
"Sruuupp ahh.." Karin menyeruput kuah p0p mie yang ia pegang dengan rasa nikmat.
"Gimana? Enak? Kurang gak.? Gw beliin lagi nih kalau kurang." tanya Boby sembari menatap Karin yang terlihat sangat menikmati makanannya.
"Gak usah. Satu aja, thanks ya bob. Baik deh.." jawab Karin dengan senyum manis diwajahnya.
"Rin, bisa gak jangan manis-manis kalau senyum. Bikin gula darah gw naek kalau liat senyum manis begini." oceh Boby salah tingkah.
"Hah? Serius lo.? Gila, masih muda udah kena gula. Kesian banget, gak bisa bangun dong brarti ya tu anak bison." tanya Karin sembari melirik kearah bawah lalu kembali fokus membuka cemilan yang ada didalam plastik indomerid.
Yap, Boby tak hanya membelikan Karin p0p mie. Ia juga membelikan beberapa cemilan untuk Karin.
"Wuih enak aja. Lo mau tau seberapa perkasanya dia kalau udah bangun dari tidurnya. Gw jamin lo akan terpana melihatnya." jawab Boby penuh percaya diri.
"Masa. Mana.? Coba sini gw liat." oceh Karin dengan gelagat hendak membuka celana Boby namun hanya pura-pura.
"Ooii oi.. Gila ni cewe, gede juga nyalinya." ucap Boby panik sembari menutupi anak bisonnya.
"Hahaha PEDE banget lo, siapa juga yang srek pengen liat. Palingan kalau bangun gedenya 11 12 sama pete cina." jawab Karin sembari mengunyah cemilan dimulutnya.
Boby ternganga dengan ucapan frontal Karin tanpa jeda. Ingin sekali ia menyentil bib1r sexy Karin namun niatnya terhenti karna nyonya Miranda membuka pintu mobil.
"Eh ada Boby." sapa Miranda saat pintu terbuka dan melihat Boby duduk disebelah Karin.
"Hee iya bu." sahut Boby sopan lalu pergi keluar mobil dan masuk lagi kebangku supir.
Tak berselang lama Choki kembali masuk kedalam mobil, ia melihat sebentar kebelakang mwlihat Miranda, Maura yang berada dibangku belakang dan melihat Karin yang sedang mengunyah cemilan.
"Dari mana tu jajanan.?"
"Dari bison jantan." jawab Karin santuy.
"Hah.?? Siapa.?" jawab Choki dan Miranda berbarengan.
"Tuuu.." tunjuk Karin dengan memonyongkan bibirnya ke arah Boby.
Miranda yang mendengarnya tertawa lucu ditambah wajah Boby yang terlihat mesam mesam senyum malu. Lain hal dengan Choki yang hanya menggeleng sambil berdecak.
"Maaciih ya Oby, nanti atu ganti uitnya kalo udah gajian. Okehh." ucap Karin dengan nada seperti bocah sembari mendekatkan dirinya kebelakang Boby.
DEG!! Jantung Boby berdetak cepat saat Karin mendekatkan dirinya dan yang pasti Boby merasa canggung didepan majikannya. Terlebih tatapan Choki terlihat tak senang saat melihat sikap Karin terhadap Boby. Tak lama saat setelah kecanggungan terjadi, Boby melajukan mobilnya dan disusul mobil satunya dibelakang.
......................
Kurang lebih 5 jam perjalanan mereka tempuh akhirnya mereka sampai dikediaman alm pak Johan yang sekarang telah menjadi milik Choki. Slama diperjalanan Miranda dan Karin bergantian memegang Maura. Saat Maura haus Karinlah yang memegang Maura dan saat popok Maura penuh, Mirandalah yang menggantinya. Disitu pula Karin melihat cara-cara mengurus bayi. Karna untuk seterusnya Karinlah yang akan merawat Maura.
"Alhamdulillah sampai juga. Ayok Rin kita turun." Ajak Miranda sembari menggendong Maura yang masih tertidur.
