
Dania masuk ke dalam rumahnya dengan wajah ditekuk. Wanita itu langsung menghempaskan tubuhnya di sofa tepat di samping Denis papanya. Hal itu membuat Denis dan Bella saling silang pandang dan mengrenyitkan kening.
"Kamu kenapa, Dania? datang -datang wajah kamu ditekuk begitu." tanya Denis sembari mengelus rambut putrinya itu.
"Paling juga karena diabaikan sama Gilang," celetuk Bella dengan tersenyum smirk, hingga membuat wajah Dania semakin masam.Wanita setengah baya itu sebenarnya sudah sangat jengah dengan sikap putrinya yang menurutnya terlalu terobsesi dengan Gilang.
"Sayang! kamu tidak boleh begitu ah!" tegur Denis menatap tajam sang istri.
"Apanya yang tidak boleh? aku kan mengatakan kenyataannya. Coba kamu tanyakan dia. Pasti dugaanku benar ," Bella sama sekali tidak peduli dengan tatapan tajam Denis.
"Kenapa sih, Mama selaku sewot dan seperti tidak setuju aku bersama dengan Gilang?" Dania buka suara dengan nada yang sangat kesal.
"Siapa bilang aku tidak setuju? mama pasti akan setuju bila tidak ada unsur paksaan. Ini yang mama lihat, kalau Gilang sangat terpaksa mau bertunangan denganmu. Kamunya saja yang tidak tahu diri, dan masih saja memaksakan kehendak," ucap Bella santai.
"Papa! lihat mama!" Dania merajuk dengan memasang wajah yang ingin menangis.
"Sayang! kenapa sih kamu mengatakan hal seperti itu?" Denis kembali menegur Bella sembari memeluk putrinya.
"Apa menurutmu yang aku katakan itu salah? tidak kan? Kamu jangan terus membela seakan-akan apa yang dilakukan putrimu ini, benar, Mas. Justru dia itu sedang mempertontonkan kalau dia tidak memiliki harga diri," ujar Bella yang sama sekali tidak simpati melihat putrinya menangis. Entah mengapa wanita setengah baya itu menganggap kalau tangisan Dania hanya 'drama'.
"Bella!" bentak Denis dengan suara yang sedikit meninggi.
"Kenapa? apa kamu mau terus membela Dania?"balas Bella dengan raut wajah sinis.
__ADS_1
"Dia ini bukan hanya putriku tapi putrimu juga. Apa pantas seorang ibu mengatakan kalau anaknya seperti tidak punya harga diri?" protes Denis.
"Justru karena aku seorang ibu yang baiklah makanya aku ingin memberitahukan ke dia, kalau seorang perempuan itu harus punya harga diri, bukan seperti dia yang mengabaikan harga dirinya demi obsesinya pada Gilang,"
"Bukannya kalau kita ingin memiliki seseorang itu harus kita perjuangkan? sekarang aku lagi berjuang, Ma," Dania buka suara di sela-sela isak tangisnya.
"Boleh berjuang, tapi harus dengan cara yang elegan, bukan dengan cara yang murahan. Apa menurutmu yang kamu lakukan selama ini, tidak memalukan? pagi-pagi sekali kamu sudah datang ke rumah Gilang untuk menemui pria itu. Setelah itu kamu selalu menelepon dia, walaupun telepon kamu tidak pernah diangkat, pesan kamu tidak pernah dibalas. Selama kalian bertunangan, tidak pernah sekalipun dia datang ke sini untuk menemuimu, tidak pernah sekalipun dia mengajak kamu untuk kencan atau sekedar jalan-jalan dan makan siang, tapi kamu tetap saja tebal muka dengan tetap mengintilinya. Ada saatnya kita berhenti berjuang, jika yang kita perjuangkan, tidak memberikan harapan buat kita. Sebagai seorang wanita, kita itu harus punya prinsip dan harga diri," tutur Bella panjang lebar tanpa jeda, dan dengan nada yang berapi-api.
"Mama tidak sayang padaku. Mama tidak mau melihat aku bahagia," tangis Dania semakin menjadi-jadi.
