
"Sayang, jalannya kenapa sih harus cepat-cepat? bukannya jalan lambat akan lebih baik. Kita kan jadi punya banyak waktu untuk berjalan sambil gandengan tangan," goda Randi setelah sudah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Reyna.
Reyna, gadis yang diajak bicara oleh Randi, tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Randi yang juga sudah berhenti.
"Bisa tidak, kamu jangan bercanda terus? bagimu mungkin ini sangat lucu tapi bukan untukku," cetus Reyna, memasang wajah kesal.
Randi mengrenyitkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan Reyna. "Emangnya siapa yang lagi bercanda?" tanyanya.
"Masih tanya lagi. Apa kamu pikir aku orang bodoh," sahut Reyna sembari kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Randi.
"Hei, aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu maksud dan siapa bilang kalau kamu itu bodoh. Kalau kamu bodoh, tidak mungkin kamu bisa jadi seorang dokter," ucap Randi yang kini sudah kembali berjalan tepat di samping Reyna
Reyna tidak menanggapi sama sekali. Gadis itu tetap saja berjalan menuju mobil Randi yang jaraknya sudah mulai dekat.
"Kenapa kamu diam sih, Reyna? kenapa kamu bilang kalau aku sedang bercanda?" Randi menyentuh pundak Reyna untuk menahan tubuh wanita itu.
Reyna kemudian berbalik kembali dan mengembuskan napasnya dengan cukup berat.
"Randi, kamu bilang pada Gilang dan Cahaya kalau kita akan menikah secepatnya, apa menurutmu itu lucu? candaan kamu kali ini benar-benar sudah kelewatan, Rand."
"Jadi menurutmu kalau ucapanku itu hanya candaan? asal kamu tahu, aku sama sekali tidak ada niat untuk bercanda. Semua yang aku katakan tadi serius," jawab Randi tegas.
"Dan kamu kira aku percaya? bagaimana mungkin kamu bisa menikah dengan wanita yang sama sekali tidak kamu cintai? benar-benar tidak masuk akal." ujar Reyna.
"Dengar ya Randi, aku tahu kalau kamu tadi sengaja panggil aku sayang, dan bilang akan menikah denganku di depan Gilang, hanya ingin membuat dia cemburu kan? dengan demikian, Cahaya merasa tidak dicintai dan memilih untuk pergi. Setelah itu, kamu akan muncul sebagai pahlawan bagi Cahaya, benar kan dugaanku? aku sarankan padamu, supaya menghentikan niat burukmu karena tidak ada gunanya kamu melakukan hal itu. Kamu tahu kenapa? itu tidak akan mempan buat Gilang, karena dia sudah benar-benar mencintai Cahaya," lanjut Reyna kembali dengan panjang lebar tanpa jeda.
Randi berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, mengetahui pemikiran Reyna yang sama sekali tidak benar.
"Kamu ternyata masih salah paham padaku. Aku kira ketika kemarin kamu mengiyakan untuk menjadi calon istriku, masalah sudah selesai. Ternyata kamu masih meragukanku. Asal kamu tahu, semua yang kamu katakan tadi sama sekali tidak ada yang benar. Aku benar-benar ingin menikahimu. Bukan karena sebagai pelarian dan seperti yang ada di pikiranmu itu. Tapi kamu mau tahu kenapa?" Randi mencondongkan wajahnya ke wajah Reyna. Seperti biasa, jantung Reyna akan langsung memberikan respon yang berlebihan ketika wajah pria itu dekat dengan wajahnya.
"A-aku tidak tahu," Reyna menjawab dengan gugup.
__ADS_1
"Itu karena aku sudah jatuh cinta padamu."
"Jangan ber__"
"Jangan potong dulu! aku belum selesai bicara." Randi menempelkan jari telunjuknya ke bibir Reyna, hingga membuat wanita itu tidak jadi bicara.
"Kamu mungkin merasa hal ini tidak logika, karena tidak mungkin perasaanku bisa begitu cepat berubah. Dulu aku menyukai Cahaya, tapi sekarang aku menyadari kalau ternyata aku hanya menyukainya bukan mencintainya. Beda dengan yang aku rasakan padamu. Dengan kelembutan, kedewasaan dan ketulusan hatimu, kamu bisa membuat hati dan pikiranku selalu terisi dengan wajah dan namamu. Kalau kamu bertanya kapan aku jatuh cinta padamu, aku juga tidak tahu. Mungkin ketika pertama kali aku melihatmu waktu kamu hampir dijebak dulu. Karena pada saat itu aku secara sadar memuji kamu cantik. Menurutmu, untuk apa aku setiap hari datang menemuimu ke rumah sakit dan selalu menyempatkan diri untuk makan siang denganmu? buat apa aku menyusahkan diriku, jauh-jauh datang kalau aku tidak mencintaimu?" tutur Randi panjang lebar tanpa jeda.
Reyna tercenung tidak menjawab. Dirinya memang tidak menyangkal kalau pria di depannya itu selalu menunjukkan perhatian lebih padanya selama ini. Hampir setiap hari pria itu tidak pernah absen menanyakan keadaannya dan mengingatkan untuk tidak lupa makan, kalau pria itu sedang sibuk dan tidak bisa datang ke rumah sakit.
"Reyna, bagaimana? apa menurutmu aku masih terlihat bercanda?" tanya Randi kembali, menyadarkan Reyna dari lamunannya.
"A-aku tidak tahu," desis Reyna lirih.