Perlahan Karin turun dari mobil lalu mendengakkan wajahnya keatas, melihat ujung gendeng rumah yang begitu tinggi dan megah.
"Waww!! Gila sih. Gede banget rumahnya. Apart Kim aja gak segede ini. Tapi kalau harga kayanya hampir sama deh." gumam Karin dalam hati mengagumi rumah kak Choki.
"Neng, jangan ngelamun tengah malem. Kesambet noni Belande ntar." ucap Boby membuyarkan lamunan Karin yang sedari tak henti menatap pilar rumah kak Choki.
"Bob, nih rumah kok kayanya bangunan lama ya.?" tanya Karin tak menghiraukan soal noni Belande yang dimaksud Boby.
"100 untuk neng Karin. Rumah ini tuh peninggalan alm pak Johan dan sekarang menjadi hak warisnya pak Choki." jelas Boby yang dijawab Karin dengan anggukkan kepala.
"Nih koper lo mau dibawain kekamar sekalian gak.?"
__ADS_1
"Iya boleh, gw juga belom tau kamar gw yang mana."
Dengan senang hati Boby mengangkat koper milik Karin, dan berharap kamarnya Karin tak jauh dari kamarnya. Agar bisa merasakan kedekatan yang makin merekat seperti yang ia bayangkan slama diperjalanan tadi.
Perlahan tapi pasti langkah Karin menginjak lantai rumah Choki. Ia masih ternganga melihat interior didalam rumah yang begitu bagus dan mahal pastinya.
"Bujugilee, gak nyangka kak Choki keturunan orkay. Nasip baek dia ketemu alm bapaknya. Behh keren sih. Hihi" gumam Karin pelan sembari tertawa kecil. Ntah hal apa yang membuatnya tertawa.
"Rin, ayo sini naik. Aku tunjukkin kamar kamu." panggil Miranda dari lantai atas.
"Yahhh, kirain kamar kamu teh dibawah Rin." ucap Boby lesu yang ternyata sedari tadi dibelakang Karin.
Karin ketawa saat mendengar ucapan Boby. "Emangnya ngapa kalau diatas.?"
"Emm gakpapa sih. Cuman kalau sama-sama dibawah kan bisa lebih sering liat lo dari deket."
"Iih bukannya lebih enak 1 sama ya. Harus ada yang diatas dan yang 1 nya lagi dibawah." ledek Karin sembari naik kelantai atas.
Boby bengong mencerna maksud Karin. (SYUUTTT) ada sesuatu yang bergerak tapi bukan roda. "Eh buset nak.. Kenapa nyaut sih kamu nak, untung si emaknya (Karin) udah pergi. Kan malu atuh kalau ketauan kamu gerak." oceh Boby pada anak bisonnya.
......................
CEKLEK!! "Ini kamar kamu Rin. Ayo masuk." titah Miranda masuk lebih dulu kedalam kamar.
Lagi-lagi Karin dibuat terpana dengan interior kamar yang ditunjuk Miranda untuknya. Jujur, kamar ini tak jauh beda dengan kamar Kim saat diKorea sama-sama mewah dan harga furniturenya yang sama-sama bernilai tinggi. Namun hanya ukuran saja yang berbeda. Mungkin karna harga lahan diKorea dan diIndonesia jauh berbeda, diKorea sangat mahal jadi orang-orang disana lebih memilih apartemen. Sedangkan diIndonesia terbilang murah.
"Oiya Rin. Emm, soal Maura. Kamu gak keberatan kan dia tidur sama kamu." sambung Miranda dengan nada ragu. Perlahan Karin mendekati Miranda lalu memegang erat tangan Miranda sembari menatapnya.
"Mba. Anggaplah itu kewajibanku, aku iklas merawat Maura. Mba fokus dengan kesehatan mba, jangan khawatir soal aku. Aku happy dan Maura sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Makasih ya mba udah kasih aku kepercayaan untuk Maura."
