
"Kamu yakin chagia tak ingin ikut denganku.?"
"Nee oppa, kerjalah dengan giat. Kamu sudah sangat lama meninggalkan kantor hanya demi diriku." tutur Karin seraya mengikat dasi.
"YA, dengarkan ini. Tak ada yang salah jika aku menemanimu slama apapun itu. Kamu wanitaku, satu-satunya kehidupanku saat ini. Dan kamu wanita yang sangat aku cintai. Aku tak bisa melihatmu menderita chagia." jelas Kim seraya menangkup wajah Karin.
"Jinjjah.?? Kamu benar-benar tak mau melihat ku menderita oppa?"
"Tentu, aku tak bisa melihatmu menderita. Hatiku sakit bila melihat kamu sedih chagia. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tersenyum dan bahagia. Apapun itu."
Karin hanya melotarkan senyum simpul saat mendengar ucapan Kim yang akan memberikan apapun untuk Karin agar dirinya tak sedih dan menderita.
Tak berselang lama saat setelah Karin membantu Kim bersiap-siap. Karin keluar kamar menuju dapur lalu menyiapkan sarapan untuk Kim sebelum berangkat ke kantor.
"Wahh.. Kamu memang wanita idaman chagia.. masakanmu memang yang terbaik." ujar Kim saat hendak duduk dikursi.
"Aish, kamu berlebihan oppa. Sudah, makanlah. Setelah itu berangkat, nanti kesiangan. Aku siapkan sepatu untukmu dulu." jawab Karin yang hendak bangkit dari duduknya namun seketika Kim menahannya agar tak beranjak dari duduknya.
"Tetap disini, temani aku. Kamu bukan pembantu disini. Kajja makan bersama."
"Bukankah memang sudah kewajiban seorang istri untuk menyiapkan semua keperluan suaminya.?" ucap Karin yang membuat sorot mata Kim layu.
"Makanlah dengan baik oppa. Aku hanya sebentar, nanti aku kembali kesini." sambung Karin dan berlalu meninggalkan Kim. Pandangan sendu diperlihatkan Kim yang begitu setia melihat kepergian Karin.
Rasa sesak yang dirasakan lubuk hati Karin ketika melihat respon Kim yang hanya diam ketika ia menyinggung soal istri dan suami. Ingin sekali menitikkan air mata saat ini juga, namun Karin harus menahannya karna tak ingin menimbulkan pertanyaan yang akan ditanyakan Kim padanya, kenapa menangis.?
"Haruskah aku bertahan.?" batin Karin tersentuh seraya memejam mata sejenak sebelum ia kembali menghampiri Kim setelah ia selesai menyiapkan sepatu kerja Kim.
Senyum manis dilontarkan Kim saat melihat Karin datang mendekatinya. "Jangan tunjukkan senyum manismu oppa, aku takut merindukannya." ujar Karin
"Loh, kenapa harus takut merindukannya. Aku bisa memberinya kapan saja chagia." jawab Kim sembari menyuap kembali makanannya kedalam mulut.
"Nee kamu benar oppa, aku tak perlu takut akan hal itu." ujar Karin yang penuh keanehan menurut Kim, sehingga Kim memetlukan beberapa detik untuk mencerna ucapan Karin.
__ADS_1
"Palli-oh, nanti kamu terlambat." sambung Karin ditengah lamunan Kim.
......................
"Nanti, bisakah kamu pulang lebih cepat oppa.?" tanya Karin saat pintu lift menuju basemant terbuka.
"Nee, aku akan pulang lebih awal hari ini. Why? Kamu merindukanku? Hem, kalau iya. Aku tak usah kekantor hari ini. Kajja kembali kedalam." jawab Kim dengan nada menggoda seraya menarik tangan Karin hendak masuk kembali kedalam lift.
"Iihh mesum!!" Sentak Karin sembari memukul lengan Kim
"Aku mau makan malem bareng kamu, jadi pulanglah lebih awal. Kalau tidak bisa, tak apa. Aku akan menunggumu." sambung Karin gugup dengan pandangan mata kebawah.
"Eehemmm.. Mau dinner romantiskah.? Aigo gemasnya.. Okey, aku akan pulang lebih awal hari ini. Demi pujaan hatiku." titah Kim mencium sekilas bibir Karin lalu melangkah menuju mobil dan masuk kedalamnya.
Tubuh Karin dengan setia berdiri seraya menatap mobil Kim yang mulai pergi perlahan meninggalkan basemant.
📲📲 Dredd dreddd ...
"Yeoboseyo.?" sahut Karin saat menerima panggil
"Nee, nanti ku hubungi lagi." jawab Karin singkat, lalu melangkah masuk kedalam gedung apart.
......................
"Slamat pagi tuan Kim.." ujar staff yang berpapasan dengan Kim.