"Kenapa kamu bisa tidak tahu? apa kamu tidak bisa merasakannya? asal kamu tahu, selama ini aku berusaha untuk menarik hatimu dengan caraku. Tapi, jujur aku tidak pernah berniat untuk memaksamu untuk menerima perasaanku karena aku tahu kalau hatimu masih terisi dengan nama Gilang. Tapi aku berubah pikiran ketika aku mendengar pernyataan Gilang kemarin, yang mengatakan kalau dia mencintai Cahaya. Aku merasa kalau aku harus nekad menjadikan kamu istriku secepatnya, walaupun kamu belum mencintaiku, karena aku tahu kalau Gilang sudah tidak mencintaimu." ucap Randi sembari menatap pupil mata berwarna hitam kecoklatan milik Reyna dalam-dalam.
Reyna benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Wanita itu tidak bisa memungkiri kalau ada rasa bahagia yang muncul di dalam hatinya mendengar pengakuan Randi. Namun, dia berusaha untuk menahan diri agar tidak bersorak kegirangan. Jujur saja, sebenarnya wanita itu juga sudah merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Randi. Rasa cintanya pada Gilang, sudah pupus seiring dengan perhatian dan kebersamaan yang dia dapatkan dari Randi selama ini.
"Reyna, sekarang kamu mau atau tidak mau menjadi istriku, aku tidak peduli, karena aku akan tetap memaksa kamu untuk jadi istriku. Bodo amat kalau kamu bilang aku egois atau si pemaksa. Yang jelas, aku yakin kalau kamu akan bahagia kalau menikah denganku," ucap Randi.
"Kita berdua yang bahagia. Kamu juga beruntung mendapatkanku, karena aku tampan," ucap Randi kembali membanggakan diri.
Reyna mendengus mendengar ucapan Randi yang memuji dirinya sendiri. "Kalau orang yang benar-benar tampan tidak akan memuji dirinya sendiri," cetus Reyna sembari memutar tubuhnya hendak membuka pintu mobil.
Randi tersenyum tipis dan kembali menahan tubuh Reyna. Kemudian pria itu mendorong pelan tubuh Reyna hingga tubuh wanita itu membentur mobil. Kedua tangan Randi bahkan sudah mengurung tubuh Reyna.
"Tapi, aku benaran tampan kan?" Wajah Randi kini sangat dekat dengan Reyna, hingga Reyna tidak bisa berkutik lagi.
"I-iya, kamu tampan, sangat tampan malah!" jawab Reyna tanpa sadar.
"Hahaha, Padahal aku hanya ingin mendengar kamu bilang aku tampan saja, tapi kamu malah semakin menegaskan dengan bilang kalau aku sangat tampan," goda Randi sembari mengelus pipi Reyna yang memerah.
__ADS_1
"Bagaimana? apa kamu mau menikah denganku?"
"Apa ada gunanya aku jawab? bukannya tadi kamu bilang kalau kamu akan tetap memaksa sekalipun aku tidak mau?" jawab Reyna ketus.
"Eh, iya ya? ternyata ingatan kamu sangat bagus, " Randi menggusak Rambut Reyna dengan gemas.
"Ya iyalah masih ingat, ucapan kamu masih belum hitungan jam berlalunya," Randi terkekeh geli melihat ekspresi wajah Reyna yang menurutnya sangat menggemaskan sekarang. Mata pria itu sekarang tertuju pada bibir pink milik Reyna. Rasa manis yang sempat dia rasakan kemarin seketika ingin dia rasakan kembali. Perlahan-lahan pria itu mulai mengikis jarak untuk menempelkan bibirnya ke bibir Reyna. Sementara itu Reyna tanpa sadar mulai menutup matanya, siap menyambut bibir Randi.
"Hei, apa yang kalian berdua lakukan?" baik Randi maupun Reyna tersentak kaget dan sontak menoleh ke arah datangnya suara.
"Om Rey! Papa!" gumam keduanya bersamaan.
Wajah Reyna langsung berubah pucat, siap menerima murka papanya.
"Jangan melakukan hal itu kalau belum menikah! nanti kalian berdua bisa khilaf! kalau mau melakukannya, dan bahkan bisa lebih, kalian harus menikah dulu!" ucap Reynaldi, yang benar-benar di luar dugaan Reyna. Mata wanita itu sekarang membesar dan mulutnya terbuka.
"Siap, laksanakan, Om!" jawab Randi tegas ala gaya militer.
"Jangan cuma siap Om! kamu bawa orang tua kamu ke rumah untuk melamar Reyna dengan resmi," ucap Reynaldi lagi.
"Lebih siap lagi,Om!"
"Ya udah,Om mau pulang dulu! ingat jangan macam-macam!" Reynaldi kembali membuka pintu mobilnya yang ternyata terparkir bersebelahan dengan mobil Randi.
"Pa, Reyna ikut papa saja, biar sekalian!" ucap Reyna dengan cepat sebelum papanya itu masuk ke dalam mobil.
"Tidak! kamu pulang sama si narsis itu saja, biar dia ada tanggung jawab!" jawab Reynaldi sembari masuk ke dalam mobil.
"Si narsis? maksudnya?" gumam Randi.
Reynaldi menurunkan kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya. "Om dari tadi sudah ada di dalam mobil dan mendengar semua pembicaraan kalian. Kamu bisa-bisanya memuji dirimu sendiri tampan, bukannya itu namanya narsis? kamu tidak tahu aja, om bahkan lebih tampan dari kamu," pungkas Reynaldi sembari menaikkan kembali kaca mobilnya.
__ADS_1
Randi sama sekali tidak bisa membantah, takut kalau dia diblacklist dari calon menantu. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali sembari melihat mobil calon mertuanya itu berlalu pergi. Sementara itu, tawa Reyna pecah melihat ekspresi wajah Randi yang pasrah.
Tbc