Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Carilah Kehidupanmu Sendiri


__ADS_3

Dredd.. Dredd 📲📲


Karin-shi 💙


"Mianhae tuan jika menganggu anda. Sepertinya seseorang yang spesial sedang menunggu diruangan. Datanglah setelah meeting selesai, dan jangan cari ku untuk sementara waktu."


......................


Kim mengerutkan alisnya, mencerna pesan yang dikirim Karin untuknya. Dan seketika Kim bangkit dari duduknya secara tiba-tiba, membuat semua orang yang berada diruangan meeting terkejut dan melihat kearah Kim bersamaan.


"O-oh mianhae, seperti aku harus ketoilet.." Kim menundukkan kepala kesemua terutama ke arah Choki. Choki pun mengangguk pelan. Barulah Kim melangkah lebar keluar ruangan.


"Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba begini.?" Gumam Kim seraya melangkahkan kakinya cepat menuju lift.


"Come On.. Cepatlah...!!" Gumam Kim tak sabar menunggu pintu lift terbuka, dan saat terbuka ia langsung berlari kecil kearah ruangannya, sontak ia berhenti sejenak melihat kearah meja Karin yang kosong. Dan kembali berlari menuju ruangannya dan langsung mendobrak ruangannya.


"YA!! Apa-apaan kalian?!. Tidak ada tempat kah selain di ruanganku.!" Kim membentak dengan keras pada sosok sepasang pria dan wanita yang sedang menautkan ci*man mesra diruangannya. Mereka adalah Irene dan Jay. Dirinya terkejut saat mendapati mereka diruangannya dan tanpa disangka mereka melakukan hal konyol diruangannya.


"Oh my gosh oppa!!" Irene terkejut tak menduga Kim kembali dengan waktu yang cepat. Sedangkang Jay hanya diam diposisi duduknya. Hanya Irene yang bangkit dari pangkuan Jay.


"Haish..!! Kau masih saja berulah Irene-shi.! Dan kau Jay, aku memintamu kemari untuk menjamu klien ku tang baru datang dari luar negeri. Bukan memintamu untuk meladenin kemaun wanita bersuami ini.!!" Kim menunjuk Irene dengan kesal dan memberi isyarat dengan sorot mata tajam pada Jay untuk segera keluar dari ruangan.


Sorot mata Kim saat ini beralih menatap Irene dengan dingin. Kim melangkah maju beberapa langkah mendekati Irene.


"Jelaskan padaku apa saja yang tlah kau katakan pada Karin slama aku tidak ada disini.?!" Tanya Kim sinis seraya melingkarkan tangannya didada dan menanti penjelasan dari adik angkatnya itu dengan sorot mata tajam.


"YA!! memangnya apa yang harus aku jelaskan. Aku tak mengatakan apapun padanya. Bahkan dia tak mendatangiku begitu aku masuk kesini." Alih Irene menutupi rasa takutnya karna sorot mata Kim begitu menakutinya.


"Jangan berbohong kau Irene-shi.! Tak merasa berdosa kah dirimu yang terus berbohong pada siapapun. Termasuk padaku.!" Bentak Kim menahan sesak didadanya seperti menahan sesuatu yang menyakitkan.


Irene terdiam sejenak mencerna maksud dari perkataan Kim. Lalu ia menghadapkan wajahnya kearah Kim. Kini kedua mata mereka bertemu. Sesak dan kesal kini terlihat diwajah Kim. Lain hal dengan yang Irene rasakan. Wajahnya menunjukkan bahwa dirinya menahan emosi namun ada genangan air mata didalam mata Irene yang menunjukkan ia pun merasa sedih akan dirinya yang kedapatan berbohong pada Kim.


Flashback On.


...Dikediaman Tuan Juna...


Irene tengah menuruni anak tangga hendak menuju ruang makan untuk sarapan lalu setelah itu ia hendak berangkat ke universitas.

__ADS_1


"Irene-shi kemarilah.." Panggil nenek Kim sekaligus neneknya Irene juga. Menyuruh Irene datang menghampirinya yang tengah duduk disofa yang tak jauh dari tangga.


