
Park tak bergerak sampai saat ia melihat Karin dan Choki keluar dari caffe dengan saling berpegangan tangan. Telihat dari kejauahan, Choki tak henti-henti berbicara penuh riang dan Karin membalasnya dengan senyuman manis dan tak berpaling dari tatapannya menatap Choki yang terus berbicara.
"Haissssh.. Kenapa mereka membuatku muak. Aku benci perasaan ini.!!" Gerutu Park berlalu meninggalkan lokasi.
......................
"YaAllah pak.. Dimana sih?? Angkat dong, anak-anak udah pada nunggu tapi orangnya gak ada.!!" Oceh Miranda seraya menatap ponselnya. Miranda sudah berkali-kali menghubungi Choki namun tak ada respon ataupun balasan dari Choki.
"Mir.. Mana pak Choki, kok belum turun? Gak enak udah mepet waktunya." Tanya salah satu staff kantor bawaan Choki.
"Iya sabar..!! Ini juga lagi gw telvon.!" Ketus Miranda.
"Kenapa gak lu ketok aja pintu kamar pak Choki tadi sebelum turun.?!"
"Cckkk, Pak Choki gak ada dikamarnya. Dari tadi sore izin ke gw bilangnya mau keluar bentar. Terus nyuruh kita nunggu di lobi sebelum brangkat makan malam." Jelas Miranda tanpa menoleh dan masih setia menatap layar ponselnya.
Setelah beberapa menit menunggu, Choki masuk kedalam lobi hotel dan diikuti Karin dibelakangnya. Miranda dan staff disana melihat kedatangan Choki dan sempat terkejut saat menatap Karin. Terlebih lagi tangan mereka yang terus berpegangan
"Malam pak.." Serentak para staff menyambut kedatangan Choki. Kemudian pandangan mereka beralih ke arah Karin.
"Emm. Kalian gak jadi makan malam.?" Tanya Choki polos tanpa merasa bersalah telah membuat mereka menunggu cukup lama.
Miranda hanya diam saat melihat Choki dan Karin. Miranda tak menyapa Karin karna pandangan Karin menunduk sedari staff menyapa Choki.
"Kita nunggu bapak. Tadi Miranda bilang bapak lagi keluar." Sahut salah satu staff.
"Ee itu.. Saya sedang jemput dia." Jawab Choki seraya melirik kearah Karin. "Rin.. Kenalin, mereka staff kantorku."
Karin mendengakkan wajahnya lalu melontarkan senyum, saat sorot matanya beralih kemasing-masing staff. Sontak Karin mengerutkan alisnya saat melihat Miranda.
"Ha-hai Rin.." Sapa Miranda ragu
"Loh!! Miranda?? Kok bisa disini?" Tanya Karin kaget, dan melangkah mendekati Miranda.
"Emm, kan aku udah bilang mau keKorea, lupa ya..???"Jawab Miranda seraya menyambut pelukkan Karin.
"O-oh iya ya, hehe.. Maaf ya aku sampe lupa, jadi gak inget kalau kamu bakal ikut juga untuk pertemuan bisnis sama kantorku." Ucap Karin dengan rasa bersalah karna lupa soal Miranda yang akan datang keKorea.
"Iya gakpapa. Btw kenapa kamu gak hadir tadi pas meeting? Tau gak, tadi kakak kamu clingak clinguk terus ngelirik pintu. Kayanya nunggu kamu, tapi taunya kamu gak dateng." Oceh Miranda dengan nada meledek lalu sekilas melirik Choki.
Karin yang ngelag sejenak mencerna ucapan Miranda. Pasalnya saat hendak ikut meeting tadi siang, Kim melarangnya untuk hadir. Dengan alasan klien yang akan dihadapi adalah klien kiler dan sensitif.
"Apa maksud Kim gak ngizinin aku untuk hadir.? Gak mungkin kan yang dimaksud klien killer itu kak Choki." Batin Karin berkata penuh pertanyaan, lalu sorot matanya berpindah kearah Choki.
