
Sementara itu, Dania belum pulang dari kediaman Maheswara, walaupun Gilang sudah berangkat kerja dari tadi. Wanita itu, menemui Cahaya yang sedang sibuk membersihkan ruangan keluarga.
"Hei, siapa namamu tadi? Cahaya bukan?" tanya Dania dengan nada sinis.
"Iya, Nona," jawab Cahaya dengan sopan.
"Emm, aku ingatkan kamu ya, supaya jangan sekali-kali berani mendekati Gilang. Dia itu calon suamiku,"
Cahaya mengrenyitkan keningnya, benar-benar bingung dengan Dania yang tiba-tiba mengucapkan kata-kata seperti itu. Padahal sedikitpun dia tidak pernah punya niat untuk mendekati Gilang. Jangankan mendekati, melihat tuan mudanya itu saja dia sudah takut.
"Kamu dengar tidak!" bentak Dania, merasa kesal melihat Cahaya yang tidak menjawabnya.
"Aku dengar, Non. Aku datang ke rumah ini, murni hanya untuk bekerja. Aku tidak ada niat sedikitpun untuk mendekati tuan Gilang," ucap Cahaya, lugas.
"Bagus! kamu harus sadar posisi kamu di sini. Kamu itu hanya seorang pembantu. Jangan sekali-kali memanfaatkan kecantikanmu untuk mendapatkan Gilang. Itu sama sekali tidak akan berhasil, karena kamu tidak layak jika dibandingkan denganku," ucap Dania lagi dengan nada sarkas dan sinis.
"Iya, Non. Aku cukup tahu diri kok. Jadi Non Dania tenang saja," sahut Cahaya, tersenyum tipis berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya mendengar ucapan Dania yang jelas-jelas menghinanya.
"Bagus kalau kamu sudah mengerti," Dania mengayunkan kakinya beranjak meninggalkan Cahaya tanpa permisi.
Sepeninggal Dania, Cahaya kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia terlihat seperti tidak terpengaruh dengan ucapan Dania, karena dia sudah terbiasa dengan itu semua. Hinaan demi hinaan dari orang, dia sudah kenyang dengan semua itu.
"Cahaya, apa Dania sudah pulang?" tiba-tiba Jelita muncul dengan mata yang mengedar mencari keberadaan calon menantunya itu.
"Sepertinya sudah,Bu," jawab Cahaya.
"Aduh, padahal ada hal yang mau aku minta tolong padanya," Jelita menghela napasnya, kecewa.
"Emm, karena dia sudah pulang, kamu aja deh, kami bisa kan tolong ibu?" lanjut Jelita kembali sembari menatap Cahaya penuh harap.
"Mau minta tolong apa, Bu?"
"Tadi kan Gilang tidak sarapan. Anak itu kalau sudah bekerja kadang suka lupa makan. Ibu bisa minta tolongkan agar kamu menyiapkan makan siang untuk Gilang, dan mengantarkannya ke kantor? kebetulan ibu dan Tuan ada urusan mendesak ke luar jadi tidak bisa mengantarkannya. Nanti aku akan meminta Supir untuk mengantarkan kamu ke sana." ujar Jelita panjang lebar.
"Ta-tapi, Bu?" wajah Cahaya seketika berubah pucat dan tegang.
"Kamu tenang saja, nanti aku akan menghubungi Gilang dan memberitahukan padanya kalau kamu datang ke kantor untuk mengantarkan makanan. Dengan begitu, dia tidak akan memarahimu. Kamu mau ya, Cahaya?" ucap Jelita dengan tatapan memohon.
"I-iya deh,Bu." pungkas Cahaya akhirnya menyanggupi permintaan majikannya itu.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Cahaya. Kalau begitu ibu sama Tuan pergi dulu," Jelita beranjak pergi untuk memanggil Gavin suaminya setelah Cahaya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Sementara itu, setelah di dalam mobil bersama dengan Gavin suaminya, Jelita langsung menghubungi Gilang, dan memberitahukan kalau Cahaya akan mengantarkan makan siang untuknya.
"Sepertinya tidak perlu, Mah. Aku bisa makan siang bersama Bayi di luar," protes Gila dari ujung telepon.
"Tidak ada penolakan. Pokoknya nanti Cahaya akan tetap datang ke sana. Kamu kasih tahu resepsionis sekarang agar mereka mengantarkan Cahaya ke ruanganmu," ucap Jelita,tidak menggubris protesan Gilang.
"Kenapa harus seperti itu sih, Ma?" Gilang masih berusaha untuk memprotes.
"Karena mama tahu kalau kamu suka lupa makan karena sibuk kerja. Jadi kamu harus menerima makanan yang diantar oleh Cahaya nanti,"
Terdengar helaan napas yang berat dari ujung sana, pertanda kalau Gilang sudah pasrah dan tidak berani mengajukan protes lagi.
"Iya deh, Ma." pungkas Gilang, mengalah.