Miranda tersenyum bahagia dengan matanya yang berkaca-kaca lalu berhamburan memeluk erat tubuh Karin. "Makasih Rin, aku seneng kamu bagian dari keluarga mas Choki. Aku gak bisa bayangin gimana nasip kesehatan Maura kalau kamu gak ada. Kamu wanita hebat, aku percaya takdir Tuhan mempertemukan kita sekarang ini demi kebaikan bersama. Sekali lagi terima kasih Rin." ucap Miranda penuh haru. Karin hanya membalas erat pelukkan Miranda, dan mencoba untuk tidak menangis meski hati dan perasaannya merasakan kenangan pahit dimasa lalu.
......................
"Maaf bu ganggu suasananya. Saya mau anter koper Karin." ucap Boby sopan dengan menunduk sembari mendorong 2 koper milik Karin.
"Eh iya lupa. Makasih ya Bob, sorri ngerepotin." jawab Karin cepat dengan langkah mendekati koper dari Boby. Boby hanya tersenyum simpul dan berlalu permisi meninggalkan kamar.
Setelah beberapa saat Miranda pergi dari kamar Karin lalu kembali dengan menggedong Maura masuk kekamar Karin. "Rin.." panggil Miranda saat melihat sekelilingnya tak ada orang.
"Iya mba, bentar aku lagi dikamar mandi." jawab Karin dengan suara berteriak.
"Ini mau taro dimana.?" ucap Choki saat baru masuk kekamar Karin dengan mendorong tempat tidur bayi yang berbentuk box.
"Eh mas, sini mas, taro disini aja. Nanti biar aku susun ditempat yang pas." jawab Miranda lembut.
"Aku aja, emm taro sini aja kali ya. Pas kan deket daei kasur." titah Choki kembali mendorong sembari membenarkan posisi box bayi dan kasur.
"Makasih ya mas.. Kamu langsung tidur gih, besok kerja kan.?"
"Iya. Yaudah aku balik kamar ya." jawab Choki sembari mencium putri kecilnya lalu melangkah pergi. Sekilas ia melirik kearah kamar mandi dan terdengar suara air sower yang membuatnya menghela nafas pendek.
10 menit berlalu, Karin keluar dari kamar mandi dengan kepala yang terbalut handuk.
"Iiih lucu bingits tempat bobonya Maura." oceh Karin gemes saat melihat box bayi lalu berlari kecil mendekati Maura yang tengah tertidur disana.
"Duhh ante gak muat kalau bobo disini dek. Geseran dong.." oceh Karin mengajak ngobrol Maura yang terlihat tertidur pulas.
"Oiya mba, baju-baju dan perlengkapan Maura yang lainnya dimana.?" sambung Karin bertanya pada Miranda.
__ADS_1
"Ada dilaci dibawah kasurnya, sebagiannya ada dikamarku. Nanti ku bawain."
"Besok aja gakpapa mba, malem ini mba istirahat aja. Capek kan, hampir 8 jam perjalanan dari desa kesini."
"Oke deh. Aku balik kamar dulu ya. Rin.. Makasih ya sekali lagi." ucap Miranda dengan menyentuh lengan Karin.
"Iya mba. Gwenchana.." jawab Karin dengan bahasa korea dan dijawab Miranda dengan tawa.
......................
Setelah keluar dari kamar Karin, Miranda melangkahkan kaki menuruni anak tangga menuju dapur kotor untuk membuatkan sesuatu untuk Choki. Ntah apa yang dipikirkan Miranda saat melihat suaminya melirik kearah kamar mandi saat dari kamar Karin tadi.
Lesu, gelisah, murung, bersalah. Semua persaan itu bercampur menjadi satu sampai tak bisa diartikan dengan kata-kata.
(Ting-ting). Suara benturan sendok pada gelas berisikan susu yang Miranda buat tanda akhir ia mengaduk susu didalamnya. Miranda kembali melangkah menuju kamarnya dengan membawa segelas susu hangat ditangannya.
