
Gilang batu saja selesai makan makanan yang dibawa oleh Cahaya. Makanan itu tampak ludes tidak bersisa.
"Wih, kamu makan tidak bagi-bagi. Apa makanan itu sangat enak, sampai-sampai bersih tidak bersisa?" tanya Bayu yang baru masuk ke ruangan Gilang.
"Aku lapar, Bay. Tadi pagi aku tidak sarapan, jadi aku makan double, pagi dan siang," ucap Gilang memberikan alibi, padahal memang karena rasa makanan itu yang enak dan benar-benar cocok di lidahnya.
"Oh, seperti itu?" Bayu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa kamu sudah makan siang?" lanjut Gilang kembali.
"Belum! tadinya aku ke sini mau ngajak kamu makan siang bersama. Ternyata kamu sudah makan," jawab Bayu. "Oh, ya tadi aku melihat ada Dania. Dia terlihat sedang kesal, apa kalian ada masalah?" lanjut Bayu, dengan alis yang bertaut.
"Emangnya, kami pernah tidak bermasalah? dia itu adalah masalah terbesarku," jawab Gilang sembari menghela napasnya dengan sekali hentakan.
Bayu terkekeh, karena memang dia tahu bagaimana perasaan Gilang selama ini.
"Apa kamu masih memiliki perasaan pada Reyna?" tanyanya dengan tatapan penasaran.
"Menurutmu? apa kamu kira perasaan itu mudah hilang? tapi, seperti yang kamu ketahui, kami tidak akan mungkin bisa bersatu, karena Reyna bilang dia tidak akan pernah mau berbahagia di atas penderitaan seseorang, apalagi itu Dania sahabatnya dari kecil," tutur Gilang dengan raut wajah kesal.
"Arghhh! aku bingung, kenapa Reyna bisa berpikir seperti itu? padahal orang yang sedang dia jaga perasaannya, malah hanya memikirkan dirinya sendiri?" Gilang mengusap wajahnya dengan kasar.
Drttt ... drttt ...
Gilang meraih handphonenya yang sedang berbunyi.
"Mama? kenapa mama meneleponku? apa mereka sudah menemukan anak dari pemadam kebakaran itu?" gumam Gilang dengan alis yang bertaut.
"Halo, Ma!" ucap Gilang begitu dia memutuskan untuk menjawab telepon.
"Halo, Nak. Kamu sudah makan? apa Cahaya masih ada di sana?" tanya Jelita dengan beruntun.
"Aku baru aja selesai makan dan Cahaya sudah pulang dari tadi, Ma." sahut Gilang tanpa memberitahukan kalau penyebab Cahaya pulang, karena kedatangan Dania.
"Oh, seperti itu. Lang, mama dan papa sudah menemukan siapa anak dari pak Surya, laki-laki yang menyelamatkan kamu dulu. Dia _"
"Benaran, ma? dia siapa,ma?" sela Gilang, antusias.
__ADS_1
"Kita sudah bertemu dengannya, dan dia baru saja bekerja di rumah kita. Aku rasa kamu sudah bisa menebak siapa orangnya,"
Gilang berpikir untuk sejenak. Kemudian, mata pria itu membulat dengan sempurna, begitu mengingat hanya Cahaya yang baru bekerja di rumah mereka.
"Apa yang mama maksud itu, Cahaya?" tebak Gilang, walaupun dia yakin kalau jawabannya 'iya'.
"Iya, dia orangnya," sahut Jelita dengan nada lirih di ujung sana.
Gilang bergeming, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hal ini tentu saja membuat Bayu penasaran, melihat ekspresi wajah Gilang.
"Gilang, apa kamu masih di sana, Nak?" terdengar suara Jelita memanggil, hingga membuat Gilang tersadar.
"I-iya, Ma. Aku masih di sini," jawab Gavin dengan cepat. "Apa mama sudah yakin kalau dia orangnya?" tanya Gilang kembali, memastikan.
"Iya. Mama sudah menyelidiki semuanya. Papa dia bernama Surya dan mamanya Citra," kemudian Jelita menceritakan informasi yang dia dapat dari Sukma
"Hmm, kalau begitu bagaimana ini ma, apa kita harus memberitahukan dia, kalau papanya pernah menyelamatkanku?" tanya Gilang dengan sedikit khawatir.
"Untuk sekarang, sebaiknya jangan dulu,"
"Karena, kata Ibu Sukma, setelah mengetahui kalau papanya sudah meninggal, dan dia juga tahu penyebab papanya meninggal, dia masih selalu menyalahkan anak laki-laki yang diselamatkan oleh papanya itu. Mama takut kalau kita memberitahukannya sekarang, dia akan membencimu dan memilih untuk pergi dari rumah kita. Kalau dia sudah pergi, kita tidak punya kesempatan lagi, untuk mengganti hari-hari sedihnya dengan kebahagiaan. Jadi, menurut mama, biarlah lambat laun, kita memberitahukannya nanti. Kita tunggu dulu, sampai dia bisa menerima kenyataan itu," tutur Jelita panjang lebar tanpa jeda.
Gilang diam untuk beberapa saat, memikirkan ucapan mamanya. Kemudian pria itu mengembuskan napasnya dengan berat.
"Baiklah, kalau menurut mama itu yang terbaik," pungkas Gilang akhirnya.
