, gak ada yang aku sembunyiin mas. Aku cuman kepengen punya temen curhat aja. Gak salah kan.." jawab Miranda hati-hati, pasalnya ia telah berjanji pada Karin untuk tidak memberitahu pada siapapun, sekalipun itu Choki.


"Oke kalau gitu, maaf.. Aku gak bisa mengabulkan permintaanmu sayang. Kalau soal kamu pengen curhat dan lain-lain. Kamu bisa curhat sama si mbok aku sama aku. Toh sama aja kan.." balas Choki dengan nada yang sama dengan nada bicara Miranda.


Seketika Miranda berdecak kesal mendengar jawaban Choki yang tak menyetujui permintaannya. "Oke-oke.. aku jujur, tapi kamu harus janji gak marah dan janji untuk bujuk Karin ikut dengan kita." ucap Miranda yang langsung direspon anggukkan kepala oleh Choki. Sampai akhirnya Miranda menceritakan semua tentang Karin dari yang bisa menyusui Maura dan mengutarakan pendapatnya kalau hal ini akan bagus bila dimanfaatkan demi kelangsungan tumbuh kembang Maura.


Perubahan ekspresi Choki terlihat jelas saat mendengar cerita Miranda, meskipun ia sendiri tlah mengetahui saat mendengarnya secara langsung ketika hendak membawa air kompres untuk Maura kemarin, dan ntah kenapa emosinya muncul ketika dalam benaknya teringat nama Kim disana.


Flashback Off.


"Masuk.!" perintah Choki menyuruh Karin masuk kedalam kamarnya. Dengan perasaan takut Karin mengiyakan perintah Choki sembari membuka pintu kamar perlahan.


PLAKK!!!! Satu tamparan mendarat dipipi Karin. Sampai tubuh Karin tersungkur kelantai karna kakinya yang tak mampu menahan beban tubuhnya yang terhuyung kuatnya tamparan Choki.


"MASS..!!" Teriak Miranda saat melihat suaminya dengan tega menampar Karin sampai terjatuh kelantai. "Kamu apa-apaan sih mas.! Tega kamu nampar adikmu sendiri.!" Ucap Miranda kesal sembari buru-buru menghampiri Karin lalu memeluknya.


Karin menangis dalam pelukkan Miranda sembari memegang pipinya yang terasa panas saat setelah menerima tamparan dari Choki. Matanya terpejam seakan tak mampu lagi terbuka, lantaran takut untuk melihat wajah Choki yang kini sudah pasti meradang merah karna emosi.


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2