"Mas, udah tidur.?" ucap Miranda pada Choki yang telah berbaring dikasur membelakanginya.
"Emm, belum Mir. Ada apa.?" jawab Choki setengah sadar lalu bangkit dari posiai tidurnya.
"Ini, aku bawain susu. Kamu dari tadi belum makan apa-apa." titah Miranda mendekati Choki lalu memberikan susu itu pada Choki. Choki meneguk habis segelas susu buatan Miranda lalu meletakkannya dinakas meja.
"Udah. Ayok tidur." ucap Choki mencoba tersenyum pada Miranda lalu menggeser dirinya dan memberi ruang untuk Miranda.
Miranda tersenyum menyambut Choki yang memberinya isyarat dengan menepuk kasur yang kosong pada Miranda. Choki tertidur masih dengan kebiasaan yang sama (bertubuh polos) namun saat Maura lahir barulah ia mengenakan celana pendek tapi tidak dengan baju.
"Mas.."
"Emm.." jawab Choki dengan mata yang terpejam.
"Sini peluk.." sambung Choki mendekatkan dirinya lalu memeluk Miranda. Ia yang seolah peka apa maksud Miranda.
"Menurut rekam medis kemarin. Aku sudah mulai membaik, kita gak mau nyoba lagi." ucap Miranda lembut dan mencoba meyakinkan Choki.
"Aku gakpapa, jangan khawatir soal aku. Khawatirlah dengan kesehatanmu. Aku gak mau kejadian tempo lalu terulang." jawab Choki dengan mata yang terpejam.
"Kali ini aku gak bohong mas, kamu sendiri pun liat hasil rekam medisnya kan.?" Miranda terkejut akan sikap suaminya yang tiba-tiba menindih tubuhnya.
"Sudah ku katakan bukan, aku tidak apa-apa.! Mau berapa kali ku jawab dengan jawaban yang sama bahwa aku tidak apa-apa." Tegas Choki dengan bahasa baku dan sorot mata tajam menatap lekap kedua mata Miranda.
Flashback On.
Kejadian tempo lalu, Miranda berbohong pada Choki mengenai hasil rekam medis yang mengatakan ia sudah diperbolehkan untuk berhubungan layaknya suami istri. Namun saat setengah perjalanan, jantungnya kembali melemah itu semua terlihat dari deru nafas yang dilakukan Miranda. Awalnya Choki sangat senang saat mendapat kabar baik mengenai kesehatan istri dan bisa melakukan hal tersebut (.?.), namun siapa sangka kebohongan Miranda membawanya keambang kesakitan. Permainan Choki yang cukup agresif membuatnya kewalahan dan berakhir sesak nafas dan dilarikan kerumah sakit.
Satu rumah dibuat panik dengan teriakkan Choki memanggil para pekerja rumahnya sembari menggendong Miranda yang hanya mengenakan piyama dress dan Choki yang mengenakan celana pendek tanpa dalaman.
"BOBY...!!!"
"Iya pak." jawab Boby sembari berlari mendekati Choki.
"Buruan siapin mobil, kerumah sakit sekarang." ucap Choki dengan terus berjalan kearah depan rumah. Dan dengan waktu bersamaan Boby langsung melaksakan perintah, namun sempat dijegad body guard yang lain.
"Bob, bawa ini." ucap Rian dengan memberikan kaos pada Boby.
"Buat apaan.?" tanya Boby buru sembari berlari kecil kegarasi mobil.
"Bawa aja. Ntar kasih ke bapak." ucap Rian dan langsung dimengerti Boby.
Dengan buru-buru Boby melaju cepat laju mobilnya dengan hati-hati. Begitu sampai dirumah sakit terdekat, saat Choki hendak keluar namun dicegah dengan Boby.
"Pak, pakai ini. Maaf tapi ini bukan size bapak. Jadi agak kebesaran." Boby langsung memberikan kaosnya pas Choki dan diterima Choki saat ia tersadar sedari tadi ia hanya mengenakan celana boxer.
......................
__ADS_1
......................