"Dan kenapa Miranda gak bilang kalau dia staff dari kak Choki. Kenapa dia gak ngasih tau aku, padahal dia bisa aja langsung bilang kalau dia staff kak Choki." Batin Karin dan dia teringat saat Miranda balas tentang status di ig strorynya kala itu.
"A-ah itu.. Aku ada urusan diluar kantor, pak Kim yang memintaku untuk mengurusnya. Baru saja selesai, dan tak lama kak Choki mengabariku lalu kami bertemu. Benar kan kak.?" Karin bertanya dan memberi sedikit isyarat pada Choki. Choki pun mengangguk.
__ADS_1
"Iya, saya tadi keluar karna dihubungi adik saya. Jadi kami bertemu dilaur tadi sekalian melepas rindu." Elag Choki sembari menggaruk pelipisnya matanya yang tak gatal.
"Oalah gitu toh.. Yaudah Rin, kalau gitu ikut kita aja. Pak Kim dan Pak Jay akan menjamu kita malam ini, gima..."
Belum selesai Miranda mengakhiri kalimatnya Choki langsung memotongnya. "Enggak Mir, kalian aja yang dateng kejamuan malam ini. Pak Kim tadi sudah saya hubungi, saya gak bisa hadir karna harus bertemu dengan Karin. Kalian saja yang berangkat. Saya permisi.." Choki langsung menarik tangan Karin menuju lift, tanpa melirik para staff dan Miranda.
"Yaudah ayok, gak enak ditunggu pak Jay pastinya. Mir.. Ayok, kamu kan paling faseh bahasa inggrisnya. Buruan ayok.." Ajak staff buru-buru berlalu pergi meninggalkan lobi hotel.
......................
Ting... Suara pintu lift terbuka. Choki melangkah lebih dulu lalu Karin mengikuti langkah Choki dari belakang. Tak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Pikiran Karin terus dihantui pertanyaan mengenai Choki. Ditambah soal Kim melarangnya hadir dimeeting tadi siang. "Ada apa sebenarnya.?"
BRUGGGHH!!! "Aduh kak Choki.!!! Bilang-bilang dong kalau berenti. Iihh nyebelinn, sakit tau.!!" Oceh Karin seraya menahan hidungnya karna tertabrak punggung kekar Choki.
"Hahah ya lagian kenapa kamu gak liat-liat kalau jalan. Ngelamu aja dari tadi." Choki terkekeh melihat Karin yang ngedumel karna ulahnya sendiri.
Ceklek!!.. "Ayok masuk.." ajak Choki melangkah duluan masuk kedalam kamar hotelnya. Karin pun memajukan langkahnya memasuki kamar hotel Choki.
"Kak..?"
"Emm.?" Melirik Karin yang sudah duduk dikursi sofa yang disediakan hotel didalam kamarnya.
"Kenapa kamu bohong??" Tanya Karin tiba-tiba.
Sontak Choki terdiam dan menatap kosong kearah lantai kamar hotel. Dia memang belum sepenuhnya menceritakan tentang perubahan hidup dan nasipnya sekarang. Tak lama terdiam, Choki mengambil kursi sofa yang kosong lalu mengangkatnya dan meletakkannya tepat didepan Karin lalu duduk disana dan menatap Karin sendu.
"Rin.." Panggil Choki hati-hati karna heran melihat Karin yang memejamkan matanya.
"Eh iya kak?? Maaf, oke.. Lanjutin."
Choki beralih memegang tangan Karin dan menggenggam lembut dengan kedua tangan besarnya.
"Waktu umurku 21 tahun, aku mutusin buat kerja kekota. Dan aku dapet pekerjaan disalah satu perusahaan besar disana. Perusahaan itu cukup ternama, dan aku ketrima sebagai BO pada saat itu. Tak berselang lama aku panggil untuk menghadap kepada pemilik perusahaan yang tak lain adalah ayahku yang mencampakkanku sedari masih didalam kandungan ibuku."