"Kamu salah! justru karena mama menyayangimulah makanya mama ingin mengingatkanmu. Justru karena mama ingin melihat kamu bahagialah makanya mama bisa berkata seperti itu. Rasa sayang itu kadang tidak harus ditunjukkan dengan aku selalu mendukung apapun yang kamu lakukan sekalipun yang kamu lakukan itu salah, seperti yang papa kamu lakukan." sindir Bella sembari melirik ke arah Denis. "Mama tidak mau seperti itu. Kalau kamu salah ya mama tetap mengatakan itu salah," ucap Bella sembari berdiri dan berlalu pergi.
"Pa, kenapa mama bisa seperti itu padaku? dia benar-benar tidak sayang sama Dania," Dania merengek sembari mengguncang-guncang tubuh Denis.
"Tidak! mama sama sekali tidak sayang padaku. Kalau dia sayang, seharusnya dia mendukungku dengan Gilang. Hanya papa yang sayang padaku. Darell juga sama seperti mama yang suka mengataiku tidak punya harga diri," ujar Dania menyebutkan nama adik laki-lakinya yang kini menggantikan Denis di perusahaan.
"Sudah, sudah! kamu jangan menangis lagi. Yang jelas baik mama maupun Darell, mereka berdua menyayangimu," ucap Denis.
"Pah, aku dan Gilang kan sudah lama bertunangan, kapan kami menikah?" tanya Dania setelah tangisnya reda.
"Kenapa tanya ke papa? seharusnya kamu tanya ke Gilang nya langsung. Yang mau menikahkan kalian berdua," jawab Denis.
"Ihh, Papa ah. Papa dong yang nanyain om Gavin dan tante Jelita kapan menikahkan kami. Aku ingin menikah secepatnya dengan Gilang, Pa."
__ADS_1
"Tapi, kita tidak boleh memaksakan kehendak, Dania. Soalnya segala yang tidak terpaksa itu tidak baik," sahut Denis dengan lembut.
"Aku tidak peduli! pokoknya aku mau secepatnya menikah dengan Gilang." pekik Dania. "Aku mau secepatnya tinggal di rumah Gilang, untuk menjaga agar Gilang tidak digoda sama pembantu sialan itu!" sambungnya kembali dengan menyelipkan sebuah umpatan yang ditujukan pada Cahaya.
Denis mengrenyitkan keningnya, berusaha mencerna ucapan anak perempuannya itu.
"Siapa yang kamu maksud pembantu sialan?"
"Ada,Pa. Namanya Cahaya. Dia itu pembantu baru di rumah om Gavin. Dia itu masih sangat muda, dan sepertinya punya niat untuk menggoda Gilang. Bayangkan saja, baru bekerja saja, dia sudah berani mengantarkan makan siang ke kantornya Gilang. Dia bilang, Tante Jelita yang menyuruhnya, tapi aku sama sekali tidak percaya. Aku yakin kalau itu hanya alibinya saja, untuk menutupi niat buruknya," ujar Dania dengan raut wajah sinis.
"Kamu tidak boleh su'udjon seperti itu, Sayang. Mungkin aja benar kalau tante Jelita yang menyuruhnya,"
"Ih, Papa kenapa jadi kaya mama sih. Tidak mungkin feeling aku salah, Pah. Sudah pasti benar kalau wanita itu mau menggodanya Gilang," pekik Dania dengan bibir yang mengerucut.
"Iya, Iya papa salah. Maaf ya!" inilah kelemahan Denis. Dia tidak pernah bisa bersikap tegas pada Dania. Dia selalu memenuhi apapun keinginan putrinya itu.
"Jadi, papa mau kan ngomong sama om Gavin biar secepatnya menikahkan aku dengan Gilang? mau ya, Pa, please!" Dania merengek sembari menangkupkan kedua tangannya di depan Denis
"Iya, nanti papa akan menemui om Gavin, dan menanyakan kapan kalian akan menikah. Karena papa juga sebenarnya mau kamu menikah secepatnya," pungkas Denis, yang membuat Dania tersenyum lebar dan langsung memeluk papanya itu.
"Terima kasih, Pah! Papa memang yang terbaik," ucap Dania. Kemudian wanita itu berdiri dan langsung berlari ke kamarnya.
"Terus saja kamu manjakan dia! tanpa kamu sadari kamu sendiri yang menjerumuskannya ke dalam jurang kesedihan," celetuk Bella yang tiba-tiba sudah muncul kembali.
__ADS_1
Tbc