"Nee halmeoni.. Halmeoni ingin aku temani duduk disini." Sahut Irene dengan riang tanpa rasa canggung setelah kejadian malam kala itu dengan Kim yang dipergoki oleh neneknya.


"Haish kau ini, semakin dewasa semakin menunjukkan jadi dirimu yang sebenarnya." Ucap halmeoni seraya mengelus dengkulnya yang sedikit terasa nyeri.


Irene yang tak mengerti apa maksud neneknya hanya diam termangu dengan tatapan penuh tanya.


"Berapa usaimu sekarang Irene-shi.?" Halmeoni bertanya tiba-tiba.


"18 tahun." Jawab Irene datar sembari memainkan ponselnya.


"Sudah saatnya kau meneruskan hidupmu sendiri Irene-shi, carilah kehidupanmu diluar sana." Ucap halmeoni dengan nada berat seraya menatap kosong kedepan.


"Apa maksud nenek, bukankah aku sudah hidup selayaknya manusia. Aku harus hidup seperti apa lagi.?!" Irene meninggi nada bicaranya sembari menoleh kearah neneknya yang sedari tadi duduk bersebalahan dengannya.


"Jaga nada bicaramu padaku Irene-shi, kau jangan pura-pura aku melupakan kejadian kau dengan Kim malam itu. Aku sudah muak dengan tingkah kalian yang seperti sepasang kekasih. Jauhi Kim lalu pergilah keAmerika, disana kau bisa menemu kehidupan yang sepantasnya kau dapatkan." Jelas halmeoni tanpa melirik Irene.


Irene terdiam saat mendengar semua pernyataan halmeoni dan menahan air mata yang ingin keluar. Ini semua tak disangka-sangka olehnya, secara tidak langsung dia diusir dari sini. Dan akan berjauhan dengan pria yang ia cintai.


"Patuhlah untuk kali ini Irene-shi. Kami menyayangimu sebagai mana mestinya. Jaga batasanmu, mau bagaimanapun namamu sudah masuk kedalam daftar warisan Juna anakku. Secara tidak langsung dirimu kini sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi ku mohon jauhi Kim..! Cintai dia sebagaimana adik menyayangi kakaknya." Halmeoni pergi meninggalkan Irene yang masih menangis dibawah kukungan tangannya.


...Beberapa Minggu Kemudian...


Di pagi hari seperti pagi biasanya, Kim menikmati sarapannya dimeja makan yang cukup besar seorang diri. Awalnya ia tak begitu memperdulikan kesunyian dirumah ini. Namun ada yang aneh akhir-akhirnya, sampai membuat mata Kim berkeliling mengitari area rumah yang memang sepi tanpa suara brisik yang sering Irene keluarkan.


"Ajumma, dimana Irene-shi.?" Tanya Kim disela-sela menyuap makanannya. Namun tak ada respon dari pertanyaannya. Sampai akhirnya Kim berhenti ditengah-tengah makannya dan langsung bergegas pergi kekamar halmeoni. Kim seakan mendapat feeling bahwa Irene telah pergi tanpa sepengetahuannya.


Tokk.. Tok.. Suara pintu diketuk


"Mianhae nek, boleh Kim masuk.." Pinta Kim dari luar pintu meminta izin masuk kedalam


Ceklek..!! Pintu terbuka lalu Kim memasuki kamar neneknya.


"Apa kamu mencarinya Kim.?"


Kim terdiam lalu duduk dikursi koso h disebelah neneknya. "Apa kami salah jika memiliki perasaan.? Kami tak memiliki ikat darah nek." Ucap Kim sendu.

__ADS_1


"Aku tau, tapi perlu kamu ketahui. Dia datang untuk menjadi adikmu bukan untuk menjadi pendampingmu."


"Carilah kehidupanmu sendiri tanpa harus melibatkan hati yang tak mungkin kau miliki dengan perasaan Cinta." Jawaban halmeoni sudah cukup jelas untuk semuanya tanpa harus ada pertanyaan lainnya.