Sudah cukup lama Kim mengambil cuti dan baru hari ini ia kembali bekerja setelah semua urusannya clear dan memberanikan diri meninggalkan Karin diapart sendirian. Awalnya Kim masih enggan menyetujui paksaan Karin yang menyuruhnya kembali bekerja. Ada perasaan berat ketika harus berjauhan darinya. Terlepas dari kecelakaan kala itu, dan ntah kenapa hatinya gelisah jika harus berjauhan dengan sang wanita pujaan hatinya.
Saat pintu lift terbuka, langkah Kim yang cukup lebar saat keluar dari lift perlahan melemah saat ia melewati meja kerja disebelah kanannya yang tak lain meja kerja Karin saat Karin masih bekerja dikantornya dulu. Senyum tipi dilontarkan Kim seraya menunduk saat setelah melihat meja tersebut. Otaknya memutar momen dimana saat ia melewati meja ini, ada seorang wanita perparas cantik dengan tubuh tegap memberinya ucapan slamat datang, slamat pagi, anyyeong tuan Kim, dengan senyum manis yang terukir diwajah cantiknya.
"Ahh chagia, kamu merindukanmu." titah Kim seraya membuka pintu ruangannya dan pikirannya yang masih memikirkan momen-momen saat masih ada Karin dikantornya.
...Beberapa Jam Kemudian...
Tok.. Tok.. Suara ketukkan pintu yang membuyarkan konsentrasi Kim saat membaca berkas-berkas dimejanya.
__ADS_1
"Masuklah." sahut Kim sembari menatap serius sosok wanita asing yang masuk kedalam ruangannya dengan membawa beberap map yang terdapat cap biru dari perusahaannya.
"Siapa kamu.?" tanya Kim serius.
"Slamat pagi pak, maaf menganggu. Perkenalkan saya Soya.. Saya pegawai baru disini, saya direkrut dari cabang diBusan untuk bekerja disini menggantikan sekertaris Karin sebelumnya." Jelas Soya pada Kim dengan sopan.
"Oeh, oke.. Maaf saya tak mengenalimu sebelumnya, saya terlalu sibuk dengan istri saya sampai lupa kalau kamu tlah direkrut kekantor ini." ujar Kim tersenyum saat menyebut Karin sebagai istrinya didepan wanita lain. Ada sensasi berbeda ketika menyebut Karin sebagai istrinya dihadapan orang lain.
"Eee, ada keperluan apa kamu kemari dengan map itu.?" sambung Kim bertanya membuyarkan tatapan bingung dari wajah Soya.
"ah ini pak, saya ingin memberi beberapa berkas kontrak kerja sama yang belum bapak tanda tangani sebelumnya." titah Soya melangkah mendekati meja Kim lalu menyodorkan berkas itu pada Kim dengan etika sopan santun yang oke.
Ada nilai plus bagi Kim ketika melihat seseorang yang menunjukkan etika sopan saat berhadapan dengannya. "Kenapa tidak diantar ke apart saya.? Berkas sudah beberapa hari lalu dibuat, kenapa baru sekarang minta saya menandatanginya.?" tanya Kim tanpa melirik Soya.
"Maaf pak, kebetulan saya sendiri yang berkesempatan mengantarkannya langsung ke apart bapak, namun kata petugas disana. Bapak sedang ada kunjungan kemakam. Jadi saya mengundur waktu sampai sekarang." jelas Soya menjelaskan kronologinya pada Kim.
"Hemm itu benar, aku dan istriku mengunjungi makam keluarga beberapa hari lalu. Maaf bila membuatmu repot dan harus mundar mandir." ucap Kim dengan senyum harap seraya menatap Soya dan senyuman itu membuat Soya salah tingkah.
"Tak apa pak, itu sudah jadi tugas saya. Kalau gitu saya permisi. Slamat bekerja pak Kim." jawab Soya sembari menerima berkas yang diberikan Kim saat setelah Kim membacanya dan menanda tangain.
Sekilas Kim menatap punggung Soya dari belakang dan kembali fokus pada berkas diatas mejanya.
"Oh ya Tuhan, betapa tampannya tuan Kim saat dari dekat. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya." gumam Soya saat berhasil keluar dari ruangan Kim dengan detak jantung yang tak beraturan karna gugup saat berhadapan langsung dengan Kim yang berwajah tampan dan senyum ramah nan hangat saat dipandang.
......................
......................
Makasih guys. Love you guys. Kalian hebat, kalian keren. Pasti pembaca novel Author biasnya pak Kim juga ya hehehe.
Semoga suka ya sama alur ceritanya. Sorri kalau ada salah kata dan ada renyah dan anyep disetiap episodenya.
Butuh mood yang oke dan sesuai disetiap episodenya guys. Jadi karna lagi happy, tapi harus ngetik alur cerita yang sedih. Giti juga sebaliknya, dan bikin karangan cerita gini gak gampang saat kita baca. Butuh penyesuaian yang bener-bener mateng 👍😁
__ADS_1