Sontak Karin melepas genggaman tangan Chokiz berlalu menutup mulutnya yang terbuka karna terkejut dengan pengakuan Choki saat ini. Choki menghela nafas panjang dan mencoba untuk mengontrol emosional agar terlihat tetap tegar dihadapan Karin. Ia tak ingin terlihat sedih saat membahas soal orang tuanya. Terlebih lagi tentang mendiang ayahnya.
"Maaf kak, aku syok dengernya. Maaf ya..?" Karin kembali memegang dan mengelus-elus tangan Choki sembari mengucapkan maaf. Ntah maaf apa yang dimaksud Karin.
"He-em gakpapa Rin. Aku lanjutin ya ceritanya." Karin mengangguk dan siap mendengarkan Crita Choki.
"Awalnya aku gak mau percaya gitu aja ketika pemilik perusahaan mengaku bahwa dia ayahku dan berhasil menemukanku. Sampai pada akhirnya pak Irwan mengajakku mengunjungi beliau kerumahnya. Pak Irwan adalah tangan kanan ayahku sedangkan nama ayahku Johan. Namanya dipakai sebagai nama perusahaan yaitu Johan Grup. Aku gak menggantinya sebagai bentuk hormatku pada beliau."
Lagi-lagi Choki menghirup dan menghela nafas dengan berat saat ingin melanjutkan ceritanya. "Kak, kalau kakak mau berenti maka berentilah. Jangan dipaksa kalau itu buat kakak gak nyaman." Ucap Karin sembari mengelus dan sedikit menguatkan erattan tangannya.
"Aku mau lanjut sampe selesai biar kamu tau siapa aku dan kenapa bisa sampe kita ketemu disini." Jelas Choki dengan tatap serius menatap Karin. Karin membalas tatapan Choki lalu menganggukkan kepalanya.
"Pak Irwan adalah ayah dari Miranda, dia bekerja denganku sebagai sekertarisku saat ini. Awalnya aku risih karna dia wanita. Aku tak betah melihat wanita yang kerjanya lelet, tapi seiiring berjalannya waktu Miranda bisa beradaptasi untuk mengantikan posisi ayahnya."
__ADS_1
"Aku dibawa pak Irwan untuk mengunjungi pak Johan dirumahnya. Ketika sampai disana aku terkejut dengan rumah yang begitu besar, aku belum pernah liat rumah sebesar itu slama 20 tahun aku hidup." Choki menunjukkan ekpresi ceria saat bercerita dan membuat Karin tersenyum saat mendengarnya. Namun seketika ekspresi itu berubah ketika Choki bercerita tentang kondisi pak Johan yang lemah dan akhirnya meninggal untuk slamanya. Terlihat jelas ekspresi Choki yang tak kuat dan ingin menangis namun ia tahan karna saat ini ia masih berhadapan dengan Karin. Seketika Karin langsung berdiri dan mendekap kepala Choki kedalam pelukkannya.
"Menangislah kak, jangan ditahan. Luapkan semua yang membuatmu terbebani slama ini." Ucap Karin seraya mengelus lembut kepala Choki yang kini berada tepat didada Karin.
Dalam hitungan detik Choki meluapkan semua tangisnya, ia menangis seperti anak kecil yang terjatuh dan mengalami luka yang teramat sakit. Terisak dalam tubuh yang bergerak dan mengeratkan tangannya yang melingkar dipinggang Karin. Sesekali Karin mencium pucuk kepala Choki. Ia pun tak bisa menahan air matanya, ia pun ikut menangis dan merasakan sakit yang Choki rasakan.
Karin teringat saat Ibu panti yang menceritakan tentang dirinya yang tergletak didepan pintu panti, dan tak lama ibu panti mendengar dari warga ada sepasang wanita dan pria yang ditemukan tewas tertabrak kereta dihari yang sama. Hal itu membuatnya merasakan sesak, nafasnya berat saat ini. Karin ikut terisak bersama Choki, jika benar itu kedua orang tuanya. Betapa berat perjalanan hidup kedua orang tuanya sampai harus mengakhiri dengan cara yang tragis.