Semenjak kejadian itu Kim tak lagi mencari keberadaan Irene walau hati dan pikirannya merindukan sosok Irene, bawelnya yang bergema dirumah besar ini, kini terasa kosong dan hampa tanpa kehadirannya.


Selang beberapa tahun kepergian Irene, Kim mendapat kabar bahwa Irene akan menikah. Seketika Kim dilanda emosi sampai berteriak seolah tak terima dengan kabar yang diterimanya. Namun itu semua hanya sia-sia, mau bagaimana sekuat apapun ia berjuang namun pada akhirnya akan sia-sia, ia tetap tak akan bisa memiliki Irene. Ia sudah berjanji pada neneknya untuk tidak mengecewakannya.


Kim kembali melanjutkan aktivitasnya dengan bekerja dan mengurus segala urusan bisnis yang diberikan mendiang appanya Juna. Terkadang ia menghabiskan waktu senggang dengan mengunjungi club malam milik Jay, hanya untuk sekedar minum dan berdansa dengan para tamu yang datang. Tak jarang wanita mendekatinya, namun Kim menolak lantaran hatinya dan perasaanya masih ada sosok Irene didalamnya.


Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun kini Kim lewati dengan kesehariannya seperti biasa. Tak ada yang spesial dihidupnya semenjak ia mendapatkan kabar tentang pernikahan Irene. Dan sampai pada akhirnya Kim bertemu dengan sosok wanita yang membuat hatinya gugup karna melihat pesona yang dimiliki wanita pujaan hatinya yaitu Karin. Perasaan berdebar itu muncul kembali, membuatnya posesif akan diri Karin.


Flashback Off.


......................


"Wae.!! APA KAU AKAN MARAH JIKA AKU BERBOHONG LAGI HAH.!!" Teriak Irene penuh emosi.


"Aku mengatakan bahwa aku kekasihmu, dan aku memintnya untuk menjauhimu.!!" Nada bicara Irene mulai mengecil seiring dengan emosinya yang mulain mereda. Namun tidak dengan Kim, emosinya meluap saat mendengar pernyataan Irene.


Kim mendekati Irene, mencengkram lengan Irene dengan kuat sampai Irene meringis menahan sakit.


"Kau brani menyakitiku Kim, kau tega menyakiti cinta pertamamu hanya karna perempuan itu. Lepas!!" Irene berontak memaksa untuk dilepaskan.


"Lepas aku bilang Kim LEPAS!!. Dimana letak kelembutan yang kau berikan dulu padaku. Awww, sakit Kim. LEPAS br*ngs*k!!" Irene meringis kesakitan karna kini Kim semakin menguatkan cengkramannya. Irena tak berani menatap lama wajah Kim yang sedang emosi. Tatapan Kim benar-benar menakutkan.


"Jangan menyebut kelembutan dalam diriku Irene-shi. Kau ingin tau darimana datangnya emosi dan tempramen ini.?! Ini semua karna darimu, semenjak mendapat kabar kau akan menikah, disitulah sikap kekasaranku muncul, aku membenci diriku sendiri yang tak bisa menahanmu untuk tidak menikahi pria lain. Kau tau betapa aku mencintaimu saat itu. Tapi itu semua sia-sia sekuat apapun aku berjuang, kita tak akan pernah bersatu dalam ikatan cinta.!!" Kim menghempas tubuh Irene sampai terjatuh disofa, kembali mengatur nafasnya agar emosinya mereda.


Sorot mata Irene kosong, airnya matanya terjatuh begitu deras, nafasnya yang sesamsampai terdengar begitu jelas. Perlahan Irene melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang Kim tanpa mengatakan apapun.


......................


......................


Sekian ya guys, maaf sebelumnya kemarin gk up. Aku kecapean guys.. Stok draf untuk episode belum finish. Jadinya belum up deh..


Maaf ya 🙏🙃

__ADS_1


__ADS_2