"Bagus! mama matiin teleponnya ya. Papa dan mama lagi mencari anaknya orang yang sudah menyelamatkan kamu dulu. Papa dan mama sudah menemukan tempatnya. Mudah-mudahan dia masih ada di tempat itu,"
"Iya,Ma. Kalau papa dan mama sudah menemukan anaknya itu, langsung kasih tahu ke aku ya, Ma." ucap Gilang yang langsung antusias mendengar kemana tujuan papa dan mamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya salah satu resepsionis dengan ramah.
"Aku Cahaya, Mbak. Aku disuruh ibu Jelita untuk mengantarkan makanan ini pada Tuan Gilang. Kalau boleh tahu ruangan Tuan Gilang di mana ya?"
"Oh, Nona Cahaya ya? mari Nona saya antar. Tuan Gilang tadi sudah meminta salah satu dari kami untuk mengantarkan Nona Cahaya ke ruangannya," Resepsionis itu beranjak keluar dari mejanya dan mempersilahkan Cahaya untuk mengikutinya.
Setelah beberapa menit, mereka kini sudah tiba di depan sebuah ruangan.
"Ini ruangan Tuan Gilang, Nona. Sebentar,aku ketuk pintunya dulu," resepsionis itu mengetuk pintu dengan perlahan.
"Masuk!" titah Gilang dari dalam.
Resepsionis itu membuka pintu dengan perlahan. "Pak, Nona Cahaya sudah ada di sini," lapor resepsionis itu.
"Oh, suruh dia masuk. Dan kamu bisa pergi,"
"Baik, Pak." Resepsionis itu membungkukkan badan dan langsung beralih menatap Cahaya.
__ADS_1
"Silakan masuk, Nona Cahaya!"
"Terima kasih, Mbak!" ucap Cahaya sembari menyelipkan senyuman di bibirnya.
Resepsionis itu beranjak pergi dan Cahaya langsung masuk ke dalam ruangan Gilang.
"Tuan, tadi ibu memintaku __"
"Aku sudah tahu. Sekarang kamu letakkan aja, makanannya di meja itu," Gilang langsung menyela ucapan Cahaya sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Pria itu juga tidak melihat ke arah Cahaya sedikitpun.
"Baik, Tuan!" Cahaya berjalan ke arah meja, dan meletakkan rantang di tangannya.
"Apa aku sudah boleh pulang, Tuan?" tidak ada respon dari Gilang atas pertanyaan Cahaya, karena pria itu terlihat sangat fokus menatap layar monitor laptopnya.
Hal itu membuat Cahaya merasa bingung mau melakukan apa. Mau langsung keluar, tapi dia takut dianggap tidak sopan. Mau tetap berada di ruangan itu, dia merasa canggung.
Sementara itu, Dania yang memang sengaja datang ke kantor Gilang, terlihat berjalan dengan terburu-buru dan wajah yang memerah karena marah. Bagaimana tidak, dia baru saja mendengar dari Resepsionis kalau di ruangan Gilang ada wanita yang bernama Cahaya.
Brak
Dania membuka pintu ruangan Gilang dengan kasar. "Hei, bukannya tadi aku sudah memperingatkan kamu supaya tidak dekat-dekat dengan calon suamiku?" bentak Dania tanpa basa-basi dan menghambur hendak menarik rambut Cahaya.
"Hentikan! ngapain kamu datang ke sini?" bentak Gilang yang membuat tangan Dania terhenti di udara.
"Kenapa? apa salah kalau aku mengunjungi kantor calon suamiku sendiri? beruntung aku datang, kalau tidak, wanita murahan dan tak tahu diri ini, pasti sudah berusaha untuk merayumu!" suara Dania terdengar meninggi sembari menatap sinis ke arah Cahaya yang gemetaran.
"Dia tidak menggodaku. Dia ke sini karena mama yang memintanya untuk mengantarkan makan siangku. Tolong kamu jangan buat keributan di sini. Kalau kamu masih mau ribut, pintu terbuka lebar, dan tinggalkan tempat ini!" ucap Gilang dengan sinis tanpa menatap ke arah Dania.
"Aku tidak yakin. Kalau memang tujuannya hanya untuk mengantarkan makanan, kenapa dia masih di sini? harusnya dia langsung keluar setelah selesai melakukan tugasnya," Dania masih belum bisa mengontrol suaranya.
"Ma- maaf, Non Dania. Aku memang diminta sama Ibu untuk mengantarkan makanan. Masalah aku belum keluar, itu karena Tuan Gilang tidak menjawab ketika aku meminta izin untuk pulang. Aku takut dianggap tidak sopan kalau aku langsung pulang. Sumpah, Non aku benar-benar tidak ada niat untuk menggoda Tuan Gilang," Cahaya memberanikan diri untuk membela diri.
"Alah, itu alasan kamu aja. Kamu kira aku bodoh. Ingat, kamu harus sadar sama posisi kamu,"
"Diam!" Gilang mengebrak meja, hingga membuat Dania dan Cahaya tersentak kaget.
"Bukannya aku sudah bilang, kalau kamu mau ribut, silakan tinggalkan ruangan ini!" bentak Gilang dengan tatapan yang sangat tajam, ke arah Dania.
Tbc
__ADS_1