Berselang beberapa menit, ketika Karin merasakan tubuh Choki yang tak lagi bergetar dan tak terdengar isak tangisnya. Karin mendorong perlahan pundak Choki. Beralih melangkah mengambil tisu diatas meja dan memberikan pada Choki. Karin berlutut dihadapan Choki. Ia ikut menghapus jejak air mata yang masih tersisa disudut mata indah Choki.
"Kok kamu yang jadi berlutut dihadapanku si Rin..? Harusnya aku yang begitu" Sahut Choki seraya menatap Karin dibawahnya, dan sesekali ia mengeluarkan suara issakkan bekas tangisnya tadi.
"Loh kenapa memangnya..? Gak salah kok. Udah seharusnya aku nguatin kamu disaat seperti ini kak. Kamu kan juga gitu dulu. Kamu berlutut dihadapanku disaat aku menangis." Jelas Karin dan ikut menatap Choki tanpa berkedip.
"Hufh iya iya bawel..." Jawab Choki seraya mengelus pucuk kepala Karin dan tersenyum padanya.
"Wihhh udah senyum dia, udah nih nangis-nangisnya??" Ledek Karin dengan menaik turunkan alisnya.
"Ais, apaan sih Rin.." Choki beralih melihat kesembarang arah, agar tak tertawa saat melihat tingkah Karin.
"Oke sekarang gantian, aku pengen nanya kekamu soal kamu yang bisa sampe disini." Tanya Karin seraya menjatuhkan bokokng dikursi sofa. Dan Choki kembali menghela nafas panjang. Saat Choki ingin berucap Karin langsung menjulurkan tangannya memberi isyarat untuk berhenti.
"Kak aku haus.. Tolong ambilkan air.." Perintah Karin dengan nada bicara seperti upin-ipin saat memerintahkan orang lidi di episode (Pensil Ajaib). Choki terkekeh kecil dan menuruti perintah Karin. Mengambil air mineral botol dimeja dan membuka tutupnya lalu memberinya pada Karin.
......................
Disisi lain diluar hotel.
"Good Night Mr.Jay, Sorry i-am late." Sapa Miranda sembari melangkah mendekati Jay yang sudah duduk dikursi meja makan disalah satu restoran yang terhubung dengan gedung Hotel.
Jay langsung berdiri dan menatap intens Miranda. "Yes Madam, tak masalah. Aku juga baru tiba. Silahkan duduk. Dan... Dimana Mr.Choki? Apa beliau datang terlambat?" Jay melirik kebelakang mereka mencari keberadaan Choki.
"Oh itu, sorry Sir. Sepertinya beliau tak ikut makan malam bersama, beliau baru saja bertemu dengan adiknya yang sudah lama tak berjumap. Jadi mohon dimaklumkan." Senyum Miranda terpaksa karna takut Jay merasa tak nyaman bila tak ada Choki disini.
"Adiknya? Apa beliau punya adik diKorea?" Tanya Jay penasaran.
"Yes Sir, kebetulan adiknya juga bekerja diperusahaan Mr.Kim." Ucap Miranda polos.
"Mwo?? Apa itu Karin-shi? Kim pernah bercerita soal Choki yang menitipkan adik perempuannya yang berasal dari Indonesia." Batin Jay berucap dan kembali mengobrol basa basi dengan Miranda sembari menunggu hidangan mereka datang.
"Emm sorry madam, aku permisi ketoilet sebentar." Jay beranjak bangkit dari duduknya ketika Miranda mengangguk mengiiyakan.
Jay merogoh kantong celananya, guna mengambil ponsel dan hendak menghubungi seseorang.
......................
......................
__ADS_1
Oke guys, lanjut besok ya... Makasih banyak udah jadi pembaca setia. Jangan bosen dengan alur cerita novel ku ya 👍😊