Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Bab 88


__ADS_3

Mentari pagi kini mulai tinggi karena jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi menjelang siang. Sinarnya membias masuk melalui celah-celah gorden tipis berwarna putih di kamar hotel yang ditempati oleh sepasang pengantin baru, siapa lagi mereka kalau bukan Reyna dan Randi.


Kelopak mata Reyna bergerak-gerak pertanda kalau kalau wanita itu akan bangun dari tidurnya. Benar saja, wanita yang baru saja sah menjadi istri yang sebenarnya untuk pria bernama Randi setelah menghabiskan malam indah sepanjang malam tadi, perlahan membuka matanya.


Ya, malam tadi sebagai seorang istri Reyna dengan ikhlas sudah memberikan hak Randi yang sudah menjadi suaminya. Bahkan mereka melakukannya sampai berkali-kali, hingga sampai pukul tiga pagi


Wanita itu menyelipkan sebuah senyuman manis, ketika dia membuka matanya wajah yang pertama dia lihat adalah wajah pria yang dia cintai.


Reyna terpukau dan kagum atas indahnya ciptaan Tuhan yang masih terlelap itu. Tanpa sadar jari telunjuknya menyentuh wajah Randi dan menyusuri setiap lekuk yang ada di wajah suaminya itu. Ketika jari telunjuknya menyentuh bibir Randi, tiba-tiba mulut pria itu terbuka dan menggigit pelan jari Reyna.


"Mas, lepaskan jariku!" ucap Reyna di sela-sela rasa kagetnya.


Randi melepaskan jari telunjuk Reyna dengan pelan sembari membuka matanya secara perlahan. Pria itu juga tidak lupa menyelipkan senyuman di bibirnya


"Kenapa? apa aku sangat tampan, sehingga membuatmu terpukau?" goda Randi.


"Idih, kamu terlalu percaya diri," elak Reyna sembari membalikkan tubuhnya memunggungi suaminya itu.


"Kamu tidak perlu malu untuk mengakuinya, Sayang. Aku benar-benar tampan kan?" Randi meletakkan dagunya di lengan Reyna yang masih polos.


Tidak terdengar jawaban dari Reyna. Wanita yang sudah tidak gadis itu lagi, menutup wajahnya dengan bantal, untuk menutupi rasa malu. Sementara itu, Randi terkekeh dan berusaha menarik bantal dari wajah istrinya itu.


"Mas, jangan diambil bantalnya!" Reyna berusaha menahan agar bantal itu tidak bergerak dari wajahnya.


"Kenapa? apa aku tidak bisa melihat wajahmu lagi?"

__ADS_1


"Aku malu, Mas!" desis Reyna lirih.


"Kenapa harus malu? bahkan aku sudah melihat ekspresimu saat kamu sudah mencapai ... hmppttt," ucapan Randi tergantung karena tangan Reyna tiba-tiba menutup mulut pria itu.


"Sekali lagi kamu membicarakan tentang itu, aku tidak mau lagi melakukannya denganmu!" ancam Reyna dengan tatapan tajam.


Bukannya takut, Randi malah tertawa melihat ekspresi wajah Reyna sekarang.


"Kenapa kamu tertawa? aku ini tidak sedang bercanda!" Reyna terlihat semakin kesal.


"Iya, iya. Aku tidak akan membicarakannya lagi, tapi aku tidak bisa janji," jawab Randi terkekeh geli.


"Ihhh,sama aja! pokoknya sekali saja kamu menyinggung tentang itu,aku benar-benar tidak akan mau melakukannya lagi denganmu,"


"Iya, iya, aku janji deh!" pungkas Randi akhirnya mengalah.


"Kamu lapar ya?" ledek Randi.


"Udah tahu, pakai nanya lagi. Ya jelaslah lapar. Jam sarapan pagi sudah lewat dan ini sudah mau masuk jam makan siang. Ini semua gara-gara kamu," cetus Reyna dengan wajah masamnya.


" Ya udah, maaf,Sayang! kita pesan makanan aja ya. Aku akan telepon ke bawah meminta pelayanan agar makan kita diantar ke kamar saja. Sekarang kamu mandi saja dulu," ucap Randi sembari meraih gagang telepon, lalu menelepon ke petugas hotel.


Reyna menurunkan kakinya, hingga menyentuh lantai. Ketika wanita itu hendak berdiri, dia meringis ketika merasakan sakit di bagian intinya.


"Kamu kenapa? masih sakit ya?" tanya Randi dengan wajah panik, sembari meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya.

__ADS_1


"Iya, Mas!" jawab Reyna lirih.


"Kalau begitu, biar aku gendong kamu ke kamar mandi," Randi berdiri dari tempat dia duduk dan menghampiri Reyna.


"Aku rasa tidak perlu, Mas. Aku bisa jalan sendiri kok" sebelum melangkah, tangan Reyna terulur untuk meraih selimut. Wanita itu, menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.


"Kenapa kamu bawa selimutnya?" Randi mengrenyitkan keningnya.


"Emm, aku malu. Aku tidak sedang memakai apapun," sahut Reyna dengan sangat pelan disertai dengan pipi yang memerah.


"Kenapa harus malu. Tadi malam aku bahkan sudah melihat dan merasakan semuanya. Jadi kamu tidak perlu lagi menutupinya,"


"Kamu bisa diam nggak? kamu sekarang lihat ke arah sana, dan jangan lihat aku! awas kalau kamu melihatku, nanti aku akan colok pakai jariku," lagi-lagi Reyna mengancam.


"Kenapa tidak boleh? bukannya__"


"Jangan bicara lagi! aku bilang jangan lihat ya jangan lihat!" sambar Reyna dengan cepat sebelum suaminya itu selesai bicara.


"Iya deh, aku tidak akan lihat," Randi memalingkan wajahnya sembari mengulum senyumnya. Pria itu tahu kalau sekarang Istrinya itu sedang malu.


Reyna menarik napas lega setelah akhirnya dia berhasil masuk ke dapur kamar mandi. Sementara itu, Randi meraih celana boxernya, menunggu pesanan makanan mereka datang.


Tbc


Guys maaf ya, dengan adegan malam pertama Randi dan Reyna yang aku up kemarin tidak diloloskan oleh pihak Noveltoonnya, karena katanya mengandung adegan dewasa. Pihak Noveltoon memintaku untuk merevisinya kembali.

__ADS_1



__ADS_2