Panggilan akhirnya terputus, dan Gilang memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian pria itu, langsung membereskan rantang makanan yang sudah kosong, dan berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" Bayu mengrenyitkan keningnya, begitu melihat Gilang yang sepertinya hendak pergi.
"Aku mau pulang dulu. Aku ada urusan penting," sahut Gilang," Gilang menyurutkan langkahnya yang nyaris melangkah.
"Urusan penting? di rumahmu ada masalah ya?" Bayu mengrenyitkan keningnya, benar-benar penasaran sekarang.
"Tidak ada masalah sama sekali. Hanya ada hal penting saja. Nanti aku akan cerita padamu, aku mau kamu menghandle semua urusan kerjaan hari ini. Sekarang aku pergi dulu!" Gilang mengayunkan kakinya, beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Bayu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara itu, Dania yang belum merasa puas, memberi peringatan pada Cahaya sewaktu berada di kantor Gilang, kembali menyusul Cahaya ke kediaman keluarga Maheswara.
Entah apa yang merasuki wanita itu, sehingga bisa-bisanya dia menganggap Cahaya sedang berusaha untuk menarik perhatian Gilang. Mungkin karena wajah Cahaya yang cantik walaupun tanpa polesan make up sedikitpun.
"Non Dania, ada apa datang ke sini lagi?" tanya Bi Narti dengan kerutan di keningnya.
"Apa Cahaya sudah pulang, Bi?" tanya Dania sembari mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Cahaya.
"Dia baru saja pulang, Non. Mungkin dia sedang makan di dapur. Emangnya ada urusan apa mencarinya?" raut wajah keriput itu, terlihat sangat penasaran, apalagi ketika melihat raut wajah Dania yang sama sekali tidak bersahabat.
"Pokoknya ada hal penting. Bibi akan tahu sendiri nanti. Aku ke dapur dulu, mencarinya," Dania berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari bik Narti. Sementara itu, Bik Narti hanya bisa menghela napas, dan menggeleng-gelengkan, kepalanya melihat sikap Dania yang menurutnya kurang sopan.
Dania kini berdiri di ambang pintu dapur dan benar saja, wanita yang sedang dicarinya sedang makan siang dengan tatapan yang kosong.
Dengan sorot mata yang tajam, Dania melangkah menghampiri Cahaya. Tangannya dengan sigap menyambar gelas berisi air minum dan langsung menyiramkannya ke wajah Cahaya, hingga membuat Cahaya kaget dan tersedak.
"No-Non Dania, kenapa tiba-tiba menyiramku? aku salah apa?" tanya Cahaya, sembari melap wajahnya yang basah dengan menggunakan telapak tangannya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Dasar pembantu sialan, tidak tahu diri! kamu senang kan melihat aku dibentak sama Gilang tadi?" tukas Dania dengan suara yang tinggi.
"Kenapa Non Dania bisa berpikir seperti itu? aku sama sekali tidak memiliki pemikiran seperti yang Non tuduhkan itu," sahut Cahaya dengan mata yang berembun, menahan tangis.
"Cih, jangan sok polos deh. Aku sudah terbiasa melihat orang yang sok polos seperti kamu. Asal kamu tahu, kamu itu hanya seorang pembantu. Jangan pernah berharap berubah menjadi majikan, apalagi kalau kamu sampai mendekati Gilang. Ingat, sekali lagi kamu ini hanya seorang pembantu, kamu sama sekali jauh di bawah levelku. Tugas kamu hanya bersih-bersih dan memasak. Jangan berpikir untuk berubah menjadi nyonya! Paham kamu!" bentak Dania persis ke wajah Cahaya, hingga membuat Cahaya terjengkit kaget dan refleks menjauhi wajahnya.
"Apa-apaan ini? kenapa kamu membentak Cahaya?" tiba-tiba Melinda muncul dan menatap Dania dengan sangat tajam.
"Ini, pembantu yang tidak tahu diri ini, Oma. Berani-beraninya dia punya niat untuk menggoda Gilang. Dia sok baik, mengantarkan makan siang, buat Gilang," adu Dania berharap mendapat pembelaan.
"Emangnya kenapa kalau dia mengantarkan makan siang untuk Gilang? apa hanya dengan mengantarkan makan siang, termasuk ingin menggoda? sepertinya otakmu sudah terlalu kotor dan perlu dibersihkan. Kasihan sekali Bella punya putri yang culas dan sombong seperti kamu," Mata Dania membesar mendengar ucapan Melinda, Omanya Gilang. Bukannya mendapat pembelaan, justru dia dikatain culas dan sombong oleh wanita tua itu. Hal itu membuat Dania semakin meradang. Dia melihat Cahaya dengan sinis.
"Senang ya kamu, mendapat pembelaan dari Oma. Asal kamu tahu, mereka bisa aja tertipu dengan wajah sok polosmu ini, tapi tidak dengan aku. Dasar pembantu sialan!" maki Dania, melampiaskan amarahnya pada Cahaya karena tidak berani membalas ucapan Omanya Gilang.
"DANIA, JAGA MULUTMU!" terdengar gelegar suara yang sangat marah dari ambang pintu, yang membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, sontak melihat ke arah datangnya suara.
"Gi-Gilang!" gumam. Dania dengan wajah yang berubah pucat.
Tbc